
di kampus...
"clek! " jeje membuka sekaleng cola "apa kau selalu minum cola? " tanya anggel "hum" kata jeje "nenek ku bilang wanita tidak baik minum cola terus menerus" kata anggel "lain kali aku akan ajak nenek mu minum wine" kata jeje "apa itu? " tanya mawar "minuman ber vitamin" kata jeje "yang benar saja" kata vito "hum? " jeje menoleh ke arah aula "di dalam sedang ada orang latihan menari" kata mawar "akan ada acara apa? " tanya jeje "tidak tau" kata anggel "baby? " niko keluar dari aula dan langsung menghampiri jeje "wah.. selamat pagi menuju siang" kata niko "kau hanya menyapa teman kami? " kata dila "kalian juga" kata niko "kau mau kemana? " tanya niko sambil menatap jeje jeje tidak menjawab dia lanjut berjalan "hei.. hei baby! " kata niko sambil mengikuti jeje "jeje" archie muncul di depan jeje dia menatap jeje lalu niko yang juga menatap mata nya "kalian mau kemana? " tanya archie jeje tidak menjawab "hei baby! " niko hendak berjalan tapi archie memanggilnya "apa kau masih memaksa nya untuk bersama mu? " tanya archie "bukan urusan mu" niko mengejar jeje "baby!! " kata niko "lama lama aku muak mendengar suara nya" kata jeje "baby? " niko hampir menabrak jeje yang tiba-tiba berhenti "itu kak kal dan Steven" jeje langsung melihat sekitar "ada apa? " bisik niko "sial" jeje langsung berbalik menarik dasi niko "jangan bergerak bodoh ayo jalan ke samping" kata jeje "jeje tadi kemana? " kata kal "aku juga tidak tau ayo cari dia jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk" kata Steven "hum.. aku rasa aku melihat sesuatu " kata kal "apa? " kata Steven "kata ada anak memakai hoodie bersama seseorang " kata kal "yang pakai hoodie bukan hanya jeje ayo cepat" kata Steven. jeje menutup pintu melihat kal dan Steven lewat "huuff.. untung aja mereka gak melihat aku dan pecundang bodoh ini" kata jeje "klik" jeje menatap ke arah pintu yang mengeluarkan suara "hei" niko menarik lengan jeje "apa maksud mu menarik dasi ku? " kata niko sambil membungkuk menatap mata jeje "ini semua gara gara kau sudah ku bilang menjauh dari ku tapi kau selalu saja menempel seperti lem" kata jeje "salah mu juga" kata niko jeje bingung "kau membuat aku jatuh cinta pada mu" kata niko "awas aku keluar" kata jeje "hei.. enak saja kau sudah menyeret ku ke sini setidaknya kau harus lakukan sesuatu untuk ku" niko menyudutkan jeje lalu tersenyum "coba saja lakukan sesuatu aku akan menghajar mu" kata jeje "sekarang katakan kalau kau cinta pada ku" kata niko "dasar tidak waras" jeje mendorong niko lalu menarik pintu "eh?? " jeje mencoba lagi namun pintu nya tidak bergerak sama sekali "kenapa? " kata jeje "haa.. bilang saja kau alasan ingin berdua duaan dengan ku dengan berpura-pura tidak bisa membuka pintu" kata niko "****!! ku hajar kau habis ini" jeje mencoba menarik dan mendorong pintu tapi tetap tidak bisa terbuka "tuh kan... " kata niko "dasar sialan.. pintu bodoh!! " jeje menendang pintu "aw kasihan pintunya nona soikham.. buka lah dengan perlahan pakai cinta" kata niko jeje melihat pintu dengan kesal setelah memakan waktu yang agak lama jeje berbalik melihat niko yang terkekeh "oh" melihat jeje menatap ke arah nya niko langsung membuang muka pura-pura tidak melihat jeje "kenapa kau diam saja? cepat kemari!!! " kata jeje "kau memanggil ku? " kata niko "cepat lah!! " kata jeje "suami mu siap membantu" kata niko sambil berjalan mendekati jeje "ah.. kau lihat ke atas itu.. kunci pintu nya ada di sana " kata niko jeje langsung melihat arah yang di tunjuk niko "kalau begitu buka " kata jeje "hei nona kenapa kau menyuruh ku? buka saja sendiri" kata niko "dug!! " jeje menendang betis niko "awww.... aw.. sakit baby!! " kata niko "jangan mempermainkan ku!! kau yang tinggi dan kau pasti sampai untuk membuka kuncinya!! " kata jeje "hei" niko menunduk membuat jeje mundur "aku tidak mau membuka nya! kan kau yang mulai tadi menyeret ku ke mari" kata niko "itu gara gara kau jika mereka mel--" jeje tidak meneruskan bicara nya "ngomong ngomong di mana para pengawal mu nona soikham panggil saja pengawal mu" kata niko jeje menyipitkan matanya "pengawal apa!! " kata jeje "maaf aku salah bicara aku melihat di film film orang orang seperti mu itu selalu membawa pengawal ke mana mana" kata niko "jangan omong kosong cepat buka! " kata jeje "aku gak mau" kata niko "aku akan membayar mu" kata jeje "aku tidak butuh uang" kata niko jeje berbalik menatap kondisi di luar melalui kaca kecil di pintu "oih.. woi.. !! " seru jeje niko hanya tertawa "tidak akan ada yang mendengar mu ruangan ini kedap suara lagian pintu terkunci dari dalam" kata niko jeje menatap niko "mari lakukan satu hal.. aku akan membuka pintu nya jika kau melakukan ini.. tarik aku seperti tadi dan bilang kak niko.. tolong bukain pintu nya dong jangan lupa beri aku sedikit ciuman" kata niko "ehh" niko menghindar di saat jeje melemparkan beberapa benda ke arahnya "woi.. baby.. jangan!! " kata niko "aku gak butuh bantuan mu" kata jeje sambil mengeluarkan ponsel nya "rizi bilang dia pernah mengirim ku pesan... aku akan cari nomor nya dan meminta bantuan" kata jeje dalam hati "kau akan menelpon siapa? " tanya niko "astaga kalau begini gak akan ketemu" kata jeje niko hanya duduk dengan tenang "memo.. bisa kau datang ke kampus ku? " kata jeje "ouh.. ada apa? " kata memo "aku terkurung di sebuah ruangan.. tidak ada alat untuk membuka pintu" kata jeje "ehem!!! " niko berdeham "kau dengan seseorang? " tanya memo "bukan orang " kata jeje "baby aku ini orang" kata niko "jangan bicara pada ku dasar sialan!! " jeje melempar sepatu nya ke niko "kau dengan siapa? " kata memo "aku terkurung dengan si pencundang.. " kata jeje "kenapa kau tidak menyuruhnya untuk membuka pintu? " kata memo "dia tidak mau kau tau rasanyaa aku ingin membunuhnya sekarang! " kata jeje "jangan lakukan itu " kata memo "aku sedang di jalan ini sangat macet kau berikan ponsel mu pada nya" kata memo "hah?? tap--" jeje langsung berbalik ketika niko mengambil ponsel nya "hei.. kau bisa bantu kami" kata niko "berikan ponsel ku" kata jeje "sstt" kata niko "bisa kau buka pintu untuk nya? " kata memo "hum.. aku akan membuka pintu nya kalau dia... mengatakan aku cinta pada ku" kata niko "astaga.. yang lain? " kata memo "tidak ada penawaran" kata niko "oke.. baik" kata jeje "sungguh? " niko menatap jeje "buka dulu pintunya dan aku akan berbisik di telinga mu" kata jeje "janji ya" kata niko "iya.. " kata jeje niko langsung tersenyum dia membuka pintu "sekarang" kata niko jeje menarik dasi niko dan "**** you!! " jeje menendang perut niko lalu memukuli niko beberapa kali "mati saja kau! " jeje mengambil ponsel nya lalu pergi "aahh.. serasa di pukuli masa" niko berdiri memegang dadanya "aw.. sshh.. awas kau baby! " kata niko.
leo menatap niko yang masuk ke dalam kelas "woi.. kenapa dengan pipimu? " tanya leo "di tampar calon istri" kata niko "jeje maksud mu? " kata wahyu "aah.. ssh.. sakit" kata niko "masa jeje separah ini mukul nya gak mungkin lah dia itu cewek" kaya wahyu "beneran yu.. dia yang menghajar ku barusan" kata niko "hahahahah.. hahahaha.. memang kau melakukan apa? " tanya ale "ah.. lupakan hei minta minum dong" kata niko "calon istri mu keturunan Bruce Lee kaya nya" kata leo "ku rasa iya.. kepalan nya serasa kayu jati" ucap niko sambil meraba pipinya sendiri.
