
jeje turun dari mobil dia melihat rumah besar di hadapan nya "ayo je" kata anggel jeje pun berjalan mengikuti anggel "kakek , nenek aku pulang" kata anggel "kemarilah" kata seorang wanita tua "lihat aku bawa siapa" kata angel mendadak anggel terkejut melihat kakek nya memakai hoodie hitam dan juga jam tangan "oh.. jeje " wanita tua itu berdiri dan hendak memeluk jeje "hentikan! " jeje mundur selangkah wanita itu terkejut melihat reaksi jeje "nenek jangan peluk dia, ayo je duduk makanan sudah siap" kata anggel "mari mari duduk" kata kakek anggel "ayo je" kata anggel jeje pun duduk "kau suka minum soda tidak, kakek ini suka sekali minum soda dari masa muda" kata kakek anggel tetapi jeje hanya diam saja "dia benar benar dingin" kata anggel "jangan terlalu kaku ini pegang" kakek anggel memberikan segelas soda ke jeje "bersulang" kata kakek anggel Sambil menyentuh gelas jeje dengan ujung gelas nya "nenek hanya masak sedikit, kau ingin makan yang mana? " kata nenek anggel "ayo je, pilih aja" kata anggel jeje melihat makanan di meja "nih ambil daging ini, dan juga coba sup ini. cewek harus banyak makan sayur apalagi saat usia muda seperti mu" kata nenek anggel sambil mengambilkan beberapa makanan untuk jeje "cukup" kata jeje lalu dia mengambil sendok dan mulai mencoba sup di depan nya "gimana enak tidak? " kata kakek anggel jeje terdiam sesaat "tidak terlalu buruk" kata jeje "kau jangan terpaksa jika tidak enak katakan saja" kata kakek anggel "hm" jeje mengangguk sekali "ini daging panggang" nenek itu meletakan sepotong daging ke piring jeje "kau tinggal dengan siapa je? " tanya kakek anggel "dengan orang" kata jeje "anggel selalu menceritakan dirimu" kata nenek anggel "oh" kata jeje "kau berapa bersaudara? " tanya nenek anggel jeje meletakkan sendok nya lalu mengambil tisu "terimakasih, atas makanannya salam" jeje langsung pergi "jeje" anggel mengejar jeje "aku sudah makan, apa lagi yang kau mau? " kata jeje "kau baru makan sedikit" kata anggel " aku harus pergi" jeje tetap pergi "kenapa dia pergi" kata nenek anggel "dia anak yang butuh kehangatan" kata kakek anggel jeje berjalan setelah agak lama kal datang "15 menit pas kan? " kata jeje "sipp aku kita pulang" kata kal.
milli melihat jeje yang sedang melihat ponsel nya tidak seperti biasa "ada apa nona? " kata milli jeje menoleh melihat milli meletakan segelas jus di depannya "tidak ada" kata jeje "jangan berbohong, kau kelihatan nya sedang bingung apa ada sesuatu di kampus, atau ada tugas yang susah" kata milli "jangan sungkan cerita saja aku ini pengasuh mu" kata milli jeje menarik nafas panjang "yah, kak milli aku sedang bingung sebenarnya ada yang mengganggu otakku" kata jeje "katakan saja" kata milli sambil duduk di samping jeje "tapi jangan cerita ke kakak dulu ya" kata jeje milli mengangguk "di kampus ada beberapa orang yang bilang aku ini temannya, katamu jika begitu tandanya mereka pasti ingin berteman dengan ku. tapi ku rasa tidak meskipun mereka terus berusaha mendekat terus pada ku aku tidak peduli " kata jeje "tapi mereka tidak menyerah juga mereka terkadang menarik tangan ku mengajakku makan, keluar, menonton bola" kata jeje "terkadang aku bingung aku harus apa dan bagaimana cara menghadapi orang orang seperti itu, mereka seperti tidak waras" ucap jeje milli tersenyum "jeje.. orang yang menganggap kita teman akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk kita, tidak peduli kita tidak menyukai nya tapi jika dia teman sejati dia tidak akan meninggalkan kita. dia akan terus maju mendekati kita, dan juga orang yang berteman dengan kita itu tidak salah mereka bukan tidak waras, mereka melakukan itu dengan sadar mungkin mereka menganggap kita orang yang baik, orang yang pantas di ajak berteman" kata milli chai masuk ke dalam rumah tetapi dia berhenti ketika mendengar suara milli di