
jeje menatap rumah besar di depan nya "ayo turun" kata monnie "hum.. aku aku tunggu di.. di sini saja kalian yang masuk ya yakan? " kata jeje "kenapa? " tanya monnie "aku tidak papa aku.. " chai memegang tangan jeje "ayo masuk nona muda soikham" kata chai "tapi kak" kata jeje "aku ada bersama mu" ujar chai.
seorang wanita dewasa terlihat begitu antusias melihat chai datang "anak ku... anakku sudah lama kau tidak pulang mama merindukan mu" kata wanita itu "apa dia putri ku? " tanya wanita itu "temui mama"kata chai jeje tersenyum kaku " jeje"kata wanita itu "i.. iya" kata jeje "ayo jeje" kata monnie "bilang halo ma" bisik chai "ha.. halo halo ma" kata jeje "halo sayang sini peluk mama" kata wanita itu "apa!! " kata jeje monnie dan chai tersenyum melihat ekspresi jeje wanita itu menarik jeje "hu... ja.. jangan " kata jeje sambil mundur "kenapa? " tanya wanita itu "mama adikku ini tidak suka di peluk" kata chai "ayolah peluk mama sekali aja" kata wanita itu chai langsung mendorong jeje ke arah wanita itu "uh"jeje terkejut " gitu dong peluk mama sendiri kan tidak papa"kata wanita itu "mama ini monnie" kata chai "monnie? monnie apa kabar " kata wanita itu " "baik tante" kata monnie "ayo duduk" wanita itu tidak melepaskan tangan jeje "hum" jeje canggung "mama selalu menunggu mu datang tapi kau tidak datang datang" kata wanita itu "tapi aku sudah datang ma" kata chai "nanti kalian harus makan di sini" kata wanita itu "mama ini dari monnie" kata chai "ya ampun kenapa repot repot sekali? " tanya wanita itu "oh ya bagaimana kuliah mu? apa kau punya banyak teman? jangan seperti kakak mu di dulu nakal sekali membuat papa mu marah" jeje menatap chai "hum.. " jeje memegang tangan wanita itu ketika wanita itu hendak menyentuh wajahnya "kami datang untuk membahas sesuatu yang penting" kata jeje "apa itu? " chai menatap monnie "mama aku ingin menikah dengan monnie" kata chai "ya ampunn.. aku sangat senang mendengar nya" monnie menahan tawa melihat wajah jeje "tap tap tap tap" jeje mematung ketika melihat seorang pria datang "papa" guman chai "kemari lihat anak kita datang bersama calon menantu kita" jeje menatap chai "kemarilah duduk suami ku" kata wanita itu "cai" pria itu pergi "sebentar ya" kata wanita itu sambil berjalan mengikuti pria itu "kulap prijacai kenapa ka--" kata pria itu "suami ku tolong jangan bicara kasar anak gadis kita ada di sini dia seorang wanita hatinya lembut" kata cai "asnee chakrii nam dhika suami ku" cai memegang tangan suami nya "anak kita sudah lama tidak pulang " kata cai "anak kita datang ingin meminta izin dia ingin menikah" kata cai .
dhika datang dengan cai "salam paman" mata monnie "kenapa panggil paman panggil papa dong" kata cai "ayo beri dalam pada papa" cai menatap jeje "sa.. salam tuan" kata jeje "sayang ini papa mu kenapa panggil tuan? " ucap cai "dia benar“kata dhika " suami"kata cai chai memegang tangan jeje "aku ingin mengundang kalian ke acara pernikahan ku" chai meletakkan kartu undangan "dan juga ingin meminta restu" kata monnie chai mulai terlihat kesal "tidak bisakah mau bersikap sedikit lebih normal kepada adik dan calon istri ku? " ucap chai "kakak" kata jeje "tenang lah" bisik monnie "jika kau tidak suka kau bisa pergi" kata dhika lalu dia menatap jeje "bu--"chai mengangkat sebelah tangan nya " jika kau ingin berkata buruk tentang adik ku lebih baik kau diam "kata chai " kakak jangan marah kau kenapa ingat tujuan mu ke sini untuk meminta restu"kata jeje "kami tentu merestui mu nak" kata cai "kenapa kau terburu buru mengambil keputusan" ucap dhika "bahkan dia lebih memilih adiknya dari pada keluarga nya" kata dhika "suami kau ini bicara apa dia itu anak anak kita" kata cai "tidak papa nyonya " kata jeje "lanjutkan saja pembicaraan tentang pernikahan" kata jeje "lupakan" kata chai "kakak kita sudah jauh jauh ke sini" bisik jeje "tapi mereka memperlakukan mu seperti ini kau fik--" jeje menutup mulut chai "tidak apa kau jangan dengarkan cepat bahas pernikahan mu kasihan kak monnie menunggu" kata jeje "tapi" kata chai "ayolah kenapa kau jadi lemah dasar banci" bisik jeje "ma aku sudah siapkan semuanya" kata chai "aku juga akan menyiapkan sesuatu untuk mu" kata cai "apalagi untuk calon menantu ku".
