
pagi hari di dalam sebuah rumah chai menatap jeje yang mengepal tangan nya sementara Monnie mengusap rambut jeje dan menepuk-nepuk bahu jeje "belajar yang benar ya, jangan nakal, jangan berkelahi, jangan pukul orang ya, aku tidak mau hal buruk terjadi pada mu semoga Tuhan melindungi mu. jadilah anak yang baik" kata Monnie "tahan jeje tahan.. " kata jeje dalam hati "dia seperti nya mau mengamuk" kata chai dalam hati "apa kau sudah selesai? " tanya jeje "kau adik terbaik ku" Monnie memeluk jeje "ooihh!! " Monnie menatap jeje "keberatan aku peluk? " kata monnie "tidak peluk saja" kata jeje "terimakasih" kata monnie "momen langka" kata jerico.
"brumm" jeje menghentikan motornya di depan gerbang yang sudah tertutup "pak satpam jangan ngopi saja! jagain motor ku aku mau masuk" jeje pergi ke tempat yang biasanya dia melompat untuk masuk ke dalam kampus "ini sangat menyebalkan tapi aku harus menahan nya seperti yang di katakan dokter bahwa orang hamil harus bahagia tidak boleh sedih tapi memang nya gitu ya? " jeje mengeluarkan ponsel nya "google apa yang terjadi jika wanita hamil tidak bahagia" kata jeje sambil terus berjalan jeje membaca artikel yang muncul di layar ponsel nya "mampus aku ka monnie gak boleh depresi ataupun sedih itu artinya dia akan memeluk ku terus ****" kata jeje "ssttt.. baby" jeje melihat sekeliling nya "baby.." jeje melihat niko keluar dari kantor "demi lino" jeje lanjut jalan "baby tunggu tunggu hei" kata niko dia berjalan di samping jeje "kau masih marah pada ku? kau tau hum.. aku memang sudah di larang ikut tapi aku memaksa untuk ikut da--" kata niko "dan kau tau satu hal di sana bukan untuk orang orang seperti mu!! disaat jojo dan yang lain ingin ikut meskipun mereka dekat dengan ku aku juga keberatan mereka di sana kalian tidak mengerti apa apa!! di sana musuh dan kawan bercampur dan berserakan tidak tau kapan musuh datang dan kapan musuh menyerang atau musuh sedang menyamar siapa yang tau!! bagaimana kalau kalian terluka ata--" kata jeje "kau kawatir kan? " kata niko "menurut mu? mereka orang terdekat ku wajar aku kawatir bagaimana kalau musuh tau mereka kenal dengan ku bagaimana musuh tau kalau mereka orang yang dekat dengan ku ayolah belajar dari apa yang pernah terjadi da--" kata jeje "dan kau hanya kawatir dengan mereka? " kata niko "bukan hanya mereka tapi kau juga apa kau bodoh kau selalu egois dan mengambil keputusan seenaknya tan--?? " jeje diam "sial apa yang baru ku katakan" kata jeje dalam hati niko tersenyum "akhirnya kau mengakui nya" kata niko "**** diam! jangan terlalu percaya diri sekarang menjauh lah dari ku" kata jeje "aku tidak akan menjauh dari mu kau harus tau suatu hari nanti kita akan tinggal satu atap di masa depan" kata niko "demi santa berhenti lah bermimpi " kata jeje "aku mau permen karet mu" kata niko "nih" jeje menyodorkan permen karet ke niko "pergilah jangan membututi ku" kata jeje "aku mau mengantar mu sampai ke kelas" kata niko "aku tidak ke kelas" kata jeje "aku akan mengikuti mu" kata niko "kenapa kau begitu keras kepala" kata jeje "kau juga keras kepala jadi aku meniru mu" kata