
"paman.. aku bisa meminta ponsel baru " kata jeje "ponsel baru? " kata shiba "iya paman tapi jika mau tidak bisa tidak papa" kata jeje "kalau begitu ayo kita keluar cari ponsel yang cocok untuk mu" kata shiba "benarkah paman? " kata jeje "iya sekalian mencari baju untuk mu" kata shiba sambil tersenyum.
Gilang menatap absen jeje yang kosong membuatnya teringat kejadian beberapa hari yang lalu di saat banyak orang yang datang ke rumah nya dan memukulinya "apa terjadi sesuatu padanya? apa jeje di culik? apa yang harus ku lakukan apa aku harus melaporkan kepada polisi tapi aku harus bilang apa buktinya tidak ada" kata Gilang.
niko menatap seorang pria yang dia kenali sedang bersiap ingin masuk ke dalam mobil "Hai.. tuan.. tuan!! " niko berlari sekencang mungkin "tuaaann" niko menghampiri pria itu beberapa pengawal langsung berjaga jaga "waaah!!?? " niko terkejut pria itu di jaga beberapa pengawal "tuan.. aku mengenali mu.. kau yang bersama pak polisi itu kan yang waktu itu di dalam mobil dan juga rumah sakit" kata niko "kau mau apa? " tanya salah satu dari pengawal "biar kan dia mendekat" kata chai ketika dia menyadari ada tas milik jeje yang di pegang niko "tuan.. dimana rumah pak polisi itu hu..m aku mau mengatakan padanya kalau aku menemukan tas milik jeje di jalanan" kata niko chai mendekati niko "aku kakak nya" kata chai "tuan kau kakak nya jeje? " tanya niko chai tidak menjawab dia langsung mengambil tas yang di pegang niko membuka isinya "tas ini di temukan di jalan asoka anak anak yang menemukan nya jadi aku meminta nya dan ingin memberikannya ke jeje namun jeje beberapa hari ini tidak ke kampus tuan" kata niko chai tidak mengatakan apapun dia langsung dan masuk ke dalam mobil niko terdiam menatap mobil itu pergi "sekarang aku tau kenapa jeje dingin " kata niko sambil mengelap keringat di dahinya.
jeje melihat lihat sekitar nya "oh ya pama--ay.. ayah hum.. " jeje terlihat kaku shiba tertawa kecil melihat wajah jeje "jangan kaku sekali lakukan seperti biasa kau lakukan di keluarga mu" kata shiba jeje terdiam "hum.. di rumah tidak ada ayah" kata jeje shiba menatap jeje "kalau begitu lupakan ayo kita beli ponsel dulu" kata shiba sambil menggandeng tangan jeje "apa rasa nya begini ya jika di gandeng seorang ayah" fikir jeje sambil menatap shiba "halo aku mencari ponsel untuk putri ku" kata shiba "silahkan di pilih" kata penjual ponsel "berikan saja ponsel yang terbaik" kata shiba "oh.. tidak pam--ayah.. yang sederhana saja" kata jeje "tidak papa berikan yang paling terbaik" kata shiba "ini model yang terbaru yang paling terbaik untuk putri mu" kata penjual ponsel "baik lah aku ambil ini" shiba mengeluarkan sebuah kartu "sekarang kita beli baju untuk mu kemungkinan dua hari lagi pekerjaan ku selesai" kata shiba sambil tersenyum selanjutnya mereka pergi ke toko baju "di sini tidak ada rompi anti peluru" bisik shiba "rompi? " kata jeje "aku melihat di kamar mandi ada rompi anti peluru apa kau yang memakai nya? " kata shiba "iya ay. ayah.. kakak menyuruh ku memakai nya karena banyak orang yang menginginkan aku mati" kata jeje "hidup mu ekstrim ya" kata shiba "tolong aku mau baju untuk putri ku" kata shiba "mari nona " kata pelayan jeje menatap shiba "maaf dia tidak mengerti bahasa mu biar aku temani " kata shiba sambil menarik tangan jeje "dia bilang ayo cari bajunya" kata shiba jeje hanya diam mengikuti shiba.