dalam ruangan santai jeje "dan kita juga tidak salah berteman dengan mereka selagi mereka baik kau tau kal dan jerico meskipun terlihat yang satu dingin yang satu cerewet dan bahkan terkadang bertengkar tetapi mereka tetap berteman mereka saling menerima satu sama lain melengkapi satu sama lain itu teman mereka tidak akan meninggal kan satu sama lain dalam keadaan apapun" kata milli "aku ingin cerita ke kakak tapi rasa nya aneh" kata jeje "kalau begitu saja pada ku" kata milli "di kampus ada orang bernama rizi, hum.. yang satunya.. hum .. ma.. hum.. oh mawar dan satu lagi anggel mereka selalu saja membuat ku sedikit terganggu. mereka akan berteriak jeje ayo ke kantin bersama, jeje ayo nonton basket, jeje teman ku mereka sering berkata begitu kau tau gelang yang ini, ini dari mawar dia bilang ini hadiah aku merasa bingung tapi dia memakainya untuk ku mereka seperti tidak waras mereka tidak tau aku itu orangnya seperti apa, jika mereka tau aku suka memukul orang, dan juga merusak barang orang" kata jeje "kau tau kenapa mereka seperti orang yang tidak waras bagimu? " ucap milli jeje menggeleng kan kepalanya "mereka waras, dan sadar cuma bagimu mereka tidak waras mereka mengajakmu, menyapa mu karena mereka menganggap mu teman jika kau menganggap mereka teman kau akan melakukan hal yang sama seperti kau mengajak jerico keluar belanja, mengajak kal memberi makan nikoko karena itu lah seorang teman dia tidak ingin teman yang lain merasa dirinya sendirian dia akan selalu mengajak temannya yang lain untuk bergabung bersama" kata milli "apa kau dulu juga begitu? " kata jeje "ya.. ya aku dulu juga begitu, bahkan bukan cuma orang seperti mu juga banyak " kata milli "kak chai berarti pernah begini juga dong" kata jeje milli mengangguk "kau hanya merasa mereka tidak pantas berteman dengan mu, makanya kau menganggap mereka tidak waras" kata milli sambil tersenyum "hum.. ada lagi" kata jeje "hum.. namanya.. hum.. gila.. eh.. sila. eh bukan dial bukan dila ya dila dan vito mereka sekelas dengan ku, mereka juga sama seperti rizi" kata jeje "lalu mengapa kau tidak mencoba berteman dengan mereka? " kata milli jeje menggeleng kan kepalanya "tidak" kata jeje "kau tidak percaya dengan mereka, coba lakukan satu hal di depan mereka untuk membuktikan kalau mereka teman yang atau tidak" kata milli "hum, memang nya bisa? " kata jeje "bisa, besok kau ke kampus saat melihat mereka berpura-pura lah jatuh" kata milli "ooh" kata jeje "tapi.. hum jangan bilang kak chai dulu ya, waktu aku mau membelikan kak chai cumi panggang aku melihat mereka di serang orang awalnya aku hanya ingin melihat saja tapi entah mengapa ketika melihat rizi mencoba bertahan melindungi yang lain tubuhku jadi ikut bergerak menurut mu itu kenapa apa ada hantu yang mendorong ku? " kata jeje "tidak, tidak ada hantu yang mendorong mu itu namanya rasa kepedulian yang mendorong mu untuk melakukan sesuatu " kata milli "kak chai begitu dia pernah cerita tentang kepedulian" kata jeje "kepedulian penting, bahkan tanpa kita sadari kepedulian terkadang bisa mengendalikan tubuh kita untuk melakukan hal yang baik seperti menolong orang tidak perduli ada bahaya di depan kita akan terus maju melakukan nya" kata milli "tapi aku mereka mereka berlebihan, mereka selalu sok akrab dengan ku bahkan menarik tangan ku. aku merasa aku dan mereka itu berbeda aku hitam mereka putih da--" kata jeje "dan dalam pertemanan tidak ada yang berbeda semuanya sama kita sakit teman kita akan merasakan sakit kita senang teman kita juga akan lebih senang" kata milli "baik baik lalu gimana dengan berpura-pura tadi" kata jeje "berakting lah seakan akan kau jatuh" kata milli "tapi... hum seperti ini" jeje berdiri lalu menjatuhkan diri nya "tidak tidak.. begini" kata mili chai tersenyum "kau sangat mirip dengan ku nong" guman chai.
keesokan nya..
