
"Mungkin apa, Bu Linda?"
"Eh, oh ... itu, itu Mr. Raka," balas Bu Linda dengan tergagap-gagap. Dia benar-benar tak menyangka bahwa ada Mr. Raka yang tiba-tiba menuju ke bagian office.
"Saya mendengar nama saya dibawa-bawa," kata Raka tanpa tedeng aling-aling. Seperti biasanya Raka sangat spontan. Kala menegur pun dia juga bersikap spontan.
Bukan hanya Bu Linda, beberapa staff di office pun menjadi takut karenanya. Namun, Raka tetaplah Raka. Walau banyak orang mengatakan dia sangat berbeda dengan Papa Zaid, tidak masalah baginya. Yang penting, Raka bertindak tidak merugikan orang lain.
Kemudian Raka menatap satu per satu staff di office, Raka juga berpikir haruskah mengumpulkan seluruh pegawainya dan memberikan penjelasan secara langsung. Akan tetapi, Adista menatap Raka, wanita itu menggeleng perlahan. Agaknya, sinyal yang dikirimkan istrinya itu berhasil, Raka menjadi mengurungkan niatnya.
"Sebaiknya kalian bekerja dengan sungguh-sungguh, tidak bergosip di belakang seseorang. Saya mempekerjakan kalian bukan untuk bergosip," kata Raka dengan tegas.
"Baik, Mr. Raka," jawab pegawai di office itu dengan serentak.
"Bu Linda, nanti temui saya dan berikan laporan untuk event yang sudah berjalan dalam bulan ini," instruksi Raka sekarang.
"Ya, baik Mr. Raka."
Usai itu, Raka meninggalkan bagian office. Adista menjadi lega karenanya. Untung cara Raka menegur tidak berat sebelah membela Adista. Hanya meminta para pegawai tidak bergosip yang tidak-tidak. Sementara, Bu Linda segera menyiapkan laporan dan akan segera menemui Raka.
Sementara Adista dan beberapa staff kembali bekerja. Adista memilih tidak terpengaruh dan bersikap sewajarnya. Toh, sudah waktunya untuk pulang, hanya beberapa saat lagi jam kerja akan selesai.
Malam Harinya ....
"Kenapa tadi dengan pegawai di office?" tanya Raka kepada Adista.
"Katanya aku jadi simpanan atau selingkuhan kamu, Mas. Lucu yah," balas Adista.
Raka melirik istrinya yang tersenyum