What Is Love

What Is Love
menepati janji



pagi hari yang cerah cahaya mentari yang kekuningan menyinari semuanya "pagi kak niko" sapa orang yang lewat "ya ya pagi juga" kata niko sambil terus berjalan, "dia belum juga datang" kata niko dalam hati "kapan kau sembuh" guman niko "kak niko" dila menghampiri nya "ya" kata niko "jeje beberapa hari ini tidak hadir apa kau tidak tau di mana dia" kata dila "hum dia.. aku tidak tau" kata niko "aduuuh kamu ini gimana sih, kak niko kau menyukainya setidaknya cari tau tentang nya. dasar gak peka" dila segera pergi "cewek itu aneh datang gak di undang marah marah gak jelas pergi seenaknya" kata niko.


chai melihat jeje dan milli di atas tangga "kenapa lama sekali, cepat kemari makan sarapan mu" kata chai "jangan membuat ku marah ya! " ucap jeje dengan mata memandang ke depan "ayo nona" kata milli jeje menganggukan kepalanya.


vito mengerutkan dahinya melihat kursi jeje kosong "kemana sih anak itu? " kata vito dalam hati "jeje kira kira kemana ya? " kata dila "halah kaya gak tau dia aja" kata baim "iya pasti dia bolos lagi" ujar Shela "gak mungkin lah selama ini" kata vito "iya ini aneh" kata dila "bahkan dia pernah sebulan gak datang" kata baim "betul tuh" kata Shela.


archie melihat ponselnya sambil tersenyum "aku ingin beli tapi dia masih belum kembali juga" kata archie "eeiii kau mau membeli bunga ya" kata leo "ih aku tuh cuma lihat lihat saja" kata archie. niko masuk ke dalam kelas "hm dah ramai aja" guman niko sambil meletakan tas nya di kursi dia menatap archie yang sedang melihat ke arah nya "Hai niko" sapa archie "um" niko mengangguk lalu duduk "dingin banget" kata archie dalam hati sambil lanjut melihat lihat sesuatu di ponselnya.


malam harinya di sebuah tempat makan mewah chai meletakan sepotong daging ke piring jeje "makan yang banyak" kata chai "hum" jeje mengunyah makanannya "kau tidak menjenguk kak monnie? " tanya jeje "tidak" kata chai sambil memasukan makanan ke mulutnya "kenapa? " kata jeje chai diam "jangan banyak tanya makan saja" chai meletakan sepotong daging lagi ke piring jeje.


"jangan gitu dong" kata wahyu "kau gak tau yu, gimana nahan rindu" kata niko "ya ya aku tau" kata wahyu "menurut mu archie suka jeje gak sih? aku lihat dia kaya gimana gitu lihat jeje apalagi pas dia nangkap jeje" kata niko "lalu kau cemburu? " kata wahyu "pakai nanya lagi" kata niko "aduhh.. kok berhenti mendadak sih yu! " kata niko "lampu merah nikoooo berhenti lah mengeluh" kata wahyu sambil sedikit menoleh ke arah niko "eh" wahyu melihat sesuatu "niko.. niko" kata wahyu "jangan panggil aku malas bicara" kata niko "baiklah" kata wahyu "awas kau nyesel nyampe rumah" kata wahyu.


keesokannya...


wahyu menyiapkan sarapan di meja "hari ini kira kira dia datang gak ya" kata niko "ku rasa dia datang kemarin malam aku melihat jeje di dalam mobil aku juga ragu sih itu jeje atau bukan tapi muka nya sama persis" kata wahyu "hah!! "niko langsung meletakan gelas nya " iya aku mau tanya kamu eh kamu nya malah cuek ingat gak kemarin malam? "kata wahyu " aduuuhh.. kok kamu gak ngomong yu"kata niko "jangan panggil aku malas bicara hm! siapa yang bicara begitu? " kata wahyu "AAAAAHHHHH... maaf.. duh" niko menepuk dahinya.


