What Is Love

What Is Love
permen karet di depan gerbang



di kampus...


pagi hari yang cerah mahasiswa terlihat lalu lalang di kampus, gilang berjalan ke arah kerumunan orang orang "ada apa ini? " kata Gilang "itu pak foto foto waktu perlombaan dance ada di mana mana" kata leo "apa??? " niko terkejut melihat foto di mading dimana terlihat jeje dan niko berciuman bahkan tangan jeje terlihat mungil ada di bahu niko "hei.. siapa yang menempel ini? aduh... bagaimana ini" niko menutupi foto dengan tangan nya "lihat jeje" rizi datang dengan jeje "kak niko kau kenapa di depan mading? " kata rizi "hum.. anu.. hum.. Hai baby" kata niko "ayo semua nya masuk bel sudah bunyi" kata Gilang "ayo niko" kata leo "duluan hehe" kata niko mahasiswa mulai bubar jeje melihat ke sekitar nya "ayo ke ke kelas" kata dila jeje berjalan perlahan ke arah mading menarik niko "baby aku benar-benar tidak tau siapa ya--" niko memejamkan mata nya ketika ada kertas berserakan ke arahnya "sraaakkkk!!!! " dila juga terkejut melihat jeje merobek semua foto nya "jika aku melihat nya lagi" jeje menatap niko "maka aku akan menghancurkan mu sehancur hancur nya " kata jeje "baby.. aku.. aku tidak mela" niko tertarik ke arah jeje "aahk"niko menahan rasa sakit akibat cengkraman tangan jeje di lehernya " sudah pasti kau yang melakukan nya, jika aku melihat nya maka kau akan mati!! di tangan ku. aku membenci mu"jeje pergi dila menatap niko yang terlihat tidak bisa apa apa "jeje tunggu" kata dila "aku salah" niko memungut serpihan foto yang berserakan di lantai . jeje mendekati sebuah jendela "ada apa? " kata kal "aku tidak mau melihat foto ku ada di sekitar sini" kata jeje "aku akan urus" kata kal sambil pergi jeje mengeluarkan ponselnya sambil melihat sekitar nya.


di rumah..


jeje duduk bersandar di sebuah kursi sambil mengamati dua srigala besar di depannya "dengar jeje kau tidak memerlukan apapun kau sudah punya kak chai tidak ada lagi yang penting kecuali kak chai! jangan biarkan apapun mempengaruhi mu! cinta itu tidak ada!! semua hanya lah kebohongan belaka" kata jeje dalam hati "kenapa kau mengamati wolfy?" jeje menoleh melihat chai dengan kemeja putih "apa yang salah? " kata jeje "apa yang sedang kau fikir kan? " kata chai jeje meneguk jus nya "bagaimana kelas mu? " tanya chai sambil duduk "tidak terlalu menyenangkan" kata jeje "apa masalah nya? " kata chai "apa yang enak? semuanya terlihat membosankan kolam nya, tempat nya, aku muak melihat nya" kata jeje "kenapa kau tidak membicarakan nya pada pemilik kampus" kata chai "dia hanya pria payah mana mau mendengar kan ku" kata jeje "kau ingin kampus mu terlihat seperti apa? " kata chai "jauh lebih menyenangkan seperti aku melihat sesuatu yang berbeda" kata jeje "hari ini aku punya waktu luang" kata chai "lalu" kata jeje "kau ingin keluar agar tidak bosan? " kata chai "hum.. tapi aku sedang malas" kata jeje "pergi bersiap kita akan melihat pemandangan lautan" kata chai sambil menatap jeje "kau mau kita menyelam? " kata jeje "bukan, ka bersiap saja aku akan menunggu di mobil" kata chai.