chai melihat jeje turun dari tangga "oi.. oi sarapan apa hari ini" kata jeje "lihat saja sendiri" kata chai "kak chai jadwal mu hari padat sekali kau harus lebih banyak makan jangan sampai kau sedang bicara dengan orang perut mu berbunyi" kata jeje chai tersenyum "kau juga makan yang banyak jangan sampai merepotkan teman mu di kampus" kata chai "hum? " jeje menatap chai yang sedang memakan makanannya "ini makan ikan salmon ini dia lebih banyak gizi ketimbang permen mu" kata chai "kak chai barusan bilang teman" fikir jeje .
kal mengawasi jeje dari dalam mobil dia melihat jeje naik motor hitam "mau apa lagi ini telat sekali" fikir kal jeje turun dari mobil masuk ke toko "nih" jeje membayar di kasir "temanku akan datang menjemput nya" kata jeje "siap nona seperti biasa kan? " kata kasir "yap! " jeje pergi lanjut naik motor dia melihat gerbang sudah tutup "sudah ku duga" kata kal "pak titip motor" kata jeje sambil melepaskan helm dari kepala nya lalu pergi ke tempat biasa dia melompat. jojo datang ke toko tempat jeje tadi "halo bro itu barang barang nya" kata kasir "iya terimakasih" jojo mengangkat beberapa barang barang "udah di pisah? " kata Ariel "sudah tinggal kita bagiin saja" kata jojo.
jeje melompat dia mengerutkan dahinya melihat ada kursi di bawahnya "cepat lompat dosen sudah menunggu!! " jeje menoleh terlihat niko tak jauh dari tempat nya "oi.. oi apa gunanya kau letakan kursi ini? " kata jeje "agar kaki mu tidak sakit" niko langsung pergi "sakit dari mana? kaki ku tuh kuat" jeje menurunkan kakinya ke kursi lalu segera pergi sambil membawa sketboard nya "grriit! " jeje membuka pintu terlihat niko sedang menulis sesuatu di papan tulis "wah ada yang terlambat" kata niko "bukan urusan mu! " jeje masuk "hei!! siapa yang menyuruhmu duduk! " kata niko "kak niko lagi gantiin salah satu dosen yang tidak bisa " kata dila jeje membuka permennya dan mulai memakannya "catat tugas kalian aku mengawasi dan kau yang terlambat sini maju" kata niko "jeje" bisik vito "dia juga terlambat bukan cuma aku" kata jeje "kau tidak dengar kau yang terlambat cepat maju" kata niko jeje menatap ke arah niko "jangan sok sinis cepat sini! " kata niko "huh! " jeje berdiri "apa mau mu? " kata jeje "kau maju kemari" kata niko "bawa tas mu" kata niko jeje pun berjalan ke depan "bilang saja kalau aku tidak boleh gak usah banyak bicara! " jeje hendak pergi niko langsung menahan tangan nya "tidak ada yang menyuruhmu pergi" kata niko sambil menarik tangan jeje agar duduk di kursi di depan "aku mendengar kau jarang buat tugas atau catatan jadi kau catat apa yang ku buat di papan tulis di sini aku akan mengawasi mu" kata niko "berengsek" jeje duduk dan mengeluarkan ponsel nya "aku suruh kau mencatatkan bukan main ponsel" niko mengambil ponsel jeje "kalian semua kerjakan tugas nya dengan benar" kata niko "aku tidak akan mengerjakan nya" kata jeje tiba tiba niko mengulurkan tangannya dekat wajah jeje "keluar kan permen mu sekarang! " kata niko "TIDAK! " kata jeje niko menyipitkan mata nya "jangan sampai aku yang mengeluarkan nya dengan paksa" kata niko "duh.. gimana bisa fokus" fikir hima "tangan ku bergetar" bisik shela "ayo keluar kan dan kerjakan tugas nya" kata niko sambil menatap jeje "jika aku mengeluarkan nya ku yakin kau akan tidak akan sadarkan diri karena tidak bernafas" kata niko pelan "coba saja " jeje menatap mata pria di depan nya "baik, aku akan suruh mereka tutup mata dulu baru aku akan mengambil permen nya " kata niko dengan suara yang pelan "dengan ciuman" bisik niko jeje terlihat kesal "nih ambil" jeje mengeluarkan permen nya ke tangan niko "anak baik kerjakan tugas nya atau aku akan mengawasi mu sampai malam " kata niko "maka aku akan membunuhmu" kata jeje "kerjakan tugas nya semangat semuanya! " kata niko "kakak tinggal dulunya " niko pergi keluar jeje lanjut mengeluarkan permen tangkai dari sakunya "sok ngatur ya " jeje mengunci pintu nya lalu tidur.