Tini menatap kursi jeje yang kosong "kalian pasti pernah belajar sejarah kan? " kata Tini "pernah bu!! " sahut mahasiswa "coba apa itu sejarah? " kata Tini, mobil berhenti chai melihat jeje keluar dari mobil "eei.. " kata chai jeje pun berbalik "hum? " kata jeje "hum.. " chai terlihat ingin bicara sesuatu "hum.. aku" chai langsung mengusap wajahnya "aku tidak bisa mengatakan nya" fikir chai "apa? " kata jeje "semangat ya! " kata chai "kurasa kau harus segera pergi. jadwal meeting hari ini jangan terlambat" kata jeje "oh.. ya.. ya" kata chai mobil pun pergi "sebenarnya aku mau mengatakan aku sayang kamu tapi susah banget" kata jeje dan chai dalam hati.


"griittt" semua mata menoleh ke arah pintu "jeje" kata vito "masuk lah" kata Tini jeje pun langsung berjalan ke arah kursinya "brugg!! " semua menoleh ke arah jendela "apa itu tadi? " kata baim "iya apa itu tadi" kata yang lain "ayo ayo fokus" kata Tini. "aduhhhh... " kata leo "maaf" kata niko "kenapa kau tiba tiba menabrak ku" kata leo "gak ada ayo cepat beresin buku buku ini" kata niko leo yang melihat wajah niko merah langsung menggigit bibirnya sendiri "kenapa kau? " kata niko "pasti kau habis melihat jeje kan? makanya jadi salah tingkah" kata leo "tutup mulut mu" niko langsung pergi.


suara bell sudah terdengar "Hai kau kemana saja je? " tanya vito "iya kau kemana saja? " kata dila "kenapa kau diam? " kata vito "ehem" niko terlihat berdiri di ambang pintu "kak niko" kata vito "boleh aku bawa teman kalian dulu? " kata niko "oh.. o.. ya ya boleh" kata dila jeje menatap ke arah niko "ayo" kata niko "ada masalah dengan absen mu" kata niko jeje terlihat santai seperti biasa perlahan berdiri "kau mengganggu ku" kata jeje "ayo kita perlu bicara, kau mau jalan atau aku harus menarik mu? " bisik niko "jalan lah" kata jeje.


niko membawa jeje ke ruangan biasa niko dan temannya diskusi "hum.. ku... ku.. kuyakin kau tidak lupa" kata niko "apa? " kata jeje niko langsung terkejut "oh ayolah jangan bercanda. coba ingat ingat apa yang kau katakan waktu di rumah sakit" kata niko "aku tidak mau" kata jeje "ohh.. ya ampun jangan jangan kau " kata niko jeje menatap mata niko "ini sangat menyebalkan " kata jeje "AA.. kau jangan pura pura lupa ya dengar ini" niko memutar sebuah rekaman suara "huh!! aku akan pergi saja dengan mu" terdengar suara jeje "baik baik aku pergi bye... semoga lekas sembuh jangan lupa janji mu" terdengar suara niko "iya aku ingat aku akan pergi dengan mu" kata jeje "dan kau akan katakan iya apapun yang ku mau" kata niko "iya iya" niko mematikan rekaman nya "lalu? " kata jeje niko menggaruk garuk kepala nya "jadi kapan waktu luang nya? " kata niko "hah" jeje menghembuskan nafas nya yang terasa berat "kau benar benar sialan ya" kata jeje "ya ya ya ya apa saja kata mu" kata niko "jadi gimana? " ujar niko sambil menaikan alisnya "baik" kata jeje sambil melipat kedua tangan nya "kapan? " kata niko "besok saat masuk pelajaran ke dua aku akan ikut dengan mu" kata jeje niko langsung tersenyum jeje ingin berbalik tiba tiba "kemana barang yang kau bawa waktu itu? " kata jeje "di rumah ku" kata niko "bawa besok" kata jeje "oh tidak bisa" kata niko jeje langsung mengepal tangannya "jangan lupa, kau yang bilang kau sendiri yang akan menjemput nya di rumah ku" kata niko "huh!! " jeje melempar buku yang di dekat nya ke arah niko "**** you" jeje langsung keluar dari pintu "hei" jeje melihat archie jeje hanya diam dan lanjut berjalan "hum.. jeje" kata archie jeje langsung berhenti "apa kabar? " archie berjalan ke depan jeje "mau apa dia" fikir jeje yang langsung memasang wajah datar "bisakah kau ikut dengan ku sebentar? " kata archie niko melihat archie dari celah jendela "menyingkir lah sekarang sebelum aku menabrak mu" kata jeje "hum.. baik tunggu sini" archie lari dengan cepat jeje pun lanjut berjalan "jejeee!!! " mawar berlari ke arahnya "tap! " jeje menahan tubuh mawar dengan tangannya "gimana apa mata mu masih sakit? " kata rizi "bawa makanan ke kolam aku lapar" jeje langsung pergi.


