
suara bel terdengar keras semua mahasiswa langsung masuk ke kelas masing-masing "kenapa tas jeje ada bersama mu? " tanya leo sambil mengeluarkan pena dari saku nya "ada deh" kata niko "nanti pas istirahat kita ngumpul bentar ya mau membahas seragam basket kita yang rusak kaya nya gak bisa di pakai buat pertandingan lagi" kata leo "siap" kata aciel .
kal berjalan menghampiri jeje yang sedang duduk bermain game "ayolah ke kelas, jika nyonya tau kau akan di ceramahi lagi" kata kal "bentar menghabis kan satu pertempuran lagi" kata jeje "astaga kau bisa main game nanti" kata kal "duduk kak kita main bersama" kata jeje.
"baik hari ini kumpulkan tugas makalah yang saya minta" kata Tini "baik bu" kata zin "satu orang aja yang ngumpulin" kata dila "sini biar aku yang ngumpulin" baik berdiri mengambil tugas teman teman nya "kok ada dua? " tanya baim "punya jeje satu" kata vito "kerja bagus" kata baim "siapa yang tidak hadir? " tanya Tini "jeje bu" kata brox "kemana jeje? "tanya Tini " seperti biasa bu pasti dia terlambat "kata hima.
gilang menghentikan langkah nya dia melihat seseorang sedang duduk santai di tepi kolam " anak nakal"kata gilang sambil membuka pintu "ehem" gilang berdiri di belakang jeje "diam lah kenapa kau malah di sini pergi sana ajarin murid murid mu" kata jeje tanpa menatap ke arah gilang "sok jago tapi melihat cara mu bermain kelihatan nya masih payah" kata gilang "hei kau mau kehilangan lidah mu ya" kata jeje "lihat saja cara tangan mu bermain sangat sangat terlihat payah dan buruk sekali" kata gilang "kau mengatai ku? " jeje menatap gilang "coba ulurkan tangan mu" kata gilang "memang nya bisa melihat apa dari tangan ku" jeje mengulurkan tangan nya dan memperhatikan tangan nya "greb" gilang langsung menarik nya "apa? kau menipu ku? " kata jeje "di larang bolos kau tau itu" gilang menarik jeje "oih.. kau tau ini nama nya kekerasan fisik" kata jeje "bagaimana tentang polisi yang membawa mu semalam? " gilang terus menarik jeje dengan paksa "aku sengaja ikut mereka karena dosen dosen seperti mu hanya tau memberi tugas yang menyebal kan" kata jeje "oh jadi kau sengaja bolos? apa polisi itu suruhan mu? " kata Gilang "cih tidak ada gunanya ayo lepas kan tangan ku " kata jeje "diam kau harus ke kelas" kata Gilang "oih.. kau tau ini pelanggaran HAM " kata jeje "tau apa kau soal ham? " kata Gilang "aku tau banyak hal dari pada kau! eh eh hum.. buku ku di loker" kata jeje "pinjam buku teman" kata Gilang "aku aku mau cuci tangan " kata jeje "jangan banyak alasan" kata Gilang "uh? " jeje terkejut Gilang dapat menghindari tendangan nya "apa? " kata jeje "aku hafal semua gerakan mu" kata Gilang "astaga itukan jeje" kata lusy sambil menatap jeje dari jendela "dia pasti membuat ulah" kata nasya "aku tidak mau berurusan dengan nya" kata dini "tapi kenapa dia di tarik" kata lusy. "aduh.. aduh.. kaki ku bengkok eh kaki ku keseleo nih" kata jeje "tidak papa" kata Gilang "dosen payah ku pastikan kau tidak akan bisa pulang" kata jeje "benarkah? " kata Gilang "iya lihat saja nanti" kata jeje Gilang membuka pintu "permisi bu, murid anda kedapatan sedang bermain game di tepi kolam saya kembalikan" gilang mendorong jeje masuk ke kelas "****" kata jeje "jeje kau bicara apa? " kata Tini "**** YOU" jeje duduk di kursinya "akan ku kerjain kau nanti" kata jeje dalam hati "jeje tidak baik ber--" kata Tini "fokus aja sebelum ku bakar kampus nya" kata jeje dengan kesal "dila tas ku mana? " kata jeje "tas? " kata dila "tas yang ku suruh bawa waktu itu" kata jeje "tidak ada" kata dila "kaya nya kak niko yang membawa tas mu" kata baim "oih sial" kata jeje.
