
pintu kamar terbuka chai terdiam melihat adik nya duduk di lantai dengan mata terpejam "oiih!! " jeje berdiri sambil mengacungkan pisau kecil nya ketika mendengar suara chai yang baru maju selangkah langsung terdiam "uhmm? " monnie terbangun dari tidur nya "kakak" jeje menatap chai "suami ku" kata monnie "ada apa ini? " kata chai "kakak ipar sakit" kata jeje sambil menyimpan pisau nya kembali chai mendekati jeje memegang tangan jeje dengan sedikit kasar "oih kakak" kata jeje "wajah mu juga memar apa yang terjadi? " kata chai "tidak ada, jaga kakak ipar aku harus mandi" jeje pergi "apa yang sakit" chai menghampiri monnie "kata dokter aku kelelahan hasil pemeriksaan nya belum keluar aku cuma tidak enak badan" kata monnie "dan adik ku? " kata chai "dia menjaga ku dari dia pulang dari kampus" kata monnie "hum.. kau tunggu sebentar aku akan meminta may mengantarkan sarapan ke kamar" kata chai "tidak tidak aku masih bisa jalan ke bawah" kata monnie "hum.. kau yakin? " tanya chai "tentu".
di kampus...
" bagaimana dengan kalian? "rizi datang " kami baik baik saja"kata mawar "anggel? " kata rizi "hum.. jangan kawatir pada ku aku baik baik saja, tapi bagaimana dengan jeje" kata anggel "dia belum bisa di hubungi" kata vito.
dokter membuka baju seorang pria yang sedang berbaring tidak sadar kan diri di atas ranjang, setelah baju nya di buka terlihat ada bekas di dada pria itu "ini bukan pukulan biasa karena ini benar-benar mematahkan tulang bagian dalam " kata dokter "ini mengerikan apakah itu pukulan dari tangan langsung atau dengan benda? " kata perawat "aku yakin tangan " kata dokter "dokter wanita yang membawa pria ini ingin bicara pada mu" kata seorang perawat yang baru datang dokter langsung pergi keluar.
"aku sudah mengirim beberapa orang buat berjaga jaga kau tetap buat dia sadar dengan cara apapun" kata jeje "baik nona tapi saat ini pasien sedang kritis" kata dokter "lakukan sebisa mu aku akan datang ke sana nanti" kata jeje "kau mau kemana? " jeje berhenti melangkah chai langsung mengambil ponsel yang di genggam oleh jeje "aku mau ke rumah sakit" kata jeje "apa yang terjadi" kata chai "crist menyerang ku dan beberapa orang sekelas ku " kata jeje "apa!!! be--" mulut chai di tutup oleh tangan jeje "jangan terlalu keras nanti kak monnie dengar dia nanti akan panik " kata jeje "kau terluka? " kata chai.
di ruang makan..
"aku akan makan nanti" kata jeje sambil meletakkan sumpit nya chai dan monnie langsung menatap nya "makan sekarang" kata chai "kau baik baik saja? " tanya monnie "sial tubuh ku benar benar terasa sakit bahkan tangan ku terasa berat dari sebelum nya" kata jeje dalam hati "jeje" kata chai "iya" kata jeje "kau terlihat sakit je" kata monnie "tidak kok ayo makan" kata jeje sambil kembali memegang sumpit nya dan mulai melahap sepotong cumi pedas "huueek!! huuuk.. huek" monnie kembali seperti ingin muntah jeje dan chai langsung membantu monnie "kakak ipar kau mau muntah lagi" kata jeje "ambil air hangat" kata chai "ini tuan" kata milli "ini minum lah" kata chai "aku gak tau kenapa aku merasa mual lagi" kata monnie "aku akan hubungi dokter lagi" kata jeje.
