
cahaya mentari mulai bersinar terang bahkan menyilaukan mata membuat jeje perlahan membuka matanya "hum.. " jeje menatap sekitar nya "humm.. pagi ya akhhhh" jeje meringis di saat dia jatuh dari ranjang "ouhh.. " jeje berusaha menggapai ranjang nya agar bisa duduk "sial" jeje melihat sprai ranjang nya ada nona darah "ta.. tangan ku" jeje melihat tangan nya juga penuh dengan darah bahkan darah itu hampir kering "ke.. kenapa? aa.. apa yang terjadi? " jeje berusaha berdiri "apa.. appa apa aku habis menghabisi seseorang tadi malam? " fikir jeje tiba tiba dia teringat seseorang "habisi saja aku sekarang" jeje mematung "tidak tidak mungkin" fikir jeje "aku rela mati di tangan mu" jeje memegang kepalanya "ap.. apa apa aku menghabisi pecundang itu? " kata jeje dia menatap ke arah cermin "ya.. kau sudah menghabisi nya tepat nya semalam pecundang malang itu mati dalam kondisi mengenaskan" jeje terkejut melihat bayangan dirinya di cermin bicara "tidak tidak.. aku halusinasi" kata jeje "dia memang sudah mati dan kau pelakunya" kata bayangan di cermin "tidak jeje. tidak.. tenang lah.. jeje.. kau tidak menghabisi siapapun jika kau melakukan nya mayat nya pasti ada di sini" kata jeje "mayat nya tidak ada berarti ini tidak nyata aku tidak membunuh siapa pun" kata jeje "darah itu adalah bukti nya" jeje menatap ke arah cermin kembali "kau menghabisi nya dalam kondisi sadar" jeje melihat bayangan nya bicara di cermin "tidak.. aku tidak menghabisi pecundang itu.. aku halusinasi ya.. aku halusinasi tentu saja ini tidak nyata aku di kamar si pecundang di rumah nya jadi bagaimana bisa aku menghabisi nya dalam kondisi sadar" kata jeje "tenang lah jeje.. ini hanya mimpi tidak nyata.. tenang lah jeje" kata jeje "aku tidak membunuh nya aku tidak menghabisi nya dia di rumah aku di kamar ku beda tempat " jeje menatap pisau kecil yang ada di lantai dengan ujung nya berdarah "oke.. tenang.. aku yakin dia masih hidup" jeje mengatur nafas nya "jeje tenang kau bisa mengecek si pecundang itu di kampus pasti dia masih hidup" kata jeje pada diri nya sendiri "kau tidak akan menemukan nya dimana pun KAU MENGHABISI NYA KAU MENGHABISINYA DIA SUDAH MATI" jeje meremas rambutnya dia langsung berdiri menutupi cermin itu dengan kain "jangan bicara pada ku!! kau pembohong!! " seru jeje lalu menarik sprai nya dan memasukkan nya ke dalam tas berserta pisau kecilnya "kak mili gak boleh tau" fikir jeje sambil mengambil jubah mandinya "aku harus ke kampus" kata jeje mendadak tubuhnya serasa membeku melihat air bathup berwarna merah jeje mundur menundukkan kepalanya ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya ada rasa kawatir, gelisah, dan rasa lain tangan jeje perlahan meraba dadanya jantung nya berdegup kencang "kakak".
wahyu membuka pintu kamar niko terlihat niko masih duduk memeluk lututnya sambil memperhatikan bunga yang ada di pot dekat jendela " kau masih duduk di sana? "wahyu masuk lalu duduk di atas ranjang niko " kenapa kau tidak tidur? "tanya wahyu "aku baru saja bangun yu" kata niko "aku akan membuat kan mu segelas minuman hangat" kata wahyu sambil pergi dan tak lama kemudian wahyu kembali dengan segelas susu coklat "minumlah" kata wahyu "hum.. terimakasih" kata niko "kau bisa mandi agar lebih tenang" kata wahyu "aku yang tenang dan kenapa kau membuat wajah jelek aku baik baik saja yu, aku cuma merasa kurang enak badan aku seperti nya flu karena kemarin mandi larut malam" kata niko "kau lebih baik ke kampus sekarang aku akan istirahat besok baru ke kampus" kata niko "hum.. telpon aku ya" kata wahyu sambil berdiri dan pergi.