seorang pria terbaring tak berdaya di atas sebuah ranjang dengan beberapa selang kecil yang terhubung ke tubuh nya, "apa kau akan membunuh nya tuan? " tanya bai "tidak, hanya seorang pengecut yang membunuh musih nya di saat musuh nya tidak berdaya" kata chai "dia jatuh koma karena pukulan keras yang mengenai dada nya tuan membuat tulang dada nya hampir hancur beberapa pembuluh darah nya juga sudah hancur dia hampir mati saat itu" kata dokter "apa? " chai terlihat sangat terkejut "nona seperti nya menggunakan pukulan telak yang kau ajarkan tuan" kata bai "apa jeje yang memukul nya? tapi bagaimana mungkin bisa sekuat ini? " chai menelan liur nya "tangan adik ku sangat berbahaya sekarang" kata chai "tapi kemungkinan kecil dia sadar dalam waktu dekat karena kondisi nya terus menurun" kata dokter "tidak papa rawat saja dia kabari aku perkembangan nya, jaga baik baik jangan sampai feat datang mengambil nya" kata chai.
beberapa mahasiswa melewati jeje yang keliatan nya sedang mencari seseorang "gawat, seharusnya aku membawa tas ku" kata jeje "hei payah, bagus sekali dimana saudara mu? " tanya jeje "kau bicara pada siapa? " tanya wahyu "pada mu lah tidak mungkin pada jin aladin" kata jeje "niko ada di laboratorium" kata wahyu "astaga makin parah" jeje berbalik dan pergi "permen kematian ku ada di dalam tas bahaya ini" kata jeje.
sesampainya di depan pintu laboratorium jeje berhenti "apa yang dia lakukan di dalam? " fikir jeje "bodoh amat aku harus cari tas itu jangan sampai dia memakan permen kematian itu, kampus bisa hancur" kata jeje sambil membuka pintu dia memperhatikan sekitar nya "kenapa tidak ada siapapun di sini" jeje terus berjalan "akhhh" jeje langsung mengeluarkan pisau nya ketika ada suara orang kesakitan "aduh aduh" jeje mencari asal suara nya sampai akhir nya dia melihat niko sedang berjingkrak kesakitan "baby? " niko menatap jeje "tas" kata jeje "oh aku membawa nya tadi aku mau mengantar nya tapi aku malah di suruh ke lab untuk memasang jebakan tikus" kata niko "mana tas nya? " kata jeje "bentar sabar dong, oh ya bagaimana tentang masalah kemarin" kata niko sambil menuruni tangga "aku bertanya loh" kata niko "dan aku tidak harus menjawab nya" kata jeje "hum kau tau aku mau mengajak mu makan tadi" kata niko sambil menyingkirkan tangga nya "ayo makan? " kata niko "aku datang untuk tas" ujar jeje "aku akan berikan tas nya" kata niko "cepat aku harus pergi" kata jeje "tapi biarkan aku bicara dulu aku ingin mengatakan sesuatu" kata niko "jika hal bodoh lebih diam saja" kata jeje "ini bukan hal bodoh, hum.. kau mau pergi dengan ku kan? " kata niko "pergi? " kata jeje "aku mendapatkan sebuah undangan aku mau mengajak mu pergi bersama ku" kata niko "jangan harap" kata jeje "ayolah ku mohon cuma sebentar saja" kata niko "jangan harap, aku tidak akan pergi kau tau itu cepat berikan tas nya mana tas nya? " kata jeje "ayolah setidaknya kita pergi bukan sebagai pasangan tapi sebagai rekan satu kampus anggap saja rekan bermain" kata niko "kenapa kau begitu memaksa" kata jeje "karena aku tidak mau pergi dengan wanita lain selain dirimu" kata niko "rasa nya aneh jika kau pergi dengan seseorang sementara hati mu tertuju dengan orang lain" kata niko "hati ku tidak ingin dengan yang lain kecuali dirimu itu sebab nya aku memohon agar kau mau pergi dengan ku aku benar-benar serius memohon" kata niko "kau fikir aku peduli" kata jeje "baik bagaimana jika aku menantang mu lagi" kata niko "ayo main basket lagi satu lawan satu jika aku menang kau harus pergi dengan ku jika kau menang kau bisa pergi" kata niko "kau fikir aku takut" kata jeje "nih tas mu" kata niko.