jojo menatap memo "dari mau kau tau jeje di culik" kata jojo "aku tau dari salah satu pengawal di pabrik, di bilang waktu itu kan mau ke pabrik untuk beberapa hari setelah pulang dari kampus jadi aku mau kesana mampir dan mereka mengatakan kalau nona jeje hilang" kata memo "dia hilang bukan di culik" kata jojo "tapi lihat lah ponselnya saja tidak bisa di hubungi" kata Ariel "niko" kata desi niko membeku di depan pintu "niko kami cuma bercanda" kata memo "hah.. jadi.. itu sebabnya tasnya beserta isi nya berserakan di jalanan " kata niko "isi tasnya berserakan? " kata jojo "dia.. dia dalam bahaya" niko langsung lari keluar "niko tunggu!!! " kata jojo "niko!! " kata wahyu sambil mengejar niko yang berlari dengan cepat.
malam harinya...
jeje menatap ponsel barunya.. "apa aku harus menelpon nya" fikir jeje "tapi.. apa yang aku mulai" kata jeje "halo.. tidak.. oi aku minta kau ke rumah ku tidak juga nanti kakak akan tanya siapa pria ini tapi!! bagaimana kondisi kakak sekarang" kata jeje "kakak... aku mencemaskan mu" kata jeje. "aku mencemaskan mu adikku" kata chai sambil menatap tas milik jeje "kau bahkan tidak membawa apapun di mana kau berada.. demi Tuhan.. aku akan menembak kepalaku" kata chai. wahyu merangkul niko erat erat "tenang adikku.. tenang lah" kata wahyu "tenang niko" kata Ariel "yu.. waktu itu para orang jahat memukuli tubuhnya dengan keras bagaimana jika orang jahat itu juga yang menculiknya.. aku gak berguna" kata niko "sabar niko.. tuan chai tidak akan tinggal diam" kata memo "baby... katakan kalau kau baik baik saja" kata niko dengan sedih "niko ponsel mu berbunyi" kata jojo "tarik nafas dan tenang lah" kata Ariel niko menatap nomor asing di layar ponsel nya "nomor asing" kata niko "tapi dia menelpon sudah dua kali mungkin penting" kata jojo "halo" kata niko "halo ini siapa? " tanya niko "pecundang" niko menatap wahyu dengan mata berkaca kaca "baby.. ini kau" kata niko "bisa kau melakukan apa yang ku mau" kata jeje "kau.. kau dimana? aku.. aku mengkhawatirkan mu.. kau dimana apa kau baik baik saja" kata niko air mata nya menetes "tolong jawab aku baby.. kau baik baik saja" kata niko "aku baik baik saja" kata jeje "aku.. aku ingin menjemput mu" kata niko "bisa kau mendengar kan aku" kata jeje "baik.. baik" kata niko "bisa kau mencari seseorang dengan nama Ariel" kata jeje "dia yang ada di tempat kita kabur bersama" kata jeje "aku tau" kata niko "telpon aku jika sudah bertemu dengan Ariel" telpon terputus niko menatap Ariel "tenang dia bilang dia baik baik saja" kata wahyu "telpon dia" kata jojo "baik" kata niko "sudah? " kata jeje "iya" kata niko "Ariel kau di sana? " kata jeje "ya jeje kau baik baik saja? " kata Ariel "aku baik baik saja bisakah kau menemui kakak ku? " kata jeje "kakak mu malam malam begini? " kata Ariel "iya jika kau bisa ku yakin kakak sedang di rumah" kata jeje "baik lah" kata Ariel .
