What Is Love

What Is Love
pukulan dari jeje



"aaahhkk.. aw" chai menahan tangan jeje "aah.. kak" kata jeje "tahan sedikit" kata chai dokter dengan peralatannya berusaha melepaskan tali yang melilit di leher jeje "aahh... sial" kata jeje "tahan" chai merangkul adiknya mengusap kepalanya "uhh.. kakak.. suruh mereka pergi saja aku mau pulang" kata jeje "kau selalu mengaku dewasa hanya begini saja kau merengek kaya bayi" kata chai "aah.. mereka menyentuh ku dengan gunting" kata jeje "sssttt" chai menutup mata jeje dengan tangan nya "kenapa lama sekali ini udah beberapa jam" kata chai "kita sedang berusaha melakukan nya dengan cepat tuan, jika salah sedikit kita bisa melukai nona" kata dokter chai menatap tangan jeje yang meremas pinggang nya "tenang lah" kata chai "kakak permen ku tadi jatuh" kata jeje dengan suara yang berbisik chai tersenyum "kita akan membelinya lagi lihat ini" chai mengambil tablet dari kal lalu menunjukkan nya ke jeje "di toko langganan kita sekarang ada permen baru" kata chai "benarkah? wah.. yang ini rasa apa ya" kata jeje "aku juga tidak tau karena aku belum kesana bagaimana kalau nanti kita ke sana lihat lah banyak sekali jenis permen nya" kata chai "benar juga.. kenapa kau tidak bilang pada ku" kata jeje "aku baru punya waktu" kata chai "tapi aku tidak mau tau kita harus ke sana ya" kata jeje "iya kita akan ke sana" kata chai sambil melihat dokter membawa nampan yang di atas nya ada tali berlumuran darah .


jojo menatap niko yang sedari tadi tidak bergerak dia menunduk bersandar di meja "kau yakin dia tidak papa? " bisik Ariel "tapi apa yang bisa kita lakukan? " kata jojo "niko" wahyu mendekati niko "hei" kata wahyu "biarkan aku melihat perutmu " kata wahyu "niko" kata wahyu "hum" niko mengangkat sedikit kepala nya menatap wahyu yang duduk di dekat kakinya "aku tidak papa" kata niko "kenapa kau diam saja" kata wahyu "aku cuma kelelahan" kata niko "kau yakin tubuhmu tidak ada yang luka? " kata wahyu "tidak ada " kata niko "ayo pulang kau bisa istirahat di rumah" kata wahyu "tapi aku masih lelah.. " kata niko "aku akan menggendong mu" kata wahyu "iya niko saudara mu ini benar kau bisa istirahat dulu" kata Ariel "kami akan berkunjung ke sana" kata jojo "ku rasa tidak perlu" kata wahyu jojo menatap wahyu "niko.. ayo pulang" wahyu menarik niko sampai berdiri "aku mau di sini" kata niko "tidak.. kau tidak boleh di sini" kata wahyu "hei pelan pelan" kata Ariel "aku tau tidak perlu mengajariku" kata wahyu sambil terus menarik niko "yu.. " kata niko "apa yang ada di kepala mu? kau bahkan sedang kesakitan! kau menderita niko!! dia tidak akan pernah mengerti dia hanya akan melukaimu seperti saat ini" kata wahyu "hei apa maksud mu" kata jojo "jojo" desi menarik jojo "ku rasa kalian mengerti, saudara ku terus menderita dan terluka karena teman kalian" kata wahyu "apa kau fikir dia seburuk itu!! hah dasar sialan awas kalian biar ku hajar dia" kata jojo "tenang lah jo" kata desi "niko dengar.. dia tidak baik kau bisa cari yang lain dan ka--" mulut wahyu di tutup oleh niko "dan kau bahkan kalian mungkin tidak mengerti" kata niko "bahkan kalian tidak paham apa itu cinta" kata niko "apa kata mu" kata wahyu "jika kau mengerti ka tidak akan berkata seperti itu pada ku yu, aku tau kau cemas tapi aku tau apa yang ku lakukan" kata niko sambil memegang perutnya "kalian bisa membuat arti cinta semakin buruk bukan semakin baik " niko pergi "niko.. " kata wahyu sambil mengejar saudaranya yang pergi duluan.


beberapa orang berjas hitam datang berbaris menyambut dua mobil yang baru datang "silakan tuan" kata lim sambil membuka pintu mobil chai keluar dari mobil "bawa semua barang barang nya" kata chai sambil menatap ke arah pintu mobil "kenapa dia tidak keluar" fikir chai. jeje mengusap rambutnya lalu meremas nya perlahan "kenapa kau begitu bodoh? tidak pernah mengerti maksud ku sedikit pun bahkan sampai aku memukul mu" kata jeje dalam hati "hei" chai menunduk "aku menunggu mu dari tadi" kata chai "hum apa? " jeje menatap chai "oh.. iya aku keluar" kata jeje "apa kepala mu sakit? " kata chai "tidak aku hanya lelah" kata jeje "ayo masuk" kata chai sambil menggandeng tangan jeje "milli simpan semua permen nya" kata chai "baik tuan" kata milli "kau mau sesuatu? " kata chai "aku akan ke kamar aku benar-benar lelah" kata jeje "hum.. pergilah" kata chai.