kal menatap jeje dari cermin "kau ingin ke suatu tempat sebelum pulang? " tanya kal "hu.. aku mau ke toko paman niu" kata jeje "oke" kata kal mobil terus melaju sampai ke sebuah tempat makan jeje keluar dari mobil Steven juga keluar "ayo" kata Steven jeje pun berjalan masuk ke tempat makan yang dia datangi "halo.. selamat datang anda ingin memesan sesuatu? " tanya seorang wanita berbaju merah "aku ingin paket yang di bawa pulang" kata jeje "silahkan" kata wanita itu "paket A1 sama c3 " kata jeje "sudah" kata jeje "silahkan di tunggu apa anda ingin sepaket bersama pasangan? " kata wanita itu "tidak" kata jeje "silahkan di tunggu nomor antriannya akan kami berikan pada pacar mu" kata wanita itu "oke" baru saja mau melangkah jeje terdiam seperti nya dia menyadari sesuatu "kau bilang apa? " kata jeje "kami akan memberikan nomor antriannya kepada pacar mu" kata wanita itu "aku sendiri" kata jeje lalu dia melihat wanita itu menatap seseorang di belakang nya jeje langsung berbalik "kau!! " kata jeje "Hai baby" kata niko "dengar aku tidak kenal dia " kata jeje "hei.. nona soikham" jeje menoleh ke asal suara "paman biu " kata jeje "kau pesan apa? " kata pria bertubuh gemuk itu "aku pesan beberapa makanan untuk di bawa ke pabrik kakak" kata jeje "berikan dulu pesanan nya" kata pria itu "ayo duduk dulu" jeje mengangguk "iya paman" kata jeje "aku akan buat kan kau minuman" pria itu pergi jeje menatap niko "**** you" kata jeje lalu dia pergi "apa kalian bukan pacar? " tanya wanita itu ke niko "hum.. jangan tanya dulu dia sedang kesal pada ku " kata niko "jadi kau mau pesan apa? pesanan dia dan dirimu di jadikan satu atau di pisah? " kata wanita itu "hum.. pisah saja" kata niko "hei.. pesanan nona soikham tambah dengan menu andalan kita" kata pria yang bernama biu "baik Pak" kata wanita itu "dan jangan biarkan dia membayar nya oke" pria itu langsung pergi dengan membawa jus di tangan nya dia berjalan ke arah jeje yang sedang duduk dengan Steven "nona jeje ini jus untuk mu" kata biu "paman.. kenapa cuma satu ayo buat lagi untuk nya" kata jeje "oh.. maaf maaf aku lupa" kata biu "ya.. kau kan sudah tua" kata jeje "tunggu sebentar ya" biu pergi "kau tidak sopan" kata Steven "oh ya" jeje mengaduk aduk jus nya lalu meminum nya "wah.. ini enak banget kau mau coba? " tanya jeje "tidak tidak kau saja yang minum" kata Steven "ini jus nya" biu datang "paman biu siapa yang membuat jus ini? " tanya jeje "tentu saja aku" kata biu "enak enak sekali" kata jeje "kalau begitu kau bantu aku promosi kan menu menu ku" kata biu "ahh.. jangan aku.. gini saja aku akan cari orang yang cocok untuk mempromosikan nya aku tidak suka banyak bicara" kata jeje "permisi nona" seorang wanita datang "pesanan anda sudah siap" ucap nya "paman aku pergi dulu aku akan mempromosikan menu menu mu lima tahun lagi" kata jeje "kau ini" biu tersenyum lebar sambil melihat jeje pergi menjauh.
beberapa mobil truck berhenti sebuah pabrik chai duduk sambil memperhatikan truck truck itu berdatangan "graaakk!! " terlihat beberapa kotak di turunkan dari truck itu "halo tuan" chai menoleh ketika ada yang memegang bahunya "kau mencoba mengerjai ku? " kata chai "selamat sore kakak" ucap jeje sambil duduk "jangan duduk di lantai" kata chai "tidak papa.. kakak.. lantai nya bersih kok" kata jeje "kenapa kau datang ke sini? " tanya chai sambil mengusap rambut jeje "kau sudah makan kak? aku membeli beberapa makanan" kata jeje "humm.. aku belum makan" ucap chai "wah.. kita bisa makan bersama" kata jeje "tentu.. " kata chai "kak chai dari mana kau membeli apel sebesar itu dan juga banyak" kata jeje "dari seorang petani " kata chai "humm.. pantas saja jus apel nya enak.. " kata jeje "jadi bisa kita makan sekarang? " tanya chai "bisa" kata jeje chai berdiri menarik jeje "kak chai besok aku juga mau memiliki sebuah pabrik" kata jeje sambil berjalan di sisi chai "tentu saja kau akan memiliki nya" kata chai "kira kira jus apa ya.. yang akan ku jual" suara jeje masih terdengar dari jauh wut hanya menggaruk garuk kepala nya "kenapa? " tanya Steven "tuan chai baru saja makan" kata wut "benarkah? " kata hary "iya dan dia akan makan lagi" kata wut "kalian tau apa " kata kal "maksud mu? " tanya lim "ini bukan soal makanan tapi soal kasih sayang kakak ke adiknya" kata bai "dia paham" kata kal.
