
"kakak... kakak" chai mendengar suara jeje dari dalam rumah "kak chaaaii.. dasar tuli!! " seru jeje "dia memanggil mu" kata monnie "aku di sini" kata chai "zrruuut" chai melihat jeje turun dari lantai atas dengan tali "jee.. kau bisa jatuh" kata monnie "kalian malah di sini ngapain? " kata jeje "hati hati tangan mu belum pulih benar" kata chai "tidak papa" jeje duduk "apa yang mau kau tanyakan? " tanya chai "kak chai jeje palsu kan mencuri dokumen lalu bagaimana kita mencari dokumen yang hilang rumah nya kan meledak kemarin" kata jeje chai tersenyum "apa kau fikir kakak ini sangat bodoh" kata chai "bagaimana bagaimana jelaskan pada ku" kata jeje "karena aku tau suatu saat nanti dia akan mencari dokumen itu jadi aku menyuruh bai dan wutt untuk lembur membuat dokumen palsu baik dokumen xia Fu dan dokumen yang lain " kata chai "berarti yang asli ada di sini" kata jeje chai mengangguk "oh.. ya udah" jeje pergi monnie tertawa "dia melompat dengan tali cuma mau tanya satu hal saja? " kata monnie "kaya tidak tau dia saja" kata chai "anak itu tidak ada berubahnya" kata monnie "monnie" kata chai "iya" kata monnie "aku kawatir jeje tidak memiliki teman" kata chai "anak anak seusia nya seharusnya sudah memiliki teman dan juga pacar namun dia tidak memiliki ke duanya aku selalu memikirkan hal itu" kata chai "aku akan mengurus nya apa kau lupa jeje adalah duplikat mu yang dulu ingat kau dulu juga seperti nya tidak mengerti apa apa soal cinta dan tidak tau caranya berteman" kata monnie "kau selalu membuat tenang" kata chai.
jeje memberi daging ke wolfy "jeje ponsel mu berbunyi tuh" kata milli "iya" kata jeje "makan yang banyak ya biar kita bisa mempunyai srigala mungil" jeje pergi mengambil ponselnya tertera nomor baru jeje hanya menatap nya namun nomor itu kembali muncul berkali kali "biar ku tebak ini pasti jojo jika bukan mana aku tau" jeje mengangkat nya "jeje ini aku leo" kata leo "leo mana? " kata jeje "oh aku leo satu kampus dengan mu bisa kah kita bicara" kata leo "ini sangat penting" kata leo "bicara saja" kata jeje "aku ingin bicara langsung" kata leo "tentang apa? " kata jeje "tentang kebenaran yang sesungguhnya yang terjadi saat kau tidak ada di kampus" kata leo "kau sendiri? " tanya jeje "iya" kata leo "malam jam delapan rumah makan biu" kata jeje sambil mematikan telponnya "kebetulan aku juga bosan di rumah" kata jeje "keluar bentar juga tidak papa" kata jeje.
malam harinya..
jeje menyipitkan matanya "oi.. oi.. oi berpakaian rapi, rambut yang mengkilau biar ku tebak kalian mau pergi kan? " kata jeje "iya aku baru saja mau menjemput mu di kamar mu" kata monnie "kalian pergi saja apa gunanya aku ikut? jadi nyamuk? " kata jeje "kau akan ikut" kata chai "tidak ya tidak aku mau ke rumah makan paman biu kalian pergilah aku akan pergi dengan kak eh dengan kal" kata jeje "dengan siapa? " tanya chai "dengan kal tanya lagi" kata jeje "hei jangan bertengkar. jeje jangan pulang larut ya" kata monnie "pulang larut jangan ada yang buka gerbang untuk nya biar dia tidur di luar" kata chai "berani sekali kau" kata jeje "hei hei.. sudah berangkat lah jeje" kata monnie "iya kak" kata jeje "ini pakai kartu ini " kata monnie "oh tidak usah kartu ku masih ada isinya simpan itu buat bayi mu besok setelah nikah" jeje pergi "bayi? sejak kapan dia membahas bayi" kata chai "tidak papa ayo kita berangkat" kata monnie.
di rumah makan biu..
leo melihat kanan kiri "aku lupa tanya dia ada di meja mana " kata leo sambil terus berjalan "aku lupa yang mana orang nya ya? " fikir jeje sambil melihat orang orang yang berdiri "bodoh amat aku lapar" jeje memotong cumi panggang di depan nya "feeling feeling ayo satu dua tiga" kata leo "kaya nya yang itu deh" kata leo "jeje" jeje menoleh "untung benar jika salah malu banget aku" fikir leo "duduk" kata jeje "aku mendengar semuanya tentang mu" kata jeje "dari mana? " kata leo "seseorang kau membantu mencari ku dan juga menolong ku aku ingat itu diam jangan bicara makan lah" kata jeje sambil lanjut makan "ini" jeje menyodorkan buku menu "untuk apa? " kata leo "jika kau mau yang lain" kata jeje "gluk" leo memperhatikan nama nama menunya "ini pasti mahal" fikir leo jeje menatap leo yang kebingungan "pilih saja " kata jeje "iya" kata leo.
