What Is Love

What Is Love
undangan pertunangan



jeje berdiri di depan cermin mengacak-acak sedikit rambut nya lalu memakai topi dia terlihat sedang memikirkan sesuatu "nona tuan menyuruh segera sarapan" kata jerico "dua menit lagi" kata jeje lalu dia berjalan keluar menuju ruang game nya mengambil satu flashdisk lagi dari kotak kecil "jeje kenapa kau lama sekali" kata monnie "ya ya aku datang" jeje meluncur di tangga dengan sket board nya "jeje! " kata chai "iya iya tidak akan ku ulangi" jeje duduk "makan yang banyak aku antar kau ke kampus" kata monnie "tidak perlu aku bisa pergi sendiri" kata jeje "oh.. sayang sekali pada aku ingin sekali mengantar mu" kata monnie "aku bukan anak kecil kak monnie aku tau jalan ke kampus" kata jeje "ya sudah makan saja cepat" kata chai "tapi aku akan bosan" kata monnie "kau bisa berenang bersama lino" kata jeje "apa? " kata chai "maksudku kakak ipar bisa menghabiskan waktu dengan berenang, belanja hum.. ya apa saja" kata jeje "aku akan menyuruh may menemani mu" kata chai "ya baik lah" kata monnie.


seperti biasa di pagi hari jojo dan yang lain membagi bagikan makanan dan juga pakaian ke orang orang "jeje datang" kata Ariel "jeje" kata desi "o" jeje menghampiri mereka "nona jeje terimakasih" beberapa orang menunduk "jangan lama lama cepat pergi sana" kata jeje "nona jeje" seorang pria muda datang menghampiri nya kal langsung mendekati jeje "nona jeje" pria itu berlutut lalu memberikan sebuah box ke jeje "berkat mu berkat perkataan mu aku sekarang dapat kerjaan di sebuah minimarket" kata pria itu "aku memberi mu hadiah dari gaji pertama ku" kata pria itu "berapa gajimu sehingga kau berani memberi ku hadiah? " kata jeje "tidak banyak tapi aku bisa hidup karena nya suatu saat aku akan mendapatkan gaji besar dan bisa memberi mu hadiah yang banyak" kata pria itu "banjingan" je menarik kerah pria itu mengambil box itu dan menyerah kan nya ke kal "gaji yang gak seberapa jangan coba coba memberi ku hadiah! " kata jeje pria itu tersenyum "aku mengerti" kata pria itu "jika kau lakukan lagi aku akan menghajar mu dengan tangan ku sendiri pergi dari hadapan ku" kata jeje pria itu mengangguk "aku sayang kamu nona aku bangga bertemu dengan mu" pria itu pergi "apa yang kau masuk kan di dalam sakunya? " tanya kal "dia butuh beberapa lembar uang lagi agar dia semakin semangat keluar dari ruangan gelap nya" kata jeje sambil mengambil box dari tangan kal membuka isinya terlihat di dalam nya ada gelang berwarna hitam "simpan ini" kata jeje lalu dia menghampiri Ariel "cukup kan? kalian sudah makan" kata jeje "cukup kami barusan makan" kata Ariel "Hai je" kata jojo "hm" jeje mengambil kotak makanan di meja dan ikut membagi kan nya "kalian gak bosan ya gini terus besok minggu depan kemungkinan aku tidak memiliki uang kalian harus pintar mencari makan jangan kalah sama tikus di gedung " kata jeje "kerja dong masa minta terus gak bosan apa hidup susah" kata jeje "hei nona kau niat berbagi tidak" kata seorang pria dewasa yang ada di dalam antrian "apa kau tidak suka kau bisa pergi tanpa membawa apa apa" kata jeje pria itu keluar dari barisan dan mendekati jeje tapi beberapa bodyguard menghalangi nya "kau marah? kau marah? KAU MARAH? " jeje mendekati pria itu "tentu saja! kau berbagi tapi kau juga mencaci aku tidak bodoh seperti mereka yang diam" kata pria itu "bagus lah.. itu tanda nya isi kepala mu masih berfungsi kenapa ka tidak cari kerja? kau tidak mau di caci kan maka kau harus berada di atas ku dengar paman tua JIKA KAU DI BAWAH KAU AKAN SELALU DI CACI ORANG LAIN KAU AKAN DI HINA ORANG LAIN DAN AKAN DI PANDANG SEBELAH MATA OLEH ORANG LAIN jika tidak mau begitu berusaha lah mengubah dirimu belajar lah untuk meninggikan drajat mu" kata jeje pria itu terdiam "bahkan seumur mu sekarang siapa yang peduli dengan mu? anak, keluarga tidak ada!! TIDAK ADA PAMAN!! kau akan terkunci di ruangan gelap itu sendirian" jeje memegang bahu pria itu "lawan dirimu Terima semuanya tapi jangan diam saja setelah nya kau harus berjuang ingat kau sendirian kau tidak memiliki siapa pun tidak ada teman, sahabat, saudara, keluarga, mungkin Tuhan mu juga tidak ada di pihak mu, kau penuh penderitaan jika kau tidak bergerak kau hanya akan mendapatkan cacian seperti tadi" kata jeje "sering-sering lah menampar diri mu agar kau sadar kalau kau masih hidup meskipun terasa mati" kata jeje sambil mundur "aku akan pergi" kata jeje "jeje tunggu" kata jojo "kau mau apa? " kata jeje jojo mendekati nya "kau marah pada ku? " kata jojo "kau tau jawabannya" kata jeje "aku tidak tau" kata jojo "maka berfikir lah" kata jeje "aku tau mungkin kau marah" kata jojo "bukan mungkin tapi memang" kata jeje "tapi kenapa? " kata jojo jeje menarik jojo dekat dengan nya "yang kau bela adalah orang yang melempar ku dengan ribuan kaca seperti orang sebelum nya" bisik jeje lalu dia pergi.