niko berjalan masuk ke sebuah rumah besar yang terlihat terbengkalai dia berjalan masuk sendirian "kau lama sekali niko" kata Ariel "iya tidak seperti biasa nya" kata jojo "kalian sedang apa? " tanya niko "beres beres meskipun rumah ini terlihat jelek dari luar tapi ini tempat menyenangkan" kata desi "tuk!! " sebuah botol kecil terjatuh dari box yang di angkat memo "hati hati mo! " kata jojo niko memungut botol itu "bawa sini" Ariel mengambil nya lalu meletakkan nya kembali ke dalam box "kenapa ka terlihat seperti orang banyak fikiran" kata Ariel "kepala ku juga sakit" kata niko sambil duduk di atas sofa "kenapa? jeje menampar mu lagi? " tanya jojo niko menggeleng kan kepalanya "kenapa dia? " kata jojo "apa jeje melakukan hal buruk pada mu? " kata memo "tidak aku senang berada di sini " kata niko "ya.. ini adalah tempat yang penuh ketenangan" kata jojo.


kal membuka pintu mobil "kenapa kau terlihat kesal? " kata chai "ah.. kata kata mu membuat ku hilang semangat" kata jeje sambil keluar dari mobil "wisata laut biru" jeje membaca tulisan di depan gedung besar yang ada di depan nya "ayo" kata chai. begitu memasuki pintu suasana berubah menjadi biru semua gambar ikan dan pemandangan laut ada di tempat itu jeje terus berjalan mengikuti chai "griit" pintu kaca di buka jeje melihat banyak ikan berenang dengan ceria serta tanaman berwarna warni terlihat melambai di dalam air hiu besar lewat di atas jeje "kau suka? " kata chai "tumben kau mengajak ku ketempat seperti ini? " kata jeje "apa kata mu? aku selalu mengajak mu jalan kemana pun yang kau suka tapi kau selalu banyak alasan" kata chai "tapi kau tau" chai tersenyum "ada apa? " kata jeje "dokter bilang kondisi monnie semakin membaik dia kemungkinan akan sadar dalam beberapa bulan ini" kata chai jeje tersenyum perlahan dia melihat kebahagiaan terpancar dari wajah chai "apa kau senang? " kata jeje "hei.. apa aku terlihat sedih, dengar.. dia juga akan menjadi kakak mu" kata chai "kenapa kau tidak memiliki ekspresi? " kata chai "jadi aku harus apa? " kata jeje "kau harus ikut senang ini kabar baik" kata chai "oh.. ya. aku aku senang" kata jeje "ketika dia datang dia akan mengajarkan mu banyak hal" kata chai "seperti tentang kasih sayang yang pernah dia ajarkan padaku" kata chai dalam hati.


keesokannya...


seorang pria dengan kaos polos berdiri di depan cermin "jrasss" air keluar dari keran pria itu mencuci tangan nya lalu mengusap rambut nya "Hai niko kau membuat ku terkejut" kata ale yang baru keluar dari toilet niko menatap ale dari cermin "aku duluan ya" kata ale sambil menepuk bahu niko lalu pergi, niko mematikan keran lalu merapikan rambut nya menarik nafas nya dalam dalam "baby.. pagi" kata niko sambil mengeluarkan sebuah bunga dari sakunya "Hai baby" kata niko tetapi lagi lagi dia menggeleng kan kepalanya "baby.. aku salah aku tidak akan mengulangi nya lagi maafkan aku soal semalam oh ya bag.. ba.. bagaimana kalau kita makan malam eh.. bagaimana kalau aku traktir kamu hati eh hari ini ck.. aduhh.. bagaimana sih bicara aja masih belepotan" kata niko sambil menepuk nepuk kepala nya.