"waktu itu kak niko juga terkena pisau sama seperti kak wahyu" kata mawar "benar.. tapi mereka malah sama seperti kami jujur aku sangat takut kau terluka" kata rizi tetapi jeje hanya diam dan tetap mengunyah makanannya "kami juga menitipkan sesuatu untuk mu ke kak niko apa dia memberikan nya padamu? " tanya rizi jeje meneguk colanya "makanan ini tidak terlalu buruk dimana kalian mendapatkan nya? " kata jeje "hum.. yang mana? " kata mawar "roti sandwich buah ini kalau yang lain ini pasti buatan bibi kantin yang ini bukan" kata jeje "hum.. hum.. i.. itu.. itu.. " mawar gugup "itu dari anggel untuk mu" kata rizi "oh" kata jeje "berarti benar yang memberi ku kotak makanan tiap hari adalah anggel tapi roti sandwich buah ini tidak seenak sebelum nya" fikir jeje.


malam hari nya jeje duduk dengan kal "siapa saja yang berada waktu itu? " kata jeje "beberapa orang dan juga niko" kata kal sambil memanggang sosis "ku fikir niko itu orang yang kebetulan nekat tapi aku salah dia bukan hanya nekad, tetapi juga pemberani. dia menolong mu waktu itu, dia memangku mu di saat kau kesakitan" kata kal "kenapa kau jadi bercerita tentang si pecundang itu" kata jeje "oh.. maaf tapi aku tidak tahan ingin cerita pada mu" kata kal "setidaknya ucap kan sesuatu pada nya meskipun kau membenci nya, dia juga terluka namun dia malah meminta kami menolong mu duluan" kata kal "huh" jeje memotong sosis di depan nya "kau tidak tau betapa buruknya kelakuan nya saat di kampus dia suka memaksa orang agar patuh pada nya" kata jeje "mungkin itu sudah tugas nya, dengar ya" kal meletakan sosis yang baru dia penggang ke piring besar di meja "setidaknya sesekali dengar kan ucapannya sebagai ucapan terimakasih karena dia sudah menolong mu" kata kal "ya ya ya aku akan lakukan itu lain waktu kak kal" kata jeje "anak pintar" kata kal "minuman datang" kata milli "wah.. pas banget kelihatan nya" kata jerico "awas kau jangan sentuh pemanggang nya, kau tidak bisa melakukan nya semua yang kau panggang akan jadi hangus" kata kal "apa kata mu? " kata jerico "itu fakta kau tidak mengakuinya? " kata kal "lihat ya" jerico meletakan daging ke atas pemanggang "aku akan menjadi kan ini daging lezat" kata jerico "haaah" jeje menepuk dahinya.