niko mengambil tasnya lalu kembali pergi "loh" dia tidak bisa membuka pintu nya "hei! " kata niko "griit" baim membuka pintu "kenapa di kunci? " kata niko "jeje yang mengunci nya" kata baim niko mengangguk lalu mengambil kursi dan duduk dekat jeje yang sedang tidur niko mengambil ponsel dan berfoto dengan jeje "hei" niko mengetuk kepala jeje dengan buku "hei.. bangun kerjakan tugas nya!! " kata niko jeje membuka mata "eh" jeje melihat niko sudah di samping nya "yang tidak mengerjakan tugas akan di pajang di mading sampai malam" kata niko sambil melihat jeje "cih" jeje terlihat tidak peduli "di larang makan permen" niko mengambil permen dari mulut jeje dan memasukan ke dalam pelastik nya kembali "ayo tulis! " kata niko "huh!! " jeje membuka tasnya "aha.. aku ada ide" fikir jeje lalu di menatap niko "aih.. sial aku tidak membawa buku, aku akan keluar bentar mengambil buku ku di loker" kata jeje "oh, jangan kira aku tidak tau rencana mu " fikir niko lalu dia menunduk sedikit melihat wajah jeje lebih dekat "adik manis dan juga baik hati kau tidak perlu capek capek keluar" niko meletakan buku di depan jeje "nah pakai ini aku bawa dia buku. jangan cari alasan cepat kerjakan" kata niko "****" guman jeje "udah ada yang siap? " tanya niko "sedikit lagi kak" kata baim "aku sudah" kata hima "yang sudah kumpulkan saja bukunya" kata niko archie melihat jeje dari jendela "kenapa bisa jeje duduk dekat niko" fikir archie tak lama kemudian suara bel terdengar "kumpulkan buku kalian di depan" kata niko sambil melihat beberapa orang mulai maju mengumpulkan buku "jeje ayo" kata dila "kalian duluan saja dia belum siap" kata niko "tapi kak bel susah bunyi" kata dila "kalian keluar saja! " kata niko lalu dia menatap jeje yang terlihat sedang menulis "sudah belum" kata niko "nih" jeje mendorong buku itu ke niko "hah? " niko terkejut melihat gambar jari tengah "heh" niko menarik tangan jeje agar tetap duduk "kenapa kau tidak mengerjakan nya? " kata niko "aku tidak bisa dan menulis" kata jeje "ooh.. gitu yah, tetap duduk" kata niko jeje membuka permen tangkai lagi niko menulis "apa kau tuli, bel sudah bunyi" kata jeje "berani kau keluar aku akan mencium mu sampai kau lupa bernafas" kata niko "maka aku akan membunuh mu" kata jeje "ya sudah coba saja pergi di depan semua orang aku tidak takut mencium mu" kata niko sambil mendorong buku ke jeje "kerjakan" kata niko "huh" jeje melihat ke arah buku di depan nya niko sudah menulis kan soalnya "harus aku yang menulis jawabannya? " kata niko "gak perlu" jeje pun mulai menulis dengan muka kesal "aku suka melihat mu dari pada muka datar" kata niko sambil mengambil permen tangkai dari mulut jeje "jangan ganggu! " kata jeje dia melihat niko memakan permen bekasnya "ya ya kerjakan lah" ucap niko.
rizi melihat sekitar "kenapa aku tidak melihat jeje ya? " kata rizi "dia masih ngerjain tugas di kelas" kata vito yang kebetulan lewat "tumben" kata mawar. "nih" jeje mendorong bukunya niko pun melihat "nah bagus.. gitu dong" niko berdiri "eh, tunggu dulu" kata niko di saat jeje baru jalan selangkah "hei sialan, aku sudah menahan amarah ku ya dari tadi! kau selalu saja sok berkuasa dan sok ben--" jeje diam ketika niko menyentuh kepalanya "terimakasih kerja samanya sayang" niko tersenyum lalu pergi jalan "heii.. berani sekali kau **** you niko!! " kata jeje niko hanya terkekeh dan pergi. jeje pun keluar sambil membawa sketboard nya "duh.. lapar" kata jeje "hei.. jangan pakai sketboard di sini!! " kata aciel "dimana mereka ya? " fikir jeje sambil terus menambah kecepatan sketboard nya "jeje!! " anggel melambai membuat jeje sedikit terkejut karena anggel muncul tiba tiba di tangga "sial!!!! " jeje kesulitan menghentikan kecepatan sketboard nya membuatnya jatuh di tangga "ya ampun jeje!!" kata anggel "itu dia" kata mawar "oi.. oi.. sial banget" kata jeje "ya ampun aku ambil es dulu" kata rizi "maaf ya.. maafkan aku " kata anggel "tidak papa" kata jeje "tapi.. tapi lututmu sakit" kata anggel "coba lihat" kata mawar "tidak kok" kata jeje sambil menaikan sedikit celananya ternyata lututnya berdarah "ini es nya" kata rizi "ya ampun jeje" kata dila "****.. kalian berisik sekali ini tidak papa awas! " kata jeje "tidak papa gimana lutut mu berdarah" kata vito "sini sini" dila berlurut di depan jeje lalu mengeluarkan handuk kecil dan Mengompres luka di lutut jeje kal yang melihat itu tersenyum "semoga kau memahami kepedulian mereka" kata kal "ada apa ini" kata Tini "jeje jatuh" kata anggel "ya ampun.. ini harus di obati" kata Tini "eh!! " jeje langsung berdiri di saat Tini mau menyentuh nya "jangan coba coba! " kata jeje "tidak.. tidak.. jangan kwatir aku tidak melakukan apapun tapi. tapi itu harus di obati" kata Tini "iya je bu Tini benar" kata rizi "ayo ikut aku" kata Tini.