puluhan orang berkumpul di sebuah tempat pakaian mereka terlihat lusuh dan kotor bahkan sudah ada yang sedikit hancur "ayo maju pelan pelan" kata jojo terlihat puluhan kitak makanan dan juga peper bag ada di dalam box besar "brum... " memo menoleh melihat mobil hitam datang Steven keluar dari mobil dan segera membuka pintu "yo!! aku datang" kata jeje "hati Hai jangan lari" kata kal "cukup kan makanan dan pakaian nya? " kata jeje "cukup kok" kata jojo "ayo maju pelan pelan" kata jojo "hei.. kau masih muda kenapa datang kemari? " tanya jeje "nona aku lapar" kata pemuda berpakaian compang camping itu "dengar ya! kalian gak boleh selamanya begini kalian harus kerja jangan jadi pemalas yang kerjaannya cuma menerima tanpa mau usaha minggu depan akan ada perubahan kegiatan ini akan di lakukan tiga kali dalam seminggu aku tidak peduli kalian mau makan apa! mau bagaimana, mau sekarat terserah " kata jeje semua menatap ke arah jeje "apa lihat lihat!! gak suka? tinggal pergi kalian fikir semuanya tidak di beli pakai uang? " kata jeje "jeje kau kenapa? " kata desi "diam kau kerja saja" kata jeje "sebagai dari kalian juga masih kuat! kalian bisa dapat kerja dengan mudah" kata jeje sambil memukul tangan orang orang yang dia lihat "apa lagi yang dia rencana kan? " fikir kal.


seorang pria mengamati seorang wanita yang sedang mengayunkan tongkat ke beberapa orang "ku yakin itu gadis nya" pria itu menatap foto di tangan nya "kalau begitu kita bunuh sekarang aja" kata pria di belakang nya "ambil senjata di belakang kursi" kata pria di kursi kemudi "aku bosan memberi kalian makan ayo cepat jalan dan pergi aku muak melihat kalian" kata gadis di depan sebuah rumah bercat biru "jeje kau sudah keterlaluan" bisik Ariel "orang akan berubah ketika menyadari kejam nya kenyataan" kata jeje kal berjalan ke depan jeje lalu menatap mobil yang tak jauh dari mereka "jerico datangi mobil itu" kata kal "ada apa? " kata jerico "cepat lah!" kata kal "baik" kata jerico "ada apa kak kal? " kata jeje "kau harus ke kampus ini udah jam sebelas" kata kal "nona" dua orang berjas hitam datang "katakan" kata jeje "kami telah menemukan suami wanita malang itu" jeje menatap kal "pria bernama suko" kata pria ber jas Hitam itu lalu salah satu dari mereka menyeret seorang pria dari dalam mobil jeje mengepal tangan nya "tap"kal menahan tangan jeje " tidak di sini"kata kal.


"dan kita juga harus menjadi warga negara yang baik yang patuh pada peraturan, menjalani kewajiban dan lainnya dan yang terpenting... " gilang menjelaskan materi yang sedang dia ajarkan wahyu melirik ke arah niko yang terlihat gelisah bahkan tangan nya tidak berhenti bergerak terus menerus mengetuk meja "niko niko" kata wahyu dengan suara yang sangat pelan "jadi sampai sini ada yang ingin ber--- niko kau baik baik saja? " tanya Gilang "hum? ya.. ya pak" kata niko "kau terlihat sakit? " kata Gilang "saya baik baik saja pak" kata niko bersamaan dengan suara bel "baiklah waktu susah berakhir" kata Gilang sambil menutup kembali spidol yang dia pegang.