"banguuun yuuu wahyuuuu!!! " seru niko wahyu yang mendengar suara niko langsung bangun "tumben sekali dirimu! ada apa ini" wahyu melihat ke arah jam "apa!!! jam lima? kau serius niko ada apa dengan mu kenapa kau jadi serajin ini? " kata wahyu "ayolah... aku lagi bersemangat!! yyyeaahhh yaaah... I WILL MISS YOU... I MISS YOU" wahyu terlihat bingung dengan tingkah niko "ayolah yu... mandi sana biar aku yang masak" kata niko "aneh" fikir wahyu.


jeje mengulurkan tangannya "toss di pagi hari" kata jeje "toss juga" kata Ariel dan yang lain "hati hati lu" kata jojo "yoi.. kalian juga gue pergi dulu" kata jeje "ya ya.. hati hati" kata yang lain, "lihat orang itu baik banget" kata Shela "iya tuh" kata hima "gitu tuh baru aku suka kalau berbagi ke orang gak perlu di rekam di jadiin konten" kata Shela "aku juga suka gitu" kata hima sambil tersenyum.


"hiasan" jeje melompati pagar tembok "awas jatuh" kata kal "ya ya ya kau cek calista chaije"kata jeje "iya nanti aku kembali" kata kal jeje mengangguk lalu melompat turun jeje melihat seseorang berdiri agak jauh darinya "siapa tuh? " jeje lanjut berjalan "jeje pagi" kata archie sambil membawa buket bunga berwarna biru "hm" tangan jeje ditahan saat jeje tetap mau pergi "hah! " dila langsung sembunyi melihat archie memegang tangan jeje langsung saja jeje seketika membuat gerakan cepat menepis tangan archie dan menarik kerahnya "mau apa kau? " kata jeje "oh.. maaf maaf" kata archie jeje juga melepaskan kerah archie "aku hanya ingin memberikan mu bunga ini " kata archie "oh" kata jeje "maaf membuat mu terkejut" kata archie jeje memperhatikan bunga biru itu "ini untuk mu" kata archie "hum? " jeje mundur sekangkah "buat apa?" tanya jeje archie tertawa "kau lucu sekali, ya untuk mu terserah mau kau apakan" kata archie "hei kau sed-- hmmph" mulut vito di tutup sama rizi "jangan jangan kak archie suka dengan jeje? " kata mawar "ambillah" kata Archie jeje masih diam dan melihat bunga itu "JEJE!!! JEJE!!! " jeje berbalik mendengar suara mawar di kejauhan "jeje pak dosen memanggil mu!! " terdengar suara mawar lagi "jeje!! " suara mawar semakin dekat "mereka akan datang simpan bunga mu" jeje langsung pergi "oi.. oi" jeje melihat mawar "eh kau di sini" kata mawar "suara mu mengangguk ku" kata jeje "maaf" kata mawar tiba tiba bell berbunyi.


niko menatap Gilang di depan yang sedang menjelaskan materi yang sedang di bahas "berapa agama di Indonesia? " kata Gilang "lima" kata leo "enam" kata yang lain "duh... gak sabar" guman niko sambil mengetuk ngetuk tangannya dengan pena "dia semakin aneh saja" fikir wahyu.


vito menoleh ke arah jeje yang sedang mengunyah permen karet di mulut nya dengan tenang dan santai, vito terkejut di saat jeje menatap ke arahnya "hum" jeje melempar dua bungkus permen karet ke arahnya .


chai memperhatikan pria yang berdiri di depan yang sedang membahas produk produk yang akan di keluar kan, "ya itu boleh juga" kata chai "iya aku setuju juga" kata yang lain.


jeje mendengar suara bell dia langsung berdiri dan pergi keluar dia meletakkan tas nya ke dalam lokernya. niko pun langsung bediri "kau mau kemana dosen akan datang sebentar lagi" ucap leo "iya " niko keluar dari kelas dengan cepat bahkan setengah berlari "Hai semua" Tini masuk ke dalam kelas "halo bu" kata yang lain.