di kampus..


jeje melompati pagar tembok seperti biasa "sepi ya? " jeje berjalan sambil melihat kanan kiri "bagus lah.. aku bisa bersantai di kolam" fikir jeje "ehem! " jeje berhenti menoleh perlahan ke samping terlihat Gilang berdiri sambil memegang buku absen "cih" jeje berjalan selangkah "hei" kata Gilang sambil menarik topi hoodie jeje "apa sih! lagian aku datang tepat waktu" kata jeje "tepat waktu kata mu? jangan coba coba membodohi dosen yang sedang piket" kata gilang "hei dosen payah lihat ini jam berapa? " jeje menunjukkan ponselnya "jam sebelas tepat" kata gilang "nah kan tepat!! berarti aku tidak salah karena sudah tepat waktu" kata jeje "hei.. apa nya tepat? ini memang jam sebelas tepat tapi kau datang terlambat" kata gilang "kenapa kau jadi cerewet diam saja kan simpel " kata jeje "ini lihat" gilang menunjukkan buku absen "absen mu sudah banyak kosong" kata gilang "biar saja" kata jeje "apa kau tidak kasihan pada kakak mu yang menaruh harapan pada mu" kata gilang "jangan ikut campur ini makan ini" jeje memberikan beberapa permen karet ke gilang.


dila menatap meja jeje yang kosong "apa dia tidak datang? " fikir dila "ayo ke kantin" kata baim "hei.. ayo ikut gak aku tadi lihat jeje di kolam" kata rizi "ikut" kata vito "kita beli makanan dulu" kata dila.


jeje menatap layar laptop di depan nya tatapan terlihat begitu tenang sesekali dia meneguk sodanya terlihat dilayar laptop nya ada seorang wanita dan pria bergandengan begitu dekat "aku ingin kita main ke sana yuk" kata wanita itu "mau mau kesana? bukannya tadi kau mau pulang" kata si pria "eh tunggu diam lah ada sesuatu di wajahmu biar aku ambil" kata si wanita "oke" si pria menundukkan sedikit tubuhnya agar si wanita mudah mengambil kotoran di wajahnya "eh" pria itu tiba-tiba berdiri tegap dan memalingkan wajahnya "kenapa? " kata si wanita "kau terlalu dekat" kata si pria yang terlihat tidak terlalu nyaman "kenapa kau suka aku kan? " kata si wanita sambil melompat sedikit "ummach" si pria terlihat kebingungan dengan tingkah wanita di dekat nya "kau sedang apa? " tanya si pria "tidak papa" kata si wanita.


"JEJE AKU DATANG" jeje menoleh "byurrr" laptop masuk ke dalam kolam "ya ampun" kata mawar "gawat" jeje melompat ke air mengambil laptop nya "bagaimana? " kata anggel jeje naik ke dari kolam mengambil flashdisk nya "maaf ya" kata mawar dan dila "tidak papa" jeje melepas topinya "kayanya ini harus di keringin"kata rizi sambil membolak balik laptop yang sudah basah " pakaian mu juga basah"kata anggel "aku akan mengambil pakaian di loker ku" kata jeje "biar aku saja " kata dila "ini kuncinya" kata jeje.


"seharusnya aku gak bikin dia kaget" kata dila sambil berjalan membuka loker milik jeje "pena palsu ini banyak sekali" dila ingat kemana jeje pergi akan ada pena yang dia bawa yang sebenarnya di dalam pena itu adalah pisau kecil "hei kau sedang apa? " kata niko "astagfirullah kak niko" kata dila "kau kenapa buka loker baby? " tanya niko "jeje jatuh ke dalam air" kata dila "jadi aku mengambil baju ganti untuk nya" kata dila "di mana dia? " tanya niko "di kolam" kata dila.


wahyu memperhatikan ale yang terlihat kebingungan dengan beberapa orang lainnya " ada apa? "tanya wahyu " hum.. laptop ale hilang saat di tinggal sebentar di perpustakaan "kata leo " astaga"kata adhi "kami lagi cari namun tidak ketemu" kata aciel "cuma laptop nya yang hilang yang lain tidak bahkan flashdisk nya juga di tinggalin aneh kan " kata ale "iya sih" kata wahyu "bagaimana apa sudah ketemu? " gilang datang "belum pak" kata leo.


