
chai keluar dari mobilnya melihat ada asap dari arah samping rumah nya "hei hei" kal melihat jeje "hum" jeje menatap kal "hei jangan di makan" kal melihat makanan yang di pegang jeje "kenapa ini kak jerico yang memanggang nya barusan" kata jeje sambil mengunyah makanan yang dia pegang kal menatap jerico "kenapa kau mau? " kata jerico "hei jeje jangan di makan" kal mengambil makanan yang di tangan jeje "ini belum masak jangan di makan" kata kal "hum.. tapi aku sudah memakannya dari tadi dan enak" kata jeje "tidak tidak keluar kan itu dari mulut mu" kal melemparkan tisu ke jeje "apa masalah mu" kata jerico "kau lihat saja ini sosis nya belum matang dan kau memberikan nya pada jeje" kata kal "itu sudah matang kau saja tidak paham aku ini handal dalam memasak" kata jerico "handal apa biar aku tunjukan pada mu cara memasak" kata kal "ya ampun" kata Steven "jeje kau makan apa lagi tuh? " kata kal "ini hanya daging" kata jeje "biar aku lihat" kata kal "kau cek saja semuanya" kata jerico "lihat ini bahkan belum matang" kata kal "kau jangan makan apapun biar aku masak" kata kal "hum... ini tidak papa kok" kata jeje "tidak ini tidak bagus" kata kal "minum nya siapa yang buat? " tanya kal "jerico baru membuat jus alpokat dengan toping alpokat coklat" kata jeje "kau selalu saja menyalahkan ku dan sok benar" kata jerico "ka lihat cara memasak yang benar" kata kal "coba saja kau tau ya aku paling handal memasak aku pernah ikut audisi master chef" kata jerico "wah.. sungguh? " kata hary "iya tapi kalah" kata kal "kata siapa aku menang kok" kata jerico jeje hanya terkekeh mendengar ucapan jerico dan kal "menang kalau begitu kau juara berapa" kata lim "hum.. juara satu" kata jerico "omong kosong" kal meletakkan sosis yang baru dia panggang ke atas piring lalu mengambil sesuatu yang kemudian di tusuk kan ke sosis itu lalu memberikan nya ke jeje "makan ini awas masih panas" kata kal "tidak coba dulu punya ku" jerico juga memberi setusuk sosis ke jeje "makan saja punya ku" kata kal "coba dulu yang aku masak" kata jerico "tidak usah" kata kal "hoi.. aku akan memakan nya satu per satu" kata jeje "jangan yang barusan di masak kal tidak enak kau harus percaya pada mantan chef seperti ku" kata jerico "kau bahkan tidak lulus di babak pertama chef macam apa kau" kata kal "jangan sok tau" kata jerico "kau sudah cerita kan semuanya saat melamar sebagai bodyguard di sini" kata kal "hahahah" yang lain tertawa "hei.. berani nya kau" kata jerico "ada apa ini" kata chai seketika suasana jadi hening "kak chai kau sudah pulang" kata jeje "hum" chai mengangguk sambil melihat jeje mengunyah makanannya sampai pipinya terlihat bulat "kau mau? jerico dan kal yang memanggang nya barusan" kata jeje chai mengusap kepala jeje "telan dulu makanan mu" kata chai "ini tuan" kal memberikan sepiring daging panggang ke chai "makan saja" kata chai "coba kak chai" jeje menyodorkan makanan nya ke chai "ayo kak " kata jeje chai menatap mata adiknya "ayo sebelum ku habiskan" kata jeje chai menunduk memakan sosis yang di kedua tangan jeje lalu mengusap rambut pendek jeje "sekarang habiskan lah" kata chai jeje tersenyum "aku akan pergi mandi" kata chai jeje mengangguk lalu chai pun pergi "gimana" kata jerico semua mata menatap ke arahnya "enak yang mana? " kata jerico "plak" kal memukul kepala jerico "kenapa kau masih belum sadar" kata kal "aahhk.. kenapa kau memukul ku kau takut ya yang aku masak lebih enak" kata jerico "tidak akan" kata kal "kapan kalian akur? " kata Steven "tidak akan! " kata kal dan jerico bersamaan "oi.. oi.. rasa nya sama sama enak " kata jeje "jangan katakan begitu kau harus pilih salah satu" kata jerico "astaga kenapa kau begitu naif? " kata hary "buka naif ini soal keahlian memasak" kata jerico "ha.. baik baik aku akan menentukan nya" kata jeje "ha.. baik katakan" kata jerico jeje tersenyum usil "kenapa lama sekali" kata jerico "biarkan dia mengambil keputusan" kata hary "ka diam saja" kata jerico "ya ya kalian diam saja" kata kal "ayo je kat--" jerico tidak melihat jeje ada di tempat nya lagi "puff haha" kal menahan tawa nya "haha hum. puff " yang lain juga tak berbeda dengan kal jerico menarik nafasnya "dia mengerjai ku" kata jerico "hahaha.. tidak papa masakan mu juga enak" kata kal sambil mengambil sosis yang di panggang jerico "ahh.. akhirnya kau mengakuinya" kata jerico "dan juga bikin aku mual" kata kal sambil kembali meletakkan sosis yang dia pegang "haa.. apa kau bilang" kata jerico "aku bilang masakan mu tidak enak" kal pergi menjauh "dasar sialan bilang saja kau iri pada ku!! mendekat lah akan ku petahkan kakimu" kata jerico yang lain hanya tertawa dan terlihat sudah terbiasa melihat jerico bertengkar dengan kal.