chai berdiri di depan keramaian "aku mengumumkan pernikahan ku di depan kalian semua" kata chai jeje tersenyum melihat kakak nya "pernikahan akan di langsung kan dua hari lagi" ucap chai "minum nona" pelayan menawarkan minuman "tunggu! " bai mencoba segelas minuman dulu "bagaimana? " tanya jeje "aman nona" kata bai "tentu saja kau ini terlalu kawatir" jeje mengambil segelas minuman "apakah kau sudah mengatakan ini pada orang tua mu tuan? " tanya reporter "tentu sudah" kata chai sambil melirik ke adiknya "monnie Kemarilah" kata chai "ini dia wanita ini yang akan menjadi istri ku" kata chai "dia cantik juga" kata beberapa orang
"iya benar benar cantik"
"tidak seperti adiknya yang jarang muncul du publik sekali nya muncul malah muka nya di tutup"
"iya benar tuh"
"aduh.. sayang banget aku gak bisa jadi nyonya soikham"
"hari ini aku ingin sampai juga pada kalian di depan semuanya" kata chai monnie menyadari chai mulai terlihat kesal dia mencoba menenangkan chai "aku tidak suka ada yang membicarakan calon istri ku dan juga adikku jika aku mendengar dan melihat mu membicarakan buruk tentang adikku di mana pun kau bersembunyi aku akan cari dan ku pastikan kau menerima akibatnya! " kata chai "chai tenang lah" bisik monnie "ahh.. kakak marah marah mulu" jeje berdiri "nona kau mau kemana? " tanya wutt "ke kamar mandi mau mencuci muka kelihatan nya minuman ini mengandung banyak Akohol" kata jeje "biar aku antar" kata wutt "tidak papa lihat" jeje menunjuk empat bodyguard yang lain "mereka yang mengantar ku tugas mu menemani kakak" jeje pergi.
"menurut kalian pakaian apa yang harus ku kenakan saat acara pernikahan kakak" kata hehe "dress bagus nona"
"stelah jas blazer nona"
"gaun"
"baju yang lagi tren sekarang"
jeje tersenyum "sudah sampai kalian tunggu di luar" kata jeje "tunggu nona biar kami periksa di dalam" kata dua orang masuk "hei tapi bagaimana kalau ada wanita di dalam? " tanya jeje "aman nona dan seperti nya ada seorang wanita di toilet sebelah kiri" jeje menjitak bodyguard nya "kau mengintipnya? " tanya jeje "tidak nona kami tidak mengintip kami cuma lihat bayangan nya pantulan di bawah" jeje mengangguk "ya sudah lah aku masuk dulu" jeje masuk ke dalam.
chai melihat ke arah kursi jeje "monnie di mana adik? " bisik chai "aku tidak tau tadi dia duduk di sana" bisik monnie chai menatap bai memberi isyarat "kemana nona kecil? " bai melihat isyarat itu mengerti dan buru buru membalas isyarat dari tuan nya "nona ke kamar mandi cuci muka dan di temani empat bodyguard sehingga saya dan wutt di larang ikut oleh nona dia menyuruh kami tetap berdiri menjaga anda" chai mengangguk lalu menjawab pertanyaan pertanyaan dari para reporter di depan nya.
