What Is Love

What Is Love
ganti kamar



pintu di ketuk beberapa kali namun tidak ada jawaban, niko kembali mengetuk pintu "baby aku datang.. tapi kemana bodyguard nya kok tidak ada" kata niko "baby" niko mendorong pintu "hei siapa kau? " kata pria yang ada di dalam ruangan itu.


"ha??? kok jadi laki-laki" kata niko "ini ruangan ku sana pergi" niko memegang kepala nya yang di lempari buah buahan "ah.. aduh" niko kesakitan, tak jauh dari sana jeje menatap niko yang di lempari buah buahan "rasain " jeje kembali masuk ke dalam ruangan nya "aku telpon saja deh" kata niko "satu kosong pefor " kata jeje sambil duduk di atas ranjang nya "kakak pasti menelpon" jeje mengambil ponsel nya "tanpa nama jangan jangan ini si pecundang" kata jeje .


ponsel nya kembali berdering "ariel" jeje melihat layar ponsel nya "jeje aku akan datang dua jam lagi perjalanan sedikit macet" kata Ariel "oih.. kau tidak perlu datang aku sudah sangat membaik besok juga pulang lagian aku udah ganti kamar rawat nya" kata jeje "ganti? " kata Ariel "iya aku ganti ke lantai tiga nomor delapan" kata jeje "oh aku akan ke sana secepatnya kau mau sesuatu? jangan bilang aku tidak boleh datang" kata Ariel "oih.. baik lah datang lah aku mau seafood pedas" kata jeje "baik bye jeje" jeje melempar ponsel nya ke atas sofa panjang yang tak jauh dari ranjang nya.


ponsel nya kembali berbunyi "oih.. yang benar saja menyala saja terus, ku kutuk kau jadi alpokat" kata jeje "tok tok" jeje menatap ke arah pintu "pasti dokter, masuk!!" jeje membuka tirai jendela "oih... " jeje terkejut melihat niko berdiri sambil tersenyum "dari mana dia tau aku di sini? " fikir jeje "Hai baby bagaimana? sudah makin membaik? " kata niko "oi.. di larang duduk di sofa" kata jeje "oh tidak masalah aku bisa duduk di sini" niko duduk di atas ranjang "itu.. " kata jeje "kenapa? ini kan bukan sofa" kata niko "****" jeje duduk di sofa "mendengar kata **** dari mu itu menandakan kalau kau sudah membaik, atau karena cairan infus mu yang tinggal sedikit? " kata niko sambil menatap infus di dekat ranjang, "kenapa kau ke sini? " jeje memasukkan permen karet ke dalam mulut nya "tidak ada larangan aku untuk menemui mu lagian kita kan sudah sepakat" kata niko "uh" jeje berbaring di sofa dan mulai memasang earphone ke telinga nya.


"cepat pergi aku mau istirahat" kata jeje "aku tidak mau pergi " kata niko "aku membawa kan mu makanan kau belum makan siang kan? " kata niko namun jeje tidak menjawab dia terlihat sedang menikmati lagu yang dia dengar kan "kau tidur? " kata niko sambil memperhatikan jeje yang berbaring memejamkan matanya "baiklah kau tau, tadi di kampus teman teman menanyakan mu, ku rasa mereka merindukan mu" kata niko "para dosen juga menayangkan mu, kau juga tidak mengangkat telpon dari mereka" kata niko lagi "dan juga telpon dari teman teman tidak kau angkat, kau tau dalam ikatan pertemanan hal yang terpenting adalah komunikasi" kata niko.


