
"wuuizzz" angin berhembus kencang di saat motor yang di kendarai jeje melintas dengan kecepatan tinggi.
"uh..?? " jojo yang sedang memegang belanjaan terkejut melihat motor melaju dengan sangat cepat "kok aroma aroma nya kaya jeje ya" kata jojo "jangan jangan jeje beneran, tapi apa dia tidak waras ini jalanan bukan sirkuit. jangan jangan!!" jojo melihat mobil jeje melintas dekat kecepatan yang tak kalah cepat dari jeje "ada yang gak beres aku harus antar ini dulu ke tempat nyonya cai dia minta bantuan suruh bawain barang tapi dia malah menghilang" kata jojo.
"pak biar aku saja yang menyetir" kata leo "kau yakin? " kata niko "dia lama sekali kita bisa kehilangan jejsk jeje" kata leo "baiklah" supir taxi dan leo tukar posisi.
seperti orang tidak waras jeje terus menambah kecepatan nya, suara kelakson kendaraan saling bersaut sautan di jalanan "sial!! " jeje melihat tiga mobil dari arah berlawanan di dekat lampu lalu lintas "jeje!!!" kata jerico dengan panik.
"Bruaaggg!!! " tubuh jeje terpental tabrakan beruntun pun terjadi, "ohok"jeje membuka matanya rasa sakit di sekujur tubuh nya membuat nya meringis kesakitan " tidak boleh berhenti "jeje berusaha berdiri " jeje"kata kal sambil melihat kanan kiri mencari tubuh jeje "akhh.. kakak.. " .
chai meletakkan gelas nya di depan para kritikus hotel nya "jeje" kata chai dalam hati. "itu dia" kata Steven dia melihat jeje sedang kesakitan "jeje ada apa dengan mu katakan dulu" kata jerico "tidak sempat!!" jeje memegang bahu jerico agar bisa berdiri "tenang lah kami ada di sini" kata kal "tidak aku harus pergi" kata jeje "jeje" kal menahan nya "kakak tolong.. aku ingin menjelaskan nya pada mu, tapi nanti! aku akan terlambat mengerti lah. kau akan tau nanti" jeje melihat kanan kiri "apa ada sesuatu" kal masih mencoba menghalangi jeje "kak kal.. please.. biarkan aku pergi oke.. kalian jangan ikut!!" jeje memegangi perut nya lalu berjalan menjauh "itu dia" kata leo "awas" jeje menarik motor seseorang yang ada di jalan yang terlibat kecelakaan beruntun "dia menangis" kata kal "kau serius? " kata Steven.
dari layar monitor Crist mengamati apa yang terjadi bersama dua pria lainnya, "dia belum datang juga" kata feat "kita bunuh saja mereka" kata Crist "tidak Crist kau akan tau bahwa ini akan menjadi sangat menyenangkan" kata feat "benar itu" kata pria di samping feat "waktu nya lima menit lagi" kata Crist sambil memakai masker nya "dia akan datang" kata feat.
jeje menghentikan motor nya "akhh" jeje mengusap darah di mulut nya "kakak ipar aku datang" kata jeje sambil berlari memasuki gerbang coklat itu, "aku sudah takut jeje akan membunuh niko tadi, karena aku yakin jeje benar-benar aku membunuh niko tadi dengan pukulan mematikan itu. tapi sekarang aku makin takut" kata Steven "tap tap tap tap tap" jeje berhenti berlari ketika melihat dua wanita yang terikat di kursi "adik" kata monnie "putri ku" kata cai .
"kakak tenang lah, mama aku akan membantu kalian" jeje berhenti melangkah ketika ada peluru hampir mengenai nya "tidak semudah itu nona Soikham" jeje menatap pria yang duduk tak jauh dari nya "lepaskan mereka, jika kau ada masalah dengan ku maka cari aku! " kata jeje "mencari mu akan mudah dengan cara yang begini" kata pria itu. jeje melihat semua yang ada di sana mengacungkan senjata ke arah nya "tolong jangan sakiti adik ku" kata monnie "jangan lukai anak ku!!" seru cai "oih" jeje melihat dua orang yang memukul monnie dan cai "berani nya kau!! sadar sialan" jeje bersiap Ingin menyerang.
