
"ini hasil test kesehatan anda nona" kata dokter "oke" kata jeje dia langsung beranjak pergi "kenapa gejala nya tidak muncul lagi ya" fikir jeje sambil berjalan "dokter dokter.. lakukan lah oprasi nya jika.. jika sudah ada pendonor nya" jeje melihat seseorang yang tidak asing "tapi anda belum melunasi biaya nya" kata dokter "aku aku akan bayar setelah nanti pulang kerja tidak bisakah anda mengerti ini soal nyawa kakak perempuan ku sekarat" kata seorang wanita "dia butuh pertolongan" wanita itu terlihat memohon jeje langsung memalingkan wajahnya nya ketika wanita itu berbalik menatap nya jeje langsung buru buru pergi.
malam harinya...
jerico terkejut melihat jeje datang dengan hoodie hitam "kenapa kau tidak memakai baju balap mu? " tanya jerico "tangan ku terluka" jeje menatap tangan nya yang di perban "apa? " kata jerico "aku tidak bisa tanding malam ini " kata jeje "ada apa dengan tangan mu? " tanya sam "ya ampun jeje" kata bad "jangan sok peduli cepat pergi pertandingan akan di mulai" kata jeje "kemana jeje? " tanya sara "dia tidak ikut" kata al jeje menatap crist yang tersenyum mengejek jeje berjalan perlahan ke sebuah kotak menghampiri pria kurus berbaju hijau "jeje kau tidak bertanding? " kata pria itu "tidak hari ini aku akan bertaruh" kata jeje "oke siapa jagoan mu" kata pria itu "tas nya" kata jeje dua bodyguard datang membawa dua koper hitam "lima ratus juta untuk dia" jeje menunjuk salah satu peserta balap pria kurus itu tak dapat berkata apa apa lagi, para penonton terlihat mencari cari jeje "oih.. " jeje berdiri di menara semua nya menatap jeje "hari ini tangan ku cedera saat latihan jadi aku tidak akan bertanding " kata jeje
"ya ampun dia cedera"
"padahal aku sudah pasang taruhan"
"sayang sekali"
"jagoan ku tidak bertanding"
"semuanya!! 3-2-1 mulai!!! " suara motor terdengar keras para peserta mulai mempercepat kendaraan mereka.
"kenapa kau melakukan ini? " kal berdiri di belakang jeje "bukan masalah besar" kata jeje "kau seharusnya bisa bertanding" kata kal "tidak aku sedang cedera parah" kata jeje "bruuaggg" jeje menoleh ke arah sirkuit terlihat bad terjatuh bertabrakan dengan pembalap lainnya "ayolah... " kata jeje.
di markas..
piring di elap dengan bersih oleh desi "aku tidak tau kalau anak itu cedera dia juga dari sini tadi sore dan dia oke oke saja" kata jojo "siapa yang cedera? " tanya niko "jeje" kata jojo "kok bisa? " kata memo "aku juga heran kapan dia jatuh" kata desi "oh ya dia bilang kan tadi dia mau ke rumah sakitt pas kita telpon nah mungkin itu karena dia jatuh saat perjalanan pulang" kata Ariel "kau tau dari mana? " tanya niko "dari al" kata jojo "di kampus dia juga oke oke saja masih kuat menampar ku" kata niko "mungkin ada yang dia rencananya" kata memo.
"yeeeeeeaahhhhhh" para penonton bersorak ketika sara sampai ke garis finish di susul dengan al dan yang lainnya "akhirnya... " sara meneteskan air mata "selamat ya" kata sam "terimakasih terimakasih" kata sara.
"tap" seorang pria berhenti berjalan tepat di depan jeje "kau sudah terlalu sering melakukan kecurangan dalam pertandingan" kata jeje "oh ya? ku fikir kau yang melakukan sebaliknya " kata pria itu yang tak lain adalah crist "aku masih menahan bukti bukti mu" kata jeje "apa kau mencoba mengancamku? " tanya crist "aku bukan tipe pecundang seperti mu" jeje maju selangkah "aku bisa membunuh mu kapan pun yang aku mau" kata jeje "jangan karena kakak ku pemilik sirkuit ini kau jadi sok berkuasa" kata crist "tap" tangan jeje di tahan kal ketika jeje hendak menyerang crist "prilaku pengecut mu itu dapat membunuh peserta lainnya sekali lagi aku melihat mu begitu aku yakin aku akan mematahkan kaki mu dengan satu tendangan" kata jeje "jangan harap ka bisa ikut bertanding lagi" kata jeje "coba saja" crist pergi "ayo kita pulang" kata kal sambil menarik jeje.
keesokan harinya..
"tap" jeje berhenti dia perlahan turun dari sketboard nya melihat niko sedang menelpon di lorong "kenapa selalu ada dia di sekeliling kampus" fikir jeje sambil berjalan santai "tap" niko datang memblokir jalan nya "selamat siang baby" kata niko "kau terlihat pucat eh?? tangan mu kata nya cedera" kata niko "oh ya makan yuk di kantin" kata niko "kau tidak bosan bicara pada ku? " kata jeje "kenapa bosan? ayo" niko menarik tangan jeje "aku.. aku tidak mau" kata jeje "aku lapar ku yakin kau juga " kata niko "jeje" dila menghampiri nya "kata pak Gilang kita akan ke pantai buat penelitian" kata dila "benar" kata vito "kalian ikut ke kantin? " kata niko "hum? " vito menatap dila "aku traktir" kata niko "jalan" kata jeje sambil menatap dila "iya kami ikut" kata dila.
di kantin..