wanita berpakaian putih berjalan dengan cepat ke arah seorang pria yang di borgol "plak!!! plak!! plak!!! plakk" suara tamparan terdengar sangat nyaring "dasar pria jahat!!! brengsek!! aku benci kamu mas!! " seru wanita itu "KARENA AKU TIDAK MENCINTAI MU!! AKU SUDAH BOSAN DENGAN MU!! " seru suko wanita itu terlihat shock mendengar perkataan suaminya sendiri "kau.. pasti berbohong.. hisk.. hisk.. aku meninggalkan keluarga ku demi kau!! lalu kau membuang ku begitu saja? kau juga membuang anak anak kita " kata wanita itu "kau membuang kami begitu saja dengan alasan ingin mengambil barang yang ketinggalan!! lalu kau muncul dan berkata seperti itu pada ku" kata wanita itu "aku mencintai wanita lain" kata suko "aku tidak mencintai mu lagi" kata suko menatap jeje "sekarang lepaskan aku!! " kata suko "hei wanita bodoh kau hanya diam saja? kau bisa melakukan apa saja" kata jeje "tidak nona, aku.. aku tidak mampu" wanita itu berlutut di lantai menangis tersedu sedu "buaaaggg!!! " wanita menatap suko terjatuh "kau menangisi pria buruk seperti ini? kau tidak layak!! " jeje menarik suko "siapa kau benari ikut campur? " kata suko sambil berusaha melawan "aku siapa? hahaha.. aku orang yang membenci pria bangsat seperti mu" jeje memukul suko lagi "kau sudah melihat mobil yang minta" bisik kal "sudah ternyata orang yang salah alamat" bisik jerico "jeje! " kal menahan tangan jeje "KENAPA? KENAPA KAU MENAHAN KU? LEPAS!! PRIA TAU APA? PRIA YANG SELALU MENGAKU KUAT PADAHAL LEMAH LEBIH LEMAH DARI SEORANG WANITA TAPI SELALU BERTINDAK SEENAKNYA!! MEMANFAATKAN KEBAIKAN!! PRIA SEPERTI NYA PANTAS MATI!! " kata jeje " jeje.. kendalikan dirimu"kata kal "AKU HARUS MEMBERINYA PELAJARAN!!! " kata jeje "DIAM!! DENGAR KAN AKU" kata kal jeje menatap mata kal "kendalikan amarahmu.. " kal memegang bahu jeje "tenang... bukan hanya kau aku juga marah melihat pria yang memperlakukan wanita dengan buruk, tapi tenang lah" kata kal "aku akan mengurus nya" kata Steven "penjarakan dia jangan lepaskan sampai kapan pun" jeje menatap wanita yang sedang menangis di lantai "bangun kau" kata jeje "BANGUUN!! " jeje menariknya "apa kau buta? dia sudah menyakiti mu!! bukan saatnya dan tak sepantasnya kau menangis " kata jeje "berhenti menangis atau aku tidak akan membantu mu lagi" kata jeje "nona.. aku tidak ingin menangis tapi air mata ku selalu mendesak untuk keluar" kata wanita itu "kau cantik, baik, kau itu malaikat sekarang aku akan memanggil mu queen kau akan jadi ratu di masa depan untuk anak anakmu berdiri dan urus anak anakmu" selesai bicara jeje langsung pergi.


"kak archie " dila menatap pria berkemeja merah di depan nya "hum.. apa jeje datang hari ini? " kata archie "jeje belum datang ada apa kak?" kata baim "hum" archie menatap peperbag yang dia pegang "itu untuk jeje? " kata vito "hum ya" kata archie "vito kebetulan sek--" niko menatap archie "kakak jeje baby mu belum datang" kata vito "ah.. kemana dia ya" kata niko melihat itu archie langsung pergi "kak kelihatan nya saingan mu itu membawa hadiah untuk baby mu" kata dila "iya aku melihat nya" kata niko sambil mengeluarkan ponsel nya "aku akan hubungi dia" kata niko.


