
"Kayaknya gak ada orang deh, Kak," gerutu Rayyan sekarang.
Sebab sudah beberapa saat mereka menunggu, dan pintu apartemen itu belum dibukakan. Rayyan sudah beranggapan mungkin di sana memang tidak ada orang. Atau mungkin penghuni apartemen itu sedang keluar.
"Tunggu sebentar, Ray. Mungkin tidak lama lagi. Aku pencet bel di apartemennya aja," kata Raline.
Rayyan sudah berdiri dan merasa yakin bahwa apartemen itu kosong. Pria itu menginjakkan ujung telapak kakinya beberapa kali ke lantai. Seperti tidak sabar menunggu.
"Dia sebenarnya siapa sih, Kak? Orang Indonesia kok bisa kuliah di Paris sih?" tanya Rayyan.
"Ya, temen, Ray. Kamu ini ya aneh-aneh aja sih nanyanya. Emang waktu kamu kuliah di London, enggak ada orang Indonesia?"
Rayyan kemudian tersenyum kecil. "Ya, ada sih. Ada mahasiswa dari Indonesia juga."
"Nah itu, sementara kamu nanyainnya seperti itu. Aneh deh," balas Raline.
Setelah beberapa saat menunggu, dari arah luar ada seorang gadis berjalan membawa kantong plastik. Dia mengenakan topi di kepalanya. Tampak gadis itu hendak masuk ke dalam unit apartemen di mana sekarang ada Raline dan Rayyan di sana.
"Itu dia orangnya," kata Raline.
"Benar kan gak ada di dalam orangnya," balas Rayyan lirih.
"Eif," sapa Raline.
"Oh, hai ... Line. Kamu mencariku yah? Aku baru dari minimarket luar. Air minum ku habis," katanya.
Rayyan melirik gadis yang seusia kakaknya itu. Hanya selisih dua tahun dari Rayyan. Akan tetapi, gadis itu justru tampak sebaya dengannya. Rayyan sebagai pemuda juga mengakui bahwa sahabat kakaknya itu terbilang cantik.
"Ya udah, ayo sekalian aja. Mama dan Papaku datang dari Indonesia. Dari Jakarta, kita makan bersama," ajak Raline.
"Aku masukkan air minumku dulu kali yah," balasnya.
"Dibawa aja dulu. Adikku udah BeTe nih," balas Raline dengan melirik Rayyan yang berdiri di sampingnya.
Gadis itu baru menyadari bahwa ada sosok lain di samping Raline. Dia menatap sekilas pemuda tampan yang berdiri di samping. sahabatnya itu. Walau begitu keduanya sama-sama tidak menyapa.
"Yuk, Mama dan Papaku menunggu."
Akhirnya Raline menggandeng paksa tangan sahabatnya itu dan mengajaknya ke unitnya. Bak tak bisa menolak, sekarang gadis itu mengikuti Raline menuju ke apartemennya. Rayyan pun mengekori kakaknya dan teman kakaknya itu.
Begitu sudah di apartemen Raline, tampak gadis itu melepas topi yang semula dia kenakan. Kemudian dia menyapa dengan sopan Mama Erina dan Papa Zaid.
"Halo Om dan Tante," sapanya dengan menunduk perlahan.
"Halo, cantik banget nih temannya Raline. Siapa namanya?" tanya Mama Erina.
Gadis itu tersenyum lagi dan barulah memberikan jawaban. "Eiffel, Tante."
Gadis cantik itu rupanya memiliki nama yang cantik pula. Namanya adalah Eiffel. Tentu itu adalah nama yang indah. Mungkinkah menara Eiffel di Paris menginspirasi namanya?
"Nama kamu indah banget ... Eiffel. Benar memang Eiffel berada di Paris. Kenalkan kami adalah orang tuanya Raline."
"Eiffel berasal dari Jakarta juga?" tanya Mama Erina.
"Benar, Tante ... Eiffel juga berasal dari Jakarta. Nanti malam Mama dan Papa baru berangkat dari Jakarta untuk menjemput Eiffel," balasnya.
"Pulang ke Jakarta dan melanjutkan kuliah di sana atau bagaimana?" tanya Mama Erina lagi.
Eiffel tampak berpikir sejenak. Barulah kemudian dia memberikan jawaban. "Eiffel melanjutkan kuliah di London saja, Tante. Dengan Eurostar Train dari Paris ke London hanya dua jam perjalanan."