chai keluar dari rumah dan terlihatbersiap hendak pergi "kak chaaaiii!!! kak chaaaiii" chai menoleh ke arah gerbang "kak chaaaii!!!! " kata Ariel dengan kuat chai menatap seorang wanita di depan gerbang "tap!! " Ariel langsung mematung dengan yang lainnya ketika laser merah mengarah ke tubuh mereka "mati kita" kata jojo "apa ini? " kata niko "jangan buka helm mu" kata jojo "tuan mereka--" kata salah satu pengawal chai berjalan mendekati gerbang "kita sudah di bidik salah gerak kita mati" bisik memo "kak chai" kata Ariel dengan suara yang sangat pelan chai mengangkat satu tangannya seketika laser merah itu langsung menghilang "mereka tema adikku" kata chai para pengawal mengangguk "kak chai hum.. ak.. aku boleh bicara" kata Ariel "kau mau apa? " kata chai "aku merasa malaikat maut ada di dekat leher ku" kata niko dalam hati "aa.. adikmu.. adikmu aa" Ariel tidak bisa melanjutkan bicara nya "adikmu menelpon kami kak, karena dia lupa nomor ponsel mu" kata jojo ponsel yang di tangan Ariel berbunyi "jangan coba bicara sembarangan" kata chai "Ariel.. kau sudah sampai? " chai menatap ponsel itu suara adiknya terdengar jelas "ka.. kam.. kami.. di depan nya" kata Ariel "kakak" kata jeje Ariel memberikan ponsel nya ke chai "kakak kau baik baik saja?" tanya jeje "kau dimana?" chai mengusap wajahnya "kakak truk apel mu mencoba menculik ku mereka mengikat ku dan mengambil semua barang ku kau harus berhati hati " kata jeje "kau di mana anak bodoh apa kau baik baik saja" kata chai "kau sangat emosional aku baik baik saja " kata jeje 'kakak kau baik baik saja"kata jeje "katakan di mana lokasi mu aku akan ke sana" kata chai "cepat katakan" kata chai "kakak tenang lah aku akan pulang satu hari lagi, tapi kau harus tenang aku tidak apa apa di sini aku akan kembali seorang pria menolong ku dia menemukan ku di dalam peti kemas" kata jeje "kakak.. bersikap santai lah jangan membuat teman ku takut" ucap jeje "aku mau menjemput mu" kata chai "kakak.. aku tidak di Indonesia" kata jeje "lalu.. kau dimana.. kau dengan siapa kau tidak membawa apapun" kata chai "kakak.. kau jangan panik dengar kan adikmu ini.. tarik nafas hembuskan perlahan aku sedang ada di sebuah hotel orang yang menemukan ku membelikan aku baju, makanan dan juga ponsel ini kau harus membayar nya saat aku tiba di bandara" kata jeje "aku ingin melihat mu anak bodoh aku tidak peduli kau dimana sialan" kata chai "kau marah pada ku ya? kalau begitu aku akan tetap tinggal di sini aku tidak mau pulang" kata jeje "tidak aku tidak marah, tapi.. bisakah aku melihat mu sekarang aku tidak aku tida--" kata chai "kirim nomor mu melalui ponsel ini aku akan mengirim kan sebuah video untuk mu agar kau percaya aku baik baik saja ku harap kau tidak memarahi atau memukul pengawal ku" kata jeje "mereka sedang tidak di sini mereka mencari mu" kata chai "pantas saja kakak tau aku mencoba mengingat nomor mu tapi selalu salah untung nya aku ingat nomor ponsel kak lim aku menelpon nya berkali kali namun tidak ada jawaban" kata jeje chai teringat di saat may menemukan ponsel lim dan dia melemparkan nya ke kolam "kakak.. kau jangan kawatir aku akan kembali jangan lupa berikan nomor mu melalui ponsel yang kau pegang" kata jeje "ya.. tapi apa kau terluka? " tanya chai "aku baik baik saja kakak sekarang cepat kirim nomor mu kak dan biarkan teman ku tidur ini sudah malam" kata jeje "cuma teman mu? " kata chai "maksud nya? " kata chai "tidak jadi" kata chai "haha.. kakak.. good night pergilah tidur dan suruh pengawal ku pulang" kata jeje "hum.. kau hanya memikirkan pengawal mu" kata chai "kakak ku.. pergilah istirahat aku tidak sabar ingin memukul mu dengan sepatu ku" kata jeje "cepat kembali" kata chai jeje langsung memutuskan panggilan mata chai langsung menatap Ariel dengan tatapan yang tajam "ponsel siapa ini? " kata chai Ariel baru menyadari wallpaper ponsel niko adalah foto jeje "po.. pon.. ponsel " kata Ariel "ponsel ku kak" kata desi "kau memakai foto adikku" kata chai "hum.. iya kak.. jeje juga tau kak.. hum jika tidak boleh aku akan ganti" kata desi "tidak masalah ku fikir ini ponsel orang lain" kata chai "kak.. kami pamit dulu ya" kata jojo chai mengangguk sambil mengeluarkan ponselnya menelpon para bodyguard nya untuk kembali ke rumah.