"ini ramen mu " bibi kantin meletakkan semangkuk ramen untuk jeje "bibi kau tidak salah? " kata jeje "apa? " kata bibi kantin "ramen nya dengan daging sebanyak ini? " kata jeje "iya" kata bibi kantin "selamat makan" bibi kantin pergi "sudah makan saja" kata niko jeje melihat ramen milik niko daging nya tak sebanyak milik nya "selamat makan!! " kata dila "telpon yang lain ajak mereka si pecundang ini akan membayar makanan kita hari ini" kata jeje "oh oke" kata vito "tidak masalah jika kau suka aku bisa mentraktir satu kampus jika kau mau" kata niko sambil tersenyum "makan yang banyak ya" kata niko "hei hei kenapa tidak mengundang ku untuk makan" kata leo "kemari lah" kata niko "beneran nih" kata leo "bibi aku mau pesan bakso" kata leo "aku juga" kata ale "Hai" mawar datang "sini sini gabung" kata ale "hm? " jeje mengambil ponsel nya yang berbunyi "siapa? " tanya niko "kakak ku" jeje berdiri "halo kak" kata jeje "jeje dengar kan aku" kata chai wajah jeje seketika berubah.
niko memperhatikan jeje yang masih bicara di telpon "baby kau mau kemana? " tanya niko ketika jeje berjalan ke arah pintu jeje terdiam sesaat menatap teman teman nya lalu pergi "baby!!! " niko berlari mengejar jeje "baby.. baby tunggu kau mau kemana? " kata niko tapi terlambat jeje telah menghilang dengan cepat.
di tempat lain..
"apa saja.. kau tidak kelelahan? "
"ahh kakak bicara apa tau gak, aku mendapatkan gaji yang sangat besar jadi kita bisa beli apa saja"
"aku sangat senang adik ku sekarang sudah mandiri"
"kita akan jalan jalan ketika dokter sudah menyatakan kau benar-benar bisa di bawa pulang"
kau cerita terus kapan kau belikan aku makanan, udah lama aku tidak makan cake dengan krim tebal"
"oke oke aku akan cari cake.. Tuhan aku sangat bahagia"
"sara cepat"
"iya iya aku pergi tapi kau jangan kemana mana ya kau baru selesai operasi kemarin"
"iya"
"berjanji lah"
"iya iya aku udah lapar nih"
"berjanji"
"aku janji gak akan kemana mana".
" dokter dokter kakak ku tidak bergerak!! dokter!! "cake yang di pegang sara jatuh ke lantai " apa yang terjadi? kakak!! ".
sara menagis semakin keras " kakak kau berjanji.. kau sudah berjanji!! "seru sara al mengusap air mata nya " ini sangat sedih"kata al sambil menatap jeje namun tak ada air mata yang keluar dari mata jeje dari wajah nya jeje terlihat tenang dan damai tidak bicara sedikit pun sara melihat jeje berdiri tak jauh dari nya sara langsung berdiri menghampiri jeje menatap tangan jeje "kakak ku.. hisk.. hisk.. ingin melihat mu untuk mengucapkan terimakasih,.. terimakasih jeje.. kau sudah rela berpura-pura sakit demi aku... " kata sara "di mana jeje? " kata sara saat balapan "aku melihat jeje saat di ruang ganti dia memakai kan perban ke tangan nya padahal tangan nya tidak luka sedikit pun aneh kan" kata sam sara menggenggam tangan jeje "kakak ku sembuh.. hisk.. hisk.. bisa bicara.. bisa melihat ku... aku membeli cake dan juga ingin mencari mu agar kakak ku senang bisa melihat mu.. namun... " kata sara kal mengetuk punggung jeje "peluk " bisik kal "dia malah pergi padahal dia sudah berjanji untuk tidak kemana mana.. hisk hisk jeje dia pergi" kata sara jeje terdiam tanpa reaksi sara memeluk nya jeje menatap akemi di kejauhan memberi isyarat agar jeje membalas pelukan sara namun jeje tidak melakukan nya "hisk.. hisk.. kenapa Tuhan tidak adil pada ku.. kenapa... " kata sara sambil mempererat pelukan nya jeje terlihat tidak bicara sedikit pun dengan muka datar dia hanya diam di peluk sara "sara ayo ke rumah sakit tas mu tadi kita tinggalkan di sana" kata al tapi sara masih menangis "jeje maaf ya.. " kata sara sambil melepaskan pelukan nya jeje diam perlahan dia membuka hoodie nya lalu memakaikan nya ke sara dan juga melepaskan topinya dan memberikan ke sara dan memberi isyarat agar sara masuk ke dalam mobil nya sara mengangguk pelan "tap!! " sara terkejut saat dia ingin berbalik untuk melihat makan kakak nya jeje langsung menahan leher nya "terus jalan" kata jeje.
di rumah sakit...
sara mengambil tas nya dan juga peralatan rias kakak nya jeje hanya berdiri di dekat pintu "eh?? " jeje perlahan masuk ke dalam kamar yang di pakai buat merawat kakak nya sara mengamati selang kecil yang tergantung "ada apa? " tanya sam "klik" jeje mencoba merasakan oksigen yang kata nya bermasalah "oksigen ini baik, tapi di mana salah nya" fikir jeje sampai akhir nya kal datang setelah di panggil jeje "seseorang merusak selang nya maka nya oksigen nya tidak sampai" bisik jeje "aku mengerti" kata kal "lihat CCTV" bisik jeje "ada apa? " tanya sara tapi jeje tidak menjawab dia malah melempar kunci mobil ke arah sara "pergi sana " kata jeje "ayo" kata sam sambil membantu sara membawa tas "firasat ku mengatakan kau pelakunya" kata jeje sambil mengepal tangan nya.