"hei.. diam di tempat" kata pria itu "kakak.. mama" kata jeje "kau kelihatan berekspresi hari ini, wajah datar mu itu mulai menunjukkan reaksi ketakutan" pria itu berdiri berjalan ke arah jeje "siapa kau sebenarnya? " tanya jeje "ini bukan waktu nya perkenalan" pria itu memberi isyarat ke anak buah nya "oih.. jangan sentuh mereka" kata jeje "aku akan mematahkan tangan mu" kata jeje dengan marah "akh" cai memejamkan matanya ketika ada pisau menancap di tangan nya "MAMA!! " jeje mau maju ,namun di cegah dengan banyak pria lainnya "brengsek!!! apa mau mu!!" kata jeje "mama.. " monnie menagis sejadi jadinya "kakak ipar tetap tenang...aku ada dengan mu pejam kan mata mu oke, aku akan selesaikan semua nya" kata jeje "kau yakin sekali" kata pria itu "kau mau aku kan? bunuh aku dan bebaskan mereka " kata jeje.
mobil berhenti kal langsung turun bersama yang lain "niko? " kata kal "pak polisi aku mengikuti nya juga" kata niko "kau kembali lah di sini bahaya" kata jerico "tidak papa aku tidak takut" kata niko "kami akan memeriksa kedalam baru kalian masuk jika kondisi aman" kata kal "oke" kata leo.
tubuh jeje jatuh ke lantai dengan sangat keras monnie memejamkan matanya."ohok"darah keluar semakin banyak dari mulut jeje " HENTIKAN HENTIKAN "kata cai ketika tubuh jeje ditarik dan terus di pukuli, " bruagg "jeje jatuh mengenai meja kayu di tengah ruangan itu.
monnie membuka matanya jeje menatap monnie lalu tersenyum dan memberi isyarat agar monnie mempercayai nya " creek "kal menatap jeje jatuh ke lantai " turun kan senjata kalian atau nona Soikham kami ledakan kepala nya"jeje berusaha untuk berdiri "cepat" pria itu mengacungkan pistol ke kepala jeje.
mau tidak mau kal langsung menjatuhkan senjata nya "ikat dua pria bodoh itu" kata pria yang tidak lain adalah Crist "gawat situasi nya darurat aku harus cari celah buat membebaskan kal" kata Steven yang sedang bersembunyi "jeje kenapa kau diam saja lawan mereka!!" kata jerico "dia tidak akan melakukan itu, dia kan anak pintar" kata Crist sambil memukul kepala jeje dengan pistol yang dia pegang.
"cukup Crist" kata feat "benar dia bisa mati " crist mendengar suara dari alat yang ada di telinga nya dia langsung mendorong jeje, "buag" ada benda mengenai wajah Crist ketika dia hendak memukul jeje lagi "aku benar-benar akan membunuh mu" kata niko sambil membawa tongkat kayu yang entah dari mana dia dapat kan. jeje menatap niko datang "aduh bagaimana nih niko usah terlanjur masuk" kata leo "kalau begitu kau tetap lah di sini kita akan atur siasat" kata Steven "baik tapi bagaimana dengan teman ku" kata leo "dia bodoh tidak mendengar suara ku" kata Steven "niko" kata kal "cari mati" kata jeje dalam hati "lepaskan semua nya!! aku sudah menelpon polisi kalian akan di tangkap,ayo menyerah lah" kata niko "biarkan dia lewat" kata Crist niko berjalan mendekati jeje "baby.. kau" kata niko "ku fikir aku yang akan membunuh mu, ternyata mereka yang akan membunuh mu" jeje menyeringai "siapa dia? pacar mu? " kata Crist "aku tidak mengenal nya" kata jeje "oh.. lalu kenapa dia datang" kata Crist "aku datang untuk mu" kata niko sambil menatap Crist.
"untuk ku? " Crist tertawa "aku akan memukul mu, berani sekali kalian mengeroyok seorang wanita" kata niko tanpa rasa takut sedikit pun, "ku rasa ini kesempatan ku" fikir jeje sambil bergerak mundur perlahan .kal menyadari itu "kalau begitu tunjukkan kemampuan mu" kata Crist sambil memberi isyarat ke anak buah nya untuk menyerang niko, jeje melempar pisau ke arah kal "tek" kal menangkap pisau itu dengan gigi nya "waw" kata leo "jangan bersuara ayo jalan" bisik Steven "kal cepat" kata jerico "prang!! " jeje melihat tubuh niko terlempar keluar jendela "dorr!! " jeje menatap ke arah Crist "mau kemana? jika kau macam macam aku akan membunuh dua wanita itu " kata Crist "apa dia Crist? dari suara nya...." kata jeje sambil melihat lengan monnie yang tergores peluru "oke katakan apa mau mu? " kata jeje "Crist salah satu bodyguard jeje memiliki senjata dia akan melepaskan ikatan nya" kata pria di samping alder "hei kau!! " Crist berdiri mengambil pisau dari kal "akhh" jeje meringis ketika pisau itu mengenai pipi nya "simpan semua usaha mu " kata Crist.
