
jeje berjalan di lorong sambil membawa sket board nya "kau baik bak saja? " jeje menoleh terlihat Tini dengan jas blazer berwarna merah "kau terlihat sedang sakit kepala" kata Tini "jangan sok tau" kata jeje "kau selalu saja menilai sesuatu dengan sekali lihat" kata jeje "hum.. boleh aku bertanya" kata Tini sambil berjalan di sisi jeje "kenapa kau memukul niko? " tanya Tini "kau tau jawabannya" jeje "tidak aku tidak tau" kata Tini jeje menghentikan langkah nya "bisa kah kau memberi ku jawaban" kata Tini "karena dia bodoh seperti mu" kata jeje "jadi kau paham kan?" Tini menatap mata jeje yang dingin "pak... pak... paaakk" jeje berbalik melihat satpam berlari "pakkk!! " seru satpam beberapa dosen langsung keluar "ada apa pak? " kata gilang "ada wartawan di depan gerbang banyak banget pak wartawan di depan" kata satpam "bapak sudah tanya mereka mau apa? " kata nilam "mereka ingin bertemu nona soikham " kata satpam "nona soikham? " kata nilam "iya " kata satpam "buka gerbang nya! " "nona soikham kami ingin bicara padamu" "nona soikham biarkan kami bertemu dengan nya" seru para wartawan "dari mana mereka tau aku ada di sini" fikir jeje "siapa nona soikham? " kata beberapa orang "nona soikham!! " seru wartawan dari luar gerbang "HEI.. TENANG TENANG!! " telihat niko membawa microphone sambil berjalan ke arah gerbang "kenapa kalian datang ke sini? " kata niko sambil melihat para wartawan dari celah gerbang "kami ingin bertemu nona soikham kami melihat salah satu poster perlombaan dance kami yakin ini nona soikham" kata para wartawan "siapa nona soikham? " kata leo "adiknya tuan chai soikham" kata para wartawan "tapi dia tidak ada di sini" kata niko jeje perlahan berjalan menjauh "jeje" ka menariknya ke salah satu ruangan seperti nya ada yang membocorkan informasi kalau kau ada di sini"kata kal "aku harus apa? " kata jeje "tetap di sini aku akan coba mengatur semuanya tunggu saja jangan kemana mana sampai aku menyuruh jerico menemui mu" kata kal jeje mengangguk "bagaimana ini kal? " kata jerico "kita cari celah ayo temui para wartawan itu" kata kal "tikus masuk ke dalam jebakan" kata seorang pria di dalam mobil "hei.. tenang tenang" ridho keluar "nona soikham tidak mungkin berada di sini" kata ridho "benar itu" kata niko "jeje" jerico datang "bagaimana? " kata jeje "ayo lewat belakang kita kabur dari sini" kata jerico "ayo cepat" kata lim mereka bertiga berjalan keluar kelas menuju pagar tembok yang ada di belakang kampus "ayo" lim dan jerico berdiri "lompat lah dengan memijak tangan kami" kata jerico "Steven sudah ada di luar" kata lim "oke" kata jeje sambil naik ke atas tangan jerico dan lim "brukk" jeje mendarat tiba tiba dia membeku terlihat steven sudah tergeletak di tanah "ouh sial!! jerico" jeje hendak melompat kembali tapi orang orang Misterius itu langsung menarik dan menangkap jeje "oooih... lepas" kata jeje "hummph" mulut jeje di tutup dengan kain "yo nona soikham" kata seorang pria berjas hitam "alder"kata jeje dalam hati " jangan terkejut ini akan menjadi permainan yang sangat panjang "kata alder mobil berjalan jeje melihat niko sedang mencoba menyuruh para wartawan pergi " sial!! kak kal"jeje melihat kal ada di samping niko "buag!! " salah satu wartawan melempar buku ke niko "lihat.. pengawal setia mu ada di sana" kata alder sambil tersenyum dan memberi isyarat agar mobilnya lanjut jalan "kau tidak papa? " kata kal "ah.. tidak papa" niko berdiri hidung nya mengeluarkan banyak darah "dorrr!!! dorr" suasana jadi hening "AKU AKAN LAPOR KAN KALIAN SEMUA JANGAN HARAP KALIAN BISA MELIPUT LAGI BESOK" kata kal para wartawan langsung bubar satu persatu kal membantu niko masuk ke dalam "kuharap Steven bisa membawa jeje menjauh" kata kal dalam hati "AAAHHHH!!! " suara teriakan terdengar keras "ada apa? " kata wahyu "ada dua orang berdarah di belakang kampus" kata beberapa mahasiswa "kau tunggu sini" kata kal sambil berdiri melihat apa yang membuat shock para mahasiswa "apa?" kal melihat lim dan jerico tertembak.