Ariel memeras handuk kecil lalu menempelkan nya ke wajah niko "aahh.. perih banget" kata niko "kenapa kau harus mengatakan hal itu pada nya" kata Ariel "kau sangat mesum sedikit sedikit minta cium" kata desi "biar tau rasa dia di hajar jeje" kata memo "kalian ini bela siapa sih sebenarnya" kata niko "gimana mau membela mu cara mu bicara dengan dia aja sembarangan" kata jojo "maaf deh.. " kata niko "awww pelan" kata niko "makanan siap" wahyu datang sambil meletakan beberapa makanan ke atas meja "kau sangat berbeda dengan saudara mu" kata desi "biar aku bantu" memo berdiri dan pergi ke dapur "jangan di sama kan dong.. " kata niko "sebenarnya aku juga pintar masak" kata niko "entah bagaimana nasib jeje kalau hidup dengan mu" ucap jojo "di jamin bahagia sampai tua"kata niko " jika tidak ku penggal kepala mu"kata jojo "kau sama jeje sama saja sedikit sedikit mau memenggal kepala ku" kata niko sambil memegang lehernya "aku kan masih mau hidup" kata niko.
di rumah..
"KAK JERICOOOOO!!!! " seru jeje berkali kali "ada apa? " kata lim "dimana kak jerico" kata jeje "dia tadi bersama milli membawa makanan para tahanan" kata lim "astaga" jeje langsung pergi "hei.. kau jangan ke sana" kata lim sambil mengejar jeje. "uhh.. kenapa lampunya kurang terang" kata jerico "aku juga tidak tau" kata milli "aku akan menelpon lim untuk membawa lampu" kata jerico "kak jerico!! " jerico langsung terkejut mendengar suara jeje "hei.. kau ngapain kemari.. sana.. di sini bukan tempat mu" kata jerico "kenapa kau panik" kata jeje "astaga aku bisa kehilangan nyawa ku jika tuan chai tau kalau kau ada di sini" kata jerico "hari ini aku ada berjanji untuk bertempur di game " kata jeje "lalu? " kata jerico "ponselku ada di saku mu" kata jeje "ponselku yang ini tidak bisa bermain game" kata jeje "oke oke " kata jerico sambil meraba sakunya "aahh.. aduh" jeje terdorong ketika lim terpeleset dan menabrak jeje "jeje.. " milli meletakkan makanan yang dia bawa "aduh.. " milli membantu jeje berdiri "kak lim!! " kata jeje "maaf maaf ini lampu nya mau di pasang di mana" kata lim "di situ" kata jerico lalu dia menatap jeje "kau baik baik saja? " tanya jerico "hum.. iya" kata jeje tiba tiba mata nya tertuju pada seorang pria yang ada sel penjara di depan nya terlihat han menatap jeje "jangan lihat dia" kata jerico "aku akan kembali" milli membagi bagikan makana ke para tahanan "ayo aku akan mengantar mu keluar dari sini" kata jerico "tidak papa aku bisa sendiri bye bye" jeje pergi "ayo pasang lampu nya" kata lim "ayo" kata jerico.
malam hari...
