
Tidak terasa hari ini adalah hari keempat dari acara Staycation antara Raka dan Adista. Walau sebelumnya Adista sempat ngambek, tapi Adista sudah kembali seperti biasanya. Lebih bersikap biasa dengan suaminya sendiri.
"Mau sarapan enggak, Yang?" tanya Raka pagi ini.
"Aku laper sih, Mas. Cuma kalau sarapan dan ketemu temen kamu lagi bagaimana? Aku tidak nyaman," jawab Adista dengan jujur.
"Ya kalau ketemu sih biasa saja, Yang. Gak usah begitu ditanggapi. Yang perlu diingat kan memang kita berbeda budaya. Sama yang pasti gak akan kayak kemarin lagi kok. Janji. Yuk, makan yukk. Mau isi tenaga dulu, kita harus maksimalkan waktu kita kan besok udah balik ke Jakarta," kata Raka.
"Ya sudah deh, yuk sarapan."
Akhirnya Adista dan Raka menuju ke restoran dan menikmati sarapan pagi mereka. Seperti biasanya, Adista membuatkan secangkir kopi panas untuk Raka. Memang Raka tidak meminta dilayani, tapi Adista yang berinisiatif terlebih dahulu. Dia ingin melayani suaminya itu. Sekadar membuatkan kopi di pagi hari.
"Kopinya, Mas," kata Adista dengan menyajikan secangkir kopi di dalam cangkir keramik berwarna putih.
"Terima kasih, Sayang. Kamu mau diambilin apa? Biar aku yang ambilkan," balas Raka.
"Nanti aja, aku mau minum Teh Panas dulu," balas Adista.
Akhirnya keduanya memilih sama-sama menikmati minuman mereka. Raka dengan secangkir kopi, dan Adista menikmati secangkir teh. Tidak ingin terburu-buru juga, sekarang juga masih jam setengah delapan pagi. Baru menyeruput minuman mereka sedikit, sudah ada Kathe yang menunjukkan dirinya.
Bahkan Kathe menyapa Raka dan meminta bisa bergabung sarapan dengan Raka dan Adista. "Hi, Raka ... Can i joint with you?" tanya Kathe.
"Sorry, K ... hanya ada dua kursi di sini. Di sebelah sana ada kursi dan meja yang kosong kok," balas Raka.
Kathe mengedikkan bahunya. Dia merasa aneh dengan Raka. Biasanya Raka bersikap ramah, tapi sekarang tidak.
"Aku hanya butuh teman untuk meminum kopi saja, Raka. Setelah itu, aku akan bertolak ke Pulau Komodo," kata Kathe lagi.
Raka menatap Adista yang duduk dan tidak menunjukkan ekspresi berlebihan. Belum juga Raka mempersilakan, Kathe sudah menarik sebuah kursi dari sebelah dan kemudian duduk di samping Raka. Praktis Raka menghela napas panjang. Kalau begini ceritanya pastilah Adista akan mengambek lagi nanti. Susah payah Raka memperbaiki hubungan mereka berdua, dan bisa-bisa sepanjang hari, Adista akan marah lagi.
"Perasaanku, kenapa kamu menjaga jarak sih, Raka? Kita kan teman," kata Kathe.
"Aku biasa saja, K. Hanya saja sekarang aku sudah beristri jadi sudah tidak seperti dulu lagi," balas Raka.
Seolah Raka ingin menjelaskan bahwa sekarang dia sudah menikah. Kebebasan seorang pria juga dibatasi ketika sudah ada pernikahan. Oleh karena itu, Raka menjelaskan itu kepada Kathe.
"Benarkah demikian? Ah, aku menjadi berpikir apakah pernikahan mengubah segalanya? Kebanyakan teman-temanku yang menikah akan berubah," kata Kathe sekarang.
