What Is Love

What Is Love
penyerang misterius



ruangan dengan penuh perlatan medis dan juga selang kecil adalah hal yang pertama yang di lihat oleh seorang pria yang ada di atas sebuah ranjang, dia kelihatan kebingungan memperhatikan di mana dia sekarang berada "Hai kau sudah sadar tuan? "pria itu menatap dokter yang menghampiri nya " bagaimana perasaan mu? apa yang kau rasakan? "pria itu diam " kau akhirnya sadar setelah beberapa bulan terbaring di sini, apa dada mu terasa sakit? "pria itu menundukkan kepala nya melihat dadanya tiba-tiba dia teringat dengan seorang gadis yang memukul dada nya satu pukulan yang membuat dia benar benar tidak dapat merasakan dirinya sendiri kecuali rasa sakit di dada nya " jangan kawatir kami sudah mencangkok tulang dada mu karena waktu itu tulang dada mu mengalami kerusakan parah"pria itu langsung menatap dokter.


dengan lembut cai mengusap wajah jeje yang masih berbaring di atas ranjang "dia belum bangun juga" kata dhika "belum " kata cai "bagaimana dengan adik apa dia sudah kembali sadar? " tanya monnie di ruangan yang berbeda "dia akan sadar kembali, jangan fikir kan dia dokter bilang kau tidak boleh banyak fikiran. jika adik tau dia akan memarahi mu" kata chai "tuan" pintu di ketuk "bentar ya" chai keluar "Crist sudah sadar" bisik akemi "aku akan ke sana" kata chai dia kembali menemui monnie "sayang.. aku akan kembali kau jangan kemana mana bodyguard ku ada di luar dia akan menjaga mu" kata chai.


"oi... " jeje membuka mata nya dia merasakan handuk basah di wajah nya "anak ku" cai tersenyum, jeje menatap cai di samping nya air mata cai menetes ke pipinya mengalir mengenai tangan jeje "kenapa kau menangis? " tanya jeje "ibu mana yang tidak akan menangis melihat putri kecil nya terluka berbaring di tempat seperti ini" cai memeluk jeje "melihat mu tergores saja aku rasa nya sudah menderita" jeje terdiam "mama kesakitan melihat mu begini.. akhirnya kau sadar" jeje perlahan menggerakkan tangan nya seperti hendak membalas pelukan cai "kenapa aku merasakan kehangatan seperti ini lagi" fikir jeje "mama gak tau lagi harus apa, bahkan untuk bergerak saja susah ketika melihat mu berlumuran darah mama menyayangi mu.. terimakasih Tuhan terimakasih kasih... anak ku sudah sadar" kata cai "apa kau.. " jeje tidak melanjutkan ucapan dia mendengar suara tangisan cai yang sedang memeluk nya jeje mengepal tangan nya di belakang punggung cai "apa aku harus memeluk nya" fikir jeje "mama" kata jeje "iya sayang iya.. biarkan mama memeluk mu.. mama benar benar takut kehilangan mu" kata cai "aku juga takut " jeje membalas pelukan cai "mama mu belum ada makan karena dia begitu khawatir pada mu" kata dhika jeje melepaskan pelukan nya "kau akhirnya sadar" cai mencium kening jeje "kenapa kau tidak makan? " tanya jeje "bagaimana aku bisa makan jika anak ku tidak kunjung sadar" kata cai jeje kelihatan nya menahan tangan nya


"dia masih terus menangis aku harus apa? "


"usap air mata nya"


"iya aku ingin melakukan nya tapi.. aku tidak bisa aku tidak tau kenapa"


"apakah ini sungguhan? ada seorang mama yang mengkhawatirkan ku"


"ini pertama kalinya aku melihat seorang mama yang menangis karena aku terluka"


"usap air mata nya.. tidak aku tidak bisa "


"ini bukan sandiwara.. aku benar benar merasakan sesuatu yang terasa begitu hangat"


"tidak terasa dingin ini pasti nyata"


jeje berdebat dengan dirinya sendiri "sudah lah anak mu sudah sadar jangan menangis lagi" kata dhika "kau lapar" cai memegang tangan jeje "lapar atau kau ingin sesuatu sayang.. " cai mencium tangan jeje "apa luka mu sakit? " tanya cai lagi "ayo makan berdua" kata jeje cai tersenyum "suami ku.. pergi cari makanan aku aku aku makan" kata cai dengan senang. dhika langsung berbalik dan pergi "biarkan mama yang menyuapi mu" kata cai "ayolah aku tidak lumpuh tangan ku masih bisa bergerak " kata jeje "ayolah mama mohon" kata cai "ya baiklah" kata jeje "tapi di mana kakak ipar? " kata jeje "dia ada dengan kakak mu , kakak ipar kelelahan jadi butuh istirahat" kata cai "hum" dhika menyodorkan plastik berisi makanan "kita makan ya, ya Tuhan putri kecil ku sudah sadar aku sangat senang" kata cai sambil membuka makanan yang baru saja di bawa dhika, jeje menunduk memegang dada nya "jantung ku berdegup kencang, padahal yang mau menyuapi ku bukan dokter dengan obat tapi mama " batin jeje "buka mulut mu" kata cai, dengan ragu ragu jeje membuka mulut nya "kenapa? apa dada mu sakit? " tanya cai "kenapa sayang" cai melihat mata jeje berkaca kaca "sial kenapa mata ku terasa panas" kata jeje dalam hati "ada apa sayang? kau tidak suka makanan nya? atau mau ganti" cai terlihat khawatir "ku rasa aku makin lapar" kata jeje cai tersenyum "kalau begitu makan yang banyak ya" kata cai "kau juga makan" kata jeje "iya" kata cai sambil tersenyum senang.