jeje melihat Tini mengobati lukanya mawar memegang tangan jeje karena kwatir jeje akan memukul tini, "mawar pergilah" kata jeje mawar langsung melihat jeje "kau tidak tuli kan? " kata jeje "pergilah mawar " kata Tini sambil membalut lutut jeje dengan perban mawar pun keluar "sudah cukup! " kata jeje "tunggu sebentar lagi" kata Tini "dia juga orang yang tidak pernah menyerah untuk mendekati ku" fikir jeje "nah ini sudah selesai" Tini tersenyum "minum lah air mineral ini, agar tubuhmu kembali segar" kata Tini "tidak perlu" kata jeje "kenapa kau bisa ceroboh, sampai terjatuh begini lain kali gunakan pengaman di saat ingin bermain sketboard" kata Tini "jangan sok baik" jeje berdiri "ya.. tapi bisakan kita jadi teman" kata Tini "jika kau berhenti bermain drama aku akan berada di samping mu! " kata jeje "jadi kau masih berfikir ini drama? kau salah ini hanyalah naluri seorang ibu ketika melihat anaknya terluka. seorang ibu tidak bisa melihat anaknya terluka walaupun hanya goresan kecil, luka anak adalah duka seorang ibu" kata Tini "mama pernah bilang padaku saat aku mengalami cedera saat latihan. aku mendorong mama karena aku merasa mama berlebihan seakan akan meremehkan ku tapi mama bangun dan menghampiri ku dan bilang luka anak adalah duka seorang ibu" jeje teringat perkataan chai "kenapa bisa sama" fikir jeje "sekarang jangan main sketboard dulunya, kaki mu masih luka" Tini menyentuh kepala jeje Tini tersenyum melihat jeje terdiam "jangan pegang aku! " kata jeje lalu dia berjalan membuka pintu "jeje" kata Tini "berbalik sebentar" kata Tini "apa lagi mau mu? " kata jeje sambil berbalik jeje kembali terkejut melihat Tini berlutut di depan nya "tali sepatu terlepas, kau bisa jatuh lagi nanti" kata Tini "apa ini? " fikir jeje ketika dia merasakan ada kehangatan memasuki tubuhnya dengan perlahan "kenapa suhu udara berubah? " fikir jeje "nah.. sudah selesai sekarang pergilah" kata Tini sambil tersenyum jeje masih diam mematung "apa apaan ini" fikir jeje "kenapa je? " tanya Tini jeje melihat sekitarnya lalu pergi keluar "gimana luka mu? " tanya rizi "iya gimana? " kata dila "aku lapar" kata jeje "oh, kalau begitu kita makan bersama" kata vito jeje mengangguk.
jeje melihat makanan di depannya "kak milli benar mereka langsung menolong ku dan sangat peduli dengan ku" fikir jeje "aku melihat kau jarang sekali makan nasi je" kata rizi "aku makan nasi terlalu banyak di rumah anggel" kata jeje "wah, kau sudah pernah ke rumah anggel? " kata vito "gimana rumahnya apa lah besar? " kata rizi "jangan banyak tanya aku mau makan" kata jeje "selamat makan!! " kata mereka.