"jraazzz" air mengalir jeje membuka topinya dan menggulung lengan hoodie nya menunduk dan mulai membasuh wajahnya "jauh lebih baik" jeje mematikan keran "uhh?? " jeje buru buru berbalik ketika di cermin melihat ada beberapa pria di belakang nya "ccsssssss" jeje memejamkan matanya ketika ada sesuatu yang di semprot kan ke arah nya "ooihhh!! " para bodyguard di luar mendengar suara jeje "bangsat siapa kalian" jeje melihat gaun yang di letakan di lantai "jadi mereka menyamar" jeje langsung maju menyerang "seperti nya ada yang tidak beres" mereka segera membuka pintu "cccssss" mereka juga di semprot gas aneh oleh orang orang itu. jeje memukul kepala nya sendiri "kenapa? kenapa berputar? " fikir jeje "buagg"jeje mendapatkan pukulan di perut " berani memukul ku"jeje mengamati pria di depan nya "gawat apa yang.. apa yang ter" jeje di dorong ke dekat wastafel kemudian di pukuli "hiaa"jeje mencoba melawan " nona seperti ini bius"kata para bodyguard "apa.. air" jeje buru buru berbalik mencari air tapi pria pria itu mencegahnya karena jeje masih memberontak salah satu dari mereka memukul bagian belakang jeje dengan senjata yang lumayan besar "duukk"jeje terdiam sesaat sebelum jatuh ke lantai " kal mendengar sesuatu dari alat komunikasi nya "tolong.. " kal langsung berdiri membuat beberapa orang terkejut begitu juga dengan chai kal memukul bahunya dua kali lalu lari pergi "jeje! " fikir chai.
kal membuka pintu kamar mandi melihat topi jeje masih ada di sana empat bodyguard itu sudah tidak sadarkan diri "gawat bagaimana bisa? " fikir kal "gaun? mereka menyamar" kata Steven.
jeje di seret sampai ke sebuah ruangan
"pegang dia"
"cepat buka hoodie nya aku tidak sabar melihat wajah chai yang akan menangis darah"
"beet" hoodie jeje di buka "uh.. gadis pintar dia membawa pena di balik hoodie nya cepat buang pena nya agar aku mudah melakukan nya"
chai menoleh ke arah bai buru buru bai mendekat "aku tidak ingin menjawab apapun lagi" kata chai "baik tuan biarkan kami yang urus" kata bai "tapi kenapa kal berlari? " tanya chai "ada seseorang yang menyamar sebagai wanita di toilet dan membawa nona kabur" chai langsung terlihat panik segera pergi dari situ.
tubuh jeje di angkat di masukkan ke dalam kotak terlihat kepala jeje di bungkus kain hitam kotak itu di tutup bersama puluhan kotak yang ada di ruangan itu.
"uhh.. " para bodyguard di kamar mandi kembali sadar "dimana nona? di mana nona kecil" kata chai "nona di bawa mereka tuan" chai terlihat marah "bagaimana kalian ini!!! menjaga adikku saja tidak becus!! " chai langsung mencari kal.
"bagaimana jika chai tidak menemukan nya? "
"dia pasti akan datang ketika dia datang kita habisi calon istri nya habisi agar chai benar benar menderita"
"adiknya? "
"kau bodoh adiknya juga akan mati sebentar lagi enam puluh menit dari sekarang"
"chai datang kemungkinan akan mati juga"
"pip.. pip.. " jeje mendengar sesuatu di tubuhnya "kak..lindungi kak monnie.. jangan ke sini" kata jeje dalam hati sambil berusaha menggerakkan tubuhnya sayang tidak bisa cuma jari nya saja yang bisa bergerak.
kal berhenti berbalik menatap sebuah pintu memejamkan matanya sebentar "itu gudang" kata lim "feeling ku mengatakan nona ada di sini" kal mendobrak pintu itu terlihat di dalam nya penuh dengan puluhan kotak kayu ada yang di lantai ada juga yang di gantung "seperti nya ada yang datang" kata jeje "jeje!!! jeje ini aku... " seru kal "kalian periksa yang lain sebagian tetap bersama ku" kata kal "bagaimana aku mau bicara bergerak saja susah bahkan aku tidak tau aku di mana dan suara apa ini aku tidak memakai jam alarm saat ini" ucap jeje "periksa semua kotak" kata kal.
"tidak ada kal " kata lim "bantu periksa semua kotak ini" kal melihat serpihan gelang milik jeje "dia ada di sini" kata kal "aku akan memeriksa kotak bagian atas yang di gantung kalian tetap periksa yang bawah" kata kal "oke" kata zio "pip.. pip.. " jeje seperti nya menyadari sesuatu "jangan jangan ini bom? " fikir jeje "seperti nya kotak di bawa kosong karena berdebu" kata Steven "jeje kau dengar kami" kata kal "setidaknya beri aku kode kalau kau ada di salah satu kotak di ruangan ini kau mendengar ku kan" kata kal "bagaimana kalau jeje masih pingsan kan tadi di bius katanya" kata lim "jeje dengar kan" kata kal "aku harus apa tubuh ku tidak bisa bergerak" kata jeje "jika aku tidak di temukan bagaimana aku bisa menolong ka monnie" jeje tiba-tiba mendapatkan ide "tuk" dia membunyikan jarinya "tuk tuk" jeje kembali menjentikkan jarinya "diam!! diam aku mendengar sesuatu" kata kal "tuk tuk tuk tuk" jeje ada di kotak atas"kata kal beberapa orang langsung naik memeriksa semua kotak yang di gantung "ini dia" kata akia "aku mendengar suara nya" kata akia "pip.. pip. " akia terdiam "suara bom" kata akia dalam hari "aku akan lepaskan talinya pelan pelan kalian Terima ya dari bawah" kata akia.