chai memperhatikan gerak gerik adiknya yang sedang makan dia merasa wajah adiknya terlihat pucat berbeda dari sebelum nya "kau baik baik saja? " tanya chai "jeje.. hei aku sedang bertanya" kata chai "hum? " jeje menatap ke arah chai "makanan nya terlalu enak membuat ku lupa kalau kau ada bersama ku" kata jeje "kau terlihat pucat" kata chai "hum.. kau ini bicara apa kau kau fikir adikmu ini hantu" kata jeje "kau yakin kau tidak papa? " kata chai "kau bisa periksa aku kak, nih pegang dahi ku panas atau dingin" kata jeje "oh.. bagaimana dengan luka mu? aku mendengar kau tertusuk katana" kata chai "bukan tertusuk tapi tergores" kata jeje "kau akan ke kampus hari ini kan? " kata chai "hum.. jika kau berkata begitu bagaimana aku bisa berkata lain aku akan ke kampus" kata jeje "hum benar kah" kata chai "apapun kata mu aku akan lakukan" kata jeje "baik kalau begitu aku mau semua cola yang ada di kulkas itu dan juga stok alpukat di kulkas di buang tapi kau yang membuangnya" kata chai "aku akan bundir kak" kata jeje "kau akan melakukan nya? " tanya chai "iya aku lakukan setelah itu baru aku langsung bundir" kata jeje chai terkekeh sambil mengambil tisu "nona jeje" jeje menoleh ke milli lalu membuang tisu yang baru dia pakai "hum? " kata jeje "hum.. ada sesuatu yang tertinggal di kamar mu apa perlu kau bawa ke kampus aku ingin kau melihat nya dulu" kata milli "baik" kata jeje.
milli mengunci pintu kamar membuat jeje kebingungan "nona apa yang kau lakukan? aku harus melihat luka di paha mu lagi" kata mili "ada apa kak? " kata jeje "ada nona darah di cermin kamar mandi dan juga lantainya apa yang kau lakukan apa kau melukai dirimu lagi? " kata milli jeje tersenyum tipis "kakak aku hanya mencoba membersihkan luka di paha mu dan darahnya berserakan itu saja selebihnya tidak papa aku harus ke kampus percaya lah aku baik baik saja" jeje membuka pintu "aku merasa dia perlu di kawatir kan" kata milli.
jeje berjalan sambil melihat kanan kiri mendatangi perpustakaan, laboratorium, aula, kolam renang dan lainnya jeje menatap ke sebuah pintu di depan nya "jeje kau sedang apa? " leo ke luar dari pintu itu "haa.. tumben sekali aku melihat mu" kata ale jeje tidak mengatakan apa pun dia langsung pergi begitu saja "aku baru tau ada gadis yang sedingin kutub utara" kata leo "dan anehnya sahabat kita menyukai nya" kata ale "eh tunggu mungkin jeje datang ke sini mencari--" kata leo sambil menatap ale.
jeje memejamkan matanya menarik nafas dalam dalam "jeje kau baik baik saja? " tanya rizi sambil menyodorkan cola dingin ke jeje, perlahan jeje membuka matanya "kau terlihat pucat" kata mawar "kau sakit? " tanya dila "tidak" kata jeje "kau sudah makan? " tanya dila "yu tumben sendiri? " vito menoleh ke asal suara "hum saudara tidak ada lagi" kata wahyu "tumben kak niko tidak dengan kak wahyu" kata mawar "iya ya" kata rizi "jeje kau mau kemana? " kata anggel tapi jeje tidak menjawab "jeje" kata vito "ahhk" anggel melihat jeje hampir terjatuh "jeje tunggu" kata anggel "ada yang tidak beres" kata mawar "jeje seperti nya sedang sakit" kata dila "aahhkk" jeje memaksa dirinya untuk tetap jalan agar teman temannya tidak bisa mengikuti nya anggel berhenti berjalan melihat darah di lantai "darah... ii.. iini darah" anggel melihat ke depan jeje sudah menghilang "teman teman" kata anggel "aku tau" kata rizi sambil berlari dan melompat keluar pagar tembok namun jeje tidak terlihat lagi.
jeje bersandar di dinding memejamkan matanya "saudara ku tidak ada lagi" jeje teringat kata kata wahyu "apa aku sudah menghabisi nya tapi kenapa aku tidak sadar" kata jeje sambil menatap ke dua tangan nya kembali teringat sprai ranjang nya ,air di bathup jeje mengusap wajahnya menarik rambutnya "kakak.. " kata jeje "aku menghabisi seseorang kakak aku harus apa? " kata jeje sambil menampar dirinya sendiri.
malam harinya..
