What Is Love

What Is Love
saling mengkhawatirkan



chai menarik wajah jeje ke pelukan nya selagi dokter mengganti perban di perut nya "jangan lihat" chai menutup mata jeje dan satu tangan nya menepuk nepuk bahu jeje "kakak aku bukan anak kecil" kata jeje "gak ada yang bilang kok" kata chai "apa luka nya masih belum kering? " tanya chai "belum sepenuhnya tuan" kata dokter "masih lama kak? " tanya jeje "bentar lagi" kata chai, monnie tersenyum saat baru datang melihat chai memeluk adik nya "sudah selesai jangan lupa minum obat nya ya saya permisi dulu" kata dokter "terimakasih" kata monnie "kakak ipar" kata jeje "Hai adik ku" kata monnie dia langsung mendekat "kakak bagaimana dengan calon Perampok bank nya apa dia sudah di cek" kata jeje "aman tadi aku baru cek bersama mama" kata monnie "dimana mama? " tanya jeje "di sini" cai membuka pintu "kau menanyakan mama? " tanya cai "oih.. tidak" kata jeje monnie langsung tersenyum "seperti nya ada yang tidak mengaku ya" kata chai "apasih" kata jeje "jadi karena sudah selesai ayo kita pulang" kata jeje "siapa bilang kau boleh pulang? " kata chai "loh? belum ya? " kata jeje "apa perut mu sakit" kata monnie "masih terasa menyebalkan" kata jeje "tangan mu" kata cai "sudah aman aku bisa memukul kakak ipar sekarang" kata jeje yang lain langsung tertawa "tapi bisakah aku bicara pada kak chai sebentar" kata jeje "oh.. tidak masalah ayo ma kita keluar" kata monnie "baiklah" kata cai "ada apa? " tanya chai "aku menyuruh mu membawa kakak ipar pergi jauh sejauh nya" kata jeje "kenapa kau tidak membawa nya pergi kau-- oihh" jeje meringis kesakitan "jangan bicara terlalu cepat" kata chai sambil megang perut adik nya. "sakit? " kata chai "tidak papa jangan mengalihkan pembicaraan! kau tau penyerang misterius itu bisa kembali kapan saja dan melakukan penyerangan lagi dan itu pasti" kata jeje "calon parampok itu harus di jaga bersama ibunya kau ini bagaimana? " kata jeje "lalu bagaimana dengan mu" kata chai "dia mengincar istri mu bukan aku" kata jeje "kakak kau dengar kan aku.. pergilah sejauh mungkin kalau perlu ke luar negri " kata jeje dengan serius, "baik lah aku akan bicarakan pada monnie" kata chai "dan terimakasih sudah mengkhawatirkan keluarga kita" kata chai.


malam harinya..


dengan wajah terkejut monnie menatap mata chai "apa kau bilang? bagaimana mungkin kita pergi sementara adik kita di sini" kata monnie "awalnya aku juga berfikiran sama seperti mu namun adik memaksa kelihatan dia begitu khwatir pada mu" kata chai "kita tidak akan pergi adik sendirian bagaimana kalau orang jahat itu menyerang adik baga--" chai memeluk monnie "tenang lah.. " kata chai "adik sedang sakit" kata monnie "iya iya.. tenang lah" kata chai "sekarang aku yang bingung jeje mengkhawatirkan monnie dan begitu sebaliknya apa solusi nya dari semua ini" kata chai dalam hati " besok aku akan bicara pada adik"kata monnie "iya kita akan bicara pada nya" kata chai sambil mencium kening istri nya "jangan banyak fikiran nanti kau sakit tidur lah" kata chai sambil mengusap rambut monnie dengan penuh kasih sayang.