What Is Love

What Is Love
jeje berubah



chai menyipitkan matanya melihat adiknya memperhatikan beberapa ruangan yang ada di dalam rumah "kenapa? " kata chai "hum.. jadi ini rumah nya" kata bunga "maksudnya? " kata chai "oh.. tidak aku aku merasa rindu rumah" kata bunga "greb" chai menarik tangan bunga memperhatikan wajahnya "ada apa? " kata bunga "sudah malam pergi ke kamar" kata chai "baik" kata bunga sambil berjalan "kamar bukan di sana" kata chai "iya aku aku tau" kata bunga chai berbalik "bai " chai berjalan masuk ke sebuah ruangan bai mengikuti dari belakang "ada apa tuan ? " kata bai .


keesokan hari nya...


"kenapa aku harus bersama para pengawal ? aku kan mau ke kampus" kata bunga "apa katamu" kata chai "ini semua kan demi keamanan mu" kata milli sambil meletakkan segelas jus ke atas meja "hei pembantu jangan ikut campur sana pergi" kata bunga "berani sekali dia berkata seperti itu pada kak milli" ucap jeje lalu dia memperhatikan telapak tangan nya yang berdarah akibat semalaman mencoba mencari jalan keluar dari ruangan itu namun tidak bisa semuanya sudah di rancang agar siapapun yang masuk ke dalam tidak dapat keluar kecuali dari pintu "kakak itu bukan adik mu aku adikmu" ucap jeje. chai mengangkat satu tangan nya "pergilah milli" kata chai "aku tidak mau ke kampus kalau aku harus pergi dengan mereka" kata bunga "apa kau lupa? " chai menatap bunga dengan datar "kau itu adikku kapan kau bisa mati jika musuh tau kau sendirian" kata chai bunga terdiam "bagaimana ini jika para pengawal nya ikut aku gak akan bisa menemui tuan alder" kata bunga dalam hati.


di kampus....


bunga berjalan sambil membawa tas matanya melihat teman teman nya dulu "Hai je" bunga menoleh melihat rizi menyodorkan satu keleng cola dingin "apa kau tidak waras? ini masih pagi kau sudah memberi ku soda" kata bunga "bukannya kau biasanya minum ini? " kata rizi "oh iya aku kan jeje aku lupa dia mungkin minum soda" fikir bunga "pagi pagi gak baik minum ini pag--" kata niko "pagi niko" kata bunga sambil tersenyum "apa kau sibuk? " tanya niko "hum tidak" kata bunga "sudah lama aku tidak melihat mu, kau tetap tidak berubah rasanya aku ingin memelukmu" kata bunga dalam hati "kenapa kau menatap ku seperti itu? " tanya niko "hum tidak papa" kata bunga rizi pergi "kenapa aku merasa jeje bersikap aneh? " kata rizi "bagaimana kalau aku mengantar mu ke kela" kata niko "hum boleh" kata bunga, jeje menepuk dahinya "kenapa kau menggunakan wajah ku untuk mendekati orang tolol" kata jeje "aku mersa kaya ada yang kurang di saat aku menatap nya tapi apa ya? " fikir niko "hum.. ba--" kata niko "oh ya niko kelas nya sudah sampai" kata bunga "hum.. bagaimana kalau nanti kita makan malam bersama" kata niko "di mana? " kata bunga dengan wajah senang "aku akan menjemput mu di tempat biasa" kata niko "tempat biasa? dimana? " kata bunga "kau lupa? " kata niko "ya aku aku kan pelupa" kata bunga "di taman jalan asoka" kata niko "baik aku akan ke sana" kata bunga niko tersenyum lalu pergi "apa?" kata jeje "griit" pintu terbuka tiga orang datang dengan membawa makanan "wah ada makanan apa hari ini" jeje menghampiri mereka "apa ini? daging? " kata jeje "ya itu daging burung unta" kata lion "tidak tidak aku tidak mau panggil alder suruh dia buatkan aku ramen" kata jeje "hei kau makan saja jangan banyak bicara, ayo kita keluar" kata lion jeje menatap mereka pergi pintu tertutup "yo! aku datang bunga aku siap menarik usus mu keluar" jeje mengeluarkan kartu yang di curi dari salah satu orang tadi "alder!!! dasar Brengsek makanan apa ini!! " seru jeje "**** YOU!! " kata jeje.