alder melihat sebuah foto membuat nya kembali teringat masa lalunya di mana dia melihat orang tua nya di tangkap polisi karena korupsi dan juga pembunuhan, dia juga teringat beberapa orang dari perusahaan xia Fu melempari orang tuanya dengan telur busuk, "orang tuaku tidak salah yang salah mereka" guman alder lalu dia melihat sebuah foto gedung besar "lari alder.. lari yang cepat!! " "lari nak!! " alder teringat ada orang ramai yang mengejar nya dan ibunya lalu alder melihat beberapa mayat di depan nya "pembalasan nya baru dimulai ibu, mereka yang membuat hidup kita hancur akan hancur berkeping-keping" kata alder "tuan, rapat akan di mulai kita harus berangkat ke kantor" mata athan "iya" kata alder.
keesokannya..
han mengendarai mobil pergi ke sebuah tempat dia menemui seseorang dengan tato naga di pipinya "aku mau menyewa dua orang anggota mu" kata han.
jeje melompati pagar "hm"jeje terkejut ketika ada cahaya sekilas ke arah nya " tidak bisakah kau masuk lewat gerbang! "kata niko dengan kamera di lehernya " bukan urusanmu! "kata jeje " huh"jeje menendang niko baru pergi niko hanya tertawa "pagi je" sapa archie sambil melihat niko yang berdiri di belakang jeje "pagi" kata jeje lalu dia pergi "kau dengar kan dia menjawab ku" kata archie sambil tersebut "tapi hati nya untuk ku" kata niko lalu dia pergi.
leo menepuk bahu niko "gimana bro? " kata leo "apa? " niko menatap leo "jangan pura pura tidak tau, gimana jeje? " kata leo "yah.seperti biasa" kata niko "aduh.. kau ini jangan terlalu dingin sekali, bawa kan dia sesuatu seperti bunga, atau apapun yang dia suka" kata leo "betul tuh" kata adhi "iya iya" kata niko.
selesai kelas vito berbalik melihat jeje "jeje ke kantin bersama yuk" kata vito "iya yuk bareng yuk" ajak dila "hum" jeje mengangguk "eh kak archie" kata vito "Hai je, mau makan bersama? " kata archie jeje terdiam dia melihat ke arah kedua temannya dan terlihat tak jauh dari tempat mereka ada niko dan leo "kalian pergilah aku akan ikut dengan nya" kata jeje "eh.. o. ok" kata dila "ayo" kata archie sambil mengulurkan tangannya seperti biasa jeje tersenyum dia tau ada niko yang melihat ke arahnya niko mengepalkan tangannya "aku bosan makan di kantin" kata jeje "hum.. jadi kau mau makan di luar? " tanya archie "hm" jeje menganggukkan kepala archie tersenyum senang "kau oke oke baiklah kita bisa pergi sekarang" kata archie jeje menganguk lalu memegang tangan archie "tips agar orang yang menyukai kesal adalah dekat dengan orang lain, bergandengan tangan" jeje tersenyum teringat perkataan akemi archie tersenyum puas lalu melirik ke niko "niko" leo memegang tangan leo yang terlihat sudah siap memukul archie.
"aku gak menyangka jeje mau ikut dengan ku" kata archie dalam hati "silahkan ini menunya" seorang wanita datang dengan dua buku menu "kau pesan saja apa yang ingin kau makan" kata archie jeje memperhatikan buku menu "mini cake blueberry, lobster besar saus pedas, dan sashimi salmon " kata jeje pelayan mencatat pesanan jeje "aku mini cake mangga, ramen, buah kering, daging panggang dan ayam bakar" kata archie "minumannya" kata pelayan "jus apel satu" kata jeje "aku sama" kata archie "baik silahkan di tunggu" kata pelayan itu "entah mengapa rasanya aneh duduk bersama nya" fikir jeje "ngomong ngomong apa aktivitas mu je? " kata archie tetapi jeje diam "sial!! jeje sadar " kata jeje dalam hati "aku suka tidur" kata jeje.
niko terlihat marah sorot matanya menjadi sangat tajam muka nya merah "jangan marah" kata wahyu "mungkin saja jeje hanya iseng" kata leo "dia.. dia tidak huh biasanya dia tidak mau tangan nya di pegang sama archie kalian lihat kan tadi" kata niko "ayolah je, kau kenapa mau pergi dengan nya ingat je... kita pernah makan bersama, jalan bersama aku hanya suka kau bersama ku tidak dengan archie" kata niko dalam hati "mungkin saja jeje ingin membuat mu menyerah, bukankah dia memberimu waktu untuk mendapatkan nya" ucap wahyu "nah.. benar tuh" kata leo "ayolah niko " kata wahyu.