"bruuummm... brummm. " sara menatap jeje yang berada di samping nya "astaga anak ini memejamkan mata sambil menyetir" kata sara "bruuummmm... brruuummm" semua penonton terdiam "jeje!!! kendalikan dirimu!! " seru kal "jeje!!! " kata jerico "hum!! " jeje kehilangan kendali dia sudah jauh melewati garis finish "zrruuuutttt bruuuaaghh" tubuh jeje terseret bersama motor nya tim medis langsung bergerak sara buru buru turun dari motornya bersama yang lain "jeje!! jeje!! " kata sara "buka helm nya" kata bad sara membuka helm jeje "dia pingsan" kata sara "biar aku bawa" kata bimo "bentar aku tarik motor nya" kata sam "jeje" kal datang "dia pingsan" bimo mengangkat tubuh jeje.
"niko" jojo duduk di samping niko "kapan kalian datang? " tanya niko "jangan tanya itu pada ku malam ini aku lah yang harus nya bertanya padamu" kata jojo "apa wahyu menelpon mu? " kata niko "tidak kau biasanya datang menemui kami tapi kau menghilang seharian" kata jojo "kepala ku sakit dan tenggorokan ku juga" kata niko "kau ingin cerita sesuatu? " tanya jojo niko menggelengkan kepala nya "kau tau sahabat ku dulu tidak seperti sekarang dia sangat ramah dan penyayang dia tidak jahat namun dunia sekitar nya yang mengubahnya mungkin dia akan melukai mu karena dia mengatakan pada kami dia akan melakukan sesuatu yang buruk jika ada orang yang mengajaknya menjalin hubungan cinta" kata jojo "apa kau fikir aku sedang sedih? " tanya niko "kau sedang sedih aku tau itu" kata jojo sambil menepuk-nepuk bahu niko "untuk menggapai cinta orang yang trauma itu susah sangat susah" kata jojo "jojo!!! jojo buka pintu" seru Ariel "pintu tidak di kunci bodoh" kata jojo "jojo hum je--" Ariel menatap niko yang sedang bersandar di jendela "apa katakan" kata jojo "hum.. anu.. itu.. nanti saja" kata Ariel "tidak katakan saja apa itu hal lucu" kata jojo "hum itu brum brum brugg" kata Ariel "oh.. baik niko kami punya tempat yang bagus buat bersantai pertama markas, taman di pinggir hutan, lalu jembatan danau hijau, dan tempat indah yang kau dan jeje datangi" kata jojo "bukan itu" kata Ariel "lalu" kata jojo "je.. je brumm" kata Ariel "bentar ya niko bahasa wanita itu menyulitkan" kata jojo sambil mendekati Ariel "jeje kecelakaan saat balapan" kata Ariel "apa bagaimana bisa dia adalah pemain yang hebat bagaimana bisa kecelakaan? " kata jojo "kecilkan suara mu bangsat nanti niko dengar" kata Ariel "apa yang terjadi" ucap niko "oh. tidak ada tidak ada besok kita healing ya kau tidur saja" kata jojo sambil tersenyum.
tiga hari berlalu..
Ariel melihat jeje sudah ada di depan rumah nya "ada apa? apa kau masih gelisah seperti semalam" kata Ariel "masuk lah" Ariel menarik jeje ke dalam rumah "kenapa kau tidak berterus terang pada ku alasan belakangan ini kau gelisah" kata Ariel jeje terdiam "aku merasa aku telah menghabisi seseorang" kata jeje "apa! " jojo terkejut "aku selalu gelisah karena nya aku tidak tau kenapa tapi dalam kepala ku hanya ada ingatan aku telah menghabisi seseorang" kata jeje "tenang lah" kata desi "itu tidak mungkin" kata memo "bathup.. air di bathup merah" kata jeje "pisau kecil ku juga ada darah nya" kata jeje "sprai nya juga dan bahkan aku tidak melihat orang nya lagi jadi.. aku merasa aku benar-benar menghabisi nya aku membunuh orang di kamar ku" kata jeje Ariel menarik jeje agar duduk "minum air dulu" kata Ariel "jadi siapa orang yang kau habisi itu? " tanya memo "dia.. dia.. seorang pria" kata jeje "dia terakhir kali mengatakan habisi aku habisi aku dan aku menghabisi nya sungguhan aku gelisah" kata jeje "dia pernah memukul atau membuat seseorang sekarat tapi tidak seperti ini, bahkan jeje pernah menusuk seseorang tapi tetap tenang " kata jojo dalam hati "apa kau mengenali pria itu? " tanya jojo jeje terdiam "kau pasti kelelahan kau istirahat lah dulu di sini" kata desi "sstt sini" kata memo melihat isyarat dari memo jojo langsung mendekati memo "ada apa? " kata jojo "aku merasa jeje bukan menghabisi seseorang tapi dia sedang berhalusinasi" bisik memo "aku juga berfikir begitu" kata jojo "kau ingat waktu di markas jeje melukai dirinya sendiri waktu itu sampai dia kesakitan lalu tertidur saat bangun dia malah mengira dia telah membunuh desi" kata memo "biar aku tanya lagi" kata jojo "ssttt... dia tidur" kata Ariel "niko kirim pesan dia minta di antar ke jembatan danau hijau" kata desi "aku punya ide cemerlang" kata Ariel "apa? " kata jojo "ke dua orang ini sama sama sedang butuh pertolongan seperti nya aku tau kita harus apa" kata Ariel.