"akkhh" lim kesakitan ketika akia memukulnya "aduh.. kenapa kau memukulku? " tanya lim "lihat ini! " akia menunjukan sebuah ponsel "hei.. itu ponsel ku" kata lim "benar! apa kau lupa kata tuan chai? di larang membawa ponsel di saat ingin pergi ke penjara!! ini ponsel mu aku menemukannya di tangga bawa tanah" kata akia "hei.. hei" jerico menarik tangan akia yang mencekram leher lim "akia tenang lah" kata jerico "aku bisa jelaskan" kata lim "akia ini " akemi datang membawa sebuah ponsel lagi "ini juga ada di samping tangga" kata akemi "ini milik jeje" kata lim "apa yang kalian lakukan? " kata akia "dengar dulu!! " kata lim "tapi ini bah--"akia terdiam ketika jeje datang memegang tangan nya " kakak ada apa? "tanya jeje dengan baju balap nya " jeje katakan pada ku kenapa bisa dua ponsel ini ada di penjara? "kata akia " kakak.. tadi sore aku ada pertempuran di game yang harus ku lakukan sore itu juga tapi ponsel ku di bawa kak jerico aku mencarinya kemana mana aku melihat kak lim dan aku bertanya di mana posisi ka jerico dan kak lim bilang kalau kak jerico sedang membantu kak milli jadi aku langsung lari mencari nya aku tidak mendengarkan kak lim yang memanggil ku"kata jeje "aku menemui kak jerico di penjara kak jerico juga menyuruhku pergi aku benar-benar lupa kak kalau di penjara tidak boleh membawa ponsel aku juga membawa ponsel ku yang kakak pegang dan ternyata kak lim menyusul ku" jeje menatap lim "dia terpleset dan menabrak ku aku gak sadar kak kalau ponsel kami jatuh" kata jeje "ini ketidaksengajaan akia" kata jerico jeje menatap lim yang terlihat kesakitan "kak lim tidak salah" kata jeje "aku.. aku yang salah kakak.. aku tidak akan mengulangi lagi" kata jeje "maaf aku juga salah" kata lim "kak lim kau tidak papa.. ayo aku akan membawa mu" jeje menarik tangan lim dan membawa lim pergi "tenangkan dirimu" kata akemi "aku hanya kawatir dengan keamanan jeje dan tuan chai" kata akia.
jeje membawa sekaleng cola "minum lah kak" kata jeje "aku tidak papa" kata lim sambil menerima cola dari jeje "jangan bilang begitu aku tau kekuatan kak akia" kata jeje sambil duduk di dekat lim "tapi akia tidak salah.. ini juga bisa jadi masalah besar" kata lim "jangan bicara sembarangan rumah kita itu aman" kata jeje sambil menepuk nepuk bahu lim.
keesokannya...
"zrruuttt" chai menoleh ke arah tangga "hup" jeje melompat "kenapa kau memakai sketboard di tangga!! kau tau kalau--" kata chai "kalau kau terjatuh kau itu selalu ceroboh" kata jeje "jangan pakai itu saat di tangga" kata chai "iya iya. maaf" kata jeje "cepat sarapan nanti kau terlambat ke kampus" kata chai "iya kau juga hari ini kau ada janji dengan seseorang kan di pabrik jus mu" kata jeje "aku ingat" kata chai.
jeje keluar dari pintu melihat chai bersiap siap hendak pergi "kakak!! aku akan ke pabrik mu nanti" kata jeje "ya.. aku menunggu mu! " kata chai sambil masuk ke dalam mobil.
jeje turun dari mobil "aku akan lewat jalan biasa kalau kalian terserah" jeje berjalan menjauh kal hanya memperhatikan nya jeje melompati pagar tembok "yo selamat pagi kampus yang membosankan" jeje menurunkan sketboard nya lalu meluncur di lantai "eh!! " jeje langsung memberhentikan sketboard nya yang hampir menabrak seseorang "aku terkejut" kata Tini sambil membungkuk memungut buku nya yang terjatuh di lantai "apa kau baru datang? " tanya Tini jeje tidak menjawab dia kembali menurunkan sketboard nya "jeje!! sebaiknya hati hati" kata Tini sambil berjalan mendekati jeje "apa luka mu yang waktu itu sudah pulih? " tanya Tini "apa kau tidak bisa melihat nya? " kata jeje "aku cuma bertanya saja.. syukur lah kalau sudah pulih aku jadi sedikit tenang" kata Tini sambil tersenyum "berhenti basa basi, pergilah menjauh dari ku" kata jeje "kau masih saja emosian ya" kata Tini lalu dia mengeluarkan beberapa permen dari sakunya "kau mau? " tanya Tini jeje mengambil permen dari tangan Tini lalu melemparkan nya jauh jauh "tidak papa aku masih ada banyak" kata Tini "kalau begitu aku permisi dulu" kata Tini sambil beranjak pergi "oi!! berhenti" kata jeje tapi Tini tidak berhenti "woi kau!! oi!! " seru jeje "jangan pura-pura tuli wanita!! " kata jeje Tini berhenti "kau memanggil ku? " tanya Tini "menurut mu siapa lagi cuma ada kau dan aku di sini!! dasar bodoh" kata jeje "ada apa? " kata Tini "bukannya kau menyuruh ku pergi" kata Tini "selain bodoh kau juga pelupa " jeje mengeluarkan sesuatu dari sakunya lalu berjalan perlahan "kau meninggalkan nya waktu itu" kata jeje Tini menatap benda yang di tangan jeje lalu dia tersenyum "terimakasih aku mencarinya ke mana mana ternyata ada pada mu" kata Tini "cepat ambil sebelum ku buang" kata jeje Tini mengambil benda itu "jangan lupa bayaran nya ya" Tini tersenyum lalu pergi.
