
pagi hari yang cerah para mahasiswa berjalan lalu lalang niko terlihat bersandar di dinding sambil melipat kedua tangan nya dia melihat seorang gadis yang memakai hoodie over size dan dengan topi berwarna coklat muda "pagi " kata niko saat gadis itu lewat depannya "lihat lihat kak niko menggoda jeje" kata orang orang "hei.. tunggu tunggu" niko mengejar jeje "hei" niko berjalan di samping jeje "hei.. hei.. baby" kata niko "aaahhh!! " wajah para gadis di sekitar niko langsung memerah "hei " niko mengambil topi jeje membuat jeje langsung berhenti berjalan dan menatap ke arah niko "kenapa kau mencari masalah pada ku? " kata jeje "bukan masalah aku hanya ingin ada di dekat mu"kata niko sambil tersenyum " plakkk"niko memejamkan matanya ketika mendapatkan tamparan dari jeje "berhenti bercanda padaku!! " ujar jeje "ahh.. kau menampar ku lagi" kata niko "bukan hanya menampar mu jika kau mengganggu ku lagi aku akan menghabisi mu" ujar jeje lalu dia mengambil topi nya dari tangan niko lalu pergi "hei dengar baby, sampai seumur hidup ku akan gak akan pernah berhenti mengganggu mu. aku sayang kamu" kata niko sambil tersenyum "aw.. sakit tidak? " kata leo "jika dia yang menampar ku maka aku akan katakan padamu ini sama sekali tidak terasa sakit" kata niko "haah kau saja yang tidak waras" kata leo "siapa yang akan waras ketika sedang jatuh cinta" kata niko.
niko menyemprotkan parfum ke buket bunga yang dia beli "jangan coba coba ya je, kau pasti akan menyerah dan jatuh cinta pada ku" kata niko "sudah waktunya" kata wahyu niko mengangguk lalu keluar dari kelas dia berdiri di samping pintu keluar kelas jeje "semangat lagi ya belajar nya dan jangan menyerah" kata nilam "siap bu!! " tak lama kemudian nilam keluar "je kita ke kantin yu" kata dila "ya" jeje berdiri memakai topinya "Hai baby" kata niko "ka niko" kata vito "jalan" jeje pergi begitu saja "hei baby kau jangan abaikan aku" kata niko "hahaha di cuekin" kata aciel "tidak papa" niko berjalan pergi.
mawar menuang saos ke mangkuk mie nya "Hai baby" "baby" kata orang orang di saat melewati jeje "jangan dengarkan mereka" anggel tersenyum "halo baby nya kak niko" sapa beberapa orang jeje terlihat kesal "tidak papa ayo makan" kata rizi "hei.. hei.. boleh aku bergabung. awas" niko menyuruh mawar pindah dan niko duduk di dekat jeje "baby jangan banyak minum soda" kata niko "mari makan! " ujar mawar niko menatap jeje yang diam saja "kak niko" "Hai kak niko" sapa beberapa orang yang lewat "kau makan lah lebih banyak biar kuat" niko meletakan beberapa potong daging ke piring jeje "kau! " jeje menatap niko "apa aku ada salah? " kata niko "berhenti memanggil ku! dan menjauhlah dariku! " kata jeje, leo melihat video yang dia rekam semalam saat niko latihan basket "baby aku cinta kamu!! beri aku semangat agar aku menang!! " terlihat niko berteriak di saat jeje berjalan tak jauh dari lapangan basket. "kemana niko? " leo menoleh ke sumber suara "dia ke kantin menemui baby nya" kata leo "astaga apa dia lupa ada latihan basket bentar lagi" kata zio "biarlah dulu dia sedang jatuh cinta" kata leo.