kotak di turun kan "cari alat untuk membuka kunci nya" kata akemi "pakai ini" jerico menempel kan alatnya "crakk"gembok nya terputus " jeje"kal mengangkat tubuh jeje keluar chai datang "ketemu tuan" kata zio "sraakk" kain penutup kepala jeje terbuka jeje terlihat begitu lemas "ya ampun" chai turu tangan membuka kain yang mengikat mulut jeje "huek" jeje memuntahkan dua bola tenis dari mulut nya "talinya" kata lim "kakak!!! kakak pergilah kau bisa mati jika di dekat ku ka tolong kak monnie mereka juga ingin membunuh kak monnie" kata jeje "monnie" kata chai "kau pergilah" kata jeje tali yang mengikat tubuhnya terlepas jeje langsung bergerak mundur menjauh "kenapa? " kata chai "kakak" jeje membuka hoodie nya terlihat banyak bom di tubuh jeje membuat chai terkejut "kakak.. kau bisa mati jika di sini cepat pergi tolong kak monnie" kata jeje "tenang lah kemari jeje aku akan mencoba melepaskan bom itu" kata kal "tidak mau.. kak chai kau dengar kan aku!! " kata jeje "tuan lebih baik anda biar lebih mudah" kata akia "oke aku pergi" chai keluar dari ruangan itu "kemari lah je"kata akia "kakak bagaimana bom nya meledak kalian juga bisa mati" ucap jeje "tidak ada yang akan mati ayolah" kata jerico "benar intinya kau harus tetap tenang" kata kal jeje mengangguk "setidaknya kakak aman aku mati juga tidak papa" kata jeje dalam hati.
chai menemui bai "di mana monnie? " tanya chai "di sana tuan bersama wutt" kata bai chai lanjut berjalan "monnie ikut aku" kata chai "ada apa? " tanya monnie "ayo cepat bai bawa pakaian nya" chai membawa monnie ke kamar "ini tuan" kata bai "kau tunggu di luar" kata chai "apa ini? " kata monnie "situasi genting kau mau mendengar aku kan" kata chai.
akia mengamati kabel kabel bom itu "sial mereka juga memasang kabel palsu" akia menarik satu kabel berwarna hijau "kita harus teliti" kata akia "mereka sengaja ingin membuat ku asal mencabut kabel" akia terlihat serius "aku juga menemukan kabel palsu" kata kal "jerico apa kakak aman? " kata jeje chai mendengar itu dari pintu membuat nya berhenti melangkah "bisakah kau pergi melihat kakak, orang orang itu mengincar nyawa kakak mereka juga ingin membunuh kak monnie tolong mereka berdua " kata jeje chai menundukkan kepala nya mengusap wajahnya "kenapa kalian diam bagaimana pelaku nya menemukan mereka ayolah" kata jeje chai menarik nafas mengusap air matanya lalu masuk ke dalam "aku menemukan nya satu " kata akia "ini pasti kabel aktif nya" kata akia "ini juga yang kuning" kata kal "kakak" air mata jeje langsung mengalir melihat chai datang "kakak apa yang kau lakukan!! pergilah!! " kata jeje chai tersenyum "oke sudah lengkap" kata akia "kakak sepuluh menit lagi!! apa yang kau lakukan!!! KAU MAU MATI!!! KAKAK!!! KAU DENGAR AKU TIDAK AKU BENCI KAMU" kata jeje "tuk" dahi jeje di ketuk chai membuang pandangan mengusap wajah nya lalu menatap adiknya "seorang kakak tidak akan meninggalkan adiknya" kata chai "BAGAIMANA DENGAN KAK MONNIE KAU LINDUNGI DIA DASAR BODOH BAGAIMANA" akia memegang tangan jeje "tenang je kita akan hentikan bom nya" kata akia "kakak.. bagaimana kalau gagal kau bisa mati bersama ku" kata jeje "siap" kata jerico yang sudah memegang tali "semoga tidak salah" kata lim kal menatap jeje "satu" kata kal "dua" kata akia "SEKARANG!!!! " seru akia sambil menarik kabel itu dengan keras "berdiri" kal menarik dengan keras kabel kabel itu sampai semua terlepas dari tujuh jeje kal memasukan bom itu ke dalam kotak jerico langsung menarik kotak itu dengan cepat "chai menutupi tubuh jeje yang hanya memakai kaos dalam " sudah mati? "kata chai " yang ini mati tapi bom nya ada satu lagi ayo lari "kata kal chai langsung menarik adiknya " DUAAARRRRR!!!!!! "semua orang di jalanan menoleh ke arah gedung besar di pinggir jalan atap nya hancur jeje menunduk mereka melindungi chai dan jeje " mereka memegang perangkap bom satu lagi yang tersambung dengan kabel di baju nona"kata akia "duaarrrr" terjadi goncangan.
chai menatap adiknya "kakak aku.. saya.. ng kamu" jeje ambruk "jeje" kata chai tidak dapat di sembunyikan air matanya benar-benar keluar "jeje!! jeje!!! kau bicara apa!!! hei kau dengar kakak mu" kata chai melihat tangannya berdarah buru buru melihat leher adiknya ada sayatan kecil "tidak tidak" kata chai "ayo tuan kita harus ke rumah sakit" kata kal "biar aku saja" chai memakainya sebuah topi ke jeje sampai menutupi wajah jeje lalu mengangkat tubuh adiknya itu
"apa yang terjadi? "
"itu nona muda gak sih? "
"seperti nya terjadi sesuatu"
"tuan muda mengangkat tubuh adiknya"
"kemana calon istri nya tadi"
kata para wartawan yang masih memadati ruangan itu chai masuk ke dalam mobil
"hei.. hei.. kau tidak boleh meninggal kan kakak mu" kata chai matanya terlihat sangat merah dia menekan luka di leher jeje agar tidak terus mengeluarkan darah "jeje.. kau dengar kakak mu kan, ka harus bertahan" air mata chai menetes ke wajah jeje "kakak juga menyayangi mu... sangat menyayangi mu namun kakak sulit mengatakan nya pada mu... tolong bertahan lah" kata chai.
di rumah sakit...
"DOKTER.. DOKTER... TOLONG ADIK KU TOLONG ADIKKU... " seru chai "tenang tuan tenang" dokter datang membawa ranjang dorong chai meletakkan tubuh adiknya "tolong dia" kata chai "kami akan segera menolong nya" chai mengikuti dokter dan perawat yang membawa adiknya "tolong dia" kata chai "tuan anda harus tetap di luar" kata dokter "kau ini bicara apa adikku di dalam dan aku kau suruh di luar!! " chai marah "tuan.. tuan tenang lah" kata bai "chai" chai menoleh "nona? " akemi terkejut melihat siapa yang datang monnie dengan pakaian staff acara tadi "chai.. jeje sedang di rawat" kata monnie "bagaimana bagaimana ini dia sendiri di dalam. aku aku malah di luar" monnie langsung memeluk chai "sstt.. tenang lah.. dia akan baik baik saja" kata monnie "dia dalam bahaya dan malah memikirkan keselamatan kita dasar anak bodoh" chai tak dapat membendung air matanya.
niko menoleh ke arah pintu "jadi semua nya bisa di atur" kata wahyu "bagus lah aku senang mendengar nya" kata Tini "tapi satu masalah bu absen jeje banyak yang kosong" kata Archie "baby" niko pergi keluar "niko! " wahyu menunduk "maaf bu pak" wahyu menyusul niko "kau kenapa? seenaknya meninggalkan ruang rapat" kata wahyu "aku melihat seseorang berpakaian serba putih dan wajah nya mirip baby " kata niko "kau gila sepanjang ini jeje belum pernah memaki pakaian putih dia selalu memakai pakaian berwarna gelap kau halusinasi" kata wahyu "tapi aku gelisah yu" kata niko "ambil wudhu solat sunnah sana biar tenang" kata wahyu "orang gelisah kok di suruh solat tapi yu.. sungguh aku melihat nya tadi" kata niko "sudah lah kau fikir jeje itu wanita lemah dia itu kuat sekarang pasti dia main game dia itu anak nakal pasti baik baik saja ayo kembali ke ruang rapat" kata wahyu.