archie memperhatikan gadis di depan nya yang sedang memakan cake mini dengan sangat sangat santai "hum.. cake nya enak kan? " kata archie "hm" jeje mengangguk "kau juga harus coba milikku, jangan katakan tidak hari ini kau akan mengiyakan apa yang ku mau" jeje menoleh "eh? " dia melihat archie di depan nya "sial!! " fikir jeje "kenapa? kau terlihat ingin mengatakan sesuatu" kata archie "aku sudah selesai" kata jeje "oh baik lah. pelayan!!! " kata archie pelayan pun datang "mau bayar" kata archie "hum baik ini silahkan bayar di kasir" kata pelayan archie mengangguk "eh" dia tidak melihat jeje "jeje! " archie melihat jeje sedang memesan sesuatu "kau membeli apa lagi? " tanya archie "cake ini enak jadi aku mau beberapa lagi" kata jeje "oh oke sudah selesai ? " kata archie "iya" jeje mengikuti archie "aku mau bayar" kata archie "oke bentar ya" wanita itu pun terlihat sedang menghitung "totalnya delapan ratus lima puluh enam ribu" kata wanita itu "oh" archie mengeluarkan tas kecilnya "nih" jeje mengeluarkan sebuah kartu dari sakunya "eh.. aku saja" kata archie "sudah, terimakasih "kata kasir jeje mengangguk lalu pergi.
" taxiii!! "kata archie sebuah mobil berwarna biru berhenti " ayo"kata archie jeje masuk ke dalam mobil "kau suka makan cake ya? " kata archie "ku rasa tidak" kata jeje "dia masih terlalu dingin" kata archie dalam hati "apa kau pernah pergi berdua seperti ini? " kata archie "barusan aku melakukan nya" ucap jeje "sudah sampai" kata supir taxi.
jeje berjalan membawa peper bag "jeje" rizi melihat jeje "kau mau kemana? " tanya jeje "mengantar buku buku ini ke ruang bu Tini" kata rizi "hum.. tunggu" kata jeje di saat rizi mau pergi "ada apa? " kata rizi "hum.. aku bawa sesuatu untuk mu dan mawar dan satu lagi itu" kata jeje "oh.. tunggu ya aku akan segera kembali" rizi berlari cepat tak lama kemudian dia sudah datang "kau mau memberi apa untuk kami? " kata rizi "mini cake" jeje mengeluarkan tiga box mini "wah.. ini pasti enak" kata rizi jeje menganggukkan kepalanya "aku ke kelas dulu" kata jeje rizi tersenyum lalu mengangguk "iya semangat ya teman" kata rizi jeje menatap rizi sekali lagi baru pergi "rasa nya canggung banget" ucap jeje dalam hati lalu dia masuk ke dalam kelas "kelas baru aja selesai kita akan masuk pelajaran ke empat" kata dila "hum" jeje duduk "hei.. kau tadi pergi kemana? " tanya vito jeje hanya diam "teman teman. bu nilam gak masuk jadi kita bebas" kata shela "ah masa? " kata baim "iya kita diam diam saja" kata brox "ke perpustakaan aja yuk kita main di sana" kata baim "yuk aku ikut" kata shella beberapa orang mulai pergi "jeje kau lama sekali" kata dila "kalian mau? " jeje mengeluarkan beberapa box mini "wah.. mau" kata vito jeje juga membuka satu untuknya "kak niko" kata dila ketika niko tiba tiba datang "bisa geser? " kata niko "oh" vito langsung pindah dekat dila "kau sengaja melakukan nya? " kata niko sambil menatap jeje, dengan perlahan jeje menatap niko "mengapa kau pergi dengan nya? " tanya niko jeje tersenyum sinis "aku pergi dengan siapun bukan urusanmu" kata jeje "oke oke bukan urusan ku ya, kau ingin melakukan apa saja oke terserah, apa ini trik licik mu ? kau pergi dengan nya ya itu urusanmu tapi jika kau ingin menggagalkan ku itu tidak berhasil, tapi jika kau ingin aku cemburu kau berhasil" kata niko "apa aku peduli? " kata jeje niko masih terlihat kesal "pergi sekarang! " kata jeje sambil menyendok cake mini di depannya "huh? " jeje terkejut di saat niko memegang tangannya dan memakan cake yang berada di sendok nya lalu kembali menatap jeje "tolong jangan buat aku sedih" kata niko "hm.maaf aku jadi marah marah padamu" kata niko "aku juga marah padamu" kata jeje "enak banget dia makan cake milikku" fikir jeje "jangan marah, aku minta maaf" kata niko "kau datang tidak di undang bicara panjang lebar seperti rapper, dan juga makan cake ku" kata jeje "aku hanya tidak rela melihatmu jalan dengan pria lain" kata niko "ini kenapa beda dari yang di katakan Akemi" fikir jeje "ketika orang itu melihat mu bergandengan tangan maka dia akan mundur perlahan dan menyerah" jeje masih ingat ucapan Akemi "jangan melamun" niko mengambil sendok dari tangan jeje lalu memakan cake yang yang di depan jeje "dia malah memakannya, gagal rencananya" fikir jeje "kau marah pada ku? " kata niko "kak niko di depan jeje berubah drastis" fikir vito "berani sekali kau memakan cake ku! " kata jeje "tidak boleh ya? " ucap niko "kenapa manusia menyebalkan seperti mu ha-- umm" niko tersenyum melihat wajah jeje "jangan bicara cake ini sangat enak kan" niko tertawa melihat jeje kesal yang barusan dia suapin "maaf sedikit belepotan" niko dengan santai mengelap sudut bibir jeje dengan tangannya "fikirkan cara lain" kata jeje dalam hati "plak! " jeje menampar niko "aku akan memukulmu jika kau menyentuh ku" kata jeje niko terdiam lalu kembali tersenyum "aw.. cake ini manis sekali membuat gigiku sakit" kata niko "dia tidak kesakitan? " fikir jeje.