Fakta sebenarnya memang Paris ke London dan sebaliknya bisa ditempuh dengan kereta api Eurostar Train. Menurut Eiffel lebih baik dia melanjutkan pendidikannya di London. Walau negeri Raja Charles itu sekarang terkena inflasi cukup tinggi, tapi Eiffel merasa lebih baik untuk transfer pendidikannya ke London.
"Seperti adiknya Raline yang kuliah di London. Kenalan saja, sapa tahu kalian satu universitas nanti," kata Papa Zaid sekarang.
"Oh iya, kalian belum kenalan yah? Eiff, kenalkan dia adalah adikku. Kami hanya selisih dua tahun aja. Namanya Rayyan," kata Raline yang mencoba mengenalkan Raline dengan Rayyan.
"Eiffel ...."
"Rayyan ...."
"Panggil Kakak juga, Ray. Kan Eiffel seusia kakakmu," kata Papa Zaid.
Rayyan hanya menganggukkan kepalanya. Walau begitu di mata Rayyan tetap saja Eiffel justru kelihatan seumuran dengannya. Sehingga, Rayyan juga enggan untuk memanggil kakak.
"Kamu ambil kuliah apa, Eiffel?" tanya Mama Erina.
"Kecantikan dan mode, Tante."
Mama Erina menganggukkan kepalanya. Agaknya kalau memiliki menantu yang bergerak di bidang mode atau fashion pastilah bisa mengembangkan Zarina Butik milik Mama Erina. Selain itu, trend make up atau kosmetik juga memiliki pangsa pasar yang positif.
"Mama dan Papa pengusaha di bidang mode dan kosmetik yah?" tanya Mama Erina yang tampak tertarik.
"Mama sih, Tante. Hanya Skincare saja sebenarnya. Kalau mode sebenarnya tidak. Cuma Eiffel ingin belajar saja. Selain itu, Eiffel mengambil kelas balet di sela kuliah. Sayangnya, kondisi Paris sangat tak kondusif. Sudah sebulan ini tidak mengambil latihan," cerita Eiffel.
Di mata Mama Erina dan Papa Zaid, sahabat putrinya yang bernama Eiffel merupakan pribadi yang menarik. Terlihat pintar, fokus untuk masa depan, juga bisa menari balet tentu adalah nilai tersendiri. Dalam diam, Mama Erina menerka bahwa Eiffel ini mungkin adalah dari keluarga kaya raya. Sebab, menari balet terbilang klasik dan untuk lesnya terbilang mahal.
"Ayo, Ma ... makan. Rayyan sudah begitu lapar," kata Rayyan dengan memegangi perutnya.
Hal yang wajar sejak tiba di Paris, mereka belum mengisi perutnya sama sekali. Makan terakhirnya di pesawat dengan menu yang disiapkan oleh pihak maskapai. Sehingga sekarang Raka merasa kelaparan.
"Ah, iya. Kebanyakan mengobrol dengan Eiffel yang cantik ini membuat Mama lupa. Ayo-ayo, kita makan bersama," ajak Mama Erina.
Dengan kedatangan keluarga Raline ini tentu saja Eiffel senang. Bisa mengenal keluarga sahabatnya dan juga menikmati makanan khas Indonesia tentunya. Bisa menikmati makanan Indonesia ketika berada di luar negeri itu rasanya begitu menyenangkan. Membuat hati rindu dengan kampung halaman.
"Ngomong-ngomong Eiffel udah punya pacar belum?" tanya Mama Erina sekarang.
Gadis cantik menaruh sendok dan garpunya di sisi piring, barulah kemudian dia menjawab. "Belum sih, Tante. Fokus kuliah dulu. Eiffel rencananya sekalian melanjutkan ke S2, Tante. Biar usai ini fokus meniti karir."
Wah, agaknya ada prospek dari Mama Erina yang merasa suka dan ingin mendekatkan Eiffel dengan Rayyan. Daripada Rayyan hanya menginginkan Adista yang sekarang sudah menjadi kakak iparnya itu terlihat tidak elok. Andai semua berjalan lancar, Raka akan bahagia dengan Adista, begitu juga Rayyan yang akan mendapatkan cinta yang baru.
Yang ngikutin semua novelnya Author, ingat enggak Eiffel ini siapa hayo? 😉🤗