
Sekarang, Bu Ratih menghidangkan camilan dan Teh hangat untuk Raka dan Adista. Selain itu Bu Ratih dan Pak Gusti merasa bahagia, berkat kebaikan hati Raka, memang keduanya tidak kepikiran untuk membelikan perlengkapan sekolah untuk Desta. Semua karena menantunya sudah membelikan peralatan sekolah untuk Desta.
"Makasih banyak Nak Raka, kami mikirnya mau beliin Desta seragam sekolah dan lain-lain itu nunggu Bapaknya gajian. Malahan Nak Raka yang membelikan Desta terlebih dahulu," kata Bu Ratih dengan rasa sungkan.
"Sama-sama, Bu. Semoga bermanfaat untuk Desta. Sebenarnya Dista mengajak ke mari waktu Ibu mengirimkan pesan kelulusannya Desta, maaf baru bisa kemari sekarang. Raka pikir supaya lebih santai berada di sini," kata Raka.
Bu Ratih dan Pak Gusti menganggukkan kepalanya. Keduanya menganggap baik perkataan Raka. Selain itu, Bu Ratih juga ingat waktu mengirimkan pesan untuk Adista sudah sore sehingga kalau datang malam juga seperti hanya sempat mampir.
"Tidak apa-apa, Nak Raka. Ibu waktu itu menyampaikan pesan saja untuk Dista. Terima kasih banyak yah," kata Bu Ratih.
"Bapak dan Ibu, ini Mas Raka juga membawakan Pizza untuk Bapak, Ibu, dan Desta," kata Adista.
Terlihat wajah bahagia Desta, seolah dia ingin segera membuka kotak pizza dan mencicipinya. Sekali lagi untuk Desta sendiri bahwa Pizza adalah makanan yang mahal dan mewah. Harga Pizza yang terbilang mahal membuat makanan itu jarang sekali dibelinya.
"Ayo, Bapak, Ibu, dan Desta silakan dimakan," kata Raka mempersilakan dengan sopan.
"Nak Raka saja duluan," kata Pak Gusti.
Raka segera menggelengkan kepalanya. Baginya, orang tua terlebih dahulu yang harus didahulukan. Oleh karena itu, Raka mengangkat kotak Pizza itu dan mendekatkannya ke Pak Gusti terlebih dahulu, lalu ke Bu Ratih, kemudian ke Desta.
"Silakan, dimakan ...."
Sehingga mereka semua mengambil satu potong, terlihat Desta yang tersenyum lebar. "Makasih Mas Raka dan Mbak Adis," katanya.
"Sama-sama," balas Raka dan Adista bersamaan.
"Lah, Nak Raka sendiri enggak makan?" tanya Bu Ratih.
"Iya, Ibu ... nanti Raka juga akan makan kok," balasnya.
Kemudian Adista mengambil satu potong Pizza dan menyerahkannya untuk suaminya. "Buat Mas yah," katanya.
Rupanya tindakan kecil Adista itu diamati Bu Ratih. Di dalam hatinya, Bu Ratih mengamati Adista yang sudah tidak sekaku dulu. Adista juga terlihat nyaman duduk berdekatan dengan suaminya sendiri. Sungguh, apabila Adista sudah bisa menerima suaminya sendiri, Bu Ratih merasa sangat senang. Dia juga sangat mengharapkan bahwa Adista akan bahagia bersama dengan Raka.
Kemudian Adista pamit sebentar mengambil tissue yang ada di dapur, tampak Bu Ratih mengikuti putrinya itu. Ada tepukan di bahu Adista.
"Sudah bisa menerima suamimu?" tanya Bu Ratih.
"Adista belajar dan beradaptasi untuk menerima Mas Raka. Semakin hari, Dista melihat bahwa Mas Raka itu baik dan ngemong. Dista bisa membuka hati untuk Mas Raka," jawabnya dengan jujur.
"Syukurlah, mengabdi dan taat kepada suami membuat seorang istri mendapatkan surga, Dis. Raka baik banget dan tulus kepada keluarga kita. Dia sangat layak mendapatkan cinta dan bakti dari istrinya," kata Bu Ratih.