Alhasil, di sana hanya terjadi obrolan dari Raka dan Kathe saja. Adista juga terkendala dengan obrolan mereka dengan bahasa Inggris, sehingga Adista tak terlibat. Walau begitu, Adista menunjukkan pembawaan santai, sekalipun di dalam hati begitu kesal.
Hampir dua puluh menit, akhirnya Kathe berpamitan. Dia juga berpamitan bahwa akan cek out dan menuju ke Pulau Komodo. Selain itu, Kathe juga berharap di lain waktu bisa bertemu dengan Raka lagi. Setelahnya, Raka berbicara dengan istrinya.
"Maaf yah," kata Raka.
Adista memilih diam. Tidak enak kalau marah-marah di restoran. Ngambek juga pasti terlihat banyak orang yang juga tengah sarapan.
"Makan apa lagi, Yang? Aku ambilin," tawar Raka.
"Aku mau balik ke kamar," balas Adista kemudian.
Akhirnya Adista memilih untuk kembali ke kamar. Lagi-lagi paginya menjadi menyebalkan. Bukan salahnya Raka, cuma memang Kathe memaksa duduk di sana. Selain itu, percakapan dengan bahasa Inggris membuat Adista tidak banyak terlibat dalam obrolan suaminya.
Begitu sudah sampai di dalam kamar, Raka memeluk istrinya itu. Raka berharap bahwa istrinya tidak akan mengambek lagi hari ini. Masak iya, honeymoon justru istrinya banyak ngambeknya.
"Sory, bikin mood kamu jelek lagi. Maaf banget yah," kata Raka sekarang.
Raka juga menjadi lebih peka bahwa mood Adista menjadi jelek sekarang. Namun, ada beberapa hal yang sukar dihindari. Sudah menolak dan menawarkan opsi lain, tapi Kathe bersikeras duduk di dekat Raka.
"Udah terlanjur, Mas," balas Adista.
"Aku perlu ngelakuin apa biar kamu gak ngambek?" tanya Raka.
Adista kemudian menggelengkan kepalanya. "Gak perlu kok. Aku butuh nenangin diriku dulu," balas Adista.
Raka mengangguk, sekarang dia mengurai pelukannya. Dia memberikan quite time untuk Adista sebentar. Semoga saja mood istrinya itu bisa segera membaik lagi.
Adista memilih duduk di ranjang, punggungnya bersandar di head board tempat tidurnya. Dia memejamkan matanya, dan memikirkan hal-hal yang sekiranya bisa membuat moodnya menjadi lebih baik. Sementara Raka menunggu, pria itu turut duduk di samping Adista, tapi Raka tak mengatakan apa pun.
"Jangan terlalu lama, Sayang. Aku cinta kamu," kata Raka lirih.
Perkataan Raka ternyata perlahan membuat Adista membuka kelopak matanya. Apakah cemburu dan ngambeknya ini adalah wujud dari cinta?
"Kayaknya aku gak hanya kesal, aku cemburu, Mas," aku Adista sekarang.
Raka mengernyitkan keningnya malahan. "Sorry, aku tadi sudah menolaknya dan menawarkan opsi lain supaya dia duduk di tempat yang lainnya. Jangan ngambek, cemburu boleh, kalau ngambek seharian jangan."
Raka sudah menggelengkan kepalanya sekarang. Ketika Adista memilih diam sepanjang hari, Raka menjadi serba salah. Untuk itu, Raka tak ingin jika Adista kembali diam.
Adista kemudian justru menangis sekarang. Wanita itu menitikkan air matanya. "Kupikir akan sukar bagiku untuk cemburu dengan suamiku sendiri. Sekarang, aku merasakannya."
Raka langsung merangkul Adista, dia bawa kepala Adista bersandar di dadanya. Raka justru senang ketika Adista dengan jujur mengakui bahwa dia cemburu. Semula, Adista pikir memang sukar baginya untuk cemburu. Ternyata rasa cemburu itu datang dengan sendirinya.
"Tidak apa-apa. Itu tandanya kamu mulai memiliki perasaan lebih kepadaku. Jangan nangis," balas Raka.