kal menghentikan mobil sambil menatap pintu gerbang yang sudah tertutup "kau sudah sangat terlambat" kata jerico "tidak papa" kata jeje tanpa di sadari seseorang telah membidik nya dari tempat tersembunyi, pintu mobil di buka jeje keluar dari mobil "kau sudah pakai pengaman? " kata kal "sudah" kata jeje "aku akan simpan mobil dulu" kata kal "aku akan langsung pergi dengan mu" kata Steven sambil memakai topi "ayo cepat" kata jerico "santai saja" kata jeje "tali sepatu mu" kata Steven "biar aku aja" jerico membungkuk membenarkan tali sepatu jeje "ayo nif cepat" kata seorang pria di dalam mobil "clek!! " seorang pria yang di samping pohon besar menekan pelatuk "oih permen karet ku" jeje menunduk "DORRR!! " Steven merangkul jeje "oih.. tiarap" kata Steven "Dorr.. dorr.. DORRR" jerico langsung mendorong jeje "bawa jeje pergi" kata jerico sambil mengacungkan senjata ke arah tembakan berasal "suara apa itu? " kata Gilang "iya suara apa itu" kata nilam "seperti suara petasan" kata hima "ini seperti suara tembak" kata leo "jeje! " niko langsung berlari "pak satpam" wahyu melihat satpam berbaring di tanah "tiarap ada orang adu tembak di luar gerbang" kata satpam.


Steven terus menarik jeje "kita ke sana" Steven masuk ke dalam sebuah hotel "ayo cepat" kata Steven "kenapa kita lari ke sini" kata jeje "ku rasa mereka tidak akan menemukan kita" kata Steven "mereka ke sini" kata jeje "ayo kita ke lantai atas" kata Steven. "grrriittt... " pintu gerbang di buka "baby.. " niko memungut permen karet yang ada di depan gerbang "hei kau mau kemana? " leo menahan niko yang hendak pergi "baby dalam bahaya aku harus mencarinya" kata niko "kau jangan sok tau!! ini bahaya" kata ale "awas kalian!!! lepas kan aku!!! " kata niko "bawa dia ke dalam" kata Gilang sambil menutup kembali pintu gerbang nya.