mobil berhenti alder turun dengan tersenyum puas "hmmph.. hhmph" jeje mencoba memberontak "bawa dia" kata alder "selamat datang tuan alder" kata beberapa pengawal "telpon dokter itu suruh dia datang" kata alder "siap tuan" kata afdal "tenang nona soikham aku tidak akan membunuhmu waktu mu masih panjang " kata alder tak lama kemudian seorang dokter datang "ayo " seorang pengawal membawa gadis lain "aku mau kau melakukan apa yang ku katakan semalam" kata alder "baik tuan tapi wajah yang mana yang harus saya buat? " kata dokter "gadis ini ubah menjadi gadis itu" alder menunjuk jeje "apa? " kata jeje "baik tuan saya akan melakukan nya secepatnya" kata dokter "hhmph.. hmmph" jeje memberontak berusaha melepaskan dirinya "jleb" jeje merasakan ada benda menancap di lehernya "tenang lah nona soikham ini sangat menyenangkan" kata alder.
jeje diam dan berbaring tubuhnya tidak bisa di gerakan seorang gadis datang berjalan ke samping nya "aku akan memainkan peran mu dengan baik " kata gadis itu "aku bersumpah jika mau menyentuh mereka aku akan menghabisi mu dengan tangan ku" kata jeje dalam hati "ayo" kata dokter. wahyu mendekati niko "ada apa? " kata wahyu dia melihat niko memegang dadanya "aku merasakan telah terjadi hal buruk " kata niko "hal buruk? " kata wahyu "aku harus cari baby" kata niko sambil berdiri "niko apa tidak waras kau masih terluka dan kau memikirkan nya" kata wahyu "aku ada dengan mu yu, dia sendiri aku tidak tau apa yang terjadi tapi aku merasakan ada yang terjadi pada nya dan ini buruk sekali" kata niko.
malam harinya...
jeje duduk di kursi tubuhnya masih belum di gerakan sedikit pun seorang gadis berjalan ke dekat alder "apa sudah bisa di buka perban nya? " tanya alder "sudah tuan" kata dokter alder langsung menarik perban gadis yang ada di depan nya jeje terkejut gadis itu menjadi mirip dengan nya "bunga kau sekarang sudah menjadi nona soikham" kata alder gadis yang tak lain adalah bunga menoleh ke arah jeje "tapi jangan sentuh wajah mu terlalu sering karena ini masih proses penyembuhan jika lima bulan ke depan wajahmu sudah sempurna" kata dokter athan mendorong kursi jeje ke sebuah ruangan yang sangat luas "jadi kau akan tinggal disini nona soikham asli kau cukup diam dan menonton permainan yang ku buat" kata alder "kau tenang saja" alder menunduk mengusap pipi jeje "kakak mu akan mati dengan tenang" kata alder "kakak... tidak kakak tidak boleh mati" kata jeje dalam hati.
jeje menoleh ke arah pintu "hiaaa!! " jeje langsung menyerang "ups" bunga tertolong ada empat pengawal melindungi nya "dengar!! aku akan menghabisi mu jika kau macam macam dengan kakak ku" kata jeje "kau fikir aku takut? " kata bunga "oh.. nona soikham kenapa pagi pagi sudah mengamuk seperti seekor singa liar" kata alder "**** you!! permainan mu sangat murahan" kata jeje "tapi dalam permainan ini nyawa kakak mu juga sangat murah" kata alder "ini juga pembalasan atas apa yang kau lakukan padaku" bisik bunga "jika kau menyentuh mereka aku sendiri yang akan membunuhmu dengan tangan ku" kata jeje.