niko menatap mata jeje "apa kau tidak puas membuat keonaran? " kata jeje "aku tidak buat keonaran, aku cuma mau berada di dekat mu" kata niko "ais.. sudah sudah " kata anggel "teman teman gimana kalau nanti malam kita jalan jalan" kata rizi "kemana? " tanya vito "ke mana aja" kata dila "ahhh.. setuju" kata anggel "kau ikut ya " kata rizi sambil menatap jeje "tidak" kata jeje "ahh.... jeje sesekali saja " kata anggel "iya je kita cuma jalan jalan kok" kata dila "ayolah je kita bersenang-senang" kata rizi sambil sesekali melirik ke arah niko yang masih menatap jeje "jeje.. mau ya" kata anggel "hum" jeje mengangguk "kak niko kau juga harus ikut bawa juga kak wahyu" kata vito "aih?? " jeje menatap vito "kenapa kau mengajak pecundang ini? dia tidak akan ikut! " kata jeje "emang kenapa kalau aku mau ikut? " kata niko "maka aku tidak akan pergi! " kata jeje "jeje... jangan begitu" kata mawar "dia selalu membuat masalah di segala hal" jeje menatap niko dengan kesal "lupakan rencana nya" jeje berdiri "eh" niko memegang tangan jeje "baik kita akan pergi" kata jeje wajah teman teman nya langsung terlihat ceria "ke klub malam, jadi apa si pecundang ini akan ikut? " ujar jeje "ke klub? " kata dila "tapi.. tapi.. ngapain kita ke sana" kata anggel "bersenang-senang " kata jeje "tidak masalah" niko menunduk sedikit "kemana pun kau pergi aku akan bersama mu" kata niko "loh.. kenapa dia malah tetap ikut? apa dia tidak waras? nama dia akan jelek jika dia pergi klub bukan kah dia murid teladan" fikir jeje "sampai ketemu nanti" jeje pergi "hei baby!! sampai ketemu malam nanti" kata niko tapi jeje tetap pergi keluar dari kantin "jeje" archie sudah berada di depan jeje "kau terlihat kesal? " kata archie "bukan urusan mu" jeje melewati archie "jeje!! kenapa kau beri niko kesempatan kenapa aku tidak? " kata archie "aku juga mencintai mu" kata archie lalu dia berjalan ke depan jeje "apa aku tidak bisa mendapatkan kesempatan seperti niko? " kata archie "coba saja kalau bisa " kata jeje "aku akan selalu berusaha je aku tidak akan menyerah" kata archie "tuju hari cukup? " kata jeje "cukup, aku akan membuktikan nya padamu" kata archie "dan aku" jeje menatap archie "jauhi aku ketika kau menyerah" kata jeje "ku yakin aku tidak akan menyerah" kata archie "hei.. baby" niko datang "ada apa baby? " kata niko jeje tidak menjawab dia langsung pergi begitu saja niko langsung menatap archie "ku rasa dia muak melihat mu" kata archie "ku rasa sebaliknya" kata niko.