"tuan" bai mengetuk pintu kamar chai "katakan" kata chai dari dalam "nyonya besar akan datang ke sini tuan dia baru saja menghubungi wutt" kata bai "oke" kata chai ponselnya bunyi "halo ma, mau apa datang ke sini? " kata chai "dengar ma lebih baik tidak usah datang dengan nya, dia selalu mencaci adik ku!! apa kau tidak dengar apa yang dia katakan pada adikku.. " kata chai "iya iya aku tau aku tau.. tapi aku dan adikku berbeda dia boleh berkata apapun pada ku tapi tidak pada adik ku" kata chai "kakak" jeje datang dengan seorang dokter "tidak perlu datang" chai melempar ponsel nya "dokter istri ku tolong dia" kata chai "tuan chai hasil pemeriksaan sudah keluar dan anda tidak perlu panik " kata dokter "oi oi kau ini bicara apa? " kata jeje "tenang nona karena kakak mu ini akan menjadi ayah" kata dokter "ayah? " kata jeje "ayah? maksud mu" kata chai "istri mu sedang hamil tuan chai " kata dokter "selamat ya" kata dokter sambil menyerahkan hasil pemeriksaan monnie kemarin chai membuka nya dan membaca nya seketika wajah nya yang terlihat kaku langsung berubah chai menatap jeje "kakak ipar sedang mengandung bayi" kata chai "oh.. " kata jeje "aku sangat bahagia" chai memeluk jeje "ini arti nya hari yang bahagia" fikir jeje "akan ada bayi di rumah ini" kata chai sambil melepaskan pelukan nya melihat kakak nya tersenyum jeje pun perlahan tersenyum "itu artinya dia tidak sakit" kata jeje "benar " kata dokter "kakak ipar harus tau ini" kata jeje "benar" kata chai sambil menggandeng tangan jeje untuk menemui monnie.
monnie menatap jeje dan chai yang datang "kenapa kalian menatap ku begitu? " kata monnie "kakak ipar selamat ya" kata jeje "kita akan menjadi orang tua" kata chai sambil memeluk monnie "apa? bagaimana? " kata monnie "kau sedang mengandung sayang" kata chai seketika air mata monnie mengalir "kenapa kau menangis? " tanya jeje "ini kan kabar baik? iya kan? "kata jeje " anak bodoh ini nama nya air mata bahagia "kata chai " hum? apa beda nya"fikir jeje "peluk aku" monnie menatap jeje "ayo peluk kakak ipar mu" kata chai "apa!! tidak " kata jeje "hu... ayolah peluk aku ini keinginan dari bayi nya" kata monnie "dia bahkan belum bisa bicara" kata jeje "peluk saja" kata chai "5 detik" kata jeje "aku keluar bentar" kata chai "aku benar-benar bahagia akhirnya aku akan punya bayi semoga dia lucu dan hangat " kata monnie "kau akan memiliki bayi manusia bukan api " kata jeje "ku harap kau kedepan nya juga hangat" kata monnie "aneh" kata jeje "suatu saat nanti akan ada pria yang meluluhkan es di hati mu" kata monnie dalam hati.
seorang wanita tersenyum menatap chai "di mana putri ku? " tanya wanita itu "kita tidak punya putri" kata dhika "suami ku jaga bicara mu" kata cai "jika kau datang untuk mencari keributan maka aku akan mengusir mu" kata chai "jangan hiraukan papa mu" kata cai sambil mengusap wajah anak nya dhika duduk di sofa "kakak aku mau per--?? " jeje terdiam chai langsung menatap adik nya "kau bicara apa tadi? " kata chai "tidak jadi" kata jeje "aih.. putri ku.. bagaimana kabar mu? " cai menatap jeje "ayo sini duduk" kata cai "hum.. aku" kata jeje "aku akan pergi" kata jeje "kau mau kemana? " tanya cai "ke aku hum aku ada urusan" kata jeje "biarkan dia pergi " kata dhika sambil meletakan gelas yang dia pegang "kau ini bicara apa" kata cai "dia juga gak pantas ada di sini"kata dhika " kakak"jeje menahan tangan chai yang sedang terlihat marah "kau yang tidak pantas ada di sini" kata chai "jangan dengar kan papa mu ya" cai mengusap wajah jeje "kau cantik sekali" kata cai "kau barusan bilang apa?" dhika menatap chai "aku mengusir mu dari rumah ku" kata chai "hanya karena anak pungut ini? " kata dhika "kakak kakak" jeje sekuat tenaga menahan chai "tidak masalah... aku aku akan pergi " kata jeje "kau mau kemana? " chai menatap jeje "ke rumah ku" kata jeje "diam di sini" kata chai "kendalikan amarah mu nanti kakak ipar dengar" bisik jeje "kenapa gak jadi pergi? " kata dhika "dia tidak akan pergi" kata chai "aku tidak bicara pada mu" kata dhika "ini rumah ku dan dia adik ku" kata chai "tolong jangan berisik kakak ipar sedang istirahat" kata jeje "dia bukan ipar mu, bisa kau