keesokannya..
milli dan beberapa pelayan menyiapkan sarapan chai datang dan duduk di kursi nya melihat kursi di depan nya kosong "kemana nona? " kata chai "tadi sudah saya bangunkan tuan mungkin nona sedang bersiap" kata milli chai meneguk minuman di depan nya "astaga... kenapa pagi bisa secepat ini!! " chai melihat jeje datang dengan rambut yang berantakan "pagi" ucap chai "pagi kak" jeje menatap makanan di meja "hari ini kau ke kampus? " tanya chai "kak, ayolah ini masih pagi jangan rusak mood ku dengan pertanyaan yang membosankan" kata jeje "bilang saja kau mau bolos lagi kan? " kata chai "enggak kok" kata jeje "kau harus rajin, sekarang makan lah" kata chai "kau lah yang harus lebih rajin" kata jeje.
wahyu menatap niko yang terlihat sedang berbicara sendiri di depan cermin dengan memegang setangkai bunga mawar berwarna biru "good morning baby... gak gak ini salah.. hum.. good morning baby eh.. Hai baby kau tau apa yang ku bawa hari ini? lihat apa kau pernah lihat bunga mawar berwarna biru" wahyu menggeleng kan kepala nya melihat tingkah niko "berhenti lah bicara di depan cermin dan cepat sarapan" kata wahyu "tunggu yu bentar lagi" kata niko sambil mengambil kamera nya lalu lanjut berdiri di depan cermin "baby.. kau tau gimana caranya mawar ini berubah jadi biru? " wahyu hanya tersenyum lalu pergi ke ruang makan.
jeje melihat mobil di depan nya "kak chaaaii" chai langsung menatap adiknya "kau mau apa? " kata chai "hum.. hehe kau tau saja" kata jeje "kau memanggilku dengan nada panjang pasti mau sesuatu" kata chai "hari ini aku ingin memakai mobilmu" kata jeje "kenapa? " chai melihat jeje dengan senyum usilnya "aku hanya ingin memakainya kau juga pasti senang kok, aku gak menjual mobil mu" kata jeje "dari mana mau tau kalau aku senang" kata chai "kau bilang adik senang maka kakak akan senang" kata jeje "hum.. baik tapi mobil ku belum di cuci " kata chai "ha.. aku akan cuci nanti" kata jeje "baiklah.. aku berangkat duluan" kata chai jeje mengangguk lalu dia melangkah ke mobil di depan nya "sudah siap? " kata kal "sudah" kata jeje kal pun langsung menyalahkan mobil nya.
"kira kira nasib bunga gimana ya? " tanya lusy "kenapa kau bertanya? " kata nasya "nasib kita aja sekarang begini apa lagi bunga" kata lusy "gak kebayang sih, aku dengar di berita perusahaan orang tua nya bangkrut semuanya juga di jual" kata dini "kita jenguk aja yuk" kata nasya "kalian aja lah" kata dini "kenapa? " tanya lusy "sadar gak sih kalau selama ini kita tuh hanya di peralatan oleh bunga kita tuh kaya pelayan dia" kata dini "teman tuh gak kaya gini, gue jadi iri dengan pertemanan rizi dan mawar" kata dini "gue juga" kata lusy sambil menundukkan kepalanya mereka bertiga di asingkan oleh mahasiswa yang lain nya karena mereka mendapatkan cap buruk sebagai mahasiswa nakal dan suka buat kekacauan dan juga karena mereka teman bunga yang terkenal sebagai tukang buly.