kal menghentikan mobilnya jeje keluar dari mobil "aku akan segera kembali kak kal kau jangan pulang dulu nanti kak chai tau" kata jeje "siap.. aku akan mengawasi mu dari jarak jauh"ucap kal
musik terdengar keras orang orang menari di bawah lampu kelap kelip jeje melihat sekitar nya "wah ramai juga ya" kata dila "ya jelas lah tempat kaya gini gak mungkin sepi" kata vito "halo" seorang pria menghampiri jeje "hum" jeje melihat pergelangan tangan pria itu "aku menyuruh seseorang mengawasi tempat itu dia orang yang ku sewa di pergelangan tangannya ada kain merah" jeje teringat perkataan kal "mana meja nya? " kata jeje "di sana" kata pria itu "hum.. kau yakin kita akan duduk di sini? " kata mawar "kenapa? jika kau pulang saja" jeje langsung pergi mengikuti pria tadi "ayo ini demi ka niko" bisik rizi "iya ayo" kata dila mereka pun mengikuti jeje yang sudah berjalan duluan jeje melihat muka teman teman nya yang terlihat tidak nyaman "minuman nona" ada seorang wanita dengan pakai minim menghampiri jeny "eh tunggu" jeny mengambil empat gelas minuman dan meletakkan minuman itu ke hadapan niko "itu buat kak niko semua? " kata rizi "ya" kata jeje tak lama kemudian pria yang tadi kembali datang dengan membawa beberapa minuman "aku.. aku tidak mi--" dila terlihat tegang "ini tidak mengandung akohol kalian minum saja" kata jeje "punya mu mana? " kata niko "ini" jeje mengambil segelas minuman lagi dari seorang wanita yang lewat "tidak" niko menahan tangan jeje ketika jeje hendak minum "jangan minum akohol baby" kata niko "apa urusan nya dengan mu? " kata jeje "kenapa kau tidak minum seperti mereka? " kata niko "hei tuan" jeje menarik kerah niko "jika tidak suka maka pergilah" kata jeje "halo nona" jeje menoleh "mau menari bersama? " kata seorang pria itu "bentar jangan kemana mana" jeje pergi "kau pergi saja"kata niko " kenapa? "kata pria berambut ungu itu " Karena dia pacar ku"kata niko "jaga jarak tuan" kata niko "**** you" pria itu pun langsung pergi jeje kembali dengan dua botol besar di tangannya dan ada seorang wanita di belakang nya yang membawa makanan "kau mau mabuk ya? " kata niko jeje menuangkan minuman nya ke dalam sebuah gelas "jika kau tidak minum maka diam lah" kata jeje "jeje kau jangan minum akohol" kata mawar "cih kalian makan cepat kita akan segera pergi" kata jeje Ariel membaca pesan dari niko "jeje apa pernah minum akohol? " Ariel langsung membalas pesan niko "pernah, dulu dia minum lima gelas" niko membaca pesan dari Ariel jeje mulai meminum segelas akohol "jeje kita pulang yuk" kata dila "kenapa? bukannya kalian yang mau makan bersama? " kata jeje "tapi.. hum--" dila melihat jeje memberi isyarat agar dila diam "bukan kah di sini ada dia" jeje menatap niko "kalian selalu merasa aman bukan jika ada bersama nya" kata jeje "Hai nona" seorang pria duduk di dekat jeje "mau menari bersama? " kata pria itu "hum ak--" jeje terkejut melihat tangan niko di bahunya "dia tidak akan menari" kata niko "singkirkan tangan mu! " jeje berdiri niko juga berdiri "oh.. baiklah mari bertukar minuman saja" pria itu memberi segelas minuman ke jeje setelah menerima segelas minuman jeje langsung pergi "jeje" niko berlari mengejar jeje "baby hei.. " niko memegang tangan jeje "apa lagi? apa maksud mu tadi? " kata jeje "apa? aku hanya tidak mau kau dekat dengan orang asing! itu bahaya" kata niko "jangan sok tau" kata jeje "aku hanya kwatir apa itu salah" kata niko "salah! salah besar kau selalu berlagak benar dan sok tau segala hal" jeje meneguk minuman yang dia pegang "jangan minum" kata niko "mereka malah bertengkar" kata anggel "jangan minum itu! " kata niko sambil berusaha merebut gelas itu dari tangan jeje "huh" jeje merasakan kepalanya sangat pusing niko membuang gelas itu dengan cepat dia menahan tubuh jeje yang hampir terjatuh "sial minuman apa itu" fikir jeje "hei jeje" vito terlihat cemas "aku sanggup meminum akohol sampai enam gelas tapi.. ini mem.. mem" kata jeje dalam hati "baby" niko menahan tubuh jeje "seperti minuman dengan kadar akohol tinggi" kata niko "jeje.. jeje.. hei kau dengar aku" kata mawar tapi tidak ada jawaban wahyu yang sedang di atas motor nya melihat niko menggendong jeje "eh.. dia kenapa?" tanya wahyu "dia mabuk" kata niko "kak naik mobil ku saja" kata anggel "oke oke" niko pun membawa jeje ke dalam mobil anggel "aku bawa motor nya jeje" kata rizi "gak papa biar dia saja yang bawa" anggel menunjuk seorang pria "oh.. oke oke tapi" vito menatap niko "kemana kita bawa jeje, kita tidak tau rumahnya" kata vito "benar juga" kata dila "ke rumah ku saja masih ada kamar kosong" kata niko "oke oke" kata yang lain.