Ariel menatap jojo yang terlihat gelisah "ada apa? " kata memo "jeje kelihatan nya memblokir ku" kata jojo "tidak mungkin" kata Ariel "bukti nya dia sama sekali tidak bisa di hubungi" kata jojo "biar aku coba" kata Ariel.
niko membereskan buku bukunya "pembohong yang membela pembohongan lainnya! " niko teringat ucapan jeje "bagaimana caranya aku membuktikan pada mu kalau aku tidak salah" kata niko "brukk" ada sesuatu yang jatuh "berikan barang ini dan ponsel ini ke baby " niko teringat ucapan ayahnya "astaga aku lupa mati aku" kata jeje "ini baju dan ponsel baby yang di temui ayah " kata niko "ya ampun.. kok bisa aku lupa" kata niko "niko makan!! " seru wahyu "iya" kata niko.
wahyu melihat ponsel yang di bawa niko "ponsel siapa? " tanya wahyu "milik gadis bernama baby yang di temui ayah" kata niko "kita melupakan ini kita harus cari baby" kata niko "ya ampun.. kau benar" kata wahyu sambil mengambil ponsel itu "hei ponsel ini masih hidup " kata wahyu "benarkah? pakai kode tidak" kata niko "tidak kok isinya banyak video" kata wahyu "aku mau lihat" kata niko "eh.. wajah nya" kata niko.
"aku memaksa ale untuk menemaniku melihat apa yang akan di lakukan jeje palsu ke niko karena aku kawatir dia ada niat buruk ke niko " kata leo sambil mengeluarkan empat flashdisk "aku merekam nya semuanya mungkin ini tidak penting bagi mu tapi kau akan melihat petunjuk lain agar kedepan nya kau tidak mengalami banyak bahaya" kata leo "jeje palsu sering menyebutkan niat buruknya di saat niko pergi memesan minuman" kata leo "aku ingin bertanya" kata jeje "katakan saja" kata leo "apa jeje palsu pernah... " kata jeje "pernah.. " kata leo "lupakan" kata jeje "tidak papa jika ada yang ingin kau tanyakan aku akan menjawab" kata leo sambil menatap jeje yang terlihat sedang berfikir jeje berdiri dan pergi "meja 27" kata jeje "empat puluh lima juta nona" jeje langsung mengeluarkan kartunya leo hanya mematung melihat jeje "hum.. jeje biar" kata leo "tidak papa anggap saja ini hadiah" jeje memberikan sebuah box ke leo "kakak ku juga menceritakan kecerdasan mu anggap saja ini penghargaan" kata jeje "tapi" kata leo "ini nona kartu nya " kata wanita itu "iya" kata jeje "menjauh ka dari ku" kata jeje leo terlihat kebingungan "kau sudah selesai? " tanya Steven "sudah kak " kata jeje "ayo kita pulang" kata Steven "ayo" kata jeje .
jeje keluar dari mobil "halo " kata jeje "jeje" ucap Ariel "kenapa sulit sekali menelpon mu" kata Ariel "aku tidak dengar kenapa kau marah" kata jeje sambil berjalan masuk ke dalam rumah "jojo kawatir pada mu" kata Ariel "kenapa? dia di situ" kata jeje "iya" kata Ariel "kuatkan volume nya" kata jeje "kawatir kan saja teman mu itu karena aku pasti akan menghabisi nya" jeje mematikan telpon.
jeje masuk ke dalam ruangan game nya mengeluarkan empat flashdisk dari leo jeje meletakkan tiga ke dalam kotak lalu memasukan satu ke laptop nya . "hari ini aku mendadak kawatir pada niko karena aku curiga orang yang berwajah jeje itu bukan jeje asli karena aku ingat waktu itu jeje memukul niko di leher jeje ada luka lihat " kata leo tak lama kemudian terlihat bunga datang memeluk niko dari belakang "pagi niko" kata bunga "hum ya" niko terlihat dingin "niko kita makan ke kantin yuk aku lapar ayoo" bunga menarik niko pergi "aku pesan minum dulu kau mau minum apa" kata niko "aku mau jus jeruk" kata bunga "setahu ku jeje tidak meminun jus selain jus alpokat" kata leo "kau ini kalau salah gimana" kata ale "aku itu calon detektif ini semua trik dari detektif Conan" kata leo "lihat jeje menambahkan bubuk cabe ke makanan nya" kata ale "ini jus jeruk mu" kata niko "aduh.. makanan ku pedas banget" kata bunga "cepat minum" kata niko "aduh.. makin pedas aku coba minuman mu" kata bunga "tap--" bunga mengambil minuman dari tangan niko "dia modus tuh gak mungkin lah jeje begitu" kata leo "kita harus bahas ini sama niko" kata ale. jeje terus menonton sampai di mana adegan leo mencoba menjelaskan kecurigaan nya "kau gila aku memang kaget melihat dia berubah, tapi dari mana asumsi mu tapi leo" niko menatap leo "aku tau dia jeje palsu karena dia tidak memiliki luka di leher aku coba mendekati nya karena ingin tau dimana dia menyembunyikan jeje asli" kata niko.
jeje mengunyah permen karet nya sambil terus menonton "dia tau itu bukan aku? " kata jeje "jeje!!! " jeje langsung mematikan laptop nya.
"jeje!! " seru monnie "oi oi.. kenapa? " kata jeje "kami membawakan sesuatu untuk mu" kata chai "apa itu? " jeje melorot turun dengan sketboard "jeje!! " chai terlihat panik "tidak papa aku tidak akan jatuh" kata jeje "mana mana" kata jeje "ini seafood kesukaan mu ayo makan" kata monnie "wuah.. ini enak" jeje duduk di meja dan langsung memakannya "cumi cumi ini enak banget" kata jeje "dia langsung melupakan kita" kata chai "biarkan saja dia makan kau pergilah istirahat" kata chai "aku duluan ya" kata monnie "hei makannya pelan pelan" kata chai "aku langsung lupa pada dunia ku" kata jeje "enak" kata chai sambil mengambil sumpit "enak aku suka banget" kata jeje monnie tersenyum melihat chai menemani jeje makan "terimakasih Tuhan sudah memberi ku keluarga yang baik seperti mereka" ucap monnie sambil memfoto mereka.