What Is Love

What Is Love
papan tulis bermasalah



semua orang menunduk ketika jeje berjalan melewati mereka, jeje berjalan dengan tenang tanpa menguncap kan sepatah kata pun dua pria di depan nya membuka pintu untuk jeje.


terlihat seorang pria berbaring di atas ranjang "dia belum ada sadar sedikit pun nona" kata dokter "tidak ada yang mencari nya kan? " tanya jeje "tidak ada nona" kata dokter.


selembar uang di masukan ke dalam kotak "astaga ini banyak banget" kata orang dengan kostum kelinci "permisi bisakah aku bicara pada mu paman".


" gluk gluk gluk gluk "niko menatap pria di depan nya " ada apa anak muda kau tampan dan baik hati sekali "niko tersenyum " ada sesuatu yang ingin ku tanyakan pada mu paman, aku sedang ingin tau tentang seorang gadis baik yang suka berbagi diam diam hum.. nona cilik Soikham "kata niko " jeje? "kata pria itu " iya apa paman mengetahui nya?aku dengar dari seseorang dia suka berbagi pada orang orang seperti paman "kata niko " dia tidak berbagi kepada sembarangan orang nak, dia gadis yang benar-benar baik "kata pria itu " paman ceritakan lah pada ku tentang nya"kata niko "tidak bisa" kata pria itu "kenapa? " kata niko "kau siapa kelihatan nya kau mencari cari informasi tentang nya" kata pria itu "baik paman aku akan cerita kan semua nya" kata niko.


"ada apa? " monnie menepuk bahu jeje dengan lembut "oih.. kau membuat ku kaget" kata jeje "seperti nya ada yang mengganggu fikiran mu" kata monnie "tidak ada, aku cuma mau bersantai saja" kata jeje "baiklah.. tapi aku ingin kita nanti malam keluar makan malam" kata monnie "hah??? " jeje langsung berdiri menatap ke arah monnie "ada apa kenapa kau bereaksi begitu? " kata monnie "tidak bisa, kau harus di rumah" kata jeje "ayolah aku bosan di rumah saja" kata monnie "kau tidak tau ada bahaya apa di luar apalagi dalam kondisi ada calon perampok di dalam perut mu kau harus di rumah " kata jeje "kau mengatakan bayi ku calon perampok? " kata monnie "iya aku akan ajak dia merampok besok" kata jeje "kau ini seenaknya mu saja" kata monnie "kau juga seenaknya saja, pokoknya kau tidak boleh keluar" kata jeje "ayolah" kata monnie "ehem" chai datang "kakak istri mu mau makan di luar" kata jeje "ya udah siap siap ini sudah sore" kata chai "****! kau gila ya" kata jeje "jeje" kata monnie "tidak papa bodyguard kan ada dan juga ada aku" kata chai "terserah" jeje pergi .


air mata perlahan menetes ke wajah pria setengah baya itu "aku dan yang lain benar-benar panik melihat gadis itu benar-benar melompat dari jembatan setelah menusuk dirinya sendiri " kata pria di depan niko "kami langsung mencari nya di bawah air sungai saat itu benar-benar deras sampai kami akhirnya berhasil membawa jeje naik ke darat tubuh nya benar-benar lemas namun kondisi nya masih setengah sadar dia mengatakan kepada kami jangan cegah aku, aku ingin mati, biarkan aku mati, dan dia masih terus bicara begitu sampai kami membawa nya ke rumah sakit kami terus mencoba membuat dia tenang" kata pria itu "jadi baby pernah di tolong dengan mereka" kata niko dalam hati.


"ayolah jangan terlihat kesal" kata chai "kak chai kau lupa ya dengan apa yang aku katakan! orang yang memata matai kita belum ketemu dan.. astaga kakak ipar sudah masuk ke dalam cepat sana " kata jeje "baik lah" chai pergi "aku benar-benar tidak tenang" kata jeje "kami akan menjaga nya dengan baik" kata lim "baiklah" kata jeje.


jeje duduk sambil memperhatikan sekitar nya "makan lah" kata chai saat di rumah makan"iya" kata jeje "ayolah santai saja" kata monnie "rasa nya aku mau melemparkan dua orang ini ke bak sampah" kata jeje dalam hati.