"dengar nona Soikham!! kau lihat dua wanita itu" kata Crist jeje terdiam melihat kakak dan mama nya di pakai kan rompi yang penuh dengan bom.
"jika masih ada yang melawan aku akan kedakan mereka" kata Crist niko langsung terdiam "ikat juga pria bodoh itu" kata Crist "jangan lakukan ini" kata jeje "kau takut ketiga orang itu mati? " kata Crist sambil menempelkan pisau ke wajah jeje "tiga? " kata jeje "bayinya" kata Crist jeje terlihat semakin tegang "aku mau kau membuat pilihan " jeje menatap dua pisau yang di pegang Crist "kau bisa keluar dari sini dengan menekan tombol ini seperti in--" kata Crist "JANGAN!! " kata jeje "hahaha... hahaha kau takut? LIHAT!! JEJE SOIKHAM TERLIHAT KETAKUTAN!!" jeje menatap monnie yang menetes kan air mata "memohon lah" jeje menarik nafas panjang "brug" jeje menjatuhkan lututnya "aku memohon jangan lukai mereka" kata jeje.
kal menatap Steven "seperti nya kal mau mengatakan sesuatu" kata Steven "di sini ada kamera pengawas kemungkinan ada seseorang yang sedang mengawasi kita lihat empat titik kamera itu. hati hati.. dalam bertindak! matikan dulu kamera itu " kal memberi isyarat ke Steven dengan tangan nya "aku mengerti" kata Steven "dia bilang apa? " tanya leo "ayo ikut aku" kata Steve "aku tidak dengar" kata Crist "aku memohon pada mu.. tuan jangan sakiti mereka nyawa ku ku berikan pada mu " kata jeje "lihat dia terlihat seperti seekor anjing!!" Crist terlihat puas "bangsat kau bil--" mulut niko di tutup oleh kal "diam.. " kata Crist sambil menarik jeje "dengar kan aku baik baik, aku tidak akan mengulangi nya lagi" kata Crist "bunuh tuan Soikham bawa jantung nya pada ku" kata Crist jeje langsung terkejut "tidak!!!" kata monnie "kau bilang apa berani nya kau" jeje mengayunkan tangan nya namun tidak jadi memukul, ketika melihat pria di depan nya mengangkat remot kontrol "mereka akan di bunuh karena mu" kata Crist "aku akan memberimu waktu satu tidak ! dua jam dari sekarang " kata Crist jeje memejamkan matanya "adik jangan lakukan itu" kata monnie "aku harus apa? " fikir jeje "dorr" bodyguard monnie jatuh "seiring berjalan nya waktu akan ada yang tewas satu per satu" jeje menatap monnie.
"kau harus jaga anak ku eh tapi aku tidak yakin kau bisa menjaga anak ku"
"anak ku ini akan di kenal sebagai tuan chai kecil"
"kau baik baik saja? "
"aku berharap bayi ku nanti dewasa dan mirip seperti ku"
"kau itu adik ku, apa aku harus diam melihat mu terluka? "
air mata jeje menetes ini pilihan sulit baginya dia harus membunuh kakak nya sendiri atau menyaksikan kakak dan mama nya di bunuh di hadapan nya "dorr" satu orang tewas "ini sangat berat ayolah Steven cepat sedikit" gumam kal "pak polisi aku punya pisau kecil milik baby" bisik niko "berikan pada ku tapi jangan sampai ketauan" bisik kal.