Usai mengatakan itu, Raka menunduk dan dia mencium bibir Adista. Raka seakan mengatakan bahwa dengan ciumannya itu menjadi bukti bahwa dia ada dengan Adista. Raka akan menghapus rasa cemburu itu dengan cintanya yang jauh lebih besar sekarang.
Raka membelai perlahan sisi wajah Adista, lalu dia berikan pagutan demi pagutan di bibir Adista. Dia jatuhkan kecupan dalam kesan basah, bahkan Raka menjulurkan lidahnya sesaat, dia usap permukaan bibir istrinya. Berbagi perasaan di dalam hati.
Raka tahu mungkin kata-katanya menenangkan Adista tidak cukup, tapi Raka menunjukkan dengan tindakannya. Raka bahagia ketika Adista mengakui perasaannya. Raka bahagia perasaan itu perlahan tumbuh. Oleh karena itu, Raka tidak akan tinggal diam. Raka berusaha menyentuh Adista, mencoba menyalurkan perasaannya yang amat besar. Beberapa saat berbagi dahaga dengan mempertemukan dua bibir, Raka mengurai wajahnya sesaat dia menatap wajah istrinya yang memerah di hadapannya.
"Boleh aku lanjutkan? Boleh aku tunjukkan cintaku?" tanya Raka.
Adista memangkas jarak wajahnya, dia menangkup wajah suaminya itu. Jawaban yang Adista berikan berupa kecupan di bibir suaminya itu. Cup! Usai itu, Adista tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Sungguh ini adalah lampu hijau untuk Raka. Selain itu, ini akan menjadi momen pertama di pagi hari untuk keduanya. Raka segera berdiri dan menutup semua jendela beserta tirainya terlebih dahulu. Setelah itu, Raka menaiki ranjang perlahan, dia mendorong bahu istrinya untuk rebah. Lantas, Raka segera mengungkung istrinya itu. Sorot mata yang terpaku hanya kepada Adista, membuat Adista tak terserap masuk dalam manik mata Raka.
Disertai dengan kedua tangan Raka yang mengunci tangan Adista di samping kanan dan kiri. Setelah itu, Raka menyapa bibir Adista. Kali ini dengan napas yang memburu. Cintanya meletup-letup sekarang. Oleh karena itu, Raka akan berusaha untuk mengekspresikannya.
"Mas Raka ...."
Suara Adista yang dalam dan napas terengah-engah sudah terdengar sekarang. Sungguh ciuman intens dan dalam dari Raka membuat Adista bak terhisap ke dalamnya. Ciuman itu bak menghantarkan arus listrik sekian volt yang membuat tubuh Adista meremang. Adista bahkan bertekad ingin menikmati cara suaminya mencintainya itu. Kala cinta itu memang harus ditunjukkan dengan Physical touch, maka Adista tidak akan menolaknya.
"Sayang ...."
Raka membalas, kini bawa membawa wajahnya kian turun, dia sapa dan menjatuhkan jejak-jejak basah di sepanjang garis leher Adista. Refleks, Adista menengadahkan wajahnya. Dia mende-sah dan benar-benar tenggelam dalam samudra yang penuh cinta.
"Mas ... Ra ... Ka."
"Ya, panggil aku, Sayang. Rasakan cintaku. Jika harus tenggelam, kita tenggelam bersama," balas Raka.
Adista tidak lagi bisa merespons. Dalam detik selanjutnya dia sudah tercetak dengan gerakan tangan suaminya yang sekarang tiba-tiba menyentuh cawan surgawinya. Adista sampai memekik. Bahkan, Raka dengan nakalnya melepaskan segitiga berenda yang semula dia kenakan, ibu jari Raka menyentuh permukaan cawan surgawi itu. Disertai dengan dua jari lain yang mengikuti dan memberikan tusukan.
