
Jeje berhenti berjalan dia mengetuk kepalanya sendiri dua kali "sial, kenapa suara si pencundang bisa masuk di kepala ku"fikir jeje niko menundukkan kepalanya sedikit untuk melihat jeje "apa sakit kepala?"tanya niko "plak!"jeje reflek menampar niko yang ada di sampingnya "aw"niko memegang pipinya "dasar bodoh"jeje pergi "hei kau sudah menamparku setidak nya katakan maaf pada ku"kata niko jeje mengangkat tangan nya lalu memberikan jari tengah ke niko .
dila melihat jeje duduk "pagi je"sapa dila jeje menoleh lalu memberikan hormat dua jari ke dila "hm"dila tersenyum "dia membalas sapaan ku"kata dila dalam hati "halo semuanya"nilam datang "halo juga bu"sapa mereka jeje membuka kotak makanan di meja nya jeje tersenyum miring seperti ciri khas nya "waw"guman jeje lalu dia mulai makan dengan santai "kalian pasti pernah mempelajarinya waktu smk tentang hak asasi manusia"kata nilam "pernah bu bahkan pas sd juga pernah"kata shela "bagus lah coba apa itu hak asasi manusia"kata nilam niko terkekeh melihat jeje makan dengan santai jeje berhenti mengunyah lalu melihat ke arah jendela "aku merasa ada yang berdiri di sana"fikir jeje lalu dia lanjut makan "hampir saja"fikir niko.
Setelah selesai jeje keluar kelas "jeje"kata anggel jeje berhenti berjalan anggel segera berjalan ke depan jeje "hum..mau makan malam bersama"kata anggel jeje menatap mata anggel "jika kau hum..tidak mau di rumah ku tidak papa"kata anggel "kita bisa makan di luar"kata anggel jeje terdiam "tidak "kata jeje anggel terlihat kecewa "sekali saja"kata anggel jeje mundur selangkah saat anggel ingin memegang tangannya anggel langsung menunduk jeje melihat ponsel nya dan langsung pergi.
Jerico menjemput jeje "ayo kita harus latihan"kata jeje "siap!"kata jerico mereka pun menuju sirkui balapan jeje langsung ganti baju dan langsung pergi latihan "brum brumm....bruuuummmmmm.brum...brum"jeje terus menambah kecepatan .
Malam harinya rizi dan mawar pergi menemui anggel untuk makan di luar bersama , "apa aku ada salah ya?"kata anggel "hm?"mawar menatap anggel "tidak, jeje memang begitu orang nya kau jangan salah paham"kata rizi "kenapa susah sekali mengajak dia makan?"kata anggel "karena dia merasa dia tidak cocok dengan orang yang baru dia kenal"kata mawar.
Jeje melihat ponselnya "aku tidak pulang aku harus ke luar kota malam ini, mungkin pulangnya agak lama kau segera tidur"jeje membaca pesan dari chai "eh..jerico kau mau kemana?"jeje berlari keluar "aku ingin menjemput kal"kata jerico "dia sedang menunggu di suatu tempat"kata jerico "aku ikut ya"kata jeje "tapi tuan chai mengat--"kata jerico "gak papa kok"kata jeje.
Mobil berhenti di depan sebuah gedung "kau dia di sini ya"kata jerico "loh aku tidak boleh masuk?"kata jeje "diam saja di sini jangan kemana mana aku cuma manggil kal saja"kata jerico jeje mengangguk jerico pun pergi keluar dari mobil jeje melihat keadaan sekitar dari jendela mobil jeje melihat tak jauh dari tempat nya ada penjual cumi panggang "kak chai suka itu"kata jeje lalu dia keluar dari jendela mobil karena jerico mengunci pintu mobilnya .
Seorang pria melihat ke arah mawar lalu melihat ke arah foto yang dia pegang "kurang mirip tapi..eh gelang nya sama"kata pria itu lalu dia berjalan ke arah mawar yang sedang membeli pop ice "heh"pria itu memukul mawar "pasti ini orangnya tapi dia nyamar"fikir pria itu "heiii"kata rizi "paman cumi panggang nya aku mau semuanya"kata jeje penjual itu terkejut "sungguh"kata penjualnya "iya"kata jeje "AAAAAAHHHH!!"jeje mendengar suara jeritan jeje menoleh terlihat rizi melindungi mawar dan anggel jeje diam, niko yang di parkiran melihat keributan di sebrang "yu...yu..itu kan rizi ayo bantu"kata niko sambil berlari "rizi!!"mawar panik rizi jatuh di tendang pria itu di tambah lagi pria itu mengeluarkan pisau "TAPPP!!!"jeje menangkap pisau itu dengan kedua tangannya pria itu terkejut "buaggg!!"jeje menendang pria itu dengan kuat pria itu terjatuh lalu melihat foto di tanganya "akhirnya"pria itu berdiri "hiaat!!"niko memukul pria itu di saat pria itu menyerang jeje terkejut melihat kedatangan niko yang muncul tiba tiba di depannya "beraninya kau dengan wanita"niko menendang pria itu "jleb"niko merasa ada sesuatu yang menusuk di bahunya "mana jeje?"kata kal saat membuka pintu mobil jeje melihat jerico "fffiiiuuuttttt!!"jeje meniup sesuatu jerico langsung melihat ke arah jeje "itu dia "kal langsung lari "hiaah"niko mencoba melawan lagi "hupp!!"wahyu membantu niko"jraazzz"wahyu tergores pisau "hiaa"pria itu maju ke arah jeje yang masih melihat ke arah jerico "jeje!!"kal melepar botol berisi air di saat pria itu melempar jeje dengan cairan "awasss!!"niko menarik pria itu "aaaahhhh!!"jeje langsung terlihat kesakitan "jeje"niko menghampiri jeje yang kesakitan "hiaag"wahyu menahan pria itu jerico datang dan menangkap pria itu niko kelihatan kebingungan "sial..sial..aaahh"jeje memegang matanya "jeje..jeje"niko memegang tubuh jeje yang meringkuk di tanah kal datang membawa air niko memangku jeje "jeje"anggel cemas "jeje..jeje.."kal mencoba menenangkan jeje "hiaaa..AAHHH...AHH..SIAL mataku"kata jeje "tenang...tenang....tarik nafas.jangan tekan muka mu.."kata kal "aahhhh...ahhhh.."jeje masih kesakitan "tenang..kendalikan dirimu"kata kal "jeje..."kata rizi "aaggg"jeje duduk dan masih memegangi wajahnya "cuci dulu singkirkan tangan mu agar lebih nyaman"kata kal steven datang dengan ambulan jeje melepaskan tangannya kal membasuh wajah jeje "mata ku perih"kata jeje "tahan dulu "setelah selesai kal langsung mengangkat tubuh jeje ke ambulan "kalian terluka?"tanya kal "tidak papa "kata rizi "jangan pedulikan yang lain cepat bawa jeje"kata niko kal mengangguk lalu pergi masuk ke dalam ambulan dan membawa jeje ke rumah sakit.