jeje duduk bersama yang lain "ayo makan aku beli puding durian nih" kata rizi "aku juga beli minni cake" kata anggel "aku beli seafood bakar" kata rizi "aku dengar kemarin kakak mu mau tunangan apa kami akan di undang? " tanya dila "benar tuh aku baru sekali loh lihat kakak mu waktu dia datang ke kampus" kata vito "benar tuh" kata baim jeje menatap teman teman nya "kalian tidak akan datang" kata jeje "kenapa? " kata rizi "kami bisa kok bersikap baik" kata anggel "bukan itu" kata jeje.


bai menunduk di depan chai "tuan semua undangan nya sudah di bagikan" kata bai "sudah habis? " tanya chai "sudah tuan namun karena undangan itu sudah di bagikan ada salah satu dari mereka yang membocorkan nya ke publik kemungkinan wartawan akan datang ke kantor" kata wutt "perketat saja penjagaan" kata chai "bai tuan" kata bai.


"kalian tidak akan mengerti tapi pada intinya" jeje menatap sumpit yang dia pegang "kalian bisa patah atau terluka seperti ini" jeje mematahkan sumpit nya "tapi bukan kah itu acara bahagia? " tanya mawar "mungkin orang normal akan berfikir begitu itu cuma acara biasa tidak berbahaya tapi di mata orang lain itu adalah peluang untuk membunuh ku misal nya atau melakukan hal lain" kata jeje "seharusnya juga kalian tidak ada di dekat ku. karena aku berbeda dari berbagai segi kehidupan dengan kalian" kata jeje "jangan begitu" kata vito "namun kenapa kau tidak meminta polisi untuk mengamankan acara tunangan itu agar kau aman" kata baim "polisi? " jeje tersenyum sinis "mereka bisa apa? melihat lembaran bernila saja mereka langsung hilang arah" kata jeje "aku jarang melibatkan polisi dalam urusan ku karena mereka tidak dapat di andalkan" kata jeje "ini seperti di film film aksi loh tapi ini nyata " kata dila "lalu dimana jeje palsu sekarang? " tanya mawar "dia sudah lari" kata jeje "ya ampun... dia benar-benar pantas mendapatkan hukuman" kata vito "benar aku sangat puas di saat jeje menghajar nya waktu itu" kata rizi "kalian tidak takut melihat itu? " kata jeje "tidak" mereka menjawab bersamaan "hidup kita memang berbeda dari segi apapun namun kita masih bisa bersama melalui segi lain seperti pertemanan, persahabatan atau keluarga" kata anggel "benar apapun itu asal benar tidak masalah" kata vito "tidak mungkin kehidupan kita sama jalan kehidupan tentu nya berbeda beda namun semua nya bisa kita jadikan satu dalam bentuk pemahaman" kata mawar "apapun itu teman tetap teman tidak ada yang boleh meninggalkan atau di tinggal begitu saja" kata baim "apa mereka benar-benar menganggap ku seorang teman? " fikir jeje.


monnie tersenyum senang "jadi undangan tunangan kita sudah di bagikan semuanya? tanya monnie " iya apa kau senang? "kata chai " aku senang dan di sana aku yakin itu sangat sangat indah dan menyenangkan "kata monnie " kita akan berdansa berdua "kata chai " bagaimana dengan jeje? "kata monnie " kenapa? "kata chai " aku berharap dia akan menemukan pasangan di sana"kata monnie "aku harap juga begitu" kata chai "baiklah cepat pulang aku akan buatkan sesuatu untuk kalian berdua" kata monnie "baik kau jangan terlalu lelah" kata chai "iya kau lanjut lah bekerja" kata monnie "aku sayang kamu" kata monnie "aku juga" kata chai.


"permisa di rumah ada kabar yang membuat siapa saja terkejut sekaligus gembira siapa yang tidak kenal dengan tuan muda soikham semuanya pasti mengenal nya namun baru saja tuan muda soikham menyebarkan kabar baik yaitu pertunangan nya dengan gadis impian nya " jeje menoleh ke arah televisi di toko tempat nya membeli snack "apa? kenapa di siarkan? kok bisa " fikir jeje "undangan nya kok bisa di siarkan sih kakak ini bagaimana? " fikir jeje sambil mengambil ponsel nya.


"kakak kenapa undangan pertunangan nya di siarkan di televisi? kau ini bagaimana? " kata jeje "jangan marah aku juga tidak tau" kata chai "bagaimana ini bahaya tau! bagaimana kalau ada yang niat buruk" kata jeje "tenang aku akan amankan semuanya kau segera pulang sebelum wartawan mengetahui keberadaan mu" kata chai "oke " kata jeje sambil berjalan masuk ke dalam mobil.