Kal memperhatikan jerico sedang berbisik ke jeje "gimana semalam" bisik jerico jeje mengerutkan dahinya "soal masakannya ku" bisik jerico jeje terkekeh lim yang mendengar ucapan jerico langsung menutup mulut nya dan membuang pandangan ke arah jendela mobil "kenapa kau masih membahasnya" bisik jeje "ini penting" kata jerico "kau tau si brengsek itu bilang masakan ku bikin dia mual" bisik jerico jeje tersenyum lalu menatap jerico "suatu saat aku akan membangun sebuah restoran dan kau akan di sana menjadi koki" kata jeje "sungguh" bisik jerico "apa aku terlihat berbohong? " bisik jeje "itu berarti... " kata jerico "masakan yang ku buat enak ya" bisik jerico "kau tau jawabannya" kata jeje jerico langsung tersenyum lalu menatap kal yang sedang mengemudi "kalian bahas apa? " tanya kal "jangan ikut campur, lihat saja jalan aku gak mau kita nabrak pembatas jalan " kata jerico "kenapa kau kasar pada ku? " kata kal "bukan urusan mu" ujar jerico "hei ini di dalam mobil berhenti lah bersikap kekanak-kanakan" kata lim "dia yang menyebalkan" guman jerico "aku juga heran kak lim mereka berdua ini kenapa selalu berkelahi" kata jeje "itu lah aku fikir kan" kata lim "mereka terlihat seperti saudara kembar" kata jeje "hueekk" kata jerico "itu mimpi buruk" kata kal "siapa juga yang mau jadi kembaran mu" kata jerico "ckiitt" mobil berhenti "aduuuh.. bisa gak sih mengerem nya biasa aja" kata jerico "aku senga6 biar kepala mu terbentur mati juga gak papa" kal membuka pintu untuk jeje "**** you kal" kata jerico "ehh.. sudah sudah" kata lim "kalau gak di depan perusahaan ini sudah ku tembak kau" kata kal "diam lah kita harus masuk" kata jeje "yaya.. ayo masuk" kata kal "aku akan bawa barang barang mu" kata jerico . jeje memperhatikan sekitar nya "selamat datang nona soikham" "pagi nona" "selamat datang nona" "halo nona" sapa para karyawan "pagi pagi.. apa kalian sudah sarapan" kata jeje "sudah nona" kata karyawan "baguslah kerjakan tugas kalian siang nanti aku traktir makan" kata jeje para karyawan langsung tersenyum lebar dan terlihat lebih semangat dari sebelum nya.
niko melihat ke kanan ke kiri "kenapa dia muncul? " kata niko sambil mencium bunga mawar di tangan nya "ku rasa hari ini dia tidak datang" leo menghampiri niko "biasanya dia datang kok siang siang begini" kata niko "haduuh.. kawan ku satu ini kalau udah jatuh cinta gila nya bukan main" kata ale "jangan meledek ku" kata niko "kak niko" rizi dan vito datang membawa sekaleng minuman untuk niko "kak niko kenapa kau masih menunggu jeje? " tanya rizi "kenapa" niko meneguk minuman nya "kemarin jeje mengatakan dia sedang bosan dan kemungkinan dia hari ini tidak datang" kata vito "kalian tau dari mana? " kata niko "kakak.. kami sudah hafal dan mengerti kata kata yang keluar dari mulut jeje bosan arti dia sedang tidak ingin" kata rizi "hum.. kalian sok tau" kata niko "hei bekal mu masih utuh di meja nya" wahyu datang "ah.. yang benar saja" kata niko "dia tidak datang kak" kata vito niko menatap mawarnya "simpan saja bunga nya besok mungkin dia datang" kata wahyu "dari mana kau tau" wahyu tersenyum lalu menepuk bahu niko "ayolah kenapa kau terlihat murung" kata wahyu "bagaimana jika dia tidak datang lagi? " kata niko "wah.. wah kau sekarang bertingkah seperti anak anak yang merengek minta es krim" kata wahyu "jika dia tidak datang maka kau yang akan datang kita bisa membuat rencana b seperti biasa bukan kah jojo dan yang lain juga membantu" bisik wahyu niko tersenyum "ayolah.. kita ke kelas" kata niko berjalan pergi wahyu tersenyum lalu mengikuti niko.
"selamat makan!! " jeje menatap para karyawan di depan nya "makan lah" kata jeje "terimakasih nona!! " seru mereka "hum.. aku akan pergi" kata jeje "anda tidak makan? " tanya salah satu karyawan "aku sudah mencoba makanan nya dan ini enak jadi kalian lanjut saja bye bye" kata jeje "bye.. bye" kata mereka "ini jadinya kalau perusahaan di kelola anak kecil" kata kal dalam hati.
