
Raka masih tersenyum menatap Adista yang masih berada di dalam pangkuannya. Raka tadi sudah mengakui bahwa dia berhasrat kepada Adista, bahkan Raka meminta Adista menemaninya. Sayangnya istrinya itu menolak.
"Ayo, kita keluar, Mas. Aku masih bertugas. Kasihan Tina yang bertugas sendiri," kata Adista sekarang.
"Give me a kiss," balas Raka.
"Nanti saja di rumah. Apa ya kurang, kita sudah sedekat ini?" tanya Adista.
"Ya, kurang. Aku inginnya lebih dari ini. Tanpa jarak, walau itu hanya sehelai busana kita," balas Raka dengan tatapan sedikit nakal.
Adista memanyunkan bibirnya. Kadang Adista juga geleng kepala sendiri dengan hasrat suaminya dan cara bicara Raka itu. "Mas Raka, ishhh."
"Kan aku jujur, aku benar-benar kayak gini hanya sama kamu. Ya sudah, nanti malam di rumah yah. Yuk, kita keluar lagi."
Sebelum Adista beranjak dari pangkuannya, Raka mencium pipi Adista beberapa kali terlebih dahulu. Cup. Cup. Kecupan di pipi itu sukses membuat wajah Adista memerah, malu. Akan tetapi, Adista tak berkomentar apa pun.
"Kalau kamu merona-rona seperti ini, aku jadi makin menginginkanmu," kata Raka lagi.
"Apaan sih, Mas. Malu. Ayo, kita bekerja lagi," balas Adista.
Raka dan Adista kemudian merapikan dulu pakaian mereka. Walau begitu, Adista merasa bahwa parfum yang dikenakan Raka seolah menempel di badannya. Semoga saja, orang yang dekat dengannya nanti tidak akan curiga. Selain itu, Adista juga merapikan sedikit seragam yang sekarang dia kenakan. Setelah semuanya, barulah mereka keluar dari ruangan Raka, mereka berdua kembali berjalan menuju ke tempat galeri.
Setiba di sana, Adista berusaha bersikap tenang dan seolah tak terjadi sesuatu. Dia kemudian berdiri di samping Tina.
"Ada yang perlu dibantu tidak?" tanya Adista.
"Tidak, Mbak. Aman kok. Katanya Bu Linda kalau Mr. Raka butuh bantuan biar dibantu Mbak Adista aja. Aku takut deh Mbak, kalau sama Pak Raka," balas Tina.
Adista tersenyum tipis, kenapa juga Tina harus merasa takut kepada Raka. Padahal kalau sudah mengenal Raka, pria itu tidak menakutkan. Raka juga sosok yang memberikan perlindungan dan rasa aman.
"Kenapa takut? Pak Raka baik kok," balas Adista.
"Aku masih pegawai baru, Mbak. Pak Raka kelihatannya serem," balas Tina.
Adista tersenyum, beberapa staff baru yang baru bergabung dengan La Plazza Hotel akan berkata bahwa dia takut dengan Mr. Raka. Kebanyakan dari mereka berkata memang wajah Mr. Raka terlihat tegas dan jarang senyum. Selain itu tatapannya juga sering kali mengintimidasi.
Sudah cukup lama, Adista dan Tina bertugas di sana. Hingga akhirnya, Rayyan pun datang ke galeri. Pemuda tampak menatap dalam-dalam Adista yang berdiri di hadapannya.
"Ta," sapanya.
"Iya, silakan," balas Tata dengan ucapannya yang formal.
Rayyan menghela napas panjang. Hasrat hati ingin lebih akrab dan lebih ramah dengan Adista. Apa daya, Adista seolah sudah membangun tembok yang tinggi. Akhirnya, Rayyan berjalan menuju ke galeri.
"Siapa dia, Mbak? Cakep banget loh," kata Tina.
"Dia temanku dulu. Namanya Rayyan," balas Adista.
"Ya ampun, cakepnya. Pacar yah Mbak?" tanya Tina lagi.
"Bukan, bukan sama sekali kok."
Setelah itu, rupanya Raka tampak memanggil Adista lagi karena dia membutuhkan pertolongan. Oleh karena itu, Adista berjalan ke arah Raka. Sementara Tina kembali bertugas sendiri.
"Bapak ini menginginkan brosur event kita. Siapa tahu, nanti bisa mengadakan pameran di sini," kata Raka.