niko jeje menghentikan langkah nya lalu menatap niko "kau bilang apa? " kata jeje "aku meniru mu" kata niko "ap--" jeje dan niko berbalik "baby niko kebetulan sekali" kata Gilang "ada apa pak? " tanya niko "hei baby jangan pergi dulu" kata Gilang "kenapa kau mengatur ku" kata jeje "aku butuh bantuan kalian berdua" kata Gilang "aku sibuk mau ke kelas" kata jeje "tunggu baby, membantu dosen adalah kewajiban" kata niko "bagi mu tidak bagi ku" kata jeje "hei kalian berdua, beberapa mahasiswa pergi ke lapangan untuk mewakili kampus dalam acara di sana tapi tas nya ketinggalan tadi mereka mau membawa ini takut nya ini penting bisa kan kalian berdua antar ini ke lapangan" kata Gilang "bisa pak" kata niko "tidak bisa! kau tau kelas sudah di mulai aku aku ke kelas" kata jeje "benarkah? " niko menatap jeje dengan tatapan meledek "ayolah antar ini dulu" kata Gilang "tidak ada kendaraan taxi jam segini tidur" kata jeje sambil bersiap ingin pergi namun niko menahan tangan nya "tidak papa kita pakai kendaraan lain, tapi ngomong ngomong aku baru tau ada taxi bisa tidur" kata niko "aku juga baru dengar" kata Gilang "maksudnya supir taxi akan tidur jam segini, aku juga gak ada motor" kata jeje "oh lalu motor di luar gerbang itu? " kata niko "itu motor pak satpam diam kau lepaskan tangan ku" kata jeje "pakai motor ku saja aku bawa motor" kata Gilang "oi.. oi mari lakukan Penukaran" kata jeje "Penukaran" kata Gilang "kau ini kenapa harus pakai Penukaran" kata niko "diam kau" kata jeje "baiklah apa Penukaran nya" kata Gilang "apapun yang ku lakukan hari ini tidak ada yang boleh menegur ku" kata jeje "baik lah" kata Gilang lalu dia melempar kunci motor ke arah jeje "tangkap" kata Gilang "oiih"jeje melangkah ke belakang niko " greb"niko menangkap kunci yang hampir mengenai jeje jika jeje tidak menghindar "terimakasih pak" kata niko "cepat ya" Gilang pergi "dasar dosen payah seenaknya saja" kata jeje "kau masih bersembunyi di belakang ku" kata niko "aku melakukan ini berharap kepala mu terkena lemparan itu biar kau amnesia" kata jeje "ayo" kata jeje "eh.. lepas kan tangan ku " kata jeje.
niko dan jeje saling tatap di tempat parkir "motor apa ini? bentuk nya aneh tidak seperti waktu itu. saat aku menusuk motor nya dengan paku motor nya tidak seperti ini " kata jeje "kau melakukan nya? " kata niko "iya , aku tidak mau naik motor ini, pakai motor ku luar gerbang" kata jeje "kata nya motor satpam" kata niko "kau mau ku bunuh" kata jeje "aku mau nya nikah" kata niko "nikah sana sama angin hanya orang yang gak waras yang mau nikah dengan mu" kata jeje "baby.. baby.. aku aku yang nyetir" kata niko "tidak! " kata jeje "aku aku saja " kata niko "tidak! " kata jeje "hei hei" satpam memukul kepala niko dan jeje
"aduh"
"ooihh!! "
"kenapa kalian bertengkar di sini" kata satpam "ini motor ku jadi aku yang nyetir" kata jeje "aku saja, kau duduk saja di belakang demi keamanan bersama kita kan mau nikah kalau kau nyetir rasa nya nyawa ku ketinggalan di belakang" kata niko "gini saja batu kertas gunting yang menang yang nyetir" kata satpam "oke" kata niko "baik" kata jeje.