Akemi melihat jeje masuk ke dalam rumah "kak Akemi " kata jeje "ada apa kemarilah" kata Akemi "kau masih menonton drama lagi? " kata jeje "kaya gak tau saja kelakukan Akemi" ucap akia yang lewat "kau tidak tau, drama ini mengajarkan banyak hal" kata Akemi "apa kau belajar memukul orang dari drama" kata jeje "ya.. sedikit kaya drama tentang mafia di sana banyak adegan pemukulan " kata Akemi "ini drama apa? " kata jeje "oh.. ini drama yang menyedihkan tentang cinta segitiga kau tau je, pria yang ini adalah pria yang di pilih keluarga wanita sedangkan si wanita sudah punya pacar" kata Akemi "aku benci drama" kata jeje dalam hati "tapi di pacar ini tetap mau berjuang tapi keluarga di wanita menghalanginya, bahkan keluarga si wanita juga gak segan segan menyakiti pacar nya itu aku sedih sekali" kata Akemi "aku bahkan tidak tau dia bicara apa" kata jeje dalam hati "karena dia tidak ingin pacar nya terluka akhirnya di wanita mengalah dia pura pura suka pada pria satunya bahkan dia sok romantis ini sedih banget" kata Akemi "lihat lah apa yang di lakukan wanita itu" kata Akemi.
jeje berbaring di kamarnya "baik.. kita harus cari cara agar si pecundang itu menyerah" kata jeje "tapi gimana ya? " fikir jeje "eh.. tunggu tunggu dia kan anak teladan, anak yang baik di mata orang orang payah itu. lalu hum aku akan lakukan sesuatu" fikir jeje.
di sebuah cafe..
"jadi kita harus cari cara" kata rizi "iya aku kasihan lihat kak niko di tampar tadi, setidaknya kita harus bantu mereka agar mereka lebih dekat" kata dila "hum.. aku tau" kata mawar "apa tuh? " ucap anggel "kita lakukan bersama kita bagi dua kelompok, satu kelompok ajak jeje pergi makan bersama, satu kelompok ajak kak niko nah kan pasti ketemu" kata mawar "idenya bagus juga" kata dila "tapi pasti tidak semudah itu" kata vito "kita coba saja " kata rizi.
archie tersenyum di depan cermin "meskipun kita teman tapi soal cinta, kita harus berlawanan" kata archie "jeje akan menjadi milikku" ujar archie.
niko tersenyum "rasanya aku sangat senang semakin aku nekat dan lebih berani dia semakin terlihat kesal dan kewalahan menghadapi ku" kata niko "akhirnya kau tersenyum" kata wahyu "tentu saja" kata niko "kau harus sabar dan terus berusaha jeje pasti cari cara agar kau menyerah" kata wahyu "iya yu! " kata niko "jangan terpancing dengan archie jika kau lihat saja, jeje tadi tuh sedang berpura-pura dekat dengan archie agar kau mundur. jeje terlihat kaku sekali kan? " kata wahyu "iya juga ya" kata niko "makanya jangan marah marah. jeje itu seperti es batu kau harus pelan pelan menghadapi nya jika keras dia akan hancur dan kau tidak akan mendapatkan apapun" kata wahyu niko mengangguk "aku sedang pesan sesuatu untuk nya besok" kata niko "apa? " kata wahyu "makanan favorit nya" kata niko sambil tersenyum.