"jeje aku dat--?? kok " Ariel melihat niko duduk di atas ranjang "dia tuh di sofa" kata niko "astaga jeje kenapa kau melepas Infus nya" kata jojo "jeje" kata desi "jeje" jojo menyingkirkan ponsel jeje yang hampir jatuh di sofa "oih" jeje membuka matanya "ini seafood nya" kata Ariel "niko kau se--" kata jojo "kau datang untuk bicara pada ku atau pada nya? " jojo menatap jeje. "lanjut kan saja" jeje mengambil sumpit yang di berikan Ariel "makan lah" kata desi "ini jus mu" kata jojo "makanan yang ku bawa tidak di makan dan malah makan makanan dari mereka" kata niko "kau bisa pergi jika tidak suka" kata jeje "oh tidak aku akan diam di sini" ucap niko "apa kata dokter? kapan kau pulang? " tanya ariel tapi jeje tidak menjawab dia makan tanpa melihat siapa pun lagi niko melihat ponsel jeje di dekat nya "hehe" dia mengambil ponsel itu "beneran tanpa sandi? eh kok ponsel nya agak beda, aku lupa dia punya banyak ponsel sial. dia tidak memberi nomer ku nama waktu itu aku oh ya itu di ponsel biru nya ini ponsel hitam aku akan kasih nama ku yang paling baik pria tampan" kata niko dalam hati.


malam harinya..


wine di tuang ke dalam sebuah gelas "kenapa dia belum sampai? " pria berjas hitam itu mengambil gelas berisi wine itu "tuan!! " semua nya menatap ke arah pintu "Crist, akhirnya kau kembali" Crist duduk di dekat pria itu "terimakasih tuan kau sudah menyelamatkan ku atau aku akan jadi peliharaan keluarga Soikham" kata Crist "untung nya mata mata kita berkerja dengan sangat baik, bagaimana kau bisa tertangkap dan di tahan oleh mereka" ujar pria di dekat Crist "tuan feat dia" kata Crist "dia rekan kita apa kau lupa? " tanya pria di samping Crist yang tidak lain adalah feat "ku rasa aku lupa gara gara terlalu lama di rumah sakit, ini semua karena gadis itu bahkan gara gara dia aku benar benar hampir mati karena nya, kau tau tuan dia gadis yang berbahaya satu pukulan nya dapat menghancurkan tulang manusia tulang dada ku hancur dan harus di cangkok karena dia" kata Crist "kau serius dia cuma seorang gadis" kata feat "ini nyata tuan pukulan nya tidak main main aku akan membalas nya".


" jangan harap aku membalas mu"kata jeje "ya setidaknya kau mengangkat telpon ku" kata niko "lebih kau pergi yang lain juga sudah pergi" kata jeje "tidak bisakah aku menjaga mu? " kata niko "pergi sana!! kakak ku akan datang.untuk menjaga ku kau harus jadi bodyguard ku" kata jeje "oh.. tidak juga aku akan menemui kakak mu tapi tidak untuk melamar menjadi seorang bodyguard tapi melamar mu" kata niko "nona" Steven datang "kemana saja, kedepan nya pria ini di larang masuk ke dalam ruangan ku" kata jeje Steven menatap niko "aku mau istirahat" kata jeje "baik nona" Steven menarik niko "baby.. " kata niko "baby angkat telpon ku ya" kata niko jeje menatap ponsel nya yang berbunyi "kakak ipar" kata jeje "kenapa kau melarang kakak mu ke sana? " tanya monnie "dia harus menjaga mu, aku baik baik saja bodyguard ku juga ada bersama ku" kata jeje "tapi kau sendirian" ucap monnie "ayolah kakak ipar aku sudah dewasa" kata jeje "baiklah kalau begitu jangan matikan telpon nya biarkan aku menjaga mu dari jauh" kata monnie "hum.. baik lah " kata jeje "jangan di matikan ya" kata monnie "iya" jeje meletakkan ponsel nya ke meja kecil di dekat ranjang nya "kau akan tidur? " tanya monnie "iya aku akan tidur, kau tidur lah ini sudah malam" kata jeje "baiklah good night adik" kata monnie "to" jeje berbaring di atas ranjang nya mengeluarkan ponsel lain dari laci di dekat nya "jam segini kok tidur, ya main game dulu lah" kata jeje dalam hati sambil memakai headset nya.