suara orang bersorak riang terdengar dari kejauhan. niko menghentikan motor nya "sudah sampai" kata niko "****! " jeje turun dari atas motor "ayolah jangan marah" kata jeje "orang payah!!! " seru jeje "nama nya wahyu" kata niko sambil lari mengejar jeje "ORANG PAYAH!!! " wahyu menoleh "baby" kata wahyu "baby otak mu nih" jeje melempar tas yang dia pegang "waduh" kata wahyu "Hai niko" kata leo "oih" jeje menghindar di saat ada anak anak mendekati nya "jangan sentuh aku kau tau, akan ku patah kan tangan mu nanti" kata jeje "kenapa kau kasar pada anak kecil" kata niko "dia mau mendekati ku dan aku tidak suka " kata jeje "ku fikir kalian tidak datang membawa tas ini" kata leo "kami selamat" kata wahyu "baby kau mau kemana? " kata niko "mau pergi ka tas nya udah sampai" kata jeje "aku ikut" kata niko "kau mau kemana? " kata niko "mencari makanan aku lapar" kata jeje "aku ikut ya" kata niko "aku yang nyetir" kata jeje "oke" kata niko "nih pakai" jeje memberikan helm nya ke niko "kok aku yang pakai? " kata niko "kau mau ikut atau tidak! " kata jeje "iya iya" kata niko.
kaca helm di buka "kau bilang kau lapar? " kata niko "aku lapar tapi aku tidak bisa kemana mana dengan membawa mu. aku ingin ketempat paman biu tapi di sana aku yakin akan ada orang yang ku kenal oihh"kata jeje " oh apa aku terlalu buruk sampai kau malu membawa ku"kata niko "aku tidak bilang begitu, percuma juga aku bicara pada mu kau tidak akan mengerti" kata jeje "aku selalu mengerti kok kau takut musuh mu melihat mu dan melukai ku" kata niko "jangan bicara hal bodoh" kata jeje "aku tau tempat makan baby" kata niko "tempat yang penuh dengan makanan" kata niko "tempat yang kau tunjukkan pada ku" kata jeje "di mana aku dan kau adalah sepasang kekasih sungguh menyebalkan" kata jeje "tidak tidak aku tau tempat lain kok" kata niko "baik lah katakan jalan nya " kata jeje "lurus aja nanti simpang tiga itu belok kanan" kata niko "jika tidak enak ku bunuh kau" kata jeje "bunuh saja, tapi aku kawatir kau tidak bisa membunuh ku" kata niko "omong kosong" kata jeje "belok kiri baby" kata niko "belok kiri lagi" kata niko "kau yakin? " kata jeje "iya percaya lah" kata niko "nah kau lihat itu " niko menunjuk sesuatu "itu tempat nya" kata niko "jangan pegang aku" kata jeje "kau mengerem mendadak gimana aku tidak memeluk mu" kata niko "alasan! cepat turun" kata jeje "galak banget" kata niko "tempat macam apa ini? " kata jeje "ayo di memang kelihatan nya sederhana ayo masuk " niko menarik lengan jeje "aku mau satu meja" kata niko "mau meja di dalam atau di luar? " tanya pelayan "di luar" kata niko "baiklah ini nomor meja nya" kata pelayan "oke" niko menarik jeje pergi ke sebuah meja dengan payung lebar dan pemandangan indah di sekitar nya "meja kecil? tanpa kursi? " kata jeje "ini seperti piknik" kata niko sambil duduk dan mulai membaca menu di depan nya "kau mau pesan apa? " kata niko jeje duduk dan mulai membaca menu.
di kampus..
"hum.. enak kan? " kata niko "lumayan" kata jeje "apa in" niko melihat pelayan membawa sesuatu "ini adalah hidangan khusus yaitu dessert cake untuk pasangan semoga langgeng ya" kata pelayan "oi.. oi" jeje menatap pelayan itu "iya kami memang pasangan maksud ku bukan pas--" kata niko "tidak ada yang pasangan" kata jeje "oh " pelayan itu pergi "menyebalkan" kata jeje "jangan marah makan saja " kata niko "ha kakak" seorang gadis berjalan mendekati niko "boleh aku bergabung " kata gadis itu "ha? " niko menatap jeje "aku mendengar gadis di depan mu mengatakan kalau kalian bukan pasangan jadi boleh aku duduk di sini" kata gadis itu "hum aku keberatan" kata niko "ah.. kenapa dia kan buka pacar mu" kata gadis itu "tanya pada nya" kata niko "hei boleh aku duduk di sini" kata gadis itu "duduk lah setelah itu ku penggal kepala mu" kata jeje "astaga jangan bercanda" kata gadis itu jeje mengambil pisau di depan nya dan memainkan nya dengan jari nya gadis itu langsung menelan liur lalu pergi "wah wah kau terlihat marah" kata niko "aku tidak suka wanita penggoda" kata jeje "aku juga" kata niko "oh waktu kau bertanding kau benar-benar luar biasa siapa yang mengajari mu naik motor dengan kecepatan tinggi" kata niko sambil menatap jeje yang mengunyah makanannya "ku rasa aku tidak mampu melakukan seperti apa yang kau lakukan itu benar-benar luar biasa" kata niko "aku biasa melakukan nya " kata jeje "biasa? maksudnya? " kata niko "akan ku beritahu" jeje meletakkan sumpit nya "dari dulu sebelum aku di asuh kakak ku aku sudah terbiasa menaiki motor dengan kecepatan tinggi" kata jeje "apa masa masa sekolah kau --" kata niko "ya" kata jeje "tapi kenapa? apa kau tidak tau itu sangat bahaya" kata niko jeje terkekeh lalu lanjut makan.