jelaskan bagaimana kau masuk dalam nama ku? " kata dhika "dia bukan ipar ku tapi dia menantu mu, tuan tolong dia sedang istirahat di sana" kata jeje "suami ku" kata cai "jangan ikut campur" kata dhika sambil berjalan ke arah jeje "tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalam keluarga ku dan kau tidak di Terima dalam keluarga ku" kata dhika "kau tidak punya apapun, semuanya tidak ada" kata dhika "kau juga kenapa begitu membela nya!! kau rela keluar dari perusahaan keluarga soikham demi gadis seperti ini" kata dhika "dhika soikham yang terhormat.. ber--" chai merasakan tangan jeje di punggung nya "jangan bicara" bisik jeje "aku tidak tau salah ku apa pada mu tapi aku merasa aku tidak memiliki dendam apapun pada mu, aku tidak melakukan apapun pada putra mu" kata jeje "sungguh aku tidak melakukan apapun" kata jeje "anak buangan akan tetap anak buangan" kata dhika chai mengepala tangan nya "kau pasti menginginkan sesuatu sampai sampai berani bergabung dalam keluarga ku" kata dhika "apapun itu terserah mu aku tidak akan membantah " kata jeje "jeje kenapa kau lama sekali aku ingin makan alpo--" monnie menatap ada keramaian di ruang keluarga "dia mungkin pantas tapi kau tidak" kata dhika "apa yang terjadi? " monnie datang dan berdiri di dekat jeje "menantu ada di sini jangan bicara lagi" kata cai "aku akan terus bicara sampai anak ini mengerti apa dan di mana kesalahan nya kalian jangan pura pura buta dia seorang Berandalan" kata dhika "kenapa kalian berkata seperti itu pada nya? " kata monnie "tidak punya tujuan hidup entah apa yang akan dia lakukan di keluarga kita" kata dhika "chai, papa berkata kasar ke adik" kata monnie "dia bukan adik mu" kata dhika "dia mungkin datang karena melihat keluarga kita serba kecukupan tidak seperti nya yang tidak memiliki keluarga" kata dhika "suami ku" kata cai "papa cukup" kata chai "kenapa? " kata dhika
"kau terus bicara seperti burung beo"
"Karena aku mau dia sadar"
"dia sadar kau yang tidak sadar!! kau sudah tua sudah dewasa apa kau tidak sadar akan ucapan mu itu!! "
"lihat lagi lagi kau membela nya"
"dia adik ku satu satu nya apapun untuk nya jika ka tidak suka kau boleh per--"
"aku tidak akan pergi dia yang akan per--"
"dia tidak akan pergi aku keluarga nya!!! "
"bukan"
"papa cukup sebelum aku kehabisan kesabaran!! "jadi kau mau melawan ku hanya untuk seorang bajingan"
"apapun untuk nya dan jik---"
"jika begitu aku ta--"
"pergi dari rumah ku atau ka--"
"tentu kau fikir aku takut pada mu!!! dhika soikham aku bisa melakukan apa saja untuk nya"
"dia hanya ibarat seekor binatang li--"
"CUKUP AKU SU--"
"SUDAH SADAR!!! JIKA DIA KELUARGA, DIA TIDAK AKAN MEMANGGILKU DENGAN SEBUTAN TUAN"
dhika menatap jeje "aku tidak pernah halus dalam memberi didikan pada keluarga ku apa kau mengerti? " kata dhika "kau memiliki keluarga tapi kau bertindak seolah olah kau tidak memiliki keluarga.kau pangggil putra ku sebagai kakak mu menantu ku sebagai ipar mu lalu aku?? " kata dhika , cai tersenyum sambil mengusap usap bahu jeje "aku papa mu apa lagi?? kenapa begitu sulit kau mengatakan itu dari dulu" kata dhika jeje terkejut mendengar perkataan dhika "aku selalu mendidik mental anak ku dengan keras mengajarkan sesuatu mereka dengan kasar agar mereka mengerti betapa keras nya lingkungan di luar apa kau mengerti sekarang? " kata dhika "waktu itu anda marah saat aku panggil dengan sebutan itu" kata jeje "aku tidak marah.. tidak pernah marah aku hanya menguji mu" kata dhika "kau bisa tanya pada kakak mu" kata dhika "ku yakin dia semakin kebingungan karena mu" kata chai "aku papa mu, itu mama mu" kata dhika sambil menatap jeje dia kembali teringat saat chai datang membawa jeje untuk pertama kali
"aku bukan papa mu!! anak pungut!! "
"jangan panggil aku papa"
"aku tidak punya anak seperti mu"
"awasi anak gadis itu pastikan dia mendapatkan pendidikan yang bagus aku tidak yakin chai bisa merawat nya dengan baik" kata dhika pada salah satu pengawal nya
"dasar anak tidak berguna kenapa dia malah membangun sirkuit untuk gadis itu!" dhika melihat jeje mencoba motor nya di sirkuit yang baru saja di bangun oleh chai "dia jatuh cepat panggil dokter" kata dhika.