"tidak sayang!! dia kakak mu" kata cai "adik.. chai sangat menyayangi mu" kata monnie "chai kecil" jeje menatap Crist dengan yakin "aku akan membunuh nya!! kau akan dapat jantung nya"monnie terkejut mendengar perkataan jeje " tapi ku minta pada mu, chai kecil, kakak ipar ku, mama ku selamat"kata jeje dengan mata berkaca kaca "baik" Crist menatap pengawal nya, mereka langsung memasang kamera kecil di hoodie jeje "pistol ini bagus peluru nya dapat menghancurkan tulang manusia" kata Crist sambil memberikan pistol itu ke jeje "kakak ipar, mama.. aku akan kembali" jeje pergi "TIDAK!! ADIK!! KAU TIDAK BOLEH MEMBUNUH CHAI!! ADIK!! " monnie menangis histeris "sebelah sini" kata Steven "Tuhan apa ini yang di namakan kehidupan mafia? ini lebih menakutkan dari yang di film" kata leo dalam hati.
kal memotong tali yang mengikat jerico "aduh.. kena tangan ku" kata jerico "jangan bicara bodoh" kata kal dengan berbisik "niko dengar kan aku" kata kal.
jabat tangan pun terjadi antara chai kritikus itu tak lama kemudian kritikus itu pergi "tuan" kata bai "ada apa? " tanya chai "ada telpon masuk dari seorang pemuda bernama leo dia katanya ingin bicara pada mu dari tadi" kata "leo siapa? " tanya chai "leo mahasiswa yang waktu itu menolong nona" kata bai "telpon balik" kata chai.
supir taxi terlihat ketakutan melihat jeje dari cermin di depan, "nona apa ada yang terjadi pada mu? " tanya supir taxi .
jeje diam fikiran nya kacau tidak tau harus melakukan apa tidak ada pilihan yang membuat nya bebas, kakak yang selalu ada untuk nya kakak yang selalu melindungi nya akan pergi selama nya "sudah sampai nona" kata supir taxi.
"tidak ada satu orang pun jadi, kemana koneksi kabel ini" kata Steven "kita kacaukan saja pandangan kamera nya" kata leo "kau benar ayo" kata Steven. leo mendekati satu kamera di dekat tangga "huf" dia meniup debu ke kamera itu "sial? " leo terkejut ponsel nya bunyi "ada orang di atas" kata bodyguard Crist "benar tangkap dia" kata Crist "apa?? waduh " leo menatap Steven "ayo lari jangan bengong!!" kata Steven "niko " leo melempar kan ponsel nya lalu lari Crist melihat Steven berlari dengan cepat sehingga tidak memperhatikan kal menangkap ponsel milik leo "cerdas juga dia" kata jerico.
pintu terbuka semua nya menatap ke arah jeje yang sudah berantakan "adik" kata chai
air mata jeje langsung mengalir "ada apa? " kata chai "creek" jeje mengacungkan senjata nya ke chai sambil menangis "lihat" Crist menghubungkan laptop nya ke infokus dan terlihat wajah chai yang kebingungan, "kakak.. " chai kebingungan dia tidak pernah melihat adik nya begini "katakan ada apa? kenapa? tenang lah" kata chai "aku harus membunuh mu" kata jeje chai terdiam .
"nona" kata bai "akia keluar lah dari persembunyian mu" kata akemi "adik apa yang kau bicarakan" kata chai "aku tidak bisa melakukan hal ini, tapi aku harus melakukan nya.. kakak.. aku menyayangi mu... aku ingin tetap menjadi adik mu" monnie meneteskan air nya akia memperhatikan jeje "cuma ini satu satunya jalan agar kakak ipar dan chai kecil mu selamat" jeje menjatuhkan diri nya ke lantai seperti orang frustasi "aku tidak mau kehilangan mu , tapi keadaan memaksa ku untuk membuat mu pergi dari ku.. aku harus apa? semua nya buntu" kata jeje "ini pertama kali nya aku merasakan tangisan baby berbeda, ini terdengar sangat tulus dari hati" kata niko "aku harus membunuh mu" jeje berdiri membidik kepala chai, tangan nya terlihat gemetar "kakak ketika aku mengatakan aku membenci mu sebenarnya aku tidak membenci mu" kata jeje di sela isak tangis nya akia memperhatikan ada kamera di hoodie jeje "HAAAAHH!! " jeje menjatuhkan pistol nya.