seragam basket memenuhi keranjang pakaian yang di pegang ale, "seragam kita kacau karena permen karet kita harus buat seragam baru untuk latihan" kata leo "setuju sih" kata aciel "karena ini benar-benar terlihat buruk" kata wahyu "SEMUANYA.. KAK NIKO MENANTANG JEJE BERMAIN BASKET SATU LAWAN SATU" seru seseorang dari luar ruangan "seperti nya terjadi sesuatu" kata ale.
"ayo cepat mulai" kata jeje "kenapa aku juga terlibat" kata gilang sambil memegang bola basket "bapak pasti adil pak, ayo pak jadi wasit nya" kata niko "berapa poin? " tanya Gilang "dua ratus poin " kata jeje "oke" kata niko "baik lah, siap semua nya satu dua tiga" bola di lempar ke atas. beberapa mahasiswa langsung berdatangan untuk melihat pertandingan niko lawan jeje "KAK NIKO KAK NIKO!! KAK NIKO" seru orang orang yang menonton "JEJE!! JEJE!! JEJE" seru rizi.
niko merebut bola basket yang di pegang jeje "tidak akan" jeje mempertahankan bola nya "aduh" niko jatuh "tambah tiga poin untuk jeje" kata Gilang "kau menjegal ku? " kata niko "kau fikir aku curang" kata jeje Gilang kembali meniup peluit jeje langsung bergerak merebut bola yang di pegang niko "tidak akan ku biarkan kau menang" kata jeje sambil merebut bola itu "apa? " kata niko "KAK NIKO KAK NIKO!! KAK NIKO AKU CINTA KAMU" jeje terdiam dia menoleh ke arah wanita yang barusan berteriak niko langsung merebut bola nya dan berhasil mencetak poin "sial" kata jeje ketika dia sadar niko sudah mencetak poin lagi "kau terlihat kesal pada mereka, hum. apa kau cemburu" ledek niko "****" jeje mengambil bola dari tangan niko.
"JEJE AYO JEJE KAU PASTI MENANG"
"JEJE JEJE"
"KAK NIKO KAK NIKO!! KAK NIKO"
"KAK NIKO SEMANGAT"
"KAK NIKO... AHH.. GANTENG NYA"
jeje menghembuskan nafas nya dengan kesal ketika niko merebut bola dari tangan nya "gawat" jeje langsung mengejar niko "lima poin untuk niko" kata Gilang "JEJE SEMANGAT!!! " seru archie "KAK NIKO SEMANGAT.... KAMI MENDUKUNG MU" jeje menatap ke arah niko "senyum aja terus" kata jeje sambil pergi "kenapa kau marah? " kata niko. jeje mendribel bola nya sambil berjalan ke arah ring basket "aku tidak akan membiarkan mu" kata niko "jadi kenapa dia malah bermain dengan jeje" kata ale "mungkin ada sesuatu yang mereka rencana kan" kata leo "lima poin untuk jeje" kata Gilang "dengar sepuluh poin lagi maka kau akan jadi banci" kata jeje "gawat nih aku masih kurang dua puluh lima poin" kata niko.
beberapa pelayan sedang mendekorasi sebuah kamar sementara monnie memperhatikan pekerjaan pelayan nya "ganti dong tolong cat nya ganti yang lebih cerah" kata monnie "baik nona" kata salah satu pelayan.
penonton langsung bersorak ketika niko berhasil mencetak poin lagi "kurang lima lagi" kata niko "huh! " jeje tersenyum sinis "aku akan mengalah mu dalam satu pukulan" kata jeje "coba saja sayang" kata niko sambil mengambil bola dari tangan jeje "tidak akan" jeje berlari ke arah niko "astaga" para penonton mejadi tegang "aduh" niko jatuh bersamaan dengan jeje "**** **** **** you" jeje memegang kepala nya "lima poin untuk niko" kata Gilang "apa? " jeje melihat bola yang jatuh dari ring "hehehe" niko tersenyum sambil menatap jeje "uh" jeje mengambil bola itu lalu melempar nya ke Gilang "****" jeje pergi "jangan lupa ya " kata niko.
