Staycation With Boss

Staycation With Boss
Bayi Cowok atau Cewek?



Menemani istrinya menjalani pemeriksaan ini juga membuat Raka banya belajar sesuatu. Seperti mendengarkan detak jantung bayinya untuk kali pertama saja membuat dada Raka terasa bergetar. Setiap penjelasan dari Dokter Rinta pun juga didengarkan Raka dengan baik-baik. Raka juga bertanya-tanya kepada bisa istrinya itu tidak mual dan muntah sama sekali. Sebelumnya Adista hanya sedikit lemas dan sakit di awal kehamilannya saja. Setelahnya terbilang kondisi Adista sangat sehat. Walau untuk mood, memang sering kali Adista bad mood dengan sendirinya.


"Kalau Mom sehat, alhamdulillah ... semua ibu hamil juga pengennya sehat-sehat, Mom. Sehat sampai persalinan," kata Dokter Rinta.


"Aamiin, Dokter. Saya inginnya juga begitu. Kalau masih empat belas minggu belum kelihatan jenis kelaminnya yah, Dokter?" tanya Adista.


"Belum terlihat, Mom. Nanti ketika kehamilan memasuki delapan belas minggu barulah kelihatan," balas Dokter Rinta. Usai itu, Dokter Rinta bertanya lagi kepada mereka berdua. "Ngomong-ngomong Mom Dista dan suami inginnya bayi cowok atau cewek nih?"


"Cowok," balas Dista.


"Cewek," balas Raka.


Keduanya menjawab bersamaan, tapi jawabannya berbeda. Adista menginginkan bayi laki-laki, sementara Raka justru menginginkan bayi perempuan. Dokter Rinta yang mendengarkannya pun tertawa.


"Wah, Mom dan Dad-nya pilihannya berbeda yah," balasnya dengan terkekeh.


"Beda keinginan, tapi apa pun tidak apa-apa sih, Dokter. Sedikasihnya Allah," jawab Adista kemudian.


"Benar, Mom. Banyak pasangan yang sudah menikah lama, tapi belum dikaruniai anak. Akan tetapi, ada pula yang baru menikah sudah Allah percayai keturunan. Cowok atau cewek sama saja, Mom."


Menyudahi sesi pemeriksaan, Dokter Rinta mencetak beberapa hasil pemeriksaan USG. Setelah itu, Dokter Rinta untuk meresepkan vitamin, kalsium, dan penambah darah untuk Adista. Adista dan Raka juga sekaligus berpamitan dengan Dokter Rinta.


"Terima kasih banyak, Dokter. Kami pamit," kata Adista.


"Sama-sama, Mom. Pemeriksaan selanjutnya bulan depan yah. Sehat selalu ...."


Keluar dari ruangan pemeriksaan, Raka dan Adista sekarang menuju ke apotek untuk menukar resep dan sekaligus Raka melunasi biaya pemeriksaan istrinya. Kala menunggu obat disiapkan, Raka bertanya kepada istrinya.


"Kamu pengennya bayi cowok?" tanyanya.


"Ya, sebatas keinginan aja. Menginginkan tidak ada salahnya kan Mas? Namun, dikembalikan lagi kepada Allah nanti diberi bayi apa," jawab Adista.


Raka menganggukkan kepalanya perlahan. Memang benar apa yang dikatakan Adista. Sebatas berharap dan menginginkan tidak ada salahnya sama sekali. Akan tetapi, semuanya dikembalikan kepada Allah sebagai Sang Pemberi.


"Mas Raka kenapa pengen bayi cewek?" tanya Adista sekarang.


"Lucu aja, Sayang. Cantik dan imut seperti kamu," balas Raka.


Mendengar alasan Raka, membuat Adista tersenyum dan menggelengkan kepalanya sendiri. Alasan yang disampaikan oleh Raka juga terkesan lucu malahan.


"Pernah lihat anak cewek yang lucu, Mas?" tanya Adista.


"Pernah, sering malahan ... kayak pengunjung hotel kan sering ada yang membawa anaknya. Lucu aja kalau Papa-Papa muda gendong anak cewek," kata Raka.


Adista tertawa. Dia tidak mengira bahwa ada kalanya suaminya itu memperhatikan setiap anak yang dibawa pengunjung kala menginap di La Plazza Hotel. Hal yang tidak Dista ketahui dari suaminya.


"Kamu sempat juga merhatiin anak kecil, Mas?" tanya Adista.


"Sempat dong. Kadang juga menyapa mereka juga pernah kok, Uncle Raka gitu. Tenang aja, kalau aku punya anak sendiri, aku akan sayang banget sama anakku," kata Raka.


Adista tersenyum lagi. Akan tetapi, mendengar bagaimana suaminya berkata bahwa dia akan sayang sekali dengan anaknya membuat hati Adista menjadi hangat. Bahkan diam-diam Adista membayangkan bagaimana suaminya itu kelak menggendong bayi.


Keduanya masih menunggu untuk obat di apotek, hingga ada pasangan muda dengan menggendong seorang anak cewek, dan menggandeng seorang anak cewek juga. Kemudian, menyapa Raka.


"Raka," sapa seorang pria yang kira-kira seumuran Raka.


"Hei, Bro ... ngapain ke Rumah Sakit?" tanya Raka dengan berdiri.


"Biasa, ini anakku sakit. Ke Dokter Spesialis Anak, kebetulan Opanya kan di sini," katanya.


Raka kemudian meminta Adista berdiri dan memperkenalkan Adista kepada temannya itu. "Yang, kenalin," kata Raka.


Adista pun berdiri menjabat tangan teman suaminya itu. "Adista, istrinya Mas Raka," katanya memperkenalkan diri.


Rupanya kawan Raka tak lain adalah pasangan muda Aksara dan Arsyilla. Raka kemudian mengusapi puncak kepala gadis kecil yang berada di gendongan Aksara itu.


"Yang sakit Princess yang mana ini?" tanya Raka.


"Namanya Princess?" tanya Adista dengan begitu lugunya.


Kemudian Arsyilla menggelengkan kepalanya. "Bukan, mereka berdua ini namanya Aurora dan Anna. Nama-nama di Disney Princess," jawabnya.


"Ya ampun, aku kira namanya Princess ...."


"Ini yang Anna, Uncle," kata Arsyilla.


"Sakit apa ini?" tanya Raka yang terlihat care.


"Flu Singapura. Sebenarnya mau ke klinik kan, tapi Opanya sudah terlanjur praktik ke Rumah Sakit," balas Aksara.


"Opanya menjadi Dokter Spesialis Anak ya Kak?" tanya Adista lagi.


Aksara menganggukkan kepalanya. "Iya, ayahku, Opanya anak-anak ini Dokter Spesialis Anak."


"Keren yah," balas Adista.


"Oh, iya. Ayo, salaman dulu, disapa Uncle dan Onty nya," kata Arsyilla.


Gadis kecil yang digandeng Aksara pun mengangguk dan berjabat tangan dengan Raka dan Adista. "Halo Uncle dan Onty. Aku Ara," katanya.


"Halo Princess Aurora, cantik banget sih," kata Raka dengan mengusap puncak kepala Ara yang sebenarnya bernama Aurora itu.


"Cantik kan, Yang. Tuh, kalau punya anak cewek lucu," kata Raka lagi kepada Adista.


"Buruan nyusul. Nanti kita playdate sama-sama," balas Aksara.


Tampak Raka dan Adista mengangguk dan tersenyum. "Sudah, Bro. Minggu keempat belas sekarang," kata Raka.


"Wah, selamat-selamat," balas Aksara dengan menepuki bahu Raka.


"Dijaga baik-baik yah babynya," balas Arsyilla.


"Iya, Kak. Doanya yah, Kak," balas Adista.


"Seneng bisa ketemu di sini. Ketemu Ara dan Anna," kata Raka lagi.


"Onty nya hamil yah, Uncle?" tanya Ara dengan suaranya yang lucu dan rasa penuh ingin tahu.


"Iya, Ara. Onty baru hamil. Nanti kalau babynya lahir, boleh enggak ikutan main sama Kakak Ara?" tanya Raka.


Ara kecil mengangguk-anggukan kepalanya. "Boleh, Uncle. Nanti main sama Ara dan Anna. Boleh kok."


Adista sekarang tersenyum jadi gemas dengan Ara yang kelihatan pinter dan lucu itu. Selain itu, Ara juga menunjukkan sikap yang hangat. Jarang biasanya anak-anak menunjukkan sikap yang hangat.


"Uncle dan Onty, minggu depan main ke rumah yah. Ara mau ulang tahun nih," undang Arsyilla.


"Boleh-boleh, Bu Dosen. Nanti Uncle dan Onty main yah," balas Raka.


"Kakak Dosen yah?" tanya Adista lagi yang penuh rasa kagum.


"Iya, kerja sambilan Dosen. Sebab, hanya ngajar seminggu sekali. Selepasnya jadi fulltime Mom," balas Arsyilla dengan tertawa.


Adista agaknya merasa cocok dengan pasangan muda yang menjadi teman suaminya itu. Keduanya terlihat hangat dan ramah. Selain itu ada Ara kecil juga yang pintar dan menggemaskan. Sementara Anna yang sedang sakit, lebih banyak bergelayut manja di gendong ayahnya.