"jadi baby benar-benar pernah melakukan hal seperti itu" niko berjalan terus "wajar saja dia menganggap perbuatan baik semua orang adalah kebohongan rasa sakit nya benar benar luar biasa sampai sampai dia mengartikan cinta itu adalah sandiwara dan uang semua orang tidak baby kau salah aku tidak ingin uang mu" kata niko "aku harus lakukan sesuatu pertama mengubah pola fikir nya, membuat dia mengerti apa itu cinta, lalu tentang Tuhan" kata niko


 "kau ingin apa? uang? "


"tau apa kau tentang diriku? "


"jika cinta adalah kebahagiaan lalu kenapa masih ada yang menderita karena nya"


"aku tidak akan pernah mencintai mu"


"niko" niko berhenti lalu menoleh "hei pak polisi kau sedang apa? " tanya niko "menemani bos ku yang sedang makan malam" kata kal "oih" jeje berhenti tak jauh dari niko berdiri "kenapa dia ada di sini? dia pasti mau mempengaruhi ku lagi" fikir jeje sambil berjalan mundur "kenapa dia kelihatan akrab dengan kak kal apa yang mereka bicara kan" fikir jeje "loh di mana adik? " tanya monnie "iya kemana dia? " fikir chai "Hai niko" kata monnie "oih dia juga akrab dengan kakak ipar ini tidak benar apa yang dia katakan sehingga kakak ipar memeluk nya" fikir jeje "dimana nona kecil? " tanya chai "belum ada keluar tuan" kata lim "apa? " kata chai "biar aku periksa tuan" kata kal "tidak perlu" kata akia "kenapa? " kata kal "ayolah nona kecil" kata akia "**** kak akia mengetahui aku di sini baik lah" jeje berjalan mendekat "astaga kau kemana saja" kata monnie "tunggu" jeje mengisyaratkan agar niko mundur "kalian bisa masuk ke dalam mobil" jeje menatap niko dengan tajam "menjauh lah dari mereka sebelum aku mematahkan lengan mu" kata jeje "adik" kata monnie "diam ya jangan ikut campur" jeje tersenyum sinis "mencoba mendekati lagi aku akan membunuh mu" jeje berbalik dan langsung masuk ke dalam mobil "kenapa berkata seperti itu" kata monnie "aku akan turun jika kau bicara pada ku lagi" kata jeje "diam lah" kata chai "hum" monnie mengangguk.


semua nya terdiam melihat jeje keluar dari mobil dengan kesal "seperti nya mereka berdua tidak akur" kata chai "biasa" kata monnie.


jeje masuk ke dalam kamar nya "pasti ada sesuatu yang dia lakukan, dia bertindak seenaknya aku harus beri dia pelajaran" kata jeje.


keesokan harinya..


jeje turun dari motor nya "hati hati" kata kal "iya" jeje melompati pagar tembok itu "kau terlambat lagi" jeje melihat Gilang berdiri sambil bersandar di dinding "oih dosen payah kau mau bolos kerja ya" kata jeje sambil berjalan mendekat "aku mendengar kabar akan ada mahasiswa yang bolos jadi aku menunggu nya dan aku malah melihat mu jadi aku akan menghukum mu dulu agar kau lebih disiplin" kata Gilang "hehehe.. hehehe.. coba saja" jeje langsung lari "ena saja mau menghukum ku" kata jeje "kau memang harus di hukum karena terlambat" kata wahyu "hei jangn men--" kata jeje "mencoba lari" kata Gilang "aku tidak mau" jeje pergi "apa apaan ini kenapa mereka jadi mau menghukum ku salah ku apa dan oihh" jeje jatuh "baik lah siapa yang meletakkan bola sembarangan" jeje masih berbaring di lantai "jeje kau sedang apa? " tanya riki "aha" jeje berdiri "dosen itu menyuruh ku tidur di sini " kata jeje "dosen mana? " kata Tini "itu di sana lihat itu itu" kata jeje "pak Gilang!! kenapa menyuruh jeje tidur di lantai? " tanya Tini "apa? tidak tidak aku" kata Gilang jeje tersenyum usil dan perlahan mundur "kab--" jeje jatuh di tangga bersama seorang pria "astaga" kata Tini "oih.. " jeje memegang lengan nya "aduh" pria itu berdiri "jeje maaf" jeje duduk "tidak papa archie kau benar-benar menyebalkan " kata jeje "kau baik baik saja? " tanya Tini "itu akibatnya kalau kau mencoba lari dari hukuman " kata Gilang "kau benar-benar kejam aku cuma telat sekali masa langsung di hukum" kata jeje "sekali? " kata wahyu "hei jangan ikut campur" kata jeje "kau ini" kata wahyu "aku akan ke kelas" jeje pergi "hei kau" kata gilang.


"Hai anak anak maaf terlambat" Gilang masuk ke dalam kelas "mati kau kali ini" kata jeje dalam hati "hum.. pak" hima melirik ke arah jeje "ada apa? siapa yang memangggi saya? " tanya Gilang "gak jadi pak" kata hima "baiklah kita lanjut kan materi kita mengenai proklamasi kita--?? " Gilang kebingungan sambil menatap papan tulis di depan nya "kenapa spidol nya tidak mau menyala? " fikir Gilang "jeje apa yang kau lakukan? " tanya vito "dia harus di beri pelajaran" kata jeje "ada yang bawa spidol lagi? " tanya Gilang "biar aku ambil di kantor" kata jeje "tidak kau duduk saja jika kau keluar dari kelas kau tidak akan kembali" kata Gilang "aku akan kembali sungguh jika aku bohong kau boleh melempar ku dari lantai tiga" kata jeje "baik" kata Gilang "astaga masalah besar" fikir baim.


di rumah..


cai dan monnie duduk berdua di taman suara tawa terdengar "bagaimana kalau besok ma? " tanya monnie "oke kita akan berangkat agak siang ya" kata monnie "jangan siang banget agak sore sekitar jam dua" kata cai "tapi jangan bilang pada adik nanti dia ngomel" kata monnie .