malam harinya...
niko tersenyum sambil menatap gadis di sebelah nya yang memakai kemeja flanel berwarna hitam dengan hoodie tipis di dalam nya "kau jauh keren dari pada diri ku" kata niko "baru sadar? " kata jeje "hahaha.. tapi tetap saja di mata orang orang aku yang paling keren" kata niko "selamat datang" mereka masuk ke dalam sebuah rumah "ah.. kak niko datang" kata mempelai wanita jeje langsung memakai masker nya "ayo" niko menarik tangan jeje "kak niko kau membawa teman mu? kau bilang kau akan membawa baby mu" kata wanita itu "iya aku membawa nya, aku akan datang dengan wanita lain jika baby ku tercipta lebih dari satu" kata niko sambil menatap jeje "selamat ya atas pernikahan kalian" kata niko "Hai baby.. kak niko saat live selalu menceritakan tentang mu" kata wanita itu sambil mengulurkan tangan je seperti biasa dengan ciri khas nya dia langsung menyatukan telapak tangan nya dan mendekat kan nya di dada nya "salam" kata jeje "oh? " wanita itu terkejut "congratulations" kata jeje "thank you" kata wanita itu "ayo silakan nikmati hidangan nya" niko langsung menarik jeje pergi dari hadapan pengantin "kenapa dia menikah jika dia menyukai mu" kata jeje "kau ini bicara apa? dia cuma penggemar menyukai ku ada batasnya juga" kata niko "ini minum" kata niko "aku bisa sendiri" jeje mengambil segelas minuman lalu pergi keluar "baby" niko mengikuti nya "jauh lebih baik " kata jeje dalam hati sambil menikmati angin yang bertiup sepoi sepoi "ku fikir kau akan pergi meninggalkan ku" kata niko "di dalam panas" jeje menatap langit malam "mari lakukan satu hal" kata niko jeje menatap niko "aku sudah melakukan satu hal malam ini apa kau tidak puas? " kata jeje "hei kenapa kau masih terlihat kesal pada ku? " tanya niko "kapan? " kata jeje "muka mu memang tidak menunjukkan ekspresi apapun tapi dari sorot mata mu kau terlihat kesal pada ku" kata niko "kapan aku tidak kesal pada mu, sejak awal kau di ciptakan kau sudah membuat ku kesal" kata jeje "hei? sejak aku di lahir kan haa.. itu tandanya kau memarahi Tuhan juga" kata niko "mana Tuhan mu biar aku bicara pada nya " kata jeje "Tuhan ku di langit sana" kata niko "dan juga di hati ku" kata niko "sama sama tidak waras tuhan dan pengikutnya" kata jeje "hei jaga bicara mu " kata niko "kenapa kau jadi kesal" kata jeje "kau tidak bole bicara begitu, bagaimana jika Tuhan dengar" kata niko "dia Tuhan mu bukan Tuhan ku" kata jeje "kau mau makan? " kata niko "makan apa? " kata jeje "di sini ada seafood panggang loh" kata niko dia melangkah pergi mengambil makanan "nih" kata niko, jeje mengambil setusuk cumi panggang yang ada di piring "cuaca akan hujan apa kau masih lama? " tanya jeje "sebentar lagi? tapi dari mana kau tau cuaca akan hujan? padahal bintang masih bersinar di langit" kata niko "ternyata aku lebih pintar dari mu" kata jeje "kalau begitu kita akan segera pergi setelah makan" kata niko "oh ya bagaimana dengan perkataan ku tadi? " kata niko jeje diam "yang tadi mari lakukan satu hal" kata niko "mau apa lagi? perjanjian nya aku cuma pergi ke acara pengikut mu" kata jeje "mari lakukan hal yang pernah terjadi dulu maksud ku bagaimana jika kita mengulang masa yang telah lalu masa di mana kita bertemu untuk pertama kalinya" kata niko jeje menatap niko "mari kita mengulang nya untuk memulai sesuatu yang baik" kata niko "omong kosong apa lagi ini" kata jeje "aku mau mengenal mu dengan baik dan kau bisa mengenal ku dengan baik kita akan saling kenal itu hal yang tidak terjadi pada saat awal pertemuan pertama kita " kata niko jeje terkekeh "mari kita mulai" niko mengulurkan