What Is Love

What Is Love
balon dari bawah ranjang



"hup"jeje mendarat dengan aman " oih"jeje terkejut Gilang menarik telinga nya "anak nakal" kata Gilang "kenapa kau menarik telinga ku? " kata jeje "tanya kan pada dirimu sendiri" Gilang menarik jeje "oih.. lepaskan telinga ku" kata jeje semua mata melihat ke arah Gilang.


"dosen payah aku belum melakukan apapun" kata jeje "kau sudah melakukan nya semalam " kata Gilang "hei pak Gilang ada apa ini? " tanya Tini "tolong jangan sakiti dia" kata Tini sambil mencoba menarik jeje "dia ini dosen atau psikopat ? " tanya jeje "tenang bu Tini, dia sudah membuat kekacauan" kata Gilang "tidak ada " bantah jeje "kau harus buat pernyataan" kata Gilang "pak Gilang.. dia.. dia kesakitan" kata niko "tidak papa" kata Gilang "oih.. kalian diam saja? dia menyiksa ku dan kalian diam saja? " kata jeje "pak Gilang" kata niko "pak Gilang lepas kan dia" kata Tini sambil menarik tangan jeje "oih.. makin sakit" kata jeje "dia harus di hukum" kata Gilang "baby minta maaf" kata niko "siapa kau? " tanya jeje sambil berusaha menendang niko, "hei.. lihat dia membuat ulah lagi, bu Tini dia juga merusak tugas tugas niko" kata Gilang "astaga" kata Tini "bohong.. bohong" kata jeje "biar aku urus saja hukuman nya" kata Tini "baik" Gilang melepaskan telinga jeje "oih.. shhh telinga ku panas" kata jeje "aku harus kabur" kata jeje dalam hati "kau harus membuat pernyataan minta maaf di kertas" kata Tini "iya, iya kau kan yang buat bye" kata jeje "eh.. tidak semudah itu" kata Gilang "apa lagi? " kata jeje "creek! " jeje menatap lengan nya "oih.. kau " kata jeje "aku meminta borgol ini dari polisi yang datang waktu itu. dan ini berguna untuk menahan mu " gilang menghubungkan borgol itu ke lengan niko.


"kau ini" jeje menendang Gilang "ups" gilang menghindari tendangan dari jeje "niko awasi dia ku yakin dia tidak akan kabur dengan membawa mu kan" kata Gilang "**** you... " kata jeje sambil mengacungkan jari tengah nya, "buat empat lembar" kata Gilang "ku bunuh kau" kata jeje sambil maju mencoba menyerang Gilang "jeje" kata Tini "apa!! jangan ikut campur" kata jeje "sepuluh lembar" kata Gilang "apa! " kata jeje "itu terlalu banyak " kata Tini "gak papa biar dia jera" kata Gilang "**** **** **** oih.. kenapa kau menarik ku? " kata jeje "lebih baik kau kerjakan dengan cepat" kata niko "dosen payah kau akan di pecat karena menyakiti ku.. ini penganiayaan" kata jeje "good luck" kata Gilang.


rumah di hias dengan sangat indah, cai tersenyum puas melihat hasil dekorasi rumah nya. "ini sangat baik" kata cai "kalian hubungi chai" kata dhika "dia harus datang" kata cai sambil menatap dhika "bulan ke empat" .


sementara itu di dalam aula niko menulis sesuatu "bagus ini nama nya aku yang di hukum" kata niko dia menyingkirkan kan kertas itu ke kursi yang di samping nya, dia menatap ke arah jeje yang tertidur pulas di atas kursi dengan headset melingkar di kepala nya "baik lah tidur saja nona calon pacar, eh suami mu ini akan mengerjakan semua nya mungkin kedepan nya juga begitu" kata niko dia mengeluarkan ponsel nya "ayo kita berfoto" kata niko.