tiga pria di depan chai terkekeh perlahan "anda menolak nya? " kata salah satu pria itu chai menatap pria itu sambil mengetuk ngetik meja dengan jarinya "jangan kalian fikir aku bodoh" chai mengeluarkan map kuning dan meletakkan nya ke atas meja "alder.. kau fikir kau akan lolos dengan menyuruh orang orang mu untuk masuk perusahaan ku" kata chai dalam hati "apa maksudnya ini? " kata ketiga pria itu dengan bersamaan "greb" semua pengawal chai mengacungkan senjata nya masing-masing ketiga pria itu berdiri lalu tersenyum "apa kau baru menyadari nya tuan chai soikham" kata mereka "ku rasa tidak" chai menatap ketiganya dengan dingin "kurasa di pertemuan semalam kau juga tidak menyadarinya " kata pria itu "aku menyadari nya namun ada satu hal yang membuat ku memilih kalian" kata chai "untuk datang kemari" kata chai wutt menekan sebuah tombol membuat ruangan itu menjadi tertutup chai menatap bai "saya mengerti tuan" kata bai chai pun pergi keluar dari ruangan itu "ayo cepat katakan di mana tuan mu? " tanya wut bai mengikat ketiga pria itu lalu mengintimidasi mereka "apa ini? " bai menemukan kertas kecil dari salah satu pria itu "kode ini?" bai mencoba mengartikan kode yang tertulis "tuan kami alder lebih hebat sekali beraksi jangan kan orang seperti chai bahkan orang seperti tuan fang bisa di bunuh nya" kata mereka "jaga bicara mu! " kata wut "sekarang katakan informasi tuan mu!! sebelum kesabaran ku hilang" akia mengeluarkan sesuatu dari laci "bahkan kami mati pun kami akan mengatakan nya" kata mereka "kalian yang mau kan" akia menghampiri salah satu pria "sudah siap kehilangan satu persatu anggota tubuhmu? " kata akia sambil meletakkan benda yang dia bawa ke jari pria itu "kau fikir aku takut? " kata pria itu "crekk!! " darah mengalir di lantai "AAAAHHHKKKH" pria itu kesakitan akia langsung menyeret pria itu ke ruangan lain "masih tidak mau menjawab? " akia menggulung sebuah rantai ke tangan nya lalu memukuli pria itu "aku bisa lebih kejam dari tuan mu" kata akia.
jerico terlihat sedang bermain dengan jeje "aah.. kau kalah lagi" kata jeje "hei.. ini pertama kalinya aku main game seperti ini" kata jerico "tidak ada alasan" kata jeje lim menoleh ke belakang melihat jerico sedang di ajari jeje cara bermain game "kita kan pernah main di rumah masa kau lupa? " kata jeje "dia itu bodoh percuma kau main dengan nya" kata kal "hei.. siapa yang kau bilang bodoh? " kata jerico "kumat" kata lim sambil menepuk dahinya "siapa lagi memangnya yang bodoh di antara kita kecuali kau" kata kal "dasar si--" tangan jerico di tahan jeje "jangan memukulnya kita bisa mati nanti dia sedang menyetir" kata jeje "beruntung kau lihat saja nanti aku akan melempar mu ke kolam piranha" kata jerico "ayolah jangan berkelahi ayo main lagi " kata jeje "ayo ayo kau ajari aku ya" kata jerico "iya.. oh ya jangan lupa kita harus mencuci mobil".
akia menatap pria yang tergeletak di lantai " aah.. hah.. hah.. aku menyerah"kata pria itu akia menarik pria itu lalu meletakan nya ke atas meja "tuan alder menyuruh kami menyamar sebagai orang dari perusahaan lain agar bisa masuk ke xia Fu untuk mencuri informasi lalu membunuh nya" kata pria itu "tuan mu akan mati sekarang karena kami meletakkan bom di bawah mobilnya dan akan di ledakkan sekarang karena kami tidak mendapat kan informasi apapun soal xia Fu" kata pria itu "bom? " kata akia "remotnya ada di tangan ranto" kata pria itu.
Steven melihat ponsel nya yang berbunyi terus menerus "angkat saja" kata chai "baik tuan maaf" kata Steven "halo.. ai akia.. ada apa? " kata Steven seketika raut wajah Steven menjadi tegang "sial" Steven buru buru membuka pintu lalu membuka pintu belakang "tuan kita harus menjauh mobil kita di pasang bom" kata Steven semua pengawal langsung siaga melindungi chai "eh tunggu" kata chai mukanya kali ini terlihat lebih tegang dari pada Steven.
"bom nya sudah ku aktifkan" kata salah satu pria di depan bai "dasar brengsek!! " kata bai "dalam hitungan menit tuan mu akan tiada" kata mereka sambil tertawa puas.
mobil berhenti chai langsung keluar dengan cepat "tuan ini alat komunikasi milik lim" kata hary "periksa sekitar cari mereka" kata chai dia melihat darah yang berceceran di jalan perlahan mendekati benda kecil yang menarik perhatian nya "gelang jeje" kata chai "cepat cari!!! aku tidak mau tau cari sampai dapat!! " seru chai.