"ya... nona soikham aku tau kau ada di sini" anif memperhatikan sekitarnya "aku akan cari dia di lantai atas" kata pria bertubuh besar dengan nama kuki yang tertempel di bajunya "aahhh!! " jerico menendang pria di depannya lalu memukul nya "dorr!! " darah muncrat "sial kau kal" kata jerico "kau terlalu lama" kata kal sambil berjalan ke arah pria yang ada di dalam mobil "hei kau" kata kal "ya tuan" kata wanita di dalam mobil "tidak kal itu bukan mereka ku rasa mereka sudah mengejar Steven" kata jerico "dia di atas" seru pria kurus dengan kaos kuning yang bernama toro "hiaaa!!! " Steven maju menendang kuki "nona soikham" anif melepaskan tembakan berkali kali membuat semua penghuni hotel lari keluar dengan ketakutan "halo.. kak bai kau ada di mana? "tanya jeje " aku ada xia Fu"kata bai "kau ada dengan kakak? " kata jeje "tuan sedang ada rapat" kata bai "gubragg" pintu hancur jeje menatap anif dengan senjata di tangan nya "di sini kau rupanya" kata anif "kenapa kau mau membunuhku" kata jeje "sebenarnya orang yang menyuruh ku untuk menangkap lalu membunuhmu tapi.. ku rasa aku perlu menggunakan mu untuk keperluan ku agar aku kaya" kata anif sambil maju "haaaihhh" kal datang menendang anif "lari je" kata kal "hai nona" kuki datang "ayo maju" kata jeje "aku akan membunuhmu" kuki berlari ke arah jeje "bugg" jeje menghindar lalu memukul wajah kuki "prang!!! " jeje terjatuh di atas meja kaca "aduuuh.. duh.. kau membuat ku kesal" kata jeje sambil berdiri lalu menghindari serangan dari kuki "dorr" semuanya langsung tiarap terdengar suara siulan jeje langsung berdiri terlihat jerico memegang pistol kal juga berdiri "dorrr dorrr" jerico langsung berlindung toro melepaskan beberapa tembakan "nona soikham keluar kau" kata toro sambil melepaskan beberapa tembakan jerico sesekali membalasnya kal juga sudah siap menyerang "dorr" kuki berdiri lalu melepaskan tembakan di balas dengan kal satu persatu barang yang ada di ruangan itu pecah "sial... bagaimana aku mau menyerang" fikir jeje "zruuttt" jeje melihat ada pistol yang di lempar oleh Steven jeje memungut pistol itu "kau tidak perlu ragu kau lepaskan saja seperti saat kau bermain game" jeje teringat perkataan kakak nya "jeje... hati hati" kata kal "dorr" seketika ruangan penuh dengan asap "soal.. mereka menggunakan bom asap" kata Steven jeje memejamkan matanya "kak jerico berada di luar ruangan kak kal ada di dekat pintu kak Steven ada di sebelah sofa dan yang berjalan ke arahku ini bukan mereka" fikir jeje sambil mengacungkan senjata kedepan "haah" anif menyerang jeje menghindari serangan anif membuat senjata anif terlempar jauh "dasar ****** sialan" anif memukul jeje sesekali jeje menghindar lalu membalas serangan "aahh" jeje menutup matanya "aduh.. apa ini perih banget " fikir jeje anif langsung mengambil kesempatan itu dia menyerang jeje dari belakang lalu mengambil senjata jeje asap perlahan menghilang kuki terlihat kesakitan di cekik kal sementara jerico menahan tubuh toro dengan kakinya "jeje" kata kal "aakh"jeje mencoba memberontak " kau"kal menyerang anif berusaha menarik jeje yang di tahan tangan kiri anif "cukup!! " anif melempar jeje keluar jendela "jeje!! " kata jerico toro dan kuki langsung pergi keluar hotel dengan membawa senjata nya jerico langsung mengejar nya "aakhh.... kak. kal... " jeje tergantung di luar jendela dengan kondisi leher di ikat tali kecil "kau mau uang kan" kata kal "ya.. aku mau uang yang banyak" kata anif "aku akan kasih" kata kal sementara Steven muncul di jendela lantai lain melihat jeje tergantung di atas nya "jeje bertahan lah" kata Steven "dorr" kal mendengar suara tembakan dari luar "nona mu akan mati karena tembakan atau mati tercekik" kata anif , Steven mencoba mengulurkan tangan nya tapi tidak sampai dia bahkan tidak bisa menyentuh pinggang jeje "bertarung lah dengan ku tapi lepaskan dia" kata kal "kita bertarung" anif mengikat kan tali ke ranjang "kalau kau cepat mungkin dia selamat" kata anif "hiaaa" kal maju "aakkh.. Ohook" jeje tercekik "trap!! " jeje merasakan ada yang lengket di tangannya "jeje pakai itu tempelkan di lehermu dia bisa menahan tali itu agar tidak menjerat mu" kata Steven "hiaaahh" jerico menyerang kuki bertubi tubi "bruaaggg!! " anif terlempar sangat jauh "hiaaahh" kal melempar meja ke arah anif lalu berlari ke arah jendela "jeje" kal mencoba menurunkan talinya agar Steven bisa menangkap jeje "prang!! " darah mengalir di kepala kal "bangsat!!! " kal menyerang anif kembali akia turun dari mobil bersama bai "lokasi nya seharusnya di sini. sinyal nona jeje ada di sini" kata bai "ayo cari" kata akia "kakak" kata jeje.


Gilang membawa beberapa buku "baiklah sampai jumpa besok" kata Gilang sambil tersenyum lalu pergi "aku harus cari baby" kata niko "ya.. kau cari saja " kata ale "ayo le temenin aku jemput paket" kata leo.