malam hari nya...


jeje berbaring di atas ranjang sambil memakan beberapa makanan ringan terlihat layar di depan nya wajah niko sedang tersenyum "ngomong ngomong apa hubungan mu dengan pak polisi kenapa aku sering melihat pak polisi ada di sekitar mu? " kata niko "polisi? " bunga langsung berfikir keras "polisi apa ini? aku harus Jawab apa? " fikir bunga "hum.. kau terlihat bingung maaf ya lupakan saja" kata niko sambil memberanikan diri menggandeng tangan gadis di samping nya wajah bunga langsung merah dia menatap tangan niko yang menggandeng nya. jeje berhenti mengunyah makanan nya .


di rumah makan..


bunga tidak bisa berhenti memandang niko yang ada di depan nya "niko ini enak kau coba kah punya ku" jeje menatap tangan bunga yang memegang sumpit hendak menyuapi niko ada rasa panas menjalar ke dalam tubuhnya ras kesal dan juga marah niko tersenyum lalu memakan makanan yang di berikan bunga untuknya "ini enak banget" kata niko "tap tap tap" alder datang menatap jeje yang diam lalu menatap layar di sekitar kamar "what the ****! " alder langsung mengeluarkan ponsel nya, "aku ke kamar mandi dulu ya" kata bunga niko menganggukkan kepala nya alder terlihat semakin kesal "eh ponselmu" kata niko tapi bunga ke buru jauh "tumben juga baby bawa tas beginian" niko tersenyum lalu melihat ponsel bunga yang ada di atas meja "tuan alder" terlihat sebuah nama di layar ponsel nya tak lama kemudian bunga datang "oh ya hum ponsel mu berbunyi" kata niko "oh ya" bunga melihat ponsel nya "aku angkat telpon dulu ya" kata bunga "iya" kata niko sambil melihat bunga menjauh "ya tuan" kata bunga "apa yang kau lakukan kenapa kau malah kencan? tugas mu hanya mengambil semua dokumen milik chai lalu membunuhnya " kata alder "maaf aku tuan aku aku tidak akan lupa pada tugas ku" kata bunga "lalu kenapa kau malah pergi bers--" kata alder "bersama orang yang sering aku buly huhuhu memalukan" sahut jeje "diam kau! dengar aku tidak mau tau dapat kan dokumen itu lalu bunuh dia perlahan" kata alder "i.. iy.. iya tuan" kata bunga. "jeje kau di sini" kata Ariel bunga menoleh "siapa kau? " kata bunga "woah... kau melupakan aku? hei ada apa kau datang dengan siapa ke sini" kata Ariel bunga langsung pergi membuat Ariel terdiam "maaf ya aku lama" kata bunga "iya hum.. apa kakak mu menelpon mu" kata niko "hum iya seperti nya aku harus pulang" kata bunga "iya aku akan antar kau pulang" kata niko "iya" kata bunga.


jojo melihat Ariel duduk di sofa dengan wajah murung "ada apa? kenapa makanan nya gak di buka? " kata jojo "aku bertemu jeje" kata Ariel "lalu? kenapa kau tidak ajak ke sini agar kita makan bersama dia juga udah jarang kan ke sini" kata memo "dia dia bahkan berkata buruk pada ku" kata Ariel jojo langsung mendekati Ariel "ada apa? " kata jojo "dia berkata buruk pada ku dan juga tidak mengenali ku seakan akan aku bukan sahabat nya aku lagi berfikir salah aku ada di mana" kata Ariel "hei.. jeje bersikap aneh ketika dia ingin melindungi kita mungkin dia pura pura tidak mengenal mu karena ada musuh di sekitar nya" kata jojo "iya kau jangan terlalu di fikir kan" kata desi "iya Ariel" kata memo "tapi aku tidak pernah mendengar jeje mengatakan ke kita kalau kita itu ******" kata Ariel "oh.. mungkin itu agar kau menjauh dari sana percaya lah jeje melakukan sesuatu pasti ada alasan nya nanti aku akan menemui jeje" kata jojo.