niko berlari melihat ke segala arah "kemana dia? " niko terus berlari sampai dia melihat jeje melompati pagar niko pun segera menuruni tangga dengan cepat menuju parkiran.


jeje berjalan santai sampai niko datang dengan motornya "ayo" kata niko "hm?? aku akan naik taxi dan kau naik motor mu" kata jeje "tidak bisa kau harus naik " niko turun dari kendaraan nya "kau akan mengiyakan apa yang ku mau hari ini. jadi kau akan naik di belakang ku" niko langsung memasang kan helm ke kepala jeje "sekarang bisa kita pergi" kata niko "hah! ya terserah mu! " kata jeje niko pun tersenyum.


motor kembali melaju "kau akan membawa ku kemana? " kata jeje "yah.. kemana saja" kata niko "kalau begitu bisa kita pergi ke toko untuk cari masker? " kata jeje "masker? " kata niko "hm" kata jeje "tapi buat apa, cuaca juga sedang bagus debu juga tidak ada. kenapa kau ingin pakai masker? " ucap niko "huh!! banyak tanya sekali!! " jeje kesal niko terkekeh "hari ini ku minta padamu untuk bersikap ramah dan tidak boleh marah" ujar niko "tapi aku butuh masker! " kata jeje "tidak bisa, pegangan! " kata niko "kau jangan cari kesempatan dalam kesempitan ya! " kata jeje.


jeje melihat buku menu "aku hanya ingin cumi panggang, sosis bakar, dan cola dingin" kata jeje "sedikit banget, kau yakin kau akan kenyang? " tanya niko "pelayanan bawa saja semua makanan ke sini" kata jeje niko terkekeh "semuanya nona? " tanya pelayan "apa kau tuli, cepat antar semuanya ke sini!!! " kata jeje.


niko melihat jeje mengunyah makanan nya dengan santai "apa lihat lihat cepat makan! " kata jeje "iya iya" kata niko "sudah selesai, pelayan!!! pelayan!!!! " kata jeje niko terkejut melihat apa yang di lakukan jeje "iya nona" kata pelayan "kami sudah selesai dia yang bayar" kata jeje "baik" pelayan itu memberikan sebuah kertas ke niko "seratus tiga puluh lima juta " guman niko "ayo cepat! " kata jeje sambil berdiri "oh nona jeje soikham, salam nona" seorang pria berjas hitam datang jeje langsung mendorong niko dengan kakinya agar niko menjauh "ya tuan salman" kata jeje "tak ku sangka kau datang ke tempat ku, apa kau sudah makan? ayo pesan lagi " kata salman "aku baru saja selesai dan ingin membayar" kata jeje "oh sungguh aku baru saja datang dan kau sudah selesai" kata salman "ya sekarang aku harus pergi" kata jeje "tunggu nona soikham, pelayan kemarin lah" salman memanggil seorang pelayan "iya tuan" seorang pelayan datang "berikan bingkisan terindah ke nona soikham dan juga jangan biarkan dia membayar jika makan di sini" kata salman "aih tuan salman jangan begitu" kata jeje pelayan tadi datang membawa bingkisan besar "anda dengan siapa ke mari nona? " tanya salman "aku datang sendiri kebetulan aku lewat" kata jeje "ohh.. baiklah nona sampaikan salam ku pada tuan muda ya dan jangan bayar apapun " kata salman "tidak bisa tuan" kata jeje "aku kan mau bikin si pecundang trauma " fikir jeje "tidak papa nona ayolah.. anggap ini hadiah dari ku ayolah nona ku mohon atau aku akan bersujud di depan mu" kata salman "tuan aku pergi saja terimakasih" kata jeje lalu dia pergi dan memberi isyarat ke niko agar keluar duluan.


jeje berjalan ke dekat motor niko "baik lah nona soikham apa kita harus membawa bingkisan ini ke rumah ku dulu" ujar niko "jangan panggil aku begitu anak bodoh ayo cepat jalan" kata jeje.