Adista mengangguk pelan. Dia mengamati Raka dari jauh. Memang walau dari background keluarga kaya raya, tapi Raka bisa menyesuaikan diri dengan keluarga Adista yang sangat sederhana. Raka pun terlihat tulus. Itu yang membuat Adista merasakan hatinya begitu hangat.
"Diputar saja tidak apa-apa, Bapak," kata Raka.
"Nanti Nak Raka gerah loh. Maaf yah," kata Pak Gusti.
"Tidak masalah sama sekali kok, Pak. Raka nyaman dan santai kok di sini," jawabnya.
Hingga akhirnya di kotak Pizza yang pertama menyisakan satu potong Pizza di sana. Desta tampak ingin nambah lagi dan memakan Pizza itu, tapi dia ragu. Masih ada Adista yang belum memakan Pizza.
"Dimakan aja, Des," kata Raka.
"Mbak Adis belum makan tuh, Mas," kata Desta, sekarang dia menunjukkan wajah bimbang.
"Tidak apa-apa, kamu makan saja. Santai aja kok," balas Raka.
Lantaran Desta tidak segera mengambil potongan Pizza itu, Raka kemudian mengambilkan dan memberikannya untuk Desta. Pikirnya jika hanya Pizza, lain waktu dia bisa membelikan untuk istrinya sendiri. Sementara Desta juga jarang memakan makanan seperti ini.
"Dimakan, dihabiskan. Lain kali kalau Mas dan Mbak Dista ke sini, mau Mas Raka bawain apa?" tanya Raka.
Terlihat Bu Ratih menatap Desta dan menggelengkan kepalanya. Seolah memberikan isyarat supaya Desta tidak meminta apa pun kepada kakak iparnya itu. Walau Raka baik, tetap saja kalau menerima kebaikan terus-menerus rasanya sungkan.
"Ndak usah, Mas," jawab Desta.
Raka kemudian tersenyum. "Ya sudah, nanti biar Mbak Dista yang beliin makanan enak dan sehat untuk Desta yah. Jangan lupa makan sayur, supaya sehat selalu," pesan Raka.
Desta tersenyum, dia senang mendapatkan kakak ipar yang baik layaknya kakak kandung. Bahkan Desta sendiri merasakan hatinya hangat ketika menerima sepotong Pizza terakhir dari Mas Raka. Walau dia belum dewasa, Desta tahu dan bisa menilai kakak iparnya itu orang yang baik kepada keluarganya.
"Makasih banyak Mas Raka ... sayangi Mbak Adis juga yah, Mas."
Raka kemudian mengangguk dan mengusap perlahan puncak kepala adik iparnya itu. "Iya, Mas Raka akan selalu menyayangi Mbak Dista. Desta harus janji kepada Mas untuk sekolah yang rajin yah. Gapai cita-citanya Desta, Mas Raka pasti akan selalu mendukung."
Kedua mata Adista berkaca-kaca melihat interaksi antara Raka dan adiknya itu. Raka bukan hanya menjadi suaminya, tapi Raka juga dengan mudahnya masuk ke dalam keluarganya, manjadi figur kakak laki-laki juga untuk Desta. Jujur, kebaikan Raka ini sangat menyentuh hati Adista.
"Bapak dan Ibu juga mendoakan supaya kalian segera memiliki buah hati yah," kata Pak Gusti sekarang.
Raka dan Adista sama-sama beradu pandang dan tersenyum kecil. Bu Ratih juga tersenyum, mengamati kedekatan Raka dan Adista sekarang pastilah keduanya sudah bersatu secara penuh dan utuh. Oleh karena itu, cepat atau lambat pastilah hadir seorang bayi yang kian menyemarakkan kehidupan rumah tangganya.
"Doakan saja Bapak dan Ibu," balas Raka.
"Kalian tidak menunda kan?" tanya Pak Gusti sekarang.
Raka dan Adista sama-sama menggelengkan kepalanya. Sejauh ini keduanya juga tidak menunda sama sekali. Lebih memilih menjalani dan menikmati masa pengantin baru. Nanti kalau sudah waktunya diberi momongan, pastilah momen itu juga akan hadir.