jeje mencoba memakai alat yang di berikan oleh Steven "haah.. setidak nya ini mendingan" jeje langsung meraba sakunya mencari sesuatu untuk memotong talinya "jraazz!!! " darah muncrat dan mengalir di jalanan kuki kejang kejang jerico berdiri menyerang toro "jeje" akia melihat jeje sudah ada di luar jendela "astaga dia bisa mati" kata akia "aakkh... " jeje semakin sulit bernafas pisau kecil yang dia gunakan terjatuh "loh ada apa ini? " leo melihat orang lari lalu lalang darah berserakan di jalanan "sepertinya terjadi kekacauan aku sudah janji dengan kurir lazada ku akan bertemu di sini" kata leo "tuk" pisau kecil terjatuh dengan beberapa tetes darah "astagfirullah.. bahaya nih siapa yang melem--" mata ale melotot melihat seorang gadis tergantung "woah.. apa ini syuting film" kata ale "bodoh.. itu kayanya baby.. maksud ku jeje cepat telpon niko" kata leo "oke.. aduh.. gak di angkat lagi" kata ale "halo.. niko.. baby mu baby tergantung di atas gedung" kata ale.


akia membidik tali yang mengikat jeje sementara bai berlari ke bawah mencari sesuatu untuk menangkap tubuh jeje, "sial" kata jeje tubuhnya mulai lemas semakin banyak dia bergerak tali itu semakin cepat mengiris kulit lehernya darah perlahan mengalir di leher jeje mata jeje mulai merah. niko berlari dengan cepat "itu lihat" kata leo "hei.bagaimana ini" fikir niko tiba tiba matanya melihat seorang pria yang mengacungkan senjatanya ke arah jeje "hah.. bagaimana ini aku bodoh sekali" niko melihat sekitar nya "hei" niko berlari ke atas sebuah mobil yang membawa sebuah springbed "bantu aku" kata niko "aku harus cari kain" kata bai "hei ini untuk apa? " bai melihat tiga pemuda mengangkat springbed "itu untuk orang yang di atas" kata ale "SEKARANG!!! " seru bai akia mengangguk "dorrr!!! " peluru melesat dengan cepat memotong tali itu dengan mudah tubuh jeje perlahan jatuh "awas!! " kata akia "brukkk!!! " jeje meringkuk "awww" kata jeje "baby... baby kau tidak papa" kata niko "sial dasar tukang kasur" jeje memukul niko "jangan sok akrab dengan ku" ujar jeje sambil menendang niko dengan kuat "DORR" bai mendorong jeje toro melihat jeje mendarat dengan selamat "bawa jeje" seru Steven sambil berlari terlihat toro mencoba menyerang jeje tapi di halangi jerico jeje berlari ke arah jalanan dia terlihat begitu kesakitan "brugg" ada mobil menabrak nya "aahh.. bangsat " jeje berdiri lalu lari anif langsung mengejarnya dengan cepat "kejar dia" kata kal "niko" kata leo "kau baik baik saja? " kata ale sambil membantu niko berdiri "kami antar kau pulang " kata leo "tidak perlu" kata niko sambil memegangi perutnya "niko" jojo datang "astaga apa yang terjadi" kata desi. jeje terus berlari "hei!! " toro muncul di depan jeje "hiaaahh" kal menyerang anif "majulah" jeje mengambil ancang-ancang siap menerima serangan dari toro "bugg" jerico menendang anif bai langsung mengikat anif begitu anif terjatuh akibat pukulan dari kal. toro terlihat kewalahan karena jeje dengan cepat membalas serangan nya "zraakk.. bruak" toro terjatuh setelah di banting oleh jeje "cukup!!! " toro mengeluarkan dia pistol dari sakunya jeje meraba sakunya dia sama sekali tidak memili apapun lagi "HAHAHAHA... HAHAHAHAH.. kau akan mati kau akan mati nona soikham" kata toro "bunuh aku kalau kau bisa" jeje menatap mata toro "DORR DORR DORR DORR DORR! " suara tembakan memecahkan keheningan "bereskan dia" kata chai jeje menatap chai yang terlihat jelas sudah ada di depan nya saat toro ambruk ke tanah "kakak" kata jeje "lehermu" chai mencoba melepaskan tali yang ada di leher adiknya "aakhh" jeje kesakitan "kita akan ke rumah sakit" kata chai sambil menggendong adiknya yang sudah berlumuran darah.