niko membawa jeje pergi ke tempat tempat yang indah, mereka bermain wahana "ayolah" niko menarik tangan jeje dan mereka duduk di baling baling, naik perahu sambil memancing jeje menoleh ke arah niko yang sudah dapat ikan sedari tadi "kenapa dia bisa dapat terus sih! " jeje kesal "memancing itu harus dengan senyuman yang tulus biar dapat ikan kaya aku nih" kata niko jeje hanya diam saja sambil melihat ke arah lain "aku ada ide, aku akan kalah kan kesombonganmu" kata jeje dalam hati niko kembali menarik pancing nya lalu melirik ke jeje "hah!!! kok bisa? " kata niko sambil melihat ember ikan jeje sudah penuh "kau pakai alat itu lagi? " kata niko "tidak, kau fikir cuma kau saja yang bisa dapat ikan banyak" kata jeje "untung aja aku beli ikan anak itu" kata jeje dalam hati sambil melihat perahu yang di samping nya sudah menjauh "salah ikannya juga, aku kan jago mancing kok bisa aku yang gak dapat ikan di sini" kata jeje dalam hati.


jeje duduk di sebelah niko "aku benci ini" kata jeje tak lama kemudian roller coaster mulai bergerak perlahan-lahan semakin cepat "waaahhh ini seru banget" kata niko "ku harap aku tidak teriak" kata jeje dalam hati.


niko menyodorkan es krim ke jeje "makan ini, ku yakin suasana hatimu akan semakin membaik" kata niko "yah, aku yang membuat mood ku jelek hari ini" kata jeje "eh.. dik tolong fotoin ya" kata niko "apa?? " jeje menoleh niko "iya ayo ciss" niko langsung menarik jeje.


"loh.. nona jeje" seorang wanita menghampiri jeje "eh.. apa aku mengenal mu? " kata jeje sambil melangkah menjauh dari niko "aih.. aku ini rekan kerja kakak mu" kata wanita itu tak lama kemudian wanita itu pergi "kau lihatkan jika aku tidak pakai masker pasti ada saja orang yang mengenaliku! untung saja bukan orang rese" kata jeje "jangan mengeluh aku melindungi mu ayo" kata niko.


jeje melihat suasana alam di dekatnya dia menarik nafas lalu menghembuskan nya perlahan angin bertiup perlahan menggoyang kan rambut nya jeje memejamkan matanya niko terdiam melihat jeje "indah kan? " kata niko "kau tau jawabannya" kata jeje "kau tau dulu aku sangat ingin memiliki rumah pohon tinggi seperti ini tapi itu hanya mimpi" kata niko sambil tersenyum "ini kan rumah pohonnya jika kau mau bawa saja pulang " kata jeje niko tertawa "apa kau bercanda? " kata niko "kenapa? kau tidak kuat? kalau begitu hancurkan saja lalu bangun lagi di samping rumah mu! biar kau ada kerjaan selain mengganggu ku" kata jeje "hahaha ada ada saja" kata niko sambil menuangkan minuman ke gelas jeje "bersulang! " kata niko.


"tapp" panah kecil menancap tidak tepat sasaran niko tidak menyerah dia terus mencoba "dasar payah" jeje pun meminta panah kecil pada pria yang berdiri dekat boneka besar "tap... tap.. tap! tap! tap!! " jeje melempar panah kecil itu secara beruntun "aku menang" kata jeje.