satpam menyipitkan matanya melihat siapa yang masuk "jeje" kata satpam "hei tumben sekali kau datang pagi pagi"bunga menoleh " oh iya aku kan jeje aku lupa"bunga tersenyum "ya aku sedang bersemangat" bunga berjalan ke kampus "jeje... kau kemana saja" kata mawar "tidak kemana mana" kata bunga jeje menatap layar di depan nya "HAAA AHHH!!! " jeje terlihat sangat kesal "jeje" dila sambil berlari merentang kan kedua tangan nya bunga tersenyum melakukan hal yang sama seperti dila membuat semuanya terkejut "waw apa yang terjadi" kata vito "gak ku sangka banyak juga yang menyukai ****** sialan ini" fikir bunga "pak polisi jeje sudah datang di kampus" kata niko "benarkah? " kata kal "iya" kata niko sambil berjalan ke arah bunga jeje menatap layar di depan nya dengan tajam "pecundang!!! dasar bodoh" seru jeje "itu bukan aku" kata jeje "pagi niko" sapa bunga "haah?? " ale tersedak mendengar bunga menyapa niko "Hai.. bagaimana kondisi mu" kata niko "aku baik baik saja bagimana dengan mu" kata bunga jeje mencekram kepala nya dengan keras "haaaaaahh!!! aku tidak boleh diam!! " kata jeje "jeje tenangkan dirimu" jeje terdiam dia teringat ucapan kal langsung mengatur nafasnya "gritt" pintu terbuka alder menatap jeje yang duduk santai sambil menatap layar di depan nya "kenapa dia terlihat santai? " fikir alder athan meletakan beberapa makanan ke atas meja "bagaimana nona soikham? " tanya alder "duduk lah kita menonton bersama " kata jeje sambil menepuk nepuk kursi di samping nya alder terkejut "jangan lupa bawa camilan aku sudah lapar" kata jeje "oke.. bawakan makanan ringan ke sini" kata alder "aahh" jeje menaikan satu kakinya ke atas meja "akhirnya aku bisa bersantai" jeje melipat kedua tangan nya ke belakang lehernya "tidak bertemu banyak masalah aku baru menyadari nya ternyata di sini nyaman" kata jeje "apa kau sedang bersandiwara bunga sekarang ada di kampus mu" kata alder "lalu? apa aku harus berteriak" kata jeje "baiklah.. tenang dan berfikir" kata jeje dalam hati "ini camilan mu" alder meletakkan sekeranjang makanan ringan "pintu ini di buka pakai sensor kartu sekarang berfikir lah bagaimana cara nya mendapatkan kartu itu" fikir jeje alder terlihat kesal melihat jeje yang duduk santai menatap layar di depan nya seperti film di bioskop dia langsung keluar meninggal kan jeje sendirian lagi jeje mengepal tangannya melihat layar di depan nya bunga berjalan menuju kelasnya menyentuh mejanya "makanan apa ini" bunga melempar kotak makanan itu bunga menunduk menatap kamera kecil di balik bajunya "permainan baru di mulai" kata bunga sambil mengacungkan jari tengah.
leo menepuk baju niko "kau senangkan jeje menyapa mu lebih dulu" kata leo niko tersenyum "sebenarnya aku sedikit merasa aneh tapi juga senang" kata niko "sekarang fokus belajar" kata wahyu "iya" kata niko "kak niko" niko melihat ke arah pintu dila melambaikan tangan niko langsung berdiri menghampiri nya "kak niko dia membuang dari makanan mu" kata dila "hah? bukan kah dia baru saja menyapa ku" kata niko "aku tidak tau dia melempar makanan nya begitu saja" kata dila "dila bel sudah bunyi " kata wahyu "iya kak" dila langsung pergi niko mengusap rambut nya "dia membuang nya? ".