lim menurunkan jeje "darah mu terus mengalir" lim mengambil sapu tangan dan mengelap darah jeje yang ada di pelipis nya "tidak papa kak ayo kita jalan" kata jeje sambil menarik tangan lim setelah lama berjalan lim berhenti "kenapa? " tanya jeje "di sana toko aku akan kesana untuk cari sesuatu yang bisa menghentikan darah yang mengalir di luka mu sama cari air" kata lim "kau yakin? " kata jeje lim mengangguk "kau lihat kursi di bawah pohon itu na.. h kau tunggu aku di sana" kata lim "baik" kata jeje lim pun langsung pergi "aahh" jeje memegang kepalanya "sial.. ternyata sakit juga" kata jeje, "astaga... " seorang wanita berlari ke arah jeje "ya Tuhan.. anakku.. kenapa kau bisa berdarah" jeje mundur saat wanita itu hendak menyentuh nya "jangan mendekat ! " kata jeje "astaga bisa tidak kau jangan keras kepala "kata wanita itu " biarkan kau mengobati luka mu.. ini sangat parah ayolah "kata wanita itu " tidak! jangan sok kenal dengan ku! "kata jeje " kau boleh membenci tapi nanti setelah aku mengobati luka mu"wanita itu menarik tangan jeje dan membawa nya untuk duduk di sebuah kursi lalu dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya "kenapa kau menjauh lagi aku harus mengobati mu" kata wanita itu "ini tidak per--" jeje meringis di saat wanita itu menempel kan kapas ke pipinya "tahan sedikit" kata wanita itu tanpa di sadari air mata wanita itu keluar jeje memperhatikan nya "kau menangis? " kata jeje "hum.. maaf.. hisk.. hisk.. aku tidak dapat menahan nya" kata wanita itu sambil membersihkan luka jeje "aku ini seorang ibu dan ibu mana yang tidak menangis di saat melihat anaknya terluka" kata wanita itu "aahkk.. " jeje menahan sakit "apa kau berkelahi? " kata wanita itu jeje tidak menjawab "sudah hentikan" jeje hendak pergi tapi wanita itu menahannya "jangan nakal! aku belum selesai" kata wanita itu "awas.. nanti ada yang lihat" kata jeje "memang nya kenapa? diam dan tahan ini akan sangat menyakitkan" kata wanita itu "oh.. ini pasti sangat sakit kenapa kau bisa terluka begini" kata wanita itu "cih.. hanya luka kecil dan juga aku sudah biasa menahan rasa sakit" kata jeje "aakhhh.. hei kau menekannya!! " kata jeje "bukan kah kau bilang sudah biasa menahan rasa sakit lalu kenapa kau menjerit" kata wanita itu "dasar sialan" kata jeje "aku juga punya anak dan di saat di memiliki luka kecil aku tidak dapat menahan nya lagi apa lagi luka seperti ini.. oh. tuhaa.. n " kata wanita itu sambil membuang kapas yang baru dia gunakan "kenapa kau tidak jera? " kata jeje wanita itu menatap jeje "bagaimana jika ini selesai aku memukulmu atau membunuh mu? " ucap jeje "ya.. kau lakukan saja aku juga sudah bosan hidup" kata wanita itu jeje terlihat sedikit terkejut mendengar jawaban wanita itu "lagian apa lagi yang ku cari aku susah hidup lama, anak juga susah besar jadi kau bunuh aku pun aku tidak keberatan" kata wanita itu lagi "berapa aku harus membayar mu? " tanya jeje wanita itu berhenti menggunting perban lalu menatap jeje "apa maksudmu? " tanya wanita itu jeje tersenyum sinis "ayolah jangan pura-pura polos aku tau apa yang di fikiran orang orang seperti mu. kau menolong ku karena ingin uang atau hanya ingin memanfaatkan ku. aku sudah terbiasa menghadapi orang orang seperti mu" kata jeje wanita itu terlihat menahan tangis nya lalu lanjut mengobati jeje "apa kau fikir kau seperti itu? " kata wanita itu "tentu" kata jeje "kau terlalu cepat mengambil keputusan, tidak semua orang sama seperti yang kau fikir kan tapi jika kau mau membayar ku tidak masalah" ujar wanita itu "cih.. sudah ku duga" kata jeje dalam hati "tapi aku tidak mau uang ataupun memanfaatkan mu aku mau yang lain" kata wanita itu "ya ya katakan saja kau mau rumah? mobil? atau yang mana saja? " kata jeje "aku mau kau membayar ku dengan kebaikan yang harus kau lakukan kepada orang lain" kata wanita itu "apa apaan? " fikir jeje "astaga ini ada serpihan kaca di kepalamu" kata wanita itu "aahh.. shh pelan bodoh" kata jeje menahan sakit "kau kesakitan? bukan kah kau sudah biasa menahan nya? pegang bahu ku atau kau bisa menarik bajuku jika kau tidak kuat menahan rasa sakitnya" kata wanita itu"cih sok baik "fikir jeje "hei.. kau tau.. satu hal terkadang seseorang sudah biasa menahan rasa sakit tetapi dia tetap akan menjerit ketika mendapatkan rasa sakit lagi walaupun dia sudah pernah merasakan rasa sakit yang sama dan juga sudah terbiasa menahannya" kata jeje "lalu? " kata wanita itu "fikir saja sendiri" kata jeje "ku tebak kau asal bicara kan? " kata wanita "sok tau" kata jeje "kau juga pasti pernah melihat ibumu kwatir padamu dan pasti sama seperti ku" kata wanita itu "karena seorang ibu lah yang memperhatikan dengan detail anaknya" kata wanita itu "omong kosong aku tidak pernah melihat nya melakukan hal itu" kata jeje wanita itu terdiam "aku salah bicara " kata wanita itu dalam hati.
chai terlihat makin tegang ketika para bodyguard menemukan sepatu jeje sebelah dan juga topi milik kal "mereka juga belum di temukan" kata mereka "tuan mereka masih hidup" kata akia "kau sudah menemukan nya? " tanya chai akia menggeleng kan kepalanya "tapi saya tau mereka masih hidup kemungkinan sekarang mereka sedang mencari mobil" kata akia.