Oh, Adista benar-benar melayang. Bahkan Adista merengek merasakan godaan yang sangat dahsyat itu. Tak hanya itu, Raka rupanya kian turun, bukan hanya jari, tapi sekarang Raka menyapanya dengan lidahnya. Bermain-main di sana. Seketika Adista kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Kakinya bergerak gelisah, bahkan dia menelungkungkan sepuluh jari-jari kakinya. Beberapa saat menerima perlakuan Raka, Adista memekik. Tubuhnya menjadi ringan, darahnya seakan berdesir, lantas dia menghalau wajah Raka dari sana karena Adista mengalami pelepasan yang sangat dahsyat.
"Mas Raka ... Mas!"
Seluruh tubuh Adista bergetar bahkan tenggorokannya serasa kering. Luar biasa suaminya itu menyentuhnya. Raka berpindah posisi, dia bersimpuh dekat dengan Adista. Pria itu melucuti busananya, dan membimbing Adista memberikan sapaan di pusakanya. Sebatas membuatnya basah saja. Membasahi.
Adista yang sebelumnya sudah diajari Raka sekarang mengulang lagi pelajaran itu. Dia sapa, mengusapnya perlahan, dan benar-benar menenggelamkannya dalam rongga mulutnya. Raka melenguh nikmat di sana. Hingga akhirnya, Raka merasa cukup. Kini, Raka duduk bersandar di head board, lalu membimbing Adista duduk di pangkuannya. Bukan sekadar duduk, tapi dengan bagian dirinya yang menyatu. Sungguh, ini kali pertama untuk Adista.
"Bergeraklah, Sayang," kata Raka dengan suaranya yang parau.
Adista tak tahu harus bergerak seperti apa. Hingga akhirnya, Adista mengikuti instingnya saja. Raka memejamkan matanya, dia tarik ke atas kaos yang dikenakan Adista. Di lepaskan yang lain. Sama-sama dalam keadaan polos mutlak.
Raka mulai mempermainkan bulatan indah di sana. Menghisapnya, menggigitnya, dan meremasnya. Semua yang memberikan kenikmatan akan Raka lakukan. Adista sampai tak bisa menahan suara untuk melenguh. Tubuh keduanya sama-sama basah sekarang. Berpeluh hebat. Namun, Raka masih mempertahankan dan menikmati istrinya yang bergerak di pangkuannya. Hunusan pusaka itu terasa sangat dalam. Bunyi-bunyi dua benda bergesekan pun kian terdengar. Sungguh, ini adalah momen yang indah untuk Satria.
Adista sampai kehabisan tenaga, tapi Raka masih begitu tangguh. Menyadari istrinya yang kian capek, Raka lantas mengubah posisi. Kini dia yang mengambil kendali. Dia mulai merebahkan Adista, dan melakukan gerakan seduktif keluar dan masuk beberapa kali. Menghujam, menusuk, dan juga menghunus beberapa kali. Dalam dan cepat. Menciptakan ritme yang membuat keduanya benar-benar kehilangan dirinya sendiri. Bahkan sprei di sana menjadi tak beraturan lagi karenanya.
"I Love U, Sayang ... tolong balas. Katakan kamu ... mencintaiku."
Adista membuka matanya yang semula terpejam, dia mengusap perlahan wajah suaminya yang beberapa kali menggeram itu. "Aku ... mulai ... mencintaimu, Mas."
Raka merasa sangat senang. Cukup pengakuan dari Adista itu. Maka, tak ada yang Raka tunggu. Dia merasakan ambang batasnya telah tiba. Maka, letupan larva pijar pun terjadi. Letupan volcano yang sepenuhnya memenuhi Adista. Keduanya menjadi satu.
Indah.
Meledak.
Pecah.
Ungkapan cinta yang diharapkan setiap hari akan semakin tumbuh. Raka juga akhirnya jatuh di atas tubuh istrinya dengan tubuh yang begitu bergetar.
"I ... Love ... U!"