"kau tidak akan bisa menjaga nya kirim dia ke luar negri agar dia bisa belajar lebih baik soal biayanya aku akan bayar" kata dhika pada chai "akan aku buktikan kalau aku bisa merawat nya" kata chai
"kenapa dia selalu ke kampus dengan melompati pagar itu? "dhika berdiri tak jauh dari pagar tempat jeje melompat semua aktivitas jeje dia mengetahui nya
" kau terlalu kasar pada nya lihat!! dia langsung pergi!!! jika kau mendidik ku dengan kekerasan tidak masalah aku seorang pria dia wanita pa, dia tidak pantas mendapatkan sifat kasar mu"kata chai saat dhika berkunjung ke rumah nya dan mengatakan ke jeje kalau jeje adalah seorang berandalan "dia lemah " kata dhika "dia tidak lemah, dia lebih kuat dari bodyguard mu aku mau kau berhenti bersikap kasar pada nya aku tidak mau dia tertekan" kata chai.
" aku mau mendengar mu memanggil ku"kata dhika "dengan sebutan papa" kata dhika jeje membeku di tempat "kau tidak anak jalanan kau punya keluarga kau memiliki segala nya " kata dhika sambil menepuk kepala jeje "aku papa mu" kata dhika chai menatap jeje "kau baik baik saja? " tanya chai "aku papa mu aku papa mu aku papa mu aku papa mu" kata itu terus terngiang-ngiang di telinga jeje "aku - punya-papa? " fikir jeje "nak.. sebenarnya papa mu ini sangat perhatian jangan ambil hati ucapan kasar nya" kata cai "jeje" kata monnie "jeje" kata chai jeje masih diam "pa.. " kata chai dhika memegang tangan jeje "kenapa kau diam seperti Orang bodoh!! " kata dhika "aku ini papa mu atau bukan!! jawab!!! aku ini papa mu atau bukan!!! " kata dhika "suami jangan kasar" kata cai ketika suami nya menggoncang kan bahu jeje yang mematung "aku ini papa mu atau bukan!!! jawab!!! " seru dhika "papa kau menyakiti nya" kata monnie "jawab aku jawab!!! lihat aku!! aku ini papa mu bukan!! " seru dhika "hum" jeje mengangguk "aku tidak dengan anak ku tidak bisu" kata dhika "iya" kata jeje "iya apa? " kata dhika sambil melepaskan tangan nya "kau adalah" kata jeje "pa.. pa" kata jeje "siapa? " kata dhika "papa" kata jeje "siapa papa mu!! " kata dhika "papa hentikan" kata chai "ayo jawab siapa papa mu" kata dhika "kau papa ku" kata jeje "siapa papa mu!! " kata dhika "kau" kata jeje "siapa papa mu" kata dhika "tuan dhika soikham papa ku" kata jeje dhika tersenyum dan langsung memeluk jeje "dengar nak kau anak bungsu di keluarga soikham, kau memiliki keluarga kau memiliki segala nya jangan pernah merasa kalau kau adalah anak jalanan" kata dhika "jangan merasa sendiri dan tidak punya siapa siapa.. kau memiliki keluarga kau dengar itu " kata dhika "aku menyayangi mu" cai memeluk jeje yang diam tidak bergerak sedikit pun "aku harus pergi mengerjakan sesuatu" jeje berbalik dan langsung pergi dengan wajah datar .
beberapa jam kemudian
di dalam kamar..
sambil bersandar di tempat tidur jeje duduk sambil memikirkan apa saja yang baru dia alami "apa papa mu, kau punya keluarga"
"ini mama mu"
"siapa papa mu!! "
"kau punya segala nya"
"dia tidak bersuara" kata chai dalam hati dia langsung menjauh dari pintu kamar adik nya "mana dia? " tanya cai "ku rasa dia tidur" kata chai "aku takut dia malah kepikiran yang tidak tidak" kata monnie "jangan kawatir dia akan baik baik saja dia kayanya kelelahan" kata chai "ya sudah lah" kata cai "oh ya ma aku ada kabar baik" kata monnie "apa itu? " kata cai "akan ada bayi di rumah ini" kata monnie "dia benar" kata chai "bayi?? " dhika menatap monnie "itu bagus sekali selamat ya sayang ini harus di rayakan".