niko memegang stik yang terbuat dari kayu "jika masuk kau adalah pacarku" niko melempar stik itu tapi sayangnya tidak masuk ke dalam kotak sasaran "teriak bilang kau suka aku" niko melempar lagi "aku dan jeje adalah jodoh" kata niko "haah dasar payah" guman jeje sambil duduk melihat niko bermain "aku dan jeje adalah pasangan sampai akhir!! " niko kembali melempar "takl!! " stik itu masuk ke dalam kotak "tidak bisa" jeje berdiri "aku benci kamu!! " jeje mulai melempar stik dan itu langsung masuk ke dalam kotak "jika ini masuk maka kau akan antar kau pulang" jeje melempar lagi "sialll" stiknya tidak masuk ke dalam kotak "hahahahahhahahah hahahahahahahah kasihan lihat aku ya. aku ingin jeje menciumku" niko kembali melempar stiknya tapi itu meleset "kurangi waktu sehari jadi satu menit!! " kata jeje niko tertawa ketika stik jeje mengenai orang.


jeje meneguk es kelapa nya "huah.. enak banget" kata jeje "iya" kata niko "eh.. aku mau cumi panggang nya ya" kata jeje "siap nona" kata seorang pria "apa kau suka cumi panggang? " kata niko jeje menatap niko sekilas "aku biasanya makan itu di jalanan" ujar jeje "oh ya beda dengan ku biasanya aku suka makanan yang pedas" kata niko "aku gak peduli" kata jeje.


niko berhenti di toko baju "ayo cepat kita baju kembar" kata niko sambil menggandeng tangan jeje "aduuh... kenapa sih main tarik aja" kata jeje mereka pun masuk ke dalam "ini bagus gak sih, atau yang ini.. hum ini juga bagus" kata niko "kau suka warna apa ayolah pilih" kata niko "hei anak bodoh, tangan ku kau pegang dari tadi gimana bisa memilih? " kata jeje "oy ya ya" niko melepaskan tangan jeje "pelayan aku mau cari hoodie" kata jeje "tapi hoodie couple ya" sahut niko "dasar tukang copy" guman jeje pelayan pun datang membawa beberapa hoodie setelah selesai memilih mereka pun langsung memakai nya.