"sudah hentikan" kata jeje "kenapa ini sedikit lagi selesai" kata wanita itu "pergilah sana" kata jeje "kau memang sulit di tebak" kata wanita itu "pergi saja cepat aku tidak butuh kau" kata jeje "hei kau--" jeje melempar botol kecil di samping nya "aku yang pergi kau terlalu banyak basa basi . sungguh membosankan! " kata jeje "tidak.. tidak.. baik aku yang pergi" wanita itu berdiri "pulang dan istirahat lah " kata wanita itu lalu dia memungut botol yang di buang jeje dan memasukannya ke dalam tas jeje melihat lim semakin dekat "cepat sana!! " kata jeje "ya.. jangan bolos kuliah terus ipk mu rendah nanti" kata wanita itu "jangan sok di depan ku! " kata jeje wanita itu pun pergi jeje melihat earphone milik wanita itu ketinggalan jeje langsung memasukan nya ke dalam sakunya "aku datang" kata lim "eh.. siapa yang mengobati mu kenapa terlihat ada kapas yang berserakan " kata lim "aku tidak kenal tapi ada orang yang membantu ku membersihkan darah di wajah ku" kata jeje "ah.. tapi darahnya masih mengalir" kata lim lalu dia mengambil perban yang dia beli jeje menyembunyikan perban yang baru dia lepas tadi di tangan nya "lim!!!! " kal melihat kesana ke sini "aku mendengar suara kal" kata jeje "iya aku tadi menghubungi nya" kata lim "hei!!! " kal menemukan lim "apa ini parah? " tanya jerico "keliatan iya aku bawa ke mobil" kata kal jerico membereskan kapas yang berserakan di sekitar jeje.
leo menatap wanita di depan nya "mbak aku mau jus mangga satu, nasi goreng seafood satu dan juga udang goreng" kata leo "gila sedikit kau pesan apa kenyang? " kata adhie "hei.. jika kau makan banyak nanti aku ngantuk" kata leo "aku mau mengambil sesuatu dulu" kata niko "oke" kata yang lain niko segera berdiri "mbak aku mau tambah jus nya satu lagi" kata niko "permisa Indonesia siang hari ini di lokasi kejadian langsung, sekitar jam sebelas empat puluh terjadi ledakan sebanyak dua kali di jalan Asoka di duga mobil yang meledak ini adalah milik tuan muda soikham " niko langsung melihat ke arah televisi "mobil yang di duga milik tuan muda soikham ini sekarang sudah hancur tapi untung nya tuan muda soikham selamat karena dia tidak berada di lokasi kejadian melainkan adiknya yang memakai mobil nya. di duga ada seseorang yang meletakan peledak di bawah mobilnya namun kita tidak tau kondisi adiknya tuan soikham dan juga nona soikham jarang muncul di publik baiklah sekarang kita akan tanya tanya kepada para saksi halo dengan siapa? 'pak acep' oh.. pak acep gimana kondisi nya di saat kejadian ini? ' 'saya kan jualan gak jauh dari sini dan saat saya jualan tuh ada mobil lewat namun mobil itu perlahan minggir tuh di sana tuh lalu ada yang keluar satu orang pakai jas pokoknya pakaian nya rapi mbak' 'oke lalu' 'dia entah bicara apa lalu dia teriak mbak yang jelas dia bilang keluar gitu saya fikir orang berantem eh gak tau nya ada suara ledakan mbak kaget saya pelanggan ketoprak saya juga pada kaget mangkoknya sampai di lampar gini gak lama ada lagi mbak suara ledakkan nya ya saya langsung kabur saya fikir itu ******* mbak' 'oke makasih bapak acep atas info nya baik kita beralih ke saksi berikut nya"tangan niko terlihat gemetar "saya cuma melihat ada orang entah perempuan entah laki-laki mbak dia tuh kaya di gini loh di rangkul tapi orang nya jatuh mbak di bantu sama orang yang tiga itu dia kaya nya pusing mbak kepalanya kena besi entah apa itu mbak pas kena kepalanya mbak kalau gak salah saya mau nolong takut mbak soalnya meledak dua kali saya ingin nolong tapi takut meledak lagi ' 'jadi ada empat orang dalam mobil itu? ' 'iya mbak yang tiga pakai pakaian rapi kaya yang di film film itu loh kaya orang kantoran, kalau yang satunya enggak mbak dia pakai kaya tunggu mbak nah.. itu itu kaya mas yang di sana' 'oh.. hoodie? ' 'iya mbak dia pakai baju kaya itu lalu mereka pencar mbak yang dua lari sana yang dua lagi lari ke sana' 'kira kira kondisi mereka bagaimana ibu? ' 'kalau yang keluar pertama itu baik baik aja tuh mbak dia masih bisa lari kalau yang kedua kakinya kayanya luka mbak dia pincang' 'kalau yang dua lagi? ' 'saya gak tau pasti mbak tapi kayanya bonyok mbak ' 'oke terimakasih ibu informasi nya" wahyu menepuk bahu niko "dukk!! " ponsel niko terjatuh "ada apa? " kata wahyu "jeje.. jeje dalam bahaya" niko terlihat cemas "hei.. hei.. tenang" leo menghampiri niko "dia.. " kata niko "jangan panik.. niko.. hei.. coba telpon dia" kata wahyu "ayo duduk dulu" kata ale "iya coba bawa tenang dulu" kata yang lain niko menganggukkan kepala nya.