"kenapa? " niko menoleh ke arah jeje "dia bicara" kata rizi "orang mabuk kan terkadang bicara sendiri" kata vito "hug"tubuh jeje hampir terjatuh niko segera menahan nya tak lama kemudian mobil berhenti wahyu segera membuka pintu niko mengangkat tubuh jeje " tapi dia baik baik saja kan? "kata dila " iya dia hanya mabuk"kata vito "hum.. " jeje di letakan di atas ranjang "kau tidak mendengarkan ku kan" kata niko "uhuk.. uhuk" jeje batuk "hei kau baik baik saja" kata niko "huk" jeje duduk niko memegang tubuh jeje "yu.. tolong" kata niko wahyu masuk melihat jeje ingin muntah segera lari mencari ember "uhuk.. huek.. " niko tidak punya pilihan selain menggunakan tangan nya untuk menampung cairan yang keluar dari mulut jeje "oi.. oi.. oi kenapa " jeje melihat pria di sebelahnya "kak chai ya" kata jeje "bukan ka kal ya" kata jeje wahyu datang "ugg.. kepalaku" kata jeje "humm.. sini" wahyu memegang bahu jeje "mau sana bersihkan tangan mu" kata wahyu "yang lain gimana? " kata niko "mereka sudah pulang" kata wahyu "oke.. tahan dulu dia kelihatannya mau muntah lagi" ujar niko "iya" kata wahyu.
"kak kal.. " jeje menatap wahyu "aku gagal lagi menyuruh mereka menjauhi ku" kata jeje niko datang dengan segelas air mineral "kenapa? " kata wahyu "oi.. kak apa kau pura pura" mata jeje yang sedikit terbuka itu menatap ke arah wahyu "aku membenci mereka.. ku yakin me.. hu. mm. mereka hanya.. sandiwara" kata jeje "humm.. uhuk.. uhuk. hue.. huek" jeje kembali muntah "jangan banyak bicara" kata niko "kakak.. si pecundang itu tidak pergi kakak" jeje bersandar ke niko "cinta itu kebohongan" kata jeje "minum lah dulu" kata wahyu "minum dulu je" kata niko "hum.. " jeje memejamkan matanya "dia tidur kayanya" kata wahyu "tunggu" niko menunduk melihat jeje "jeje.. kenapa kau selalu menganggap cinta itu kebohongan? kau pernah patah hati" kata niko "humm" jeje mengerutkan dahinya "jeje kau dengar aku kan? " kata niko "**** kal.. jangan ungkit kejadian lama.. orang orang selain aku juga menderita karena cinta, cinta hanya rasa sakit yang di bungkus rapi dengan kedok kebahagiaan tapi palsu.. " kata jeje niko menatap jeje dengan sedih dia dan wahyu mendengar kan jeje bicara "cerita itu benar, jeje benar-benar trauma dengan cinta" kata niko "hum.. " jeje bersandar ke niko "tidur lah" kata niko "ayo kita keluar" kata wahyu "tunggu yu bawa embernya sekalian" kata niko lalu niko melihat ke arah jeje lagi yang barusan memberikan cerita panjang tentang kehidupan nya tentang penghianat keluarga nya, kekasihnya, temannya di masa lalu "mau berhak bahagia je" kata niko lalu dia menutup pintu nya.