malam harinya...
kal memperhatikan jeje yang duduk di sebelah nya "kau yakin ingin ke tempat seperti ini? " tanya kal "aku ingin membeli makanan" kata jeje sambil turun dari mobil menatap sekitar nya "bahkan dia juga tidak ada di sini" kata jeje dalam hati "ini nyata... dia benar-benar menghilang" kata jeje "kak kal aku akan pergi dengan teman temanku kakak bilang dia tidak pulang jadi aku akan pergi dengan teman ku" kata jeje "aku akan mengawasi mu" kata kal "tidak perlu aku akan baik baik saja aku pergi dengan Ariel" kata jeje "di mana dia? " kata kal "dia ada di sana membeli minuman kau bisa pergi" kata jeje "ku mohon" kata jeje "aku akan menjemput mu jam? " kata kal "aku akan menghubungi mu" kata jeje sambil pergi menjauh "aku pergi ke tempat biasa dia pergi namun juga tidak ada " kata jeje sambil mendekati beberapa penjual makanan "paman aku kamu masih ingat aku" kata jeje "oh.. aku ingat kau baby kan" kata pria bertopi lebar "baby? " jeje mengerutkan dahinya "pacar nya mas ganteng kan yang sering beli batagor aku" kata pria itu "hum.. niko? " kata jeje "iya kan pacar mu toh" kata pria itu "udah dua hari dia gak ke sini sekarang malah beby nya yang ke sini" kata pria itu "mas ganteng nya gak ikut ke sini? " kata pria itu jeje menggeleng dan pergi ke tempat lain namun kata kata wahyu terus mengganggu nya "saudara ku sudah tidak ada" jeje melihat tempat yang dia datangi ternyata kosong tidak ada siapapun. jeje langsung mencari taxi "jalan pak" kata jeje taxi langsung bergerak jeje mengusap wajahnya "kenapa aku selalu merasa cepat lelah" fikir jeje tak lama kemudian taxi berhenti jeje menatap sebuah rumah dari jauh tak terlihat ada orang di dalam rumah itu bahkan hanya satu lampu yang hidup "seperti nya tidak ada orang nona" kata supir taxi "kau benar" kata jeje "antar aku ke tempat lain " kata jeje supir taxi mengangguk dia mengantarkan jeje ke beberapa tempat berulang kali namun jeje tidak terlihat senang sama sekali "berhenti" kata jeje "kenaoa nona? " tanya supir taxi "aku tidak tau aku harus kemana" kata jeje "nona apa kau sedang patah hati? " tanya supir taxi "tidak" kata jeje sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya "halo" kata jeje "jeje apa kau melihat Ariel? Ariel tidak bisa di hubungin dari tadi" kata desi "aku tidak tau tapi .. tidak jadi" jeje mematikan panggilan nya "Ariel.. aku semakin merasa tidak enak" jeje mengirim pesan ke Ariel "kenapa kau masih memikirkan kejadian di kamar mu? kalau begitu kita ketemuan di jembatan danau hijau" kata Ariel membalas pesan jeje "pak antar aku ke simpang danau hijau" kata jeje.