"aaahh.. sial!! " kata jeje para perawat terkejut mendengar teriakan jeje "tahan nona bius nya belum bereaksi" kata salah satu perawat "aw.. jangan sentuh aku bodoh" kata jeje "masuk kal tenang kan dia" kata lim kal membuka pintu "oi jeje" kata kal "ahh.. kak kal bisa usir mereka " kata jeje "mereka akan mengobati mu" kata kal "oih.. mereka menyakiti ku" kata jeje "bius nya sebentar lagi akan berkerja" kata dokter "aahh.. hei" kata jeje sambil menepis tangan salah satu perawat "hei lihat ini" kal menunjukan ponsel miliknya "ada apa? " kata jeje kal berkedip memberi isyarat agar mereka segera mengobati jeje "oih.. " kata jeje "lihat ponselku aku membeli apa" kata kal "waw kau membeli ini? sungguh kau diam diam juga suka game? " kata jeje "ya tentu saja agar kita bisa bermain bersama" kata kal "oi.. oi.. kau" jeje melihat perawat mengambil gunting "kenapa? kau tidak suka? " kata kal "tunggu dulu" jeje mendorong perawat untuk menjauh "aku juga baru membeli hero yang baru" kata jeje "aahhh.. oih" jeje menatap dokter di samping nya "tidak nona aku hanya ingin melihat game apa yang kau mainkan" kata dokter "lalu gunting itu? " kata jeje "baik aku akan meletakkan nya" kata dokter "menurut mu mana hero yang hebat? " tanya kal "yang ini apa namanya?" tanya dokter "yang ini tidak hebat jangan tanya yang ini" kata jeje kal menatap dokter dan perawat yang sedang mengobati jeje .
niko semakin panik "coba berikan nomor nya pada ku " kata leo "sabar niko" kata adhie "gimana ini" kata niko "ini berdering" kata leo "iya tapi gak di angkat" kata niko "kita coba saja terus menerus" kata leo.
chai berjalan dengan cepat dan langsung membuka pintu dengan kasar "kak chai" jeje menatap chai yang berjalan ke arahnya "gimana kondisi mu? " tanya chai "jangan tanya sekarang aku lagi bertempur" kata jeje "masih sempat ya" chai memegang kepala jeje memperhatikan perban di samping kepala adiknya "hanya terbentur" kata jeje "yang lain" chai melihat tangan jeje "aku sedang menunggu kal sehabis itu baru pulang" kata jeje sambil meletakan ponsel nya lalu mengusap rambut chai "kau berkeringat jangan jangan kau kesini jalan kaki" kata jeje chai tersenyum lalu mengetuk dahi jeje "jangan bercanda aku barusan di kejar wartawan" kata chai "aku juga baru melihat beritanya di ponsel" kata jeje "aku mencarimu berjam jam kau malah main game" kata chai "aku tidak menyuruh mu mencari ku" kata jeje "tuk" chai mengetuk dahi jeje "aku ini kakak mu adik hilang ya harus di cari bukan di diam kan saja" kata chai "eh.. tuan" kal terkejut chai sudah ada di dalam "sudah selesai? " tanya chai "sudah tuan" kata kal "tuan" akia muncul "wartawan mulai berdatangan" kata akia "ayo " chai menarik jeje. terlihat di luar wartawan mulai ramai jeje memakai topi hoodie nya "tuan chai datang tuan chai datang" kata para wartawan "tuan chai bagaimana kondisi adikmu?" "tuan chai apakah anda mengetahui siapa pelakunya? " "tuan chai bisa beri kami sedikit penjelasan? " kata para wartawan para bodyguard melindungi chai dan jeje "nona bagaimana kondisi anda? " chai merangkul jeje "teruslah menunduk" kata chai Steven membuka pintu mobil jeje masuk ke dalam mobil di susul dengan chai "tuan chai.. tuan" para wartawan masih mencoba menggali informasi chai menurunkan kaca sedikit "kalian tenang saja adikku baik baik saja jadi biarkan dia istirahat, dan untuk pelakunya akan di temukan beberapa hari ini" chai menaikan kaca nya lalu mobil berjalan.