setelah keliling bermain wahana, makan, memilih baju, berfoto, mencoba game seru lainnya, pergi menikmati pemandangan, melukis, membuat patung, membeli manisan, mencoba makanan di jalan, ikut menari bareng orang, membeli aksesoris dan lainya akhirnya mereka berhenti di pantai yang luas "kau kelihatan nya suka main di air" ujar niko "tidak, aku hanya suka melihat air" kata jeje "aliran nya bisa membuat ku sedikit lebih tenang" kata jeje "aku juga begitu" kata niko "wah... lihat ke atas bintang nya banyak banget ya" kata niko "dasar aneh, memangnya kau tidak pernah melihat bintang. seperti anak kecil saja" kata jeje "hei jangan begitu, kau pasti juga sama seperti ku kan cuma kau menahannya" kata niko "aku berbeda dengan mu! " kata jeje "eh... eh.. lihat.. buruan lihat ke sana!!! itu itu nah ada bintang jatuh ayo katakan harapan mu pada Tuhan" ujar niko lalu dia mulai berdoa sambil memejamkan matanya jeje hanya melihat nya angin kembali bertiup mengayunkan rambut keduanya niko membuka matanya perlahan lalu menatap ke arah jeje cahaya Rembulan menerpa wajah mereka "kenapa diam saja ao lakukan begini" niko mengambil tangan jeje lalu menyatukan nya "pejam kan matamu, lalu berdoa lah mintalah sesuatu kepada Tuhan" kata niko jeje yang menatap mata niko perlahan tersenyum sinis "tidak akan" kata jeje sambil menggeleng kan kepalanya "kita berbeda, aku tidak percaya Tuhan" kata jeje niko menyatukan alisnya "mengapa? " kata niko "dia lah yang menjadikan orang orang seperti boneka, yang seenaknya dia lakukan apa saja, dia menjatuhkan boneka itu dia sakiti boneka itu. dan aku tidak mau menjadi boneka nya seperti mu. aku tidak percaya padanya" kata jeje niko teringat perkataan Ariel dan yang lain "jeje sudah di kendalikan oleh rasa sakitnya yang membuat nya menjadi sosok yang dingin, kejam, dan seperti orang yang kehilangan akal, rasa sakit juga yang membuat nya perlahan tidak mempercayai Tuhan" niko terlihat sedih "kenapa bisa anak seperti mu merasakan rasa sakit dan pahit nya masa lalu" fikir niko "kau terkejut ya? " kata jeje "hum! " niko melepaskan tangan jeje "hei boleh aku tanya sesuatu" ucap niko "kenapa kau bertanya bukan kah hari ini aku akan mengiyakan apa saja perkataan mu" ujar jeje "jadi bagaimana kalau mau ingin berdoa? " kata niko "aku tidak berdoa" kata jeje "aku tidak melakukan apa yang kalian lakukan, aku hanya melakukan apa yang membuat ku senang" kata jeje "mendengarkan mu bicara begitu seolah-olah kau sangat membenci Tuhan" kata niko "tidak papa aku akan membawa mu kembali seperti semula" kata niko dalam hati "kenapa melihat ku begitu? kau terkejut ya? " kata jeje "tidak, hum.. kau kelihatan menawan di bawah sinar bulan" kata niko "aku dengar kau terluka waktu menolong rizi" kata jeje "hum... tidak " kata niko "kau juga menolong nya" kata niko jeje menatap ke atas "anginnya membuat ku nyaman" kata jeje dalam hati "jeje" kata niko "hum" jeje kembali menatap niko "aku punya permintaan lagi" kata niko "hum.. maukah kau menjadi pacar ku" kata niko jeje langsung berdiri "waktu kita sudah habis" ujar jeje "habis?? " ucap niko "yah.. aku sudah menghabiskan waktu bersama mu seharian sampai sekarang dan ini sudah larut waktu dalam perjanjian telah habis" kata jeje niko ingin memegang tangan jeje tapi jeje mundur "cinta tidak butuh batas waktu, cinta menyatu dalam semua hal termasuk diriku. dan aku mencintaimu sungguh je aku sangat sangat mencintaimu" kata niko di iringi suara ombak kecil rambut jeje kembali di belai lembut oleh angin "aku tidak peduli! tidak ada cinta dalam hidup ku" kata jeje "aku tidak butuh itu" ujar jeje "oke.. kau memang tidak butuh sekarang, tapi di masa selanjutnya kau akan mengerti betapa indahnya cinta" ucap niko jeje menggelengkan kepalanya "oke kau sekarang memang tidak percaya tidak mengapa tapi bisakah kabulkan satu lagi keinginan ku, satu saja waktu kita masih lima menit lagi" ujar niko "waktu habis" kata jeje "oke gak masalah tapi aku punya permintaan pada mu, beri aku kesempatan agar aku membuktikan cinta dalam pandangan ku" kata niko "baik, ku berikan waktu seminggu pada mu jika kau berhasil kau akan--" ucapan jeje langsung di potong niko "jika aku berhasil maka kau harus jadi pacar ku" kata niko "deal! " kata niko jeje diam "anggap saja ini tantangan ku yakin kau tidak akan takut" kata niko "aku setuju" kata jeje.


sesampainya di rumah niko jeje melihat barang barang yang di berikan untuknya sangat banyak "aku tidak bisa bawa bunga sebanyak ini" kata jeje "tapi ini untuk mu dari mereka" kata niko "oke biarkan ini di sini jika kau berhasil bunga bunga ini kita tebar di kampus" kata jeje niko mengangguk "ku pastikan kau akan jatuh cinta padaku" kata niko "ku pastikan kau akan menyerah di jalan" kata jeje "aku akan antar kau pulang" kata niko jeje menolak "taxi sudah di depan " jeje pun berbalik "terimakasih atas waktunya!! " kata niko sambil tersenyum "ayo niko kita buat gadis itu jatuh cinta pada mu"ucap niko sambil menyemangati diri nya sendiri.