
suara keributan terdengar dari kejauhan "huaahahaha.. " orang orang menatap ke arah suara yang mendekat "paman berhenti lah!! " terlihat macan jalanan berlari dengan cepat.
"berhenti kau!! " kata samu "astaga" kata kal di dalam mobil "BERHENTI LAH KAU MACAN JALANAN" seru fengki, dia menatap orang yang dia kejar melompati beberapa meja "jeje berhenti lah" kata jerico "tap" jeje berhenti di atas sebuah bus "hei nak turun lah" kata beberapa orang "turun kau!! " kata samu "ayolah paman aku harus ke kampus" kata jeje "kalau begitu turun lah" kata fengki "kau akan memukul ku? " tanya jeje "tent--" kata samu "tidak, tidak ada yang berani memukul mu kan. ayo turun" kata fengki "cepat turun bus nya mau jalan" kata samu "jeje turun" kata kal "ya, iya baik lah aku akan turun. tapi paman jangan pukul aku ya.. aku nanti kesakitan" kata jeje "iya turun lah" kata samu "tapi bagaimana turun nya? " kata jeje "melompat lah ke arah ku" kata kal "oke" jeje melompat "akhh" fengki memegang kepala nya "maaf paman" kata jeje "jangan usil" kata kal "hei" samu menarik jeje "aahh.. paman jangan kasar pada anak kecil" kata jeje "jadi menurut mu kau anak kecil" kata samu "aku bukan anak kecil paman" kata jeje "bagus sekarang jongkok pegang kepala mu" kata samu sambil mengayunkan tongkat di tangan nya.
"buat apa? " tanya jeje "lakukan kau akan di hukum" kata samu "kau tidak papa? " tanya kal "tidak papa" kata fengki sambil mengusap kepala nya,"angkat tangan mu di kepala,tidak! tarik telinga mu sendiri kau sudah mengacaukan lalu lintas pagi ini karena kau berlari terus" kata samu "paman.. aku terlambat ke kampus" kata jeje dengan berakting memelas. "benarkah sekarang dengar, eh tetap tarik telinga mu aku belum menyuruh mu melepaskan nya! kau mengacaukan lalu lintas dengan anak anak itu" jeje menatap samu "paman aku tidak melakukan apa apa mereka seperti ini" jeje menggerakkan tangan nya "aku pulang naik moto tiba-tiba wuzz.. wuz.. enam motor mengelilingi ku seperti baling-baling bambu, lalu mereka bicara layak nya kenal dengan ku" kal menatap jeje yang sedang berbicara dengan dua polisi di dekat nya.
"aku sudah memperingati mereka paman, tapi mereka tidak dengar. ya udah deh begitu! ayolah paman aku bosan aku pergi ya" jeje berdiri "hei.. tetap jongkok" kata fengki, jeje kembali jongkok dan memegang kedua telinga nya "tiga orang yang bersama mu itu masuk ke rumah sakit dan kritis" kata fengki "lalu apa hubungannya dengan ku" kata jeje "kau juga menghancurkan beberapa fasilitas dan juga merusak mobil orang, kau harus ke rumah sakit melihat mereka" kata samu "paman... oh.. demi lino buaya kesayangan ku dengar paman, aku kemarin menawarkan bantuan pada mereka tanya pada kak kal dan lainnya tapi mereka malah menjawab ku dengan kasar hum.. begini saja aku akan memberi mu sesuatu kita bisa ngopi bareng kan" kata jeje "jangan membuat ulah lagi. laporan mu sedang di proses di kantor ku semua kerusakan yang kau akibat kan da--" kata fengki "paman aku ganti deh jangan hukum aku lagi ya, aku sangat terlambat " jeje masih berakting sedih dan memelas "kau mau mengganti kerusakan semua nya kau fikir mereka mau" kata samu "kak jerico kemari" kata jeje "aku ganti rugi dan kau jelaskan ke mereka kalau aku bukan pelakunya, eh aku pelakunya tapi aku kan tidak sengaja . salah sendiri mereka ada di sana dan paman, aku tidak merusak mobil ban ku mungkin hanya menggores nya sedikit aku melompati mobil itu" kata jeje sambil menatap jerico "keluarkan kartu nya" kata jeje jerico membuka tas yang dia bawa terlihat ada banyak kartu di dalam nya "yang.. hitam, kuning oih.. yang biru terlihat menyebalkan yang ini saja, paman di dalam kartu ini ada uang. aku tidak tau ada berapa, tapi ada seratus lebih . kau perbaiki semua nya aku tidak akan mengulangi nya lagi paman jadi biarkan aku pergi" kata jeje "tidak bisa" kata fengki "sial... kakak kal tolong aku" kata jeje "kami akan memberimu sanksi yang akan membuat mu jera" kata fengki "paman.. aku tidak akan mengulangi nya lagi jika aku mengulangi nya lagi maka hukum lah aku lagi" jeje tersenyum.