jeje meletakan sendoknya "ada apa? " tanya chai "aku sudah kenyang kak" kata jeje "jangan main lagi segera istirahat" kata chai "oke" jeje berdiri "hoi" jeje berhenti ketika mendengar suara chai "good night" kata chai jeje berbalik "night to" lalu dia pergi ke kamarnya "oi.. oi.. apa otak ku cedera ya.. rasanya sakit sekali" jeje berbaring di ranjang nya lalu mengambil ponsel nya "sial!! " jeje terkejut melihat nomor asing memenuhi layar ponsel nya "pecundang" jeje melihat salah satu nomor asing .kembali muncul panggilan masuk di layar ponsel nya .
jojo menatap niko yang terlihat gelisah "oiiih" niko langsung tersenyum "Hai" kata niko "di angkat? "jojo menatap Ariel " Hai baby.. gimana kondisi mu? "tanya niko " oi.. apa kau tidak waras? menghubungi ku dengan puluhan nomor "kata jeje " hum.. maaf tapi aku kawatir pada mu"kata niko air matanya perlahan turun "dasar aneh " guman jeje "hum.. jangan tutup telpon nya" kata niko "kau mau apa? aku mau tidur dan kau sangat mengganggu ku" kata jeje "apa kau baik baik saja aku melihat berita di televisi" kata niko "kau tau jawabannya " kata jeje "hum.. bisa tidak kita bicara aku masih ingin mendengar suara mu" kata niko "sungguh aku tidak bohong aku.. aku menunggumu seharian di kampus aku membawa mawar biru untuk mu hu.. hum kau tidak ke kampus ternyata dan.. aku masih menyimpan mawar itu" kata niko "hum... jujur aku masih kwatir setelah melihat berita mu hum.. bisa kah kau mengatakan kalau kau baik baik saja sekarang" kata niko. jeje tidak bersuara niko mengusap wajahnya "kenapa kau menangis? aku baik baik saja bodoh ada lagi yang ingin kau bicarakan aku mau tidur" kata jeje "hum.. apa kau sudah mengantuk? hu.. hum.. aku aku masih ingin bicara" kata niko "kau belum Jawab pertanyaan ku" kata jeje "hum.. ya aku menangis.. ini memalukan bagimu mungkin... tapi aku benar-benar cemas aku tidak tenang" kata niko "aku tidak dapat berfikir jernih da.. n ak.. aku hum di kepala ku hanya berita di televisi suara di berita itu terus mengganggu ku aku tidak dapat melakukan apapun lagi wahyu sampai ikutan panik karena aku hanya bisa diam" kata niko "jeje niko tidak makan seharian karena mencemaskan mu" seru wahyu dari dapur "jangan dengarkan wahyu.. dia agak usil karena kesal pada ku" kata niko "kau.. masih di sana? " kata niko "kau terus bicara membuatku ngantuk" kata jeje "hehe maaf maaf tapi dari pagi aku benar-benar ingin bicara padamu" kata niko "nona! obat dari dokter belum anda minum" terdengar suara seorang wanita di telpon "oi.. masuklah " kata jeje "tuan ingin anda meminum obatnya " kata milli "bawa kan aku sedikit makanan " kata jeje "baik nona" milli pergi. "kau juga belum makan? " tanya niko "aku bahkan seperti orang bodoh yang tidak makan hanya karena televisi" kata jeje "nona makanan anda" kata milli "hum.. letakan saja " kata jeje "ouhh sial!! " niko mendengar suara barang barang jatuh "kau baik baik saja? " kata niko tak lama kemudian terdengar suara jeje yang sedang mengunyah makanannya wahyu menghampiri niko "makan lah orang yang kau suka baik baik saja" kata wahyu niko tersenyum "maaf merepotkan mu" kata niko .
jeje mengambil sesendok makanan di piring lalu mengunyah nya dan meminum obatnya "gimana perasaan mu? " terdengar suara wahyu di ponsel "baik kok aku sudah sedikit tenang mendengar suaranya" kata niko "cinta bisa membuat orang pintar menjadi bodoh" kata jeje dalam hati perlahan dia mengambil ponselnya yang dia letakan di samping nya "makan lah" kata wahyu "iya" kata niko jeje mematikan panggilan niko lalu melempar ponsel nya ke sofa lalu berbaring di ranjangnya dan memeluk bantalnya "cinta hanya di lakukan oleh orang bodoh dan orang pintar yang jatuh cinta juga menjadi bodoh" kata jeje dalam hati.
niko menatap ponsel nya "kau mematikan panggilan ku" kata niko dalam hati "tidak papa niko setidaknya dia mengangkat telpon mu walaupun hanya sebentar. jeje sedang terluka butuh istirahat" kata Ariel niko mengangguk "kau benar dia mengangkat telpon ku" kata niko tersenyum sambil meletakan ponsel nya di dadanya .