Staycation With Boss

Staycation With Boss
Memilih Mendampingi



Walau pagi itu berbeda, tapi Raka dan Adista berhasil melakukan rekonsiliasi bersama. Kendati demikian, sebagai wanita Adista seolah masih sedikit menjaga jarak. Kadang kala memang seperti itulah wanita, sudah memaafkan, tapi masih menjaga jarak.


"Mas Raka enggak berangkat kerja?" tanya Adista sembari melirik suaminya yang masih bersantai di apartemen padahal sekarang sudah lebih dari jam 08.00 pagi.


Raka kemudian menggelengkan kepalanya. "Aku di sini dulu, masih kangen kamu, Yang."


Adista hanya melirik suaminya itu. Usai itu, Adista memilih melihat saluran televisi sembari meminum susu untuk ibu hamil yang mengandung daun katuk. Raka yang akhirnya menyusul Adista duduk di sofa, pria itu seperti biasa, tidak banyak berbicara, tapi segera memeluk Adista. Bahkan tangannya sengaja mengusapi puncak kepala hingga rambut Adista yang panjang.


"Kamu udah beneran maafin aku kan?" tanya Raka.


"Maafin," balas Adista singkat.


Raka menganggukkan kepalanya perlahan. Butuh kepastian saja dari Adista. Walau Raka masih menginginkan sikap Adista yang hangat seperti biasanya.


"Nanti ikut aku ke La Plazza yah, Yang," pinta Raka.


"Gak mau ... aku di sini saja. Pinggangku sering kenceng," balas Adista.


"Di ruanganku ada kamar kecil kok. Bisa untuk kamu tiduran. Toilet juga berada di dalam. Aman saja, bisa istirahat. Dampingi aku yah," kata Raka sekarang.


"Aku di sini aja, Mas. Takut ganggu nanti."


"Ganggu saja, tidak masalah kok."


Dengan entengnya Raka mengatakan semuanya itu. Adista seolah kembali menghadapi Raka yang keinginannya tidak ingin ditolak. Adista memilih diam. Dia melanjutkan meminum susu miliknya dan melihat siaran televisi. Sementara Raka juga diam dan memeluk istrinya saja.


Entah apa yang dirasakan Raka, memeluk Adista nyatanya Raka bisa tertidur sendiri sekarang. Adista sampai kaget karena tiba-tiba mendengar dengkuran dari suaminya itu. Sebelumnya, Raka nyaris tak pernah mendengkur, tapi sekarang Raka benar-benar mendengkur.


"Mas, kok tidur. Katanya ingin ke La Plazza?" tanya Adista sembari membangunkan Raka.


"Hm, sebentar lima belas menit," balas Raka.


Pria itu memilih kembali tertidur dengan posisi duduk dengan tetap mempertahankan Adista di dalam pelukannya. Adista akhirnya membiarkan suaminya untuk tidur. Mungkin saja Raka juga kecapekan. Diam-diam, Adista juga tahu kalau semalam suaminya tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Akhirnya Raka benar-benar tertidur hingga satu jam lamanya. Hingga pria itu terbangun sendiri, yang kali pertama Raka lakukan adalah memeluk Adista lagi. Jujur, ketenangan yang Raka cari ada di dalam diri istrinya. Oleh karena itu, Raka tidak ingin kehilangan istrinya. Persetan dengan kasta dan kekayaan, Raka hanya butuh Adista saja.


"Aku tidur lama, Yang?" tanya Raka dengan suaranya yang serak.


"Lama. Sudah satu jam," balas Adista.


Raka menganggukkan kepalanya perlahan. "Aku semalam tidak bisa tidur. Aku kepikiran sama kamu," aku Raka sekarang dengan jujur.


"Ngapain kepikiran aku?" tanya Adista.


"Ya, istrinya marah. Diem aja, pria ya kepikiran. Mana kamu belum bilang maafin aku," aku Raka dengan jujur.


"Sebegitunya aku memberikan pengaruh untukmu? Sampai kamu tidak bisa tidur?" tanya Adista.


Raka kemudian menganggukkan kepalanya. "Berpengaruh banget. Aku memang ada salahnya. Ada celah yang melahirkan jebakan itu. Akhirnya, aku jatuh deh. Namun, aku pastikan tidak aneh-aneh," balas Raka.


"Aku masih menunggu Mas Raka untuk bisa membuktikan bahwa bukti itu tidak benar," balas Adista.


Raka kemudian menganggukkan kepalanya. Sudah pasti Raka akan memberikan bukti kepada istrinya bahwa dia tidak akan macam-macam. Raka juga menekankan pada dirinya sendiri untuk lebih berhati-hati sekarang.