niko membuka pintu terlihat jeje sedang duduk di tepi kolam dengan tangan menopang pipinya "dia dari tadi melamun kak" bisik anggel "iya aku juga tidak tau dia kenapa sedari tadi aku tanya dia tidak menjawab apapun" bisik vito "biar aku bicara padanya" kata niko. "aku punya empat anak" jeje teringat kejadian pagi tadi "anak anak ku kelaparan" kata kata wanita itu terus menggema di telinga nya "minum" jeje melihat tangan dengan cola di depannya "hum" jeje mengambil cola itu "kau sedang memikirkan apa? " tanya niko "kau juga ta--" jeje terdiam lalu berbalik menatap pria yang duduk di samping nya "kau! " jeje langsung berdiri "ada apa? apa ada masalah? " tanya niko "kenapa kau selalu ada di mana mana " kata jeje "di mana ada dirimu aku akan ada" kata niko "omong kosong" kata jeje sambil beranjak pergi "baby.. kau mau kemana" kata niko "pulang ke rumah mu!! dasar bodoh!! " kata jeje sambil menutup pintu "aku kan masih di sini tunggu kalau kau mau pulang ke rumah ku akau akan mengambil kuncinya dulu!! " seru niko sambil berlari keluar mengejar jeje "jeje kau mau kemana? " tanya rizi "mau pulang " kata jeje lalu dia melempar tas nya ke mawar "bawa tas ku besok aku sedang tidak ingin ke kelas" kata jeje sambil berjalan menjauh dengan sketboard nya "jeje kau--" vito tidak jadi bicara karena jeje sudah jauh.
di pabrik..
kal menatap jeje yang terlihat kesal jerico juga menatap jeje "kau kenapa? " tanya kal "aku sedang kesal kak" kata jeje "kenapa? " kata jerico "kenapa? kau pasti tau soal wanita yang tadi pagi.. aku kesal pada pria bernama suko itu dia benar-benar bajingan " kata jeje "ah.. sudah lah aku semakin kesal pria benar-benar brengsek" jeje menendang pintu mobil lalu pergi "kau dengar kal pria benar-benar brengsek" kata jerico "hei bodoh kau juga seorang pria sadar diri dasar payah" kata kal sambil keluar dari mobil "iya juga ya" kata jerico.
chai memperhatikan seorang gadis yang berjalan ke arahnya "Hai " kata chai "Hai" kata jeje "kau marah pada ku? " tanya chai "tidak" kata jeje "aku sudah pesan makanan kesukaan mu bentar lagi akan datang" kata chai "hum.. aku tidak bawa apa apa" kata jeje "tidak papa" kata chai "aku akan menemui seseorang di dalam kau jangan kemana mana" kata chai "oke" kata jeje "brum.. brumm" jeje melihat ada tiga truk datang "wah.. kakak sudah membeli apel lagi? " jeje berjalan menuju arah truk itu "wah.. truk apel sudah datang lagi" kata jerico "iya padahal kemarin baru datang ku fikir hari ini akan datang buah yang berbeda" kata jeje "aku mau ke toilet bentar awasi sekitar" bisik kal "oke" kata jerico beberapa keranjang berisi apel di turunkan "sana bantu mereka" kata jeje "kenapa aku? aku di sini mengawasi mu" kata jerico "kemana kak kal? " tanya jeje "dia sedang ke toilet buang air" kata jerico "hei aku mau apel nya" kata jeje "ini nona" orang yang di dalam box truck memberi sebuah apel ke jeje "loh.. kok kecil? " kata jerico "hei.. kenapa ukuran nya kecil sekali? " tanya jeje "maaf nona coba yang ini" orang itu memberi jeje sebuah apel lagi tapi ukuran nya masih sama "kalian mencoba menipuku? " kata jeje "tidak nona kalau tidak percaya mari naik ke atas" kata orang itu "kau akan jatuh" kata jerico "tenang saja kami bantu" orang itu mengulurkan tangannya "baik aku akan naik" kata jeje "hati hati" kata jerico "santai saja kak" kata jeje sambil masuk ke dalam box truk melihat lihat keranjang yang ada di dalam nya "brugg" jerico menoleh melihat ada karyawan yang