"huahaha.. ya ampun aku tidak tau kantor sebelah mana ya? sial berapa lama aku di sini kalau begitu feeling saja kaya nya di sana" jeje lanjut berjalan "eh? ruang organisasi nah.. kaya nya ini kantor juga mungkin ini kantor" jeje menendang pintu nya "itu spidol nya ruangan ini sangat buruk seperti toilet umum " jeje terdiam dia merasakan kehadiran seseorang dia melihat ke arah pintu "oih" jeje mengambil sikap siaga ketika ada seseorang muncul "**** you pecundang aku hampir membunuh mu" kata jeje "kenapa kau ada di ruangan ku? " tanya niko "ini kantor bukan rumah mu aku cuma mau ambil spidol " kata jeje "hei" niko mengambil spidol nya "tidak boleh pertama kau menendang pintu dan itu mengenai ku " niko mengusap darah yang keluar dari hidung nya "ke dua kau mau spidol ku tanpa izin" kata niko "akhh" niko terdorong ke belakang di saat jeje mendorong meja nya "akhh" niko meringis kesakitan ketika jeje mencekik nya "apa yang kau katakan pada kakak ku? " tanya jeje "katakan apa? " tanya niko "kau pasti mempengaruhi kakak ku!! dan juga bodyguard ku!! dengar ya aku bisa membunuh mu sekarang jika aku mau" kata jeje "baby kau.. akhh ... kau salah paham aku tidak melakukan apapun.. sungguh" kata niko "jangan bohong aku melihat nya" jeje menekan niko "aku tidak mengatakan apapun.. sumpah... " kata niko jeje menarik tangan niko lalu meletakkan nya ke atas meja "jleb" niko meringis kesakitan darah mengalir di meja "anggap ini sebagai peringatan , dan jika kau mencoba mendekati mereka atau terus mengganggu ku maka tangan mu akan hilang dari tubuh mu" jeje pergi membawa spidol itu. niko kesakitan dia menatap tangan nya dengan pisau yang masih tertancap di meja "tidak papa... kebencian nya kali ini menang tapi aku akan membuat kebencian mu mengatakan maaf pada ku" kata niko "niko" archie terkejut melihat tangan niko "tarik pisau nya archie" kata niko "aku tidak mampu" kata archie "akhhh" niko menarik pisau itu "siapa yang melakukan nya? " tanya archie "jeki" kata niko "jeki? jeki siapa? " archie mengambil perban di kotak p3k "penunggu ruangan gelap" kata niko.


di dalam kelas suasana mulai ribut mempertanyakan kemana jeje pergi "pasti dia tidak kembali" kata shela "lama sekali dia" kata baim "oi.. oi.. oi" jeje menendang pintu "**** you, **** you, **** you and **** you" Gilang menatap jeje mengacungkan jari tengah nya "ini bapak dosen " jeje meletakkan sekotak spidol "ku fikir kau lari" kata Gilang "aku tidak mungkin melewatkan hari yang menyenangkan" jeje kembali duduk "bai--?? spidol nya juga tidak menyala" gilang mengambil spidol lainnya "pak sen--" kata beberapa mahasiswa "sebenarnya kau itu bisa menulis tidak? " tanya jeje "jeje cukup " kata dila "salah dia" kata jeje "seperti nya ada yang aneh" kata Gilang lalu dia mengusap papan tulis nya "benar ada yang aneh " Gilang mengambil sedikit air "papan tulis nya.. " Gilang menatap jeje "huahahaha.. sekarang kau tau kan apa akibatnya kalau menghukum ku" Gilang menatap jeje keluar dari kelas "maaf Pak" kata baim "tidak papa" Gilang tersenyum lalu pergi keluar kelas "hei anak nakal" jeje menghentikan langkah nya "Hai dosen payah bersihkan dulu papan tulis nya huahaha" jeje tertawa "kau suka ya mengerjai dosen mu" kata Gilang "bodoh amat" jeje pergi menjauh "aku akan memanggil kakak mu" kata Gilang "panggil saja dia sedang ada di luar kota" kata jeje "aku akan datang ke rumah mu" kata gilang "datang lah ke kuburan " kata jeje "baik anak anak.. pelajaran kali ini kita lewat kan saya akan kirim tugas saja di grup" kata Gilang "baik Pak" kata yang lain.