tangan nya "Hai aku niko " kata niko jeje menatap tangan niko "siapa nama mu? " kata niko "kau mengenal ku? bukan kau kau sudah mengenal ku? " kata jeje "aku mau mengenal mu jauh lebih dalam " kata niko jeje meneguk minuman nya sampai habis "aku perlihatkan" jeje membanting gelas yang dia pegang "itu diri ku" kata jeje "aku tau itu" kata niko "lalu bagaimana cara mu mau mengenal ku? Karena kau tidak akan memiliki jalan sedikit pun untuk mendekati ku" kata jeje "kau fikir aku menyerah? " niko menatap jeje "gelas ini hanyalah bentuk kebencian ini adalah jeje dalam versi kebencian , tapi kau lupa aku juga bisa melihat sisi baik mu dan aku percaya itu. kau lihat bagaimana cara ku " niko membungkuk mengambil serpihan gelas itu niko menatap jeje "aku akan melawan kebencian mu, melawan rasa sakit mu" jeje melihat darah menetes dari tangan niko yang menggenggam serpihan gelas itu "aku pernah bilang pada mu kalau aku akan menerima semua nya dari mu bahkan kebencian mu bukan masalah aku terus berharap cinta ku dapat mengalahkan kebencian mu. meskipun kau menghujani ku dengan luka dengan cacian, dengan kebencian, dan rasa sakit aku akan melawan nya menahan nya walaupun mungkin pada akhir nya aku akan benar benar terluka atau mati karena itulah yang akan terjadi jika aku gagal " kata niko sambil melihat tangan nya yang terluka "ku rasa lebih baik kau berhenti dari pada kau melihat saudara mu menangis seperti orang bodoh" kata jeje "aku akan pergi" jeje pergi .
"dia fikir dia siapa? dasar bodoh dan dia juga malah melakukan hal bodoh" kata jeje "mau mengenal ku? mau mengalahkan kebencian ku? tau apa dia? dia cuma bisa sok tau dan bicara seenaknya" jeje berhenti melangkah dan langsung berbalik niko sudah ada di belakang nya "aku akan mengantar mu" kata niko "pengawal ku ada di dekat sana lebih baik kau pulang saja atau berfoto dengan orang di pesta tadi" kata jeje "kita berangkat bersama ya kita harus pulang bersama " kata niko "oh sial" jeje menatap niko "apa? " kata niko "kau tadi bawa motor kenapa sekarang kau jalan" kata jeje "oh iya kau tunggu sini jangan pergi" kata niko "diam lah" jeje menatap niko "berikan kuncinya" kata jeje "kau mau menjemput motor nya? " kata niko "kau fikir kau bisa menyetir sekarang" jeje pergi "kenapa tidak" kata niko sampai dia melihat luka di tangan kanan nya "kau perhatian juga" kata niko "aku yakin cintaku bisa mengalahkan kebencian nya" kata niko.
hujan turun dengan deras, motor niko terparkir di halte terdekat "aku benci ini" kata jeje "akh" niko meringis kesakitan luka nya terasa perih terkena air hujan jeje tersenyum meledek "menangis saja, kau sedang kesakitan kan? " kata jeje "pria tidak boleh menangis" kata niko "benarkah? " jeje mengeluarkan permen karet dan memakan nya "kau tidak may berbagi pada ku? " tanya niko "nih" niko melihat apa yang ada di tangan jeje "apa ini? " tanya niko "manset tangan" kata jeje "buat apa? " kata niko jeje langsung melempar manset itu ke depan niko "malah di buang " niko memungut manset itu dan segera membalut luka nya dengan manset itu "kau tau terlalu memiliki gengsi yang tinggi itu tidak baik" kata niko "aku terjebak di halte" kata jeje "astaga" kata monnie di telpon "aku aja segera pulang jangan kawatir oke, kakak di rumah kan? " kata jeje "dia sedang di jalan" kata monnie "oke oke aku akan kembali jangan panik ok" jeje mematikan telpon nya "hei kau kemana? " kata niko "aku aku harus pulang" kata jeje "tapi hujan" kata niko "kau tidak mengerti" kata jeje "aku ikut" kata niko "ayo" kata niko "kau bisa menyetir" kata jeje "bisa ayo naik" kata niko.