niko mengangguk lalu berdiri "baik Pak saya mengerti" kata niko "bagus lah sekarang kembali ke kelas" kata Gilang. "**** **** ****" jeje berjalan sambil sesekali menendang udara "pak" kata niko sambil menatap ke arah lain.
pintu loker di buka jeje mengambil beberapa permen "oih.. " jeje duduk di lantai sambil bersandar di loker nya "anjing.. kaget aku" kata jeje "kau sangat sangat terlambat" kata Gilang "dan juga berkata kasar" sahut niko "dengar ya kalian yang sok berkuasa, aku datang pagi cuma tadi.. nyasar sedikit maka nya baru sampai" jelas jeje "berfikir lah jeje" kata jeje dalam hati "katakan kau dari mana? " kata gilang "aku tidak punya waktu aku harus ke kelas" kata jeje "eh! " niko mengeluarkan penggaris panjang "OIH.. AYOLAH.. apa kalian akan menghukum ku? sial sekali!! dimana mana aku selalu dapat hukuman" kata jeje sambil menatap niko dan Gilang "karena kau selalu terlambat jadi kau pantas di hukum" kata Gilang "aku baru selesai di hukum" kata jeje "siapa yang menghukum mu? " tanya niko "polisi" kata jeje "oh.. kau melakukan hal buruk? " kata Gilang "eh.. ada ridho, eh pak ridho" jeje tersenyum .
Gilang menatap niko lalu mengedipkan mata nya "dia mengeluarkan senyuman khas nya itu artinya" kata Gilang dalam hati "dia mencoba melakukan sesuatu untuk kabur" kata niko dalam hati "apa? mereka kenapa masih menatap ku" fikir jeje "sekarang hukuman apa yang pantas untuk mu" kata Gilang "oih.. kau benar-benar mau menghukum ku" kata jeje "seperti nya bersih bersih saja pak" kata niko sambil tersenyum meledek, "aduh... tangan ku sakit" kata jeje Gilang tersenyum bersama niko "dosen payah aku akan ke kelas mengerjakan tugas dengan benar, aku akan mengumpulkan tugas" kata jeje "oh benar kah? " kata niko "ku rasa aku tidak yakin" kata Gilang suara bel terdengar "yeay sudah istirahat" kata jeje "hukuman tetap hukuman ayo bawa dia" kata Gilang "apa? " kata jeje "ayo berdiri" kata niko sambil menarik tangan jeje "hei jaga jarak" kata jeje "dua satu " bisik niko "lihat saja nanti" kata jeje "ayo" kata Gilang "oih.. dosen payah.. kau itu dosen atau Jaksa pengadilan" kata jeje sambil melihat lihat sekeliling nya tiba-tiba jeje tersenyum melihat archie "ayo ikut" jeje mengulurkan tangan nya "aku? " kata archie jeje mengangguk.
archie langsung tersenyum dan menggandeng tangan jeje tanpa di sadari niko "kau mau kemana kenapa niko menarik mu" bisik archie "dia mau mengajak ku makan, jangan lihat kemana mana fokus ke depan dan jangan bicara " bisik jeje "akhirnya aku bisa menggandeng tangan nya" kata archie dalam hati "akhirnya dia diam bilang saja dia menikmati genggaman ku" kata niko dalam hati.
Gilang berhenti di lapangan badminton terlihat lapangan itu baru selesai di pakai "baik sekarang bereskan tem-?? " Gilang mengedipkan mata nya beberapa kali setelah melihat pemandangan di depan nya "katanya mau makan kok di sini? " fikir archie "kau dengar kan kata pak gil--?? " niko menatap siapa yang dia pegang "HUAAA!!! " archie dan niko berteriak histeris,Gilang menghembuskan nafas panjang sambil menepuk dahinya.