"apa masalah nya? " tanya rizi "jeje kemarin mengerjai kak niko dan pada gilang" kata mawar "astaga semoga dia baik baik saja" kata anggel "guys" dila menunjukkan ponsel nya "kak niko memposting foto di instagram nya ini pasti jeje kan? yang pakai topi hoodie ini" kata dila "astaga dia tidur" kata vito "sayang sekali kenapa kak niko menutupi wajah jeje " kata rizi "pasti demi keamanan kalian ingat kan? jeje selalu mengutamakan keselamatan dan keamanan" kata baim "benar juga" kata mawar.


niko menoleh ketika kepala jeje mengenai nya. seketika niko tersenyum "kau pasti bergadang atau tidak tidur seharian" kata niko "oih" jeje menampar niko, "aduh baby kenapa kau memukul ku? " tanya niko "kau sedang apa kenapa wajah mu sangat dekat dengan ku? " kata jeje "aku membantu mu dan kau malah kdrt pada ku" kata niko "aku kan pura pura tidur agar dia yang mengerjakan hukuman itu kenapa aku malah tidur beneran! lagi lagi tubuh ku menolak perintah ku" kata jeje dalam hati .


"aku butuh pertolongan mu" kata jeje "kau tidak bilang tapi aku mengerti apa yang kau mau" kata niko "letakan tangan mu di meja! " kata jeje "kau mau menusuk tangan ku lagi? " tanya niko "aku aku mencoba membuka borgol nya" kata jeje "oh" niko meletakan tangan nya ke atas meja "gluk" niko melihat jeje mengeluarkan pisau yang sama seperti yang jeje gunakan saat menusuk tangan nya, "aku tidak menusuk tangan mu santai saja aku cuma akan memotong tangan mu" kata jeje "apa?? " kata jeje "hukuman karena kau mendekati ku" kata jeje "baby.. baby.. jangan lakukan itu" kata niko "jleb" niko memejamkan matanya "aku lupa cara nya membuka borgol seperti nya tidak bisa pakai pisau seperti ini" kata jeje dalam hati.


"ku fikir dia akan menusuk tangan ku" gumam niko "aduh.. " niko menatap jeje "nyaris saja " kata jeje "sesantai itu? kau hampir mengenai tangan ku" kata niko "sebenarnya aku ingin memisahkan tangan mu tapi tidak sekarang " kata jeje "jika ini jadi film pasti judul nya istri kdrt ke suami" kata niko dalam hati "kita temui pak Gilang saja" kata niko "dosen payah aku sudah selesai cepat datang!! datang!! " niko menatap jeje yang berbicara dengan Gilang di telpon "satu menit jika tidak aku akan melukai orang di dekat ku" kata jeje sambil mematikan telpon nya "apa dia akan meluka ku? " fikir niko. "aku akan melukai mu jika dosen payah tidak datang waktu nya tinggal lima belas detik" kata jeje "baby kau tidak sunguh-sungguh kan? " niko mulai berkeringat. "habis" niko meringis kesakitan "cuma goresan" kata jeje, niko menatap tangan kirinya yang perlahan mengeluarkan darah "jeje" kata Gilang "astaga niko" kata Gilang "jangan ikut campur dosen payah ini adalah kesepakatan antara aku dan dia katakan" kata jeje "kami tidak bisa berdekatan minimal ada jarak dua langkah" kata niko "tangan mu" kata Gilang "alay banget aku cuma kasih dia goresan kecil lihat" kata jeje niko memperhatikan lagi luka di tangan nya "entah kenapa tangan ku tidak ingin membuat goresan lebar seperti yang aku mau, itu cuma seperti orang teriris saat memotong alpokat banjingan" kata jeje dalam hati "dia tidak sengaja pak" kata niko "jangan sok membela ku" kata jeje Gilang melepaskan borgol itu jeje tersenyum lalu langsung merangkul niko "maaf ya tadi pisau ku hanya terpeleset aku pasti membunuh nanti dan itu pasti! jadi persiap kan dirimu sebaik mungkin " jeje langsung pergi "kau baik baik saja? " tanya Gilang "cuma luka kecil pak pakai hansaplast juga ketutup " kata niko "bagus lah aku yakin dia tidak sengaja" kata Gilang "ini pak kertas nya" kata niko.


"jraaas" jeje membasuh wajah nya "duagg" dia memukul cermin di depan nya "ayolah kita harus kerja sama " kata jeje "kedepan nya kita harus benar-benar membunuh nya" jeje menatap diri nya di depan cermin "dari pada kau marah kita harus kembali besok ada acara dan kita harus mempersiapkan sesuatu" kata Steven "diam kau" kata jeje.


monnie tersenyum sangat puas memperhatikan persiapan untuk acara penyambutan empat bulan bayi yang dia kandung "aku gak sabar menyambut hari esok" kata monnie.


mobil berhenti jeje langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah


"kakak"


"kakak"


"kakak "