dengan wajah lesu Gilang menuruni tangga "pak Gilang" sapa beberapa mahasiswa "ya" kata Gilang "hei.. wahyu kau sudah kembali, dimana niko? " tanya Gilang "loh mereka tadi langsung pergi pak, ku fikir mereka kembali ke kampus" kata wahyu "mereka tidak kelihatan" kata Gilang "rizi!! apa kau melihat jeje dan niko? " kata wahyu "tidak kak" kata rizi "kemana mereka" kata Gilang.
"halo kak kal, ya aku aman kau perhatian saja dia itu jika sudah pada bubar kabari aku" kata jeje "aku harus tepat waktu" kata jeje lalu dia menyimpan ponsel nya "kau mau pulang? " kata niko "ya sebentar lagi" kata jeje sambil mengaduk aduk jus nya "apa aku boleh bertanya satu hal" kata niko jeje menatap niko "aku mendengar rumor kalau kau tidak percaya dengan Tuhan" kata niko "itu fakta bukan rumor" kata jeje "tapi kenapa? kau tau aku dulu sempat membenci Tuhan namun pada akhirnya aku kembali mempercayai nya semua cobaan yang dia berikan itu hanya untuk membuat ku semakin kuat" kata niko "ada di satu titik seseorang berhenti mempercayai semua, termasuk Tuhan kau tidak akan mengerti jika kau tidak merasakan kehancuran yang sesungguhnya dalam kehidupan mu" kata jeje "ada di satu titik dimana kita benar-benar di hancur oleh Tuhan namun percayalah Tuhan tau apa yang terbaik untuk hamba nya" kata niko jeje tertawa keras membuat semua orang menatap nya "huahahahah.. hahahaha... " jeje tersenyum sinis "kau tau ini ku anggap perjuangan terakhir dalam kehidupan setelah kehancuran menimpa ku berkali-kali tapi kini aku merasa tidak sendirian Tuhan ada bersama ku" kata niko "sekuat apapun kau berjuang kau akan tetap kalah dengan Tuhan yang menentukan kenyataan" kata jeje "kau tau itu " kata niko "semakin kau percaya pada nya maka semakin kau menderita di buat nya, dia tidak bisa di percaya penipu" kata jeje "aku tau apa yang pernah terjadi dalam hidup mu tapi percayalah Tuhan memberi mu rasa sakit karena di menyayangi mu"kata niko " aku percaya pada diriku sendiri "kata jeje " itu hak mu"kata niko "pelayan!! " seru jeje.
malam harinya...
niko berbaring di atas sofa terlihat ada yang dia fikir kan dari sorot mata nya , "kau tidak tidur? " wahyu lewat "bentar lagi" kata niko "jangan bergadang" kata wahyu "iya" kata niko "semakin kau percaya pada nya maka semakin kau menderita" perkataan jeje terngiang-ngiang di telinga nya "kau tidak akan mengerti jika kau tidak merasakan kehancuran yang sesungguhnya " niko memejamkan mata nya "kenapa Tuhan tidak mempertemukan kita dari awal" kata niko.