malam hari...


jeje bersandar di atas ranjang mengingat kejadian yang baru dia alami "dasar tukang kasur" dia teringat dia menendang dan memukuli niko "tapi dia yang salah, dia bodoh!! aku harus memberinya pelajaran agar dia paham" fikir jeje sambil mengambil ponsel . "kalau kau tidak mau tidak papa aku yang akan mendatangi niko da--" Ariel mengambil ponsel nya yang berbunyi "ya jeje.. haa.. akhirnya kau menelpon ku kau baik baik saja? aku mencemaskan mu" kata Ariel "apa.. maksudnya gimana? kau menyuruh ku melihat kondisi di sekitar hotel itu? apa pria.. pria seperti apa" kata Ariel "hum.. aku menyuruh mu melihat sekitar depan hotel saja dari jalan apa kah ada orang di sana? pria atau wanita? " kata jeje "hum.. apa kau sedang ingin melakukan sesuatu? " kata Ariel "jika kau tidak mau tidak papa aku bisa menyuruh orang lain" kata jeje "oh.. tidak tidak" kata Ariel "aku aku akan melihat dan segera mengabari mu" kata Ariel.


wahyu meletakan makanan di depan niko "kau marah padaku? " kata wahyu "tidak" kata niko "makan lah, kau tidak ada di meja makan saat makan malam tadi" kata wahyu "kau marah kan padaku? " kata niko "hum.. sebenarnya iya" kata wahyu "siapa yang rela saudara nya di pukuli orang lain" kata wahyu "tidak ada yang mau melihat saudara nya tersakiti" kata wahyu "dengar yu.. jeje begitu memukuli ku menampar ku, memukuli ku, dan juga tidak percaya pada ku itu karena rasa sakit di masalalu nya, penghianat, penderitaan, dan juga kebencian membuat dia buta akan cinta membuat dia menutup mata tidak memandang ke arah cinta, dia menganggap cinta itu adalah drama karena di masa lalu nya dia tidak merasa kan cinta dan juga kasih sayang dia hanya merasakan rasa sakit, luka, dan juga penderitaan. aku tidak papa.. aku kuat dengan pukulan sekecil itu dari nya aku selalu berusaha dan berjuang membuat dia yakin bahwa cinta itu ada, cinta bukan drama, cinta bisa membuat kita bahagia. kau tidak boleh menyalahkan dia yu.. dia tidak tau apa apa dia hanya tau kebencian" kata niko "kau seharusnya membantu nya juga kita semuanya harus membantu jeje keluar dari ruangan yang penuh kebencian dan rasa sakit itu" kata niko "aku habay takut kau menderita" kata wahyu "dia lebih menderita yu" kata niko "dia sangat menderita" kata niko.


jeje mengusap perban di lehernya lalu menatap ponsel nya "ck.. kenapa lama sekali sih! " kata jeje "ting" suara notifikasi muncul jeje langsung mengambil ponselnya melihat foto yang di kirim Ariel "tidak ada satupun orang di lokasi kejadian cuma ada beberapa polisi yang berjaga" jeje mengangkat panggilan masuk "kau sudah baca pesan ku" kata Ariel "hum" kata jeje "tidak ada satupun kecuali empat polisi itu" kata Ariel "huff.." Ariel mengerut kan dahinya "jeje kau baru saja menghela nafas lega? hum.. kenapa aku sekarang mencurigaimu" kata Ariel "jangan sok tau aku hanya menarik nafas lalu menghembuskan nya karena leherku sakit aku baru saja hampir kehilangan kepala ku" kata jeje "hum.. kok aku gak yakin" fikir Ariel "eh.. ada pria muda datang kelokasi sambil memegangi perutnya" kata Ariel "sungguh? siap kenapa dia datang" kata jeje "sungguh eh tadi kau bilang apa? " kata Ariel "tidak ada! pria itu seperti apa? cepat suruh pergi" kata jeje "pria tampan dan juga tinggi" kata Ariel "jangan jangan" fikir jeje "hei.. kenapa kau terdengar panik? kau mencemaskan seseorang ya " kata Ariel "jangan sok tau kau mau ku lempar ke kandang wolfy" kata jeje "hei.. aku tadi cuma bercanda dan kau langsung terdengar wuah.. wuaah panik gitu" kata Ariel "**** you!! ku binasakan mau besok" jeje melempar ponselnya Ariel mendengar suara benda terjatuh langsung tersenyum "dia melempar ponsel nya lagi" Ariel meletakan ponselnya ke dalam saku "itu artinya dia mencemaskan niko" kata desi "ya.. apa lagi aku tadi baru saja menguji nya" kata Ariel sambil tertawa kecil.


keesokannya...