"kakak? "


jeje menuruni tangga "kenapa mereka tidak ada di mana pun? " tanya jeje "pasti di dalam kamar" jeje berlari ke arah kamar chai ."hati hati je, kami akan menyiapkan balon nya" kata Steven "yoi" kata jeje "KAKAK" jeje menendang pintu kamar chai "oih.. kemana sih mereka,berani sekali! kakak kau di kamar mandi? "tanya jeje " mereka mau mengerjai ku ya? "jeje berjalan ke arah pintu terlihat hanya ada sofa, di kamar mandi juga gak ada " oih.. mereka menghilang? "jeje melihat sesuatu " apa itu? "dia mengambil apa yang dia lihat dari bawah tempat tidur " kotak? wah banyak sekali apa ini? kayanya permen aku buka deh"kata jeje "oih.. ternyata balon pasti mereka mau menghias rumah ini, aku akan bantu aku akan bawa balon nya tapi kenapa balon nya terlihat jelek dan juga kenapa harus di bungkus seperti permen aku hampir memakan nya" kata jeje.


"kami pulang dulu ma, adik pasti mencari kami " kata monnie "oh iya benar juga, nanti dia mencari cari cepat pulang!!" kata cai "ayo" chai memegang tangan monnie.


semua pelayan membantu jeje mendekorasi ruang utama "huff" jeje memperhatikan benda yang dia pegang "ini balon bukan sih? kok kecil ya? dan tidak mengembang" kata jeje "bagaimana kurang gak ba--? " jerico mengambil benda yang di pegang jeje "ayo lebih banyak lagi kenapa kau malah mela--? " Steven memperhatikan benda yang sedang di tiup jeje "kakak kenapa balon nya tidak seperti yang kita beli? " tanya jeje "astaga" muka kal memerah.


"dari mana kau dapat kan benda ini? " tanya kal "dari kamar kakak ipar" kata jeje "aku mencoba meniup nya tapi dia tidak mau mengembang seperti balon pada umum nya" kata jeje "itu.. itu bukan balon" kata kal "apa? tapi bentuk nya seperti balon" kata jeje "gawat" kata jerico "sini berikan pada ku" kata kal "tidak, ini bisa buat tambahan mungkin bentuk nya memang begini" kata jeje "astaga" kata may "jeje dengar itu bukan balon.. itu.. hum.. benda.. aduh.. hum" milli canggung "lalu ini apa? permen? tadi mencoba nya rasa nya tidak enak ini terlihat seperti balon jadi ku tiup" kata jeje "begini ini benda yang di gunakan untuk kesehatan" kata kal "tapi ini tidak seperti sarung tangan" kata jeje "wah cantik sekali ruangan ini" kata monnie "kakak kalian kemana saja? tidak menelpon ku! aku mengambil balon dari bawah ranjang kalian tapi jawab aku dari mana kalian beli balon ini" kata jeje "uh?? " chai tegang di tempat bersamaan dengan pipinya yang menjadi merah,"chai.. " monnie menatap suami nya "ya ampun" chai mengusap wajah nya "adik.. astaga kenapa kau.. itu.. itu bukan balon" kata chai "tuan kami sudah memberi tau nya" kata kal "adik kembalikan pada ku" kata chai "jadi ini bukan balon? " kata jeje "bukan" kata monnie "lalu ini apa? " kata jeje "itu.. hum.. hum.. " mata chai terlihat seperti orang yang serba salah. kebingungan, panik, cemas, dan juga canggung "adik" monnie mendekati jeje dan dengan lembut dia mengambil benda yang ada di tangan jeje "ini tidak boleh kau pegang ini bukan mainan atau pun balon ini alat medis" kata monnie "apa ini untuk bayi mu? " tanya jeje "iya ini untuk bayi ku " kata monnie "kenapa gak bilang" kata jeje


monnie tersenyum sambil mengusap rambut jeje "tapi bagaimana kau menggunakan nya bentuk nya aneh dan panjang? " kata jeje "huh? hum.. itu untuk hum.. membuang.. hum nanti kau akan tau " kata monnie "tapi ngomong ngomong dekorasi nya sangat indah" kata monnie sambil melirik ke arah chai seketika chai mengambil kotak di dekat jeje dan segera membawanya pergi "kakak ipar kau suka dengan dekorasi nya? " tanya jeje "sangat suka" kata monnie "huf... ada ada saja " chai menutup pintu kamar nya dengan perasaan lega.