jeje melihat layar di depan nya "****... ****.. ****... hiaaahh!!! " jeje mengacak acak rambutnya "kak kal kamu di mana... jangan biarkan dia ikut dengan bunga" kata jeje "kenapa dia tidak jerawat dengan pukulan ku, dasar sialan kau bunga" kata jeje "jeje! " lim terlihat di layar "ayo masuk ke dalam mobil" kata lim "berani sekali kau memanggil ku begitu" kata bunga "nona soikham! " kata bunga "nona soikham anda harus pulang" kata zio "aku mau pulang den--" bunga melihat niko sudah tidak ada di samping nya "ayo cepat" ka menarik bunga ke dalam mobil "kemana niko" fikir bunga "maaf ya aku tadi ang--? " niko tidak lagi melihat bunga ada di tempat nya "gara gara wahyu nih, baby jadi pergi" kata niko sambil memasukan ponselnya ke dalam sakunya.


keesokan... harinya


seorang pria terlempar ke atas sebuah meja jeje menatap nya dengan datar mendekati pria itu sambil membawa gelas kosong terlihat beberapa pria sudah tidak bergerak di lantai jeje mengayunkan gelas itu ke atas lalu menghantam kannya ke kepala pria itu darah muncrat pria itu terlihat lemas tidak berdaya jeje mengambil serpihan gelas yang berserakan "hei!! " athan datang dengan pistol di tangan nya jeje menatap nya dengan santai "angkat tangan mu" kata lion jeje tersenyum lalu melemparkan serpihan gelas itu ke arah mereka "tap!! " azam menangkap serpihan gelas itu dengan tangan nya "tembak aku kalau berani" jeje menarik pria di atas meja tadi sambil berjalan perlahan mendekati lion "bruakkk!!! " jeje melempar pria itu ke arah mereka lalu keluar dari pintu yang masih terbuka jeje berlari dengan cepat melompati sofa, meja, tangga dan lainnya "ku fikir aku harus menunggu lebih lama" jeje melompati pagar tembok itu dengan sangat gesit "kejar dia!!! " kata azam "aku harus cari telpon umum" kata jeje sambil terus berlari "berfikir berfikir kalau aku lari terus aku akan tertangkap" kata jeje.


"dimana dia? "


"tadi kayanya lari ke sini"


"iya aku juga melihat nya"


"cepat berpencar jangan sampai tuan tau kalau dia melarikan diri"


kata beberapa pengawal, "huffff.. " jeje tersenyum melihat para pengawal menjauh dari atas pohon setelah agak lama akhirnya jeje turun dari atas pohon "yeah.. ada gunanya juga menjadi orang yang suka mencuri buah buahan di atas pohon" jeje lanjut pergi "kemana dia" fikir azam "bruaggg" sebuah taxi berwarna kuning menabrak jeje "aduhh bangsat" kata jeje sambil menatap supir taxi "hei aku akan membunuh mu nanti" jeje mengelap darah dari hidung nya lalu pergi "hum? " penumpang taxi kebingungan melihat apa yang baru terjadi.


bunga keluar dari pintu "apa kau sedang membuat lelucon di kamar ku? " bunga terkejut mendengar suara chai "ouh.. kakak.. aku terkejut" kata bunga "kali ini kejahilan apa lagi yang kau lakukan di kamar ku" kata chai bunga tersenyum "kejutan tidak boleh di katakan" kata bunga "baiklah.. aku akan mencari sendiri nanti, sekarang apa kau tidak ke kampus? " tanya chai "tidak kak aku sedang tidak enak badan" kata bunga "ya tidak papa kebetulan bai juga ada di rumah dia akan mengurus dokumen dari perusahaan yang baru aku beli" kata chai "dokumen? " kata bunga dalam hati "aku akan berangkat kerja kau tidak mengantar ku? " kata chai "aku akan antar" bunga tersenyum sambil berjalan duluan sampai ke pintu luar "aku akan menemui tuan fang untuk masalah bisnis kau jangan kemana mana" kata chai "siap kakak" kata bunga chai mengusap kepala bunga "oh" bunga menghindar ketika chai mau menyentuh wajahnya "ada apa? " kata chai "wajahku sedang iritasi tidak boleh di sentuh" kata bunga "oke" chai masuk ke dalam mobil bunga melambaikan tangan "bye bye aku menunggu mu pulang" kata bunga.