"Kamu mengusirku?" tanya Raka dengan menatap Adista.


"Kan bukan hari libur. Masak iya, Mas Raka akan malas-malasan seperti ini," balas Adista.


"Ayo, temenin aku kerja. Kalau kamu gak mau nemenin, ya aku di sini aja. Di sisi kamu."


Setelah adu argumentasi, akhirnya keduanya memilih untuk ke La Plazza bersama-sama. Walau sebenarnya Adista malas, lebih suka bersantai di apartemen. Namun, Raka yang meminta secara langsung untuk bisa mendampinginya.


Begitu sudah di La Plazza, Raka mulai menginstruksikan ke sekuriti dan penerima tamu atau resepsionis bahwa Natasha benar-benar di blacklist untuk tidak diperkenankan masuk ke La Plazza Hotel apa pun alasannya. Selain itu, Raka mengajak Adista ke control room untuk mengecek rekaman CCTV yang berada di sana. Semua sisi ruangan terlihat, dan memang ada orang yang diam-diam memotretnya hanya dengan menggunakan handphone.


"Ini orangnya Mr. Raka," kata petugas di Control Room bagian CCTV.


"Instruksikan ke sekuriti dan semua pegawai untuk mem-blacklist orang-orang itu juga," perintah Raka.


Setelah Raka bisa membuktikan semuanya lantas dia mengajak Adista untuk masuk ke ruangannya. "Semuanya sudah jelas. Ada jebakan. Orang yang sengaja memotret juga kelihatan. Jadi, sekarang kamu percaya kan kepadaku?" tanya Raka.


Adista kemudian menganggukkan kepalanya. Dengan sendirinya, Adista mengambil beberapa langkah dan segera memeluk suaminya. Memang Adista membutuhkan bukti karena dia tidak ingin dikelabui oleh suaminya atau Natasha. Ada kalanya jika mencintai, seseorang tidak membutuhkan bukti. Akan tetapi, Adista membutuhkan bukti untuk mempertegas apa yang ada.


"Maaf, kemarin aku tidak percaya," kata Adista.


Raka menghela napas panjang. Dia rengkuh tubuh istrinya itu dan menyekapnya dengan begitu erat. "Wajar, apalagi bukti-buktinya masuk ke handphone kamu. Jangan hapus nomor itu, aku akan melacaknya juga. Supaya orang-orang itu tidak macam-macam lagi dengan Raka."


Adista mengurai pelukannya sesaat kemudian mulai menatap wajah suaminya. "Lebih hati-hati, Mas. Yang mengincarmu bukan hanya Natasha, tapi juga orang-orangnya. Jangan terlena bisa berakibat fatal nantinya," kata Adista.


"Tentu, Sayang ... aku akan lebih waspada dan tidak akan gegabah. Makasih masukannya. Sekarang sudah benar-benar yakin bahwa aku gak macam-macam kan?" tanya Raka.


"Ya, tapi kamu kemarin dipeluk dia. Aku gak suka," balas Adista.


"Itu salahku kemarin yang teledor. Maaf yah," balas Raka.


Adista kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, aku maafkan, tapi gak ada jatah dua minggu yah," balasnya.


Wajah Raka seketika menegang. Pria itu kemudian menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. "Jangan, Sayang. Bisa benar-benar lemes dong aku. Duh, hukuman dari kamu berat banget."


Raka mengeluhkan hal itu. Menurut Raka apa yang dikatakan oleh Adista adalah hukuman yang berat. Dua minggu adalah waktu yang sangat lama. Kalau bisa, Raka malahan ingin setiap malam merangkai bunga asmara dan menyelami palung samudra bersama istrinya.


"Abis Mas Raka nyebelin. Katanya gak akan ada kontak fisik dengan wanita lain selain aku?"


"Ya, itu kemarin aku gegabah. Maaf," balas Raka.


"Terus gimana?" tanya Adista.


"Ya, enggak gimana-gimana. Aku cinta kamu. Jangan kasih hukuman seperti itu. Aku gak akan pernah bisa."


"Sepuluh hari deh," balas Adista.


"Enggak, semalam aja gak bisa. Pengennya tiap malam."


Adista memanyunkan bibirnya, menjadi kesal dengan suaminya itu. Walau begitu, Adista merasakan lega karena semuanya sudah terbukti. Selain itu, Adista tentunya berharap Natasha dan orang-orangnya tidak akan dibiarkan memasuki La Plazza Hotel.