terjatuh ketika membawa sekeranjang apel "hei hati hati" kata jerico "hei ini ada apel besar" kata jeje "ambil lah nona ambil sepuasnya" kata orang di dalam truck "greb!! " jeje melihat pintu box truk di tutup "kenapa di--tutup? " tanya jeje "mobilnya akan pindah ke parkiran" kata orang itu "ohh" jeje lanjut melihat lihat apel di keranjang jerico melihat truk di depan nya masih terbuka "jeje kau berapa lama lagi di dalam? " kata jerico "oih!!! " jeje terkejut menemukan senjata berukuran besar berada di tumpukan apel "kau sudah melihat nya? " kata orang yang memberi jeje apel tadi "sial" jeje buru buru mengeluarkan pisau nya dan berjalan cepat ke arah pintu box "tahan dia!! " kata beberapa orang "oooih!!! " truck berguncang membuat jeje ingin terjatuh ketika hendak memukul orang di depan nya "brugg" jeje terjatuh cukup keras "tahan!!! " lima orang itu menahan jeje memegang kaki dan tangan jeje dengan kuat satu orang lagi mengikat jeje "ooiiih.. lepas kan aku! " ucap jeje "diam!!! " kata mereka "KAKAK!!! KAKAAAK!! " seru jeje "lepas" jeje memberontak membuat kelima orang itu kewalahan jeje berdiri dengan tangan terikat "siapa kalian? " kata jeje "kami orang bayaran yang bertugas menangkap mu" kata mereka "hiya!! " jeje mencoba melawan "brugg!! " jeje kembali kehilangan keseimbangan ketika truk berguncang keras "truk ini berjalan dia tidak berhenti di tempat parkir" fikir jeje "oiiih.. " lima pria itu menahan jeje "ikat dengan kuat" kata mereka "bangsaat!!! dasar sialaan!! " seru jeje "diam!! " salah satu dari mereka memeriksa saku jeje mengeluarkan ponsel, pisau dan beberapa benda lainnya "brengsek!! " jeje masih mencoba melawan "dasar keras kepala" salah satu dari mereka memukul jeje dengan keras "akhh" jeje meringis kesakitan.
"jeje kau tidak turun juga? " kata jerico sambil melihat beberapa orang turun dari truk dengan membawa keranjang berisi jeruk "hei pak.. bisa panggil kan jeje" kata jerico "mana dia? " kal datang "di dalam truk" kata jerico "maaf tuan anda memanggil siapa? " kata orang yang ada di dalam box truk "jeje.. gadis kecil" kata jerico "tidak ada gadis di dalam sini" kata orang itu "apa?? ".
jeje mengeliat berusaha melepaskan diri dari ikatan tali " oiih.. kalian ak menyesal!! "kata jeje " ternyata mudah ya menangkap adiknya tuan soikham "kata mereka " dasar brengsek!! "ucap jeje truk terus melaju dengan kecepatan semakin menjadi jadi " astaga truk itu " "lihat truk itu melaju sangat cepat" "woi lampu merah!! " "astaga truk jaman sekarang suka sekali ngebut di jalanan ramai" kata beberapa orang "astaga rizi truk itu mengarah ke mari " kata niko "hah iya kak cepat masuk masuk ke dalam mobil kita akan menghindar" kata rizi "wuzzzhh" truk itu melaju semakin cepat "OOOIIHH... DASAR SIALAN!!... BAJINGAN!!! OIH!!! " niko mengerut kan dahinya melihat truk itu melaju "tuan spion kita hancur karena truk itu" kata supir rizi "tenang aku sudah merekam nya biar kapok dia kita lapor polisi saja" kata leo "jangan kak nanti biar aku ganti baru" kata rizi "kau baik sekali" kata wahyu "ayo kita lanjut cari kostum buat menari " kata rizi "oke" kata wahyu "kau kenapa niko" kata leo "aku merasa mendengar suara.. yang gak asing" kata niko "maksud mu? " tanah leo sambil memberikan ponsel niko yang baru dia pakai "kata yang gak asing.. saat truk itu lewat" kata niko "ahh.. mungkin perasaan mu" kata wahyu "kok aku jadi gak tenang seolah olah aku ingin menghentikan truk itu" kata niko dalam hati.