Ariel menatap air di bawah jembatan yang memantulkan bintang yang ada di langit malam jeje turun dari mobil lalu membayar taxi pun pergi "aahh" jeje memegang sebuah pohon "aku benar-benar merasa lemah apa apain ini" fikir jeje lalu dia lanjut berjalan melihat lampu berwarna-warni jeje berlari dengan cepat ke arah jembatan dia ingin teriak sepuasnya "Ariel Ariel" kata jeje namun tidak ada jawaban jeje terus berlari ke arah jembatan sampai memakan beberapa waktu akhirnya dia sampai ke atas jembatan "tap tap tap" jeje berhenti berlari nafasnya tersengal sengal dadanya naik turun "baby! " jeje terdiam melihat seseorang yang duduk tak jauh darinya orang itu perlahan berdiri "k.. kau.. " kata jeje pandangan jeje mulai kabur "aa.. -" tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan bahkan untuk maju selangkah lagi tidak bisa "bruuuk" tubuh jeje perlahan jatuh ke depan "ih" seorang pria memakai topi hitam menahan tubuh jeje "Ariel.. Ariel.. " kata pria itu Ariel yang bersembunyi di balik pohon bergerak perlahan "Ariel.. dia datang" kata niko "Ariel" pria itu menunduk menatap wajah jeje yang teramat pucat "baby... baby kau kenapa" pria yang tak lain adalah niko itu mengangkat tubuh jeje mendadak suasana terasa berbeda kunang-kunang muncul dan menari di antara tepi danau semakin lama semakin banyak bahkan kunang-kunang itu berterbangan di sekeliling niko "pluk pluk plung!" ikan ikan di danau melompat terlihat seperti sedang bahagia angin bertiup perlahan niko terdiam sesaat melihat suasana di sekitar nya bahkan sinar rembulan semakin terang memperlihatkan dua orang yang berada di atas jembatan yang di keliling kunang-kunang yang bersinar indah "Ariel.. Ariel kau meninggalkan ku? " kata niko "aku di sini" Ariel dan yang lain datang "dia pingsan tiba tiba" kata niko "tubuhnya tersa dingin" kata desi "kita bawa ke rumah sakit sakit cepat cari taxi" ucap Ariel "baby.. aku ada di dekat mu" bisik niko perlahan niko melihat pipi jeje yang basah setelah sinar bulan semakin terang terlihat wajah jeje seperti terkena air "aku di sini masih mencintai mu dan juga merindukan mu" bisik niko "sudah ada ayo" kata jojo "oke" niko membawa jeje pergi ke rumah sakit.
di rumah sakit..
"keluarga pasien" kata dokter "ya ya aku" kata niko "hum anda siapa nya? " tanya dokter "hum.. " niko gugup "calon suami nya" kata jojo "oh.. begini calon istri anda kekurangan banyak darah dan juga tubuhnya di penuhi banyak luka untuk sekarang kami baru bisa mengobati luka nya tapi untuk darah nya stock darah kami sudah habis" kata dokter "jadi dia butuh darah? " kata niko "iya pasien ini memiliki golongan darah O+ " kata dokter "gawat" kata desi "kita harus cari kak chai dia memiliki golongan darah yang sama dengan jeje" kata memo "pak dokter aku juga o" kata jojo dan niko bersamaan "tapi aku gak tau aku o apa" kata niko "baik kalian berdua mari ikut saya" kata dokter "jeje" kata Ariel sambil masuk menemui jeje "jeje kenapa kau bisa begini" kata Ariel "kau - di- ma-na? " ariel terkejut melihat jeje bicara dengan kondisi mata masih terpejam bahkan tubuhnya tidak bergerak sama sekali "ak.. aku di sini" kata ariel "tunggu ya" ariel keluar "bagaimana? " kata desi "darah niko akan di ambil sedikit dan darah ku sedikit tapi kami harus menurunkan suhu tubuh kami agar darahnya bisa di ambil" kata jojo "aku ingin melihat nya" kata niko "pergilah" kata desi niko menemui jeje "baby.. aku sedang memikirkan kata kata yang tepat untuk ku ucapkan saat aku bertemu dengan mu nanti, kata kata ku sudah membuat mu bosan aku mencari waktu agar aku bisa mencari cara agar kau mengerti apa itu cinta" kata niko "kau kenapa bisa kehilangan banyak darah apa yang terjadi? " niko memegang tangan jeje lalu mencium tangan jeje yang terasa dingin "aku mencintai mu.. akan selalu mencintai mu sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan mu.. meskipun kau akan mencabut nyawa ku" bisik niko "bertahan lah.. darah mu dan darah ku akan menyatu menjadi satu seperti takdir kita" kata niko sambil mengusap wajah jeje dengan lembut.