niko meletakan kotak makanan di meja jeje seperti biasa lalu pergi keluar "jeje" rizi terkejut melihat jeje "waw" kata mawar "kalian melihat si pecundang" kata jeje "pecundang? " kata mawar "baby" niko yang baru menutup pintu lokernya melihat jeje tak jauh darinya "deg"niko merasa berdebar ketika jeje menatap ke arahnya " buaggg!! "niko mendapatkan pukulan yang sangat keras sampai dirinya terdorong ke loker yang ada di belakang nya " dasar bodoh!!! "jeje memukul nya lagi " jeje!! "rizi mencoba menarik jeje " diam!! jangan ikut campur!! "kata jeje " apa ada salah lagi? "fikir niko " jeje kau menyakiti nya"kata mawar "oh.. kau membela nya? maka jangan anggap aku teman lagi " jeje menarik kerah niko "ini agar kau mengerti kalau kau harus menjauh dari ku!! jangan sok tau apalagi sok kenal dengan ku!! " jeje menendang dan memukuli niko "pukul lah lagi aku tidak akan menjauh darimu" kata niko "**** YOU" jeje terus memukuli niko "jika kau mencoba mendekati aku lagi maka ku pastikan aku akan menyuruh seseorang untuk menembak kepalamu " kata jeje sambil berbalik menatap archie yang sudah ada di depan nya "kau juga jika kau tidak mau mengalami hal yang sama lebih baik menjauh sebelum aku menghabisi mu" kata jeje lalu dia pergi archie menatap niko yang duduk bersandar "kak niko" kata rizi "uhuk!!! " darah keluar dari hidung nya .


"sudah selesai kelasnya? " tanya kal di saat jeje masuk ke dalam mobil "aku bilang kan cuma sebentar kelasnya" kata jeje.


malam harinya...


jeje menatap wanita yang berbaring di depan nya "kakak.. salam" kata jeje lalu dia duduk "kakak.. aku baru memukul orang" kata jeje "aku tidak tau kenapa.. dia tidak pernah mengerti dengan apa yang ku katakan, dia juga bodoh tidak banyak berfikir. karena itu aku memukulnya bahkan dia tidak bisa melawan ku, dia hanya diam tak berdaya tapi dengan sombongnya dia bilang akan menjaga ku dan ingin berada di dekat ku haha..aku membencinya" kata jeje "oh.. ya aku dengar kau akan segera bangun tapi kenapa kau tidak bangun juga? kak chai selalu menceritakan tentang mu membuat telinga ku panas karena bosan" kata jeje sambil menatap monnie yang masih berbaring memejamkan matanya.


sara menandatangani selembar kertas "terimakasih" kata sara "sama sama" kata seorang wanita berambut pendek "nona soikham" sara menoleh melihat dua dokter menyapa seorang wanita ber hoodie "hm" jeje lanjut berjalan "jeje!! " sara berlari ke arah nya "jeje kebetulan sekali kita bertemu lagi di rumah sakit, oh ya kau kerumah sakit karena sedang sakit atau ada hal lain" kata sara "bukan urusan mu awas! " kata jeje "oh.. apa kau sudah siap? kebetulan aku sudah siap dan bagaimana kalau kita mak--" kata sara "aku sibuk" kata jeje "oh.. baiklah lain kali bye bye" kata sara sambil melihat jeje masuk ke dalam mobil "yuna benar dia orang yang sangat susah di ajak bicara" kata sara sambil memakai helm nya.


niko meletakan handuk kecil yang baru saja dia pakai "minum lah susu hangat ini" kata wahyu "iya" kata niko sambil mengambil segelas susu lalu meminumnya "istirahat lah jangan banyak fikiran" wahyu membereskan semuanya lalu pergi keluar kamar niko. "sebenci itukah kau pada ku" fikir niko.


jeje menatap langit dari jendela kamar nya terlihat cahaya rembulan perlahan meredup "aku selalu mengira kau ingin mengatakan sesuatu pada ku" ucap niko sambil berdiri menghadap ke jendela "aku selalu ingin bicara dengan nya namun aku tidak bisa, bahkan untuk mengatakan dua kata saja aku tidak bisa" kata jeje "aku selalu bersedia menerima kebencian dan pukulan dari mu" kata niko "berapa orang lagi yang harus mati karena aku" fikir jeje "tidak ada yang boleh mati lagi" kata jeje "kenapa sulit sekali membuka pintu hatimu" kata niko "sial"jeje berdiri memukul kepalanya sendiri " kenapa aku teringat padanya"jeje menampar diri nya dengan keras "tidak boleh ingat dia!! dia orang yang sangat bodoh tidak berguna dan sok tau!! cinta yang dia katakan juga bohong" jeje teringat kembali pada suko pria yang membuang istri dan anak anak nya begitu saja "cinta itu hanya drama" kata jeje, niko menundukkan kepala nya "cinta itu ada baby.. dan cinta bukan tentang kebohongan" kata niko "aku sedang menjelaskan nya pada mu" kata jeje dan niko bersamaan "bahwa aku dan kau berbeda " kata jeje "bahwa kita bisa berdiri bersama" kata niko malam semakin larut kedua nya menutup tirai jendela dan membelakangi jendela hanyut dengan fikiran masing-masing.