"klik" jeje menekan beberapa tombol di dalam telpon umum "ayo ayo ayo " kata jeje "aku sudah susah payah mengingat nomor telpon rumah " kata jeje, bunga tersenyum "aku harus cari orang bernama bai" kata bunga "kring... kring" bunga menatap telpon di ruang tamu berbunyi "jangan biar aku saja" kata bunga ketika plot non ingin mengangkat telpon itu "baik" kata plot non bunga berjalan mendekati telpon itu "halo" kata bunga "halo? " kata bunga. jeje terdiam "ini suara siapa? bukan kak monnie bukan kak milli hum.. suara di ****** sialan itu" jeje menutup telpon "dasar gak jelas" kata bunga "oh ya pembantu di mana ruangan bai" kata bunga "di lantai tiga" kata milli.


jeje mengusap wajahnya "ah.. nomor kak lim" kata jeje sambil menekan bebrapa tombol "oooih" jeje menyadari ada serangan dari belakang dia langsung menghindari nya "dia di sini" kata lion "duagg"lion melotot " aw bilang sakit kan? "jeje keluar dari pintu telpon umum " ku yakin kau lumpuh "kata jeje sambil lari " lion? "kata azam " ahh.. dia menendang barang berharga ku aw... tidak papa kejar dia"kata lion, "kemana aku sembunyi? " fikir jeje sambil mengusap perban yang ada di lehernya "ah.. ke restoran saja" kata jeje "paman biu pasti ada di sana" jeje berlari lagi "taxi taxi" kata jeje "silahkan nona" ada taxi biru berhenti "akhir nya" jeje membuka pintu "oih!! " jeje menyadari siapa supir nya buru buru berbalik "jleb" jeje terdiam azam tersenyum "obat ini satu satunya yang bisa melumpuhkan gerakan mu" kata azam jeje masih mencoba ingin lari namun baru beberapa langkah tubuh nya perlahan lumpuh tidak bisa di gerakan.


niko melihat leo sedang ngobrol dengan beberapa temannya "aku tidak tau aku sedang halusinasi atau tidak tapi itu yang terjadi" kata leo "kita pastikan dulu" kata ale "dia berdarah di hidung dan ada perban di leher" kata leo "kalian bahas apa? " tanya wahyu "eh kalian sudah datang" kata adhie "kak niko jeje sudah datang" kata vito leo langsung berdiri ke arah jendela "benarkah? " kata niko "haah" leo menatap teman teman nya "kenapa dia baik baik saja? " kata leo "iya tidak ada tanda tanda luka yang kau katakan" kata adhie "sumpah guys.. darahnya masih menempel di taxi nya aku memotret nya nih lihat" kata leo "iya ya" kata ale "mungkin kebetulan wajahnya mirip" kata yang lain "iya tapi.. cara bicara nya itu benar benar mirip" kata leo "apa yang kalian bahas? " kata wahyu "dia melihat jeje di pagi hari saat mau ke kampus" kata ale "jeje? tapi dia ada di sini" kata wahyu "bentar guys aku butuh ketenangan" kata leo "aku gak mungkin salah lihat kan? " leo kembali mengingat gadis yang ada di depan taxi yang dia tumpangi tadi "yu" niko datang "aku ke kantin dulu dengan jeje ya" kata niko "oke" kata wahyu tiba-tiba leo menatap niko di samping nya juga ada bunga dengan hoodie dan rok pendek serta celana legging yang ketat "ada dua orang berwajah sama tapi oh.. penampilan berbeda yang satu pakai rok dan celana ketat yang satu tadi tidak memakai hoodie yang sama, jeje kasar ah.. ya jeje itu kasar pada niko " fikir leo "leo kenapa kau jadi sok detektif" kata ale "jeje" archie mendekati jeje "jangan dekati aku! aku tidak suka padamu aku suka pada niko" kata bunga "aku" kata archie "aku juga gak mau melihat wajahmu " kata bunga "aku butuh buku" kata leo "ambil nih" kata ale "ini keajaiban kan? dua orang berwajah sama aku harus menggambarkan nya di buku" kata leo "jeje sekarang berubah ya dia dekat dengan kak niko sekarang dan melupakan kita" kata rizi "tapi aku senang dia sekarang mau mengerjakan tugas dan mencatat materi yang di berikan dosen dan bersikap baik pada bu Tini" kata dila sambil melihat bunga dan niko berjalan berdua.