jeje menepuk nepuk bahu niko "hei hei pecundang berhenti lah" kata jeje "ada apa? " kata niko "itu mereka" jeje turun "nona" kal datang membawa payung jeje memegang payung itu lalu berbalik menatap niko "bawa dia" kata jeje "kemana nona? " kata hary "ke rumah ku" kata jeje "sekarang antar aku pulang kakak sendirian" kata jeje.
"monnie" chai masuk ke dalam rumah "astaga kenapa baru pulang ? cuaca di luar buruk" kata monnie "iya iya maaf maafkan aku" kata chai sambil memeluk monnie sementara jeje berdiri tak jauh dari mereka "adik" monnie melihat ke arah jeje yang basah kuyup "selamat datang" monnie menghampiri jeje "aku pulang" kata jeje "pelayan handuk handuk" kata monnie "tidak papa, kau jangan kawatir" kata monnie sambil melepaskan tangan monnie dan berjalan ke arah chai "akhh" chai membungkuk kesakitan "istri mu sedang hamil jangan pulang terlalu malam!! " kata jeje "bai jadwal kakak batasi sampai jam tuju malam itu yang paling lama " kata jeje "****" jeje menendang chai lalu pergi "kau tidak papa? " tanya monnie "tidak papa adik benar maafkan aku ya" kata chai.
pintu terbuka niko melihat baju yang sudah di sediakan oleh pelayan "rumah nya lebih besar dari rumah ku" kata niko.
jeje membuka pintu "susu hangat untuk mu" kata monnie "kenapa kau melakukan hal ini" jeje menerima susu buatan monnie "biar aku bantu mengeringkan rambut mu" kata monnie "tidak tidak nanti kering sendiri" kata jeje "tidak biarkan aku membantu mu" kata monnie "oke" kata jeje "dimana pengering rambut mu? " tanya monnie "aku tidak memiliki aku membuang nya beberapa tahun lalu" kata jeje "ya ampun duduk lah aku akan ambil pengering rambut ku" kata monnie "suruh pelayan datang membawa nya kau jangan terlalu banyak gerak " kata jeje monnie tersenyum "baik lah" kata monnie "dia perhatian pada ku" kata monnie dalam hati.
chai tersenyum melihat monnie merapikan rambut jeje sementara jeje terlihat begitu tenang tidak protes atau marah seperti biasa dia lebih patuh dari biasanya "seperti monnie berhasil membuat jeje menjadi seperti Ini" kata chai "ini sudah baik kau bisa ke kamar" kata jeje "kau juga segera istirahat ini sudah malam jangan main game lagi" kata monnie "baik lah aku akan langsung tidur" kata jeje "baik lah good night" monnie pergi "hei" kata jeje "ada apa? " kata monnie "minum vitamin mu" kata jeje "iya terimakasih" monnie pergi sambil tersenyum senang.
pelayan datang menghampiri niko "ada apa tuan? " kata niko "nona menelpon dan ingin mengatakan sesuatu" kata pelayan "baik" niko berdiri dan mengikuti pria di depan nya "halo baby" kata niko namun tak terdengar suara jeje dalam waktu lama "baby? " kata niko "oih.. kau masih di sana? " tanya jeje "masih " kata niko "kau bisa jika mau pulang hujan sudah reda" kata jeje "kau tidak ke sini? " tanya niko "aku ada urusan lain, tapi kau bisa pulang besok jika mau pelayan ada di sana bisa menyiapkan keperluan mu" kata jeje "ya terimakasih" kata niko "hum jangan matikan dulu telpon nya" kata niko "ada apa? " kata jeje "good night aku.. aku mencintai mu" kata niko namun tidak ada jawaban lagi dari jeje. niko melihat telpon nya sudah terputus "aku akan pulang" kata niko sambil berjalan ke arah pintu.