"huh? " jeje berhenti melangkah ketika melihat lampu di ruang keluarga menyala dia langsung membuka pintu "kakak ipar sedang apa? " kata jeje "jeje" monnie meneteskan air mata "hei hei ada apa" jeje meletakkan alpokat yang dia bawa dan langsung duduk di dekat monnie yang memegang buku album foto "ada apa? kemana kakak ku kenapa kau sendirian" kata jeje "lihat ini" kata monnie sambil menunjukkan sebuah foto "mana" jeje terdiam melihat foto diri nya dan seorang pria yang sedang menari di acara pernikahan "tiba-tiba saat melihat foto ini aku ingin melihat pria ini" kata monnie "apa! apa kau sudah tidak war-- hu..m pria ini? " kata jeje "iya" kata monnie "aku tidak tau kenapa karena begitu ingin melihat nya air mata ku sampai keluar" kata monnie "tapi kenapa!! oh" jeje mengatur nafas nya "tidak boleh memarahi wanita hamil nanti dia tertekan" kata jeje dalam hati "wanita hamil tidak boleh mendengar suara tinggi nanti dia tertekan " jeje teringat perkataan dokter kandungan "kaya nya bayi ku sangat ingin " kata monnie "bentar" jeje keluar "ada apa? " tanya jerico "bencana aku sedang ingin marah nih" kata jeje "minum air" kata kal "kakak mengatakan dia ingin melihat seseorang pria di foto dan dia ingin melihat nya langsung aku tidak habis fikir aku mau menendang nya" kata jeje "itu artinya dia sedang ngidam" kata kal "ngidam nya kok gini katanya ngidam itu bukan makan makanan aneh aneh ya" kata jeje "bukan, ingat ngidam itu bisa apa saja karena itu keinginan si bayi bukan ibu nya" kata lim "gawat" kata jeje dia kembali masuk ke dalam menemui monnie "kakak kau yakin ini yang kau mau" kata jeje monnie mengangguk "ada apa? " chai datang "kau ini bagaimana istri mu sedang ingin sesuatu" kata jeje "sayang maaf aku tidur terlalu lelap" kata chai "aku ingin melihat pria ini" kata monnie "aku tidak mengenal nya" kata chai "aku mengenal nya" kata jeje "tapi.. oih.. " jeje terlihat sedang menahan amarah nya "suami ku ini bukan kemauan ku tapi ini kemauan anak kita" kata monnie "kau mengenal nya" kata chai sambil menatap jeje "dia.. hum.. oih.. bentar" Jeje pergi "oih!!! kenapa begini sih" kata jeje "memang nya siapa pria yang dia mau" kata jerico "minum dulu" kata kal "bagaimana ini? ini nama nya bencana" kata jeje "tenang lah jangan marah marah" kata kal "kau marah? " kata monnie "iy-- tidak aku akan mencoba melakukan sesuatu" jeje mengeluarkan ponsel nya "aku harus mengatakan apa" fikir jeje "aku telpon atau kirim pesan lagian ini sudah malam" fikir jeje "tidak papa aku akan tidur" kata monnie "aku akan coba hubungi pria itu" jeje pergi keluar rumah "gak bisa gak bisa" jeje melempar ponsel nya "berikan aku sebuah ponsel" kata jeje "ini" Steven memberi kan sebuah ponsel ke jeje "ku rasa dia sudah tidur " kata jeje "oih.. aku tidak bisa" kata jeje "dia telihat gelisah" kata lim "tersambung" jeje melempar ponsel nya kal langsung memberikan ponsel lagi ke jeje "ayolah cuma bicara saja" kata jeje dalam hati "halo" kata jeje "Hai baby.. kau merindukan ku? " terdengar suara seorang pria di telpon "****" jeje membuang ponsel nya lagi "aku harus apa! kakak ipar sedang ngidam" kata jeje "mau ponsel lagi? " tanya kal.
niko menggaruk garuk kepala nya lalu dia menatap layar ponsel nya "ada yang aneh" kata niko "ini tidak seperti biasanya ada apa dengan nya" fikir niko.