"huahahaha" jeje tertawa "ada apa je? " kata rizi "aku baru melakukan sesuatu" kata jeje sambil melahap makanan nya "apa yang kau lakukan? " tanya mawar "kau tau fakta sebenarnya kalau archie dan pecundang adalah sepasang kekasih" kata jeje "uhuk.. uhuk.. uhuk" beberapa orang yang mendengar jeje langsung tersedak
"kak niko gay? "
"yang benar saja? "
"apa yang dia katakan benar? "
"aku mendengar mu" kata niko "aku harus pergi" kata jeje "hei!! " niko menarik lengan jeje "jaga jarak" jeje menendang niko
"kak niko apa kau gay?"
"apa dia benar? "
niko menatap semua nya "dengar semua nya, kalian bisa cek di ponsel kalian siapa kekasih ku" kata niko semua nya langsung membuka ponsel masing-masing "astaga " semua nya terkejut "lihat" niko menunjukkan ponsel nya ke jeje
"kekasih niko akhirnya nya menampakkan dirinya bahkan ikut live bersama nya"
"baby sosok gadis yang di cintai niko terlihat dengan jelas di saat minum jus wajahnya terlihat begitu jelas di live nya"
"di duga kekasih niko adalah seseorang yang mirip dengan nona kecil Soikham"
"foto terjelas baby sosok yang di ceritakan niko saat live"
"fans niko membuat grup dengan nama nikobabyforever "
jeje menatap ke arah niko "tiga satu" kata niko "berikan ponsel mu" kata jeje "buat apa? " tanya niko "kau harus buat pernyataan aku tidak mau --" kata jeje "tidak mau" niko pergi "oh.. baik kau akan menyesal" jeje pergi.
beberapa kertas jatuh ke tanah dan langsung di pungut dengan orang orang yang melihat nya "tugas psikolog niko"
"tugas agama"
semua nya menatap ke atas "HUJAN KERTAS" jeje berdiri di atas atas melemparkan kertas kertas yang dia pegang "baby!!! " niko di bawah melihat ke arah jeje "dua tiga" kata jeje "tidak masalah!! " kata niko sambil memungut kertas yang di sebar jeje "kaya nya aku harus lembur" kata niko.
di rumah..
monnie mengusap rambut chai yang sedang duduk di lantai dan menempelkan kepala nya di perut monnie "kaya nya aku dengar sesuatu" kata chai "oih.. kau sedang apa? kau apakan dia? " kata jeje "selamat datang adik" kata monnie "kau membuat ku kaget" kata chai "kau apakan perut nya? " tanya jeje dengan wajah kebingungan "aku mendengar kan anak ku" kata chai, jeje menyipitkan mata nya "bagaimana bisa?? dia ada di kantong kanguru di dalam perut istri mu. bagaimana bisa lagian dia belum mengerti bahasa mu" kata jeje "istri ku tolong" kata chai "kemari lah adik" kata monnie, jeje mendekati monnie "bayi nya tadi bergerak dan itu bisa di rasakan dan di dengarkan kau juga bisa jika kau mau" kata monnie "kau ini menyimpan bayi monster atau manusia? " kata jeje "coba saja" monnie menarik jeje "baik" jeje menempel kan kepala nya ke perut monnie "gak ada suara apapun" kata jeje "tunggu sabar pasti nanti dengar" kata chai "oih.. aku lebih baik ke kamar dan mandi dia sama sekali tidak bersuara. dasar penipu!" kata jeje monnie tertawa "dasar kau ini memiliki kesabaran setipis tisu" kata monnie.
Gilang dan niko saling tatap dan hening, lalu menatap kedua motor yang ada di depan mereka dua motor yang terikat dengan rantai yang berhubungan satu dan yang lain. dan tulisan kata kasar di motor itu "ini ahli kunci sudah datang" kata leo "bagus lah" kata niko "anak itu" kata Giang "bentar" niko memegang ponsel nya yang berbunyi "baby? dia menelpon ku yang benar saja? " kata niko karena jeje menelpon nya"tiga sama" telpon langsung mati niko tertawa kecil mendengar suara jeje "baik tiga sama" kata niko dalam hati dia tidak bisa berhenti tersenyum sementara ahli kunci sedang berusaha melepaskan gembok yang ada di rantai itu.