lalu dia memukul meja kaca di dekat nya "kenapa aku harus kehilangan mu.. kenapa" jeje menatap chai yang mencoba mendekati nya "jangan dekati aku!! kakak nanti aku semakin kesulitan aku.. aku harus membunuh mu.. kakak ipar.. melarang ku tapi ini.. ini" jeje terlihat sesak nafas "aku.. tidak ada pilihan lain aku. uhuk uhuk.. benar-benar harus hah.. aku.. uhuk" chai menatap bai "tuan nona seperti nya kena serangan panik" kata akemi sambil mendekati jeje "nona tarik nafas ayolah.." kata akemi "ah.. ha.. " jeje tidak sanggup bicara lagi "adik" kata chai "nona lihat jari ku.. oke.. lihat ke sini!! tarik nafas ayo kau bisa" kata akemi chai memegangi lengan adik nya "jangan menangis nona, kau akan semakin kesulitan bernafas" kata lim "buang.. tarik.. kau bisa ayo.. buang.. tarik... pelan pelan" kata akemi "ini " hary memberikan oksigen kecil ke akemi "aku mengerti" akia pergi "hah.. hah.. " jeje terlihat mulai bisa bernafas normal "bagus" kata lim "minum air dulu" kata chai sambil mengusap air mata adik nya "tuan" akia menarik chai.
"huaaaa... ya Allah... dosa ku masih banyak" leo terus berlari, sementara kal memberikan pisau nya ke bodyguard yang lain secara diam diam "ptas" leo memotong CCTV ke dua lalu kembali lari "kerja bagus" kata jerico.
"dia mulai tenang" kata niko melihat ke arah layar "aku bersedia mati di tangan mu" kata chai "TUAN!! " kata bodyguard nya yang lain.jeje mengusap air mata nya lalu mengambil senjata nya "bidik kah jantung ku, agar aku mati dengan cepat dan itu tidak akan membuat mu melihat ku meregang nyawa" kata chai "kakak" tangisan jeje masih sesekali terdengar "lakukan adik ku" kata chai tanpa rasa takut.
"DORR DORR DORR DORR" monnie langsung terlukai lemas jeje menunduk menjatuhkan dirinya ke lantai "TIDAAAAK!! TIDAK".
Crist tertawa "yeaah.. aku suka ini" kata Crist perlahan jeje kembali bergerak mengambil pisau "jrass" darah menutupi kamera nya "TIDAAAAK!! " kata monnie "lari terus" kata Steven "niko lakukan tugas mu" kata kal "OH.. TIDAK TUAN CHAI" niko berdiri "ini sangat menyedihkan kenapa.. kenapa kau melakukan ini" kata niko kal bergerak mendekati monnie, perlahan Crist menatap niko "jujur aku sedang tidak akting aku benar-benar sedih aku merasakan penderitaan mu baby" kata niko "taxi" kata jeje sambil membawa plastik yang berlumuran darah "kenapa kamera nya mati semua? " kata feat "heh!! " Crist menendang niko.
cai melihat kal semakin mendekat dan melepaskan ikatan monnie dan cai "jangan bergerak nyonya terus lah akting seakan akan kau masih Terikat " bisik kal "aduh" Steven dan leo jatuh di tangga Steven mengedipkan sebelah mata nya ke jerico "ini sangat menyedihkan" niko melirik ke arah remot kontrol di dekat Crist "DIAM DAN DUDUK!! " seru Crist niko langsung duduk di dekat meja itu "ayo niko lakukan itu" kata kal "kau juga jika banyak bicara aku akan membunuh mu" kata Crist dengan nada mengancam "baik" kata niko "kau mau kemana lagi? aku bilang diam! " kata Crist "iya iya" niko duduk "bagus" kata jerico "aku tidak sabar melihat jantung chai" kata Crist dengan wajah penuh kemenangan "aku harus bisa mengambil remot itu" kata niko dalam hati dia melihat ke arah kal "hati Hati" kata kal niko mengangguk.
dengan langka gontai jeje masuk ke tempat itu.semua mata menatap ke arah nya tubuh jeje bahkan wajah nya sudah terkena darah semuanya jeje mengusap air mata nya "selamat datang nona Soikham kemarilah" kata Crist, jeje mendekati Crist dan niko mengambil remot itu ketika semua nya terfokus ke plastik yang di bawa jeje .
kal kembali bergerak mencoba melepaskan rompi bom itu semetara Crist tertawa puas "akhirnya chai tewas" Crist tertawa keras "sekarang bebaskan mereka " kata jeje "oh tidak bisa" kata Crist sambil tersenyum "apa maksud mu" jeje menarik kerah Crist "dua jam bukan waktu untuk membunuh chai tapi waktu bom itu aktif" kata Crist sambil tersenyum licik dan ternyata bom iyi sudah aktif sejak awal!! bagaimana ini? jeje langsung menatap ke arah monnie dengan wajah panik.
apa yang harus di lakukan?