"dasar brisik" seorang pria memukul jeje dengan kuat "akhh" membuat jeje terdiam sesaat sebelum jatuh tidak sadarkan diri. "dia bawa pisau sangat banyak" kata salah satu dari mereka "iya.. ku rasa dia ini seorang pembunuh juga" kata yang lain. "kita ke pelabuhan dulu mengambil barang barang kita" kata salah satu dari mereka mobil mereka berhenti di pelabuhan "anak ini gimana? " tanya pria pertama "masukan ke dalam kotak besar itu ayo" kata mereka sambil turun "kau jaga dia " kata pria berkumis tebal "tidak mau.. aku juga ikut aku ingin buang air" kata pria kurus "ya sudah ayo kita titip mobil kita " akhirnya mereka turun.
jerico mencari jeje ke semua truk yang ada di pabrik "jeje!! eh NONA JEJE!! AYO KELUAR JANGAN SEMBUNYI!! " seru jerico "jeje!! jeje!! " kal mencari ke arah lain "bai panggil nona ke sini dia belum ada makan dari tadi" kata chai "baik tuan" kata bai.
seorang pria berbaju putih menghampiri truk apel tempat jeje berada "hei ini masih ada barang barang cepat pindah kan" kata nya beberapa orang langsung datang dan masuk ke dalam box truk yang setengah terbuka, mengangkat semua isi di truk itu lalu membawa nya ke dalam sebuah peti kemas "sudah semuanya? " tanya pria berbaju putih "sudah!! pak" kata beberapa orang "jalan kan kapal nya" kata pria berbaju putih itu.
Steven menatap chai yang berjalan melihat ke semua arah "kemana nona? " tabay chai "maaf tuan nona tadi berada di dalam truk apel tapi sekarang entah kemana" kata Steven "truk apel? " kata chai "benar tuan" kata lim "tuan" jerico datang "kau yang mengawasi nona kan? " kata chai "maaf tuan tadi saya yang mengawasi nya nona minta naik ke dalam truk saya menunggunya tapi dia tidak kunjung keluar dan sekarang malah menghilang" kata jerico "KAU BILANG APA?? " chai menatap jerico "maaf tuan nona benar-benar ingin mencoba apel yang ada di dalam truk" kata jerico "hari ini truk tidak ada yang membawa apel!! apel sudah datang kemarin!! " kata chai "tapi tadi ada truk apel tuan" kata kal "ini tidak benar!! periksa CCTV dan kau jika terjadi sesuatu aku akan menembak mu" kata chai "maaf tuan" kata jerico.
lima pria saling berdebat "bagaimana ini? kenapa isi truk kita kosong" kata mereka "tanya supri dia yang tersisa di mobil" kata pria berkumis "oke" pria kurus berjalan ke depan truk melihat ada pria yang tertidur "supri!! supri!!! hoi.. " seru pria kurus "aah.. aapa" supri terkejut "dimana isi truk kita" kata pria kurus "hum.. bukan nya kalian yang men jaga aku tidak tau aku tidur dari tadi" kata supri "gawat" kata pria kurus "bagaimana ini rencana bos gagal" kata mereka "seharusnya kita membawa gadis itu ke markas dan kita akan melakukan Penukaran dengan bos agar bos bebas kalau begini" kata pria berkumis "kita cari gadis itu sebelum terlambat" kata pria kurus. mereka pun saling berpencar memeriksa semua yang ada di pelabuhan namun jeje tidak di temukan "bagaimana ini iska? " tanya supri "kau juga kenapa malah tidur" kata iska "gimana feri, iwan, wira apa kalian menemukan nya? " tanya pria tinggi "tidak kalau kau wandi? " tanya wira "tidak juga.. habis kah kita.. rencana nya jadi hancur" kata iwan "bos akan marah" kata wandi "sial sial.. sial.. " kata feri "peti kemas di sini semua nya masih kosong" kata iwan "jadi arti nya ada seseorang yang mencuri gadis itu dari kita pasti orang suruhan seperti kita" kata feri "kalau begitu .ayo kita cari mungkin masih di jalan sekitar sini, ayo cepat masuk ke dalam mobil" ujar supri.