Staycation With Boss

Staycation With Boss
Bukan Pura-Pura dan Bukan Sandiwara



Begitu pintu ditutup, Adista diam-diam melihat dari interkom yang terpasang didekat pintu. Rupanya Natasha masih berdiri di depan pintu. Dengan lirih, Adista berbicara kepada suaminya.


"Pemujamu masih di depan pintu kita," kata Adista.


Raka tampak menghela napas. Kemudian pria itu sedikit mendorong Adista hingga punggung Adista mengenai tembok. Raka kemudian berbisik kepada istrinya.


"Bikin suasana panas, Sayang. Biar dia pergi," kata Raka.


"Apa yang ingin Mas Raka lakukan?" tanya Adista.


Raka tersenyum tipis. Lantas dia membelai perlahan sisi wajah Adista. Raka seolah mendapatkan ide cemerlang di otaknya. Tanpa banyak bicara, tapi sorot mata Raka seolah sudah memberikan sejumlah isyarat. Raka pangkas jarak wajahnya yang tidak seberapa. Lantas, Raka mengecup bibir Adista di sana.


Sementara Adista sendiri membelalakkan matanya. Tadi siang dia sudah mengatakan kepada Raka untuk tidak berhubungan selama dua minggu ke depan. Akan tetapi, sekarang suaminya itu justru ingin membuat suasana menjadi kian panas.


"Sayang ...."


Suara Raka begitu parau dan berat. Di tahap ini Adista sudah merasa was-was dengan suaminya. Takut kalau sampai berawal pura-pura, justru membuat keduanya benar-benar terbenam dalam samudra. Terlebih Adista merasa sejak hamil ini, sedikit sentuhan dari suaminya saja selalu sukses membuatnya panas dingin. Hasratnya menjadi meningkat. Adista sampai merasa heran dengan dirinya sendiri.


"Mas ...."


Adista menyahut. Namun, belum Adista mengucapkan kata-kata yang ada di otaknya, Raka sudah mengecup bibir Adista. Seakan Raka tidak menahan. Dari awal pria itu sudah mencium Adista dengan napas yang memburu. Bibir bertemu bibir menghasilkan decakan yang seakan lebih keras. Raka memang sengaja melakukannya. Bahkan ada bunyi-bunyinya lain yang mungkin saja terdengar dari luar.


"Jangan nakal, Mas ...."


Adista mengatakan itu dengan terengah-engah. Akan tetapi, Raka justru senang sekali. Jika Natasha di luar sana mendengar, maka biarkan saja. Menurut Raka, Natasha terlalu gegabah. Dia berpikir bisa mengintimidasi Adista. Rupanya Adista juga cerdik dalam memberikan jawaban hingga sekarang dua bibir beradu saling memagut, saling berdecap, dan terengah-engah bersama.


Raka tak segan-segan untuk memagut dan menghisap lidah Adista. Terlebih Raka juga sudah mendamba. Sama seperti yang dia katakan sebelumnya bahwa bergumul setiap malam pun, Raka tidak keberatan sama sekali. Raka justru kian berhasrat dengan istrinya.


Beberapa menit dua bibir bertemu, akhirnya Raka mengurai wajahnya untuk sesaat.


"Dia masih di sana?" tanyanya.


Adista melihat dari dari interkom. Rupanya Natasha masih di sana. Wanita itu menunduk dan tampak menggaruk kepalanya. Adista menceritakan itu kepada Raka. Kini, Raka semakin yakin bahwa suasana panas ini harus berlangsung.


Kembali Raka memegangi dagu Adista. Pria itu kembali mengecup dua buah lipatan bibir Adista. Mengusapnya dengan lidahnya, bahkan sekarang Raka berhasil menerobos masuk merasai hangatnya rongga mulut Adista. Keduanya kembali terengah-engah dan Adista tak mampu lagi menahan, mana kala merasakan belaian dari telapak tangan Raka di paha bagian dalamnya.


"Hh, Mas ... Raka."


"Ya, Sayangku."


Sementara di luar sana Natasha merasa sangat kecewa. Dia bisa mendengar sayup-sayup decakan dari dua bibir yang bertemu. Apakah itu artinya Raka benar-benar bercinta dengan istrinya tepat di balik pintu. Hingga setitik air mata membasahi pipi Natasha.


"Kamu keterlaluan, Raka. Dulu kamu hanya menyukaiku. Sekarang, kamu melakukan semua ini kepadaku ...."


Tak kuasa mendengar decakan demi decakan hingga suara Adista, akhirnya Natasha memilih pergi. Ya, wanita itu benar-benar pergi. Bukan ke unit barunya yang berada dua lantai di atas unit milik Raka, melainkan Natasha memilih pulang ke rumahnya.


Sementara di dalam unitnya, Adista mendorong sedikit dada suaminya. Wanita itu kemudian menggelengkan kepalanya perlahan. "Sudah pergi, cukup, Mas."


Raka yang menatap Adista, lantas mengusap perlahan bibir Adista dengan ibu jarinya. "Siapa bilang cukup?"


"Kan hanya berpura-pura supaya dia pergi," balas Adista.


Raka kemudian menggelengkan kepalanya. "No. Tidak. Tidak apa pura-pura dan tidak ada sandiwara," balasnya.


Usai itu, Raka segera menggendong Adista ala bridal style dan membawanya ke ranjang mereka. Raka sudah tersulut. Sejak semalam dia menginginkan istrinya. Atmosfer yang sudah tercipta ini harus terus dipertahankan kehangatannya. Dengan pelan-pelan Raka membaringkan Adista di ranjang. Pria itu kemudian melepas kaos yang dia kenakan, tampil shirtless di hadapan Adista.


Raka menatap wajah Adista dengan begitu lekat. "Aku gak main-main," katanya. Lantas Raka sekarang sengaja membawa tangan Adista dan menyentuhkannya ke arah pangkal pahanya. Bisa Adista rasakan pusaka yang sudah mengeras di sana. Adista merasa tercengang, apa memang secepat ini suaminya menaik hasratnya.


"Kan libur dua minggu," kata Adista perlahan.


"Gak mau, gak bisa. Aku ... mendamba."


Raka mengatakan semua itu, lantas dia berusaha mengukung Adista tanpa menekan bagian perut istrinya. Lantas Raka membawa kedua tangan Adista ke atas kepalanya. Kini, Raka tak segan untuk mencium Adista. Raka yakin istrinya itu juga menginginkannya. Hanya saja, Adista tak mengakuinya. Kembali kedua bibir bertemu, saling mencecap dalam rasa hangat hingga Raka sengaja menyentuh bibir cawan surgawi milik istrinya.


"Kamu sudah basah. Kamu juga menginginkannya."


Oh, Adista sangat malu jadinya. Dia tadi mengelak, tapi itu adalah bukti nyata bahwa tubuhnya juga bereaksi dengan begitu cepat kala suaminya itu menyentuhnya. Raka mulai meloloskan setiap busana yang mereka kenakan. Membiarkan kepolosan mutlak menemani mereka berdua. Walau sudah begitu mendamba, Raka akan melakukan semuanya secara bertahap. Tidak ada mengejar kesenangannya sendiri.


Tangan Raka mulai meremas perlahan dengan gerakan memutar bagian dada Adista yang kini lebih berisi dan kian padat. Bukan sekadar meremas, tapi juga memilinnya, ibu jarinya sengaja berlama-lama menyentuh puncak dada yang sekarang sudah begitu mengeras. Adista memekik karenanya. Raka senang sekali, artinya perasaan keduanya sama.


Merasa Adista juga sama dengan dirinya, Raka lantas menghisap dan menenggelamkan bulatan indah itu dalam rongga mulutnya. Hisapan berganti usapan lidah, bahkan lu-matan. Adista merengek karenanya. Terlebih bagian dada yang lain, Raka berikan remasan dan pilinan yang sukses membuat Adista terengah-engah, napasnya pun seakan putus-putus.


Dua bulatan indah, Raka perlakukan sama. Dipuja dengan sedemikian rupa, hingga sekarang Raka melakukan invansi kian ke bawah. Ya, usapan dan tusukan dengan ujung lidah mulai mengeksplorasi bagian lembah yang ada di bawah sana. Oh, Adista kian menggila karenanya. Suaminya itu selalu pandai dan tidak pernah gagal untuk memuaskannya.


"Oh, Mas Raka ... astaga, nikmat iya ... oh, iya."


"Aku tahu, Sayang. Jangan ditahan. Terus sebut namaku."


Raka kian membuai dalam kesan hangat, cepat, dan basah. Hingga tubuh Adista bergetar karenanya. Bahkan Adista berteriak karena rasanya benar-benar luar biasa. Keningnya berkeringat dengan mata terpejam rapat.


"Basahi dikit, Yang."


Raka memberikan instruksi sekarang. Dia meminta Adista kembali mengambil alih. Adista menurut. Dia mulai mengecup senjata pusaka yang sudah mengeras itu. Menenggelamkannya dalam rongga mulutnya. Raka menggila sekarang. Dia meracau beberapa kali dengan mengusap kepala istrinya. Bagi Raka, Adista juga begitu pandai hingga membuat Raka benar-benar membumbung tinggi.


"Di atasku," instruksi Raka lagi.


Pria itu duduk di ranjang dengan bersandar di head board ranjangnya. Dia membimbing Adista duduk di pangkuannya, di atasnya tentu dengan penyatuan diri. Rasa hangat dan penuh mulai melingkupi keduanya.


"Gerakkan pinggulmu, Sayang."


Raka kembali memberikan instruksi hingga Adista mulai bergerak mengikuti instingnya. Jepitan dalam kesan hangat dan basah membuat Raka mendesis dan memejamkan matanya. Sungguh luar biasa rasanya.


"Kiss me," pinta Raka lagi. Dia membelai wajah Adista dan mencium bibir Adista. Bahkan Raka sengaja menahan tengkuk Adista. Dia ingin mengarungi samudra ini dalam kegilaan. Dengan cinta yang meluap-luap.


Dua bibir terurai. Namun, Raka mengubah dengan menjatuhkan jejak-jejak basah di leher Adista, memberikan hisapan dan gigitan di puncak dada istrinya itu. Walau Adista memekik dan melenguh karenanya, Raka justru kian bersemangat.


Sekarang, Raka mengubah posisinya. Dia merebahkan Adista, lantas Raka yang memegang kendali. Pria itu mulai menggesekkan pusakanya di bibir cawan surgawi. Adista kembali merengek. Hingga dalam hentakan, Raka memasuki dan menyatukan diri. Pria itu benar-benar meluap-luap. Gerakan seduktif yang Raka lakukan juga semakin cepat, cepat, dan cepat. Walau begitu, Raka mengurangi tenaganya karena ingat istrinya sedang hamil sekarang.


"Mas ... Raka, oh ...."


Adista kehilangan dirinya sendiri. Sisa-sisa kewarasan seolah sirna sudah. Hingga akhirnya, Raka kian mempercepat ritmenya. Terdengar suara-suara lantaran bentuk benda nan tumpul di dalam cawan surgawi. Peluh bersatu, dan kegilaan yang semakin menaik setiap waktu.


Hingga akhirnya, Raka merasa tiba waktunya untuk meledak. Erupsi vulkano terjadi. Setiap bagian diri Raka meledak dan pecah memenuhi Adista dan kesan cairan nan hangat.


"I Love, Sayang. I Love U So Much," kata Raka dengan napas terengah-engah dan tubuh yang bergetar.


"I Love U too."


Adista membalas dengan memeluk erat suaminya itu. Tidak ada kepura-puraan. Tidak ada dramatis. Momen dengan atmosfer yang panas ini benar-benar nyatanya. Keduanya terbakar. Walau demikian, tidak membuat keduanya menjadi arang.