Akhirnya Adista memberikan brosur yang dia ambil dari meja di dekatnya Tina. Lantaran Adista juga masuk di tim event sehingga Adista bisa menjelaskan kepada Bapak tersebut. Cara Adista menjelaskan juga sangat detail dan ramah. Usai menyelesaikannya dan Bapak tersebut akan melakukan kontak lagi, Raka tersenyum kecil kepada Adista.
"Pinter banget sih, istrinya siapa ini?" tanya Raka dengan lirih.
"Pertanyaan tidak perlu dijawab," balas Adista.
Raka kembali tersenyum tipis mendengar jawaban istrinya itu. Hingga akhirnya, kembali datang Natasha, tapi kali ini dia tidak sendiri melainkan bersama dengan Rayyan. Raka menjadi diam, begitu juga dengan Adista yang sebenarnya malas bertemu Rayyan.
"Kak Raka, kami mencarimu. Kebetulan sekali aku bertemu Kak Natasha di sini. Kalian teman SMA kan dulu? Bukankah Kak Natasha ini berarti untuk Kak Raka?"
Dengan spontanitas Rayyan mengatakan semua itu, seolah dia tidak menghiraukan perasaan Adista yang juga berada di sana. Tadi Adista kesal dan sudah membaik karena Raka segera meredakannya, tapi sekarang Adista kembali kesal.
"Tidak sama sekali, Ray. Sebaiknya kamu jangan mengada-ada," balas Raka.
"Oh, jadi waktu SMA dulu, kamu ... menyukaiku yah, Raka? Kenapa tidak pernah bilang? Sekarang apakah masih ada perasaan itu?" tanya Natasha dengan menatap Raka.
Belum Raka memberikan jawaban, Rayyan sudah memberikan jawaban terlebih dahulu.
"Mungkin saja masih, Kak Natasha ...."
"Diam, Ray!"
Raka berkata demikian. Kenapa Raka merasa Rayyan seolah ikut campur. Padahal tadi Raka sudah berusaha menenangkan Adista. Jika sudah begini, Raka takut kalau Adista akan kembali kesal dan bad mood.
"Kenapa, Kak? Bukankah Kakak paling tidak bisa berbohong, kenapa sekarang Kakak berbohong," desak Rayyan.
"Kakak tidak berbohong, semua hanya masa lalu, Ray. Seharusnya kamu bisa membedakan masa lalu dan masa kini. Masa SMAku sudah berlalu dan itu sangat lama. Sudah ada cinta yang baru di dalam hatiku."
Raka berbicara dengan sangat tegas. Dia perlu meluruskan semuanya. Selain itu, bagi Raka memang sudah tidak ada lagi tempat untuk Natasha.
Mendengar ucapan Raka, Rayyan menunduk. Dia merasa kesal ketika Kakaknya mengatakan bahwa sudah ada cinta baru di dalam hatinya. Terlebih Rayyan sangat tahu bahwa itu adalah Adista.
"Kupikir kamu dulu memang suka ke aku, Raka. Ternyata benar. Kenapa dulu, tidak pernah berbicara? Andai saja dulu kamu berbicara," balas Natasha.
"Aku tidak perlu berbicara apa pun, Nat. Entah itu dulu mau pun sekarang. Tidak ada bedanya. Itu hanya perasaan semu," jawab Raka.
Natasha tersenyum tipis dan menatap Raka. "Apa pun itu, aku senang, Ka. Disukai pria sebaik dirimu. Jika, sekarang pun rasa suka itu masih ada, aku mungkin akan menerimamu, memberikanmu kesempatan," kata Natasha.
Adista yang sejak tadi mendengar semua seolah terjebak di antara orang-orang ini. Entah apa motif Rayyan mengatakan semuanya. Sementara Adista hanya bisa menghela napas panjang dan menenangkan dirinya sendiri.
"Sebaiknya saya pamit, Pak Raka." Adista memilih pamit. Lagipula jam kerjanya sudah usai. Sudah waktunya juga untuk pulang.
"Ya, aku juga mau pulang. Ayo," balas Raka.
Ketika Raka berbalik dan hendak berjalan bersama Adista, kembali Natasha meraih tangan Raka hingga membuat pria itu menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke belakang.
"Raka, bisakah kamu mengantarku pulang ke rumah?"