di atas meja terlihat ada beberapa benda yang di gerakan dengan salah satu pria yang ada di sana "ini akan sangat menyenangkan karena aku tau jika berlian yang satu ini hilang selama lama nya maka kehidupan chai akan runtuh dia akan hancur dan kita akan dengan mudah membunuh nya " kata pria itu "kau benar jangan terlalu sering menyerang nya agar ini menjadi permainan baru yang membuat nya menjadi tenang seperti bayi kehilangan ibu nya" kata pria lainya


"tapi anak buah mu jangan sampai buka mulut karena bodyguard chai sudah menangkap nya"


"kau tenang saja aku sudah mengatur semuanya"


"bagus lah, kali ini biarkan dia merasakan sensasi hampir kehilangan berlian nya"


"benar aku sengaja menyuruh mereka untuk tidak menyerang di bagian titik lumpuh nya agar dia tetap hidup namun dia akan berkali-kali menderita karena kita akan melakukan nya berulang kali "pria itu tersenyum sambil mengisap rokok nya.


chai menatap pria di depan nya sambil tersenyum tipis " tuan chai mohon maafkan aku.. tolong.. "kata pria di atas ranjang " tentu, ku rasa aku perlu menambah hewan peliharaan baru tapi kali ini dalam wujud yang berbeda"kata chai "tuan tolong.. aku benar-benar menyesal" kata pria itu "dengar Crist aku bukan seorang pemaaf, apalagi kalau menyangkut urusan adik ku sekarang kau ada di bawah kendali ku , aku tidak akan membiarkan mu mati" chai menyeringai membuat pria di ranjang semakin ketakutan "dengan mudah" pria yang tidak lain adalah Crist itu terlihat ketakutan "aku mau dia benar-benar pulih karena aku mau mengirim nya ke tempat yang lumayan jauh" kata chai "tuan chai.. ku mohon" kata Crist namun chai tidak mendengarkan nya chai terus berjalan pergi "tuan chai.. " kata Crist.


di penjara..


empat pria berdiri dengan kondisi setengah telanjang, chai melangkah dengan tenang berjalan ke arah mereka "tuan besar" kata lim "aku ingin menemui pelaku nya" kata dhika "ada di dalam bersama tuan chai" kata lim "antar aku ke sana" kata dhika. "sekarang hanya ada dua pilihan jawab, atau mati" kata chai sambil meneguk minuman nya "siapa kau!! berani nya ka--" akia menendang pria itu lalu mengikat nya "ini sangat mudah pertama siapa yang menyuruh kalian? " kata chai "aku tidak akan jawab!! ka--?? aaakkhhh!!! " tiga pria lain nya terkejut ketika ada darah muncrat mengenai mereka "kaki kanan mu juga akan ku potong jika kau terus mengalihkan pembicaraan" kata chai "cepat jawab!! atau kalian akan mengalami nasib yang sama" kata akia dengan katana di tangan kanan nya "akhh.. kakiku" dhika melihat chai sedang duduk sambil menikmati segelas minuman "ayo jawab!! " kata akia "aku tidak suka menunggu" kata chai "jawab siapa yang menyuruh kalian" kata akia "tuan a--" kata pria botak di sebelah kiri "jangan!! " sahut pria yang kaki nya di potong barusan.


chai berdiri menatap pria di depan nya "saat ini tidak ada kebaikan dalam diriku"kata chai " AKKKHH!! "darah mengenai wajahnya chai " jawab atau kalian akan melihat usus kalian "kata akia chai kembali duduk hary langsung menyingkirkan mayat di depan chai " psikopat "kata salah satu pria yang terikat " chai "kata dhika dalam hati " jawab!! "kata akia " menusuk adik ku"kata chai "itu karena kami di suruh" chai menatap ke arah pria yang barusan menjawab "kau yang menusuk adik ku! " kata chai "iya"mendengar jawaban dari nya chai langsung tertawa kecil "potong tangan nya" kata chai "papa kau sedang apa? " tanya chai tanpa menoleh sedikit pun "aku juga ingin tau pelaku nya" kata dhika "katakan siapa yang meminta mu" kata akia "tahan akia.. ambil aku mau yang di tengah merasakan aliran listrik, itu akan membuat nya membuka mulut" kata chai "tidak.. ku mohon jangan.. tolong ampuni aku" kata pria di tengah "kau kejam sekali" kata pria tanpa lengan itu "jika mau hidup katakan saja siapa bos mu" kata akia "AAAKKHH... AAAKKHH" pria di tengah menjerit kesakitan ketika akia mengalirkan listrik ke tubuh nya "tahan" kata chai "aku.. aku akan katakan" kata pria di sebelah kiri "tapi ampuni aku" kata pria itu "katakan" kata chai "TUAN"akia berbalik menyodorkan pistol " dorr dorr dorr dorr dorr "ketiga pria itu tertembak ada seseorang yang menembak nya namun entah siapa! " ada seseorang dari arah sana cepat "kata akia " di mengerti "kata hary " akhh"chai mendekati satu pria yang sedang sekarat "tuan.. Fe.. Fe.. " pria itu tewas "hati hati tuan ada sniper dari arah sana dia yang membunuh ketiga pria ini" kata akia "bagus akia aku suka mata mu" kata chai .


"cepat ke arah sana jaga jaga" kata hary "oke oke" kata bodyguard yang lain nya "bruagg" seorang pria berpakaian hitam jatuh dari ketinggian "yeay tepat sasaran akia" kata akemi akia menyimpan senjata nya "satu pria mengatakan al satu pria fe berarti ada dua orang di balik penyerangan ini" kata chai sambil menatap dhika "mama juga dalam bahaya kemungkinan mereka mengincar monnie dan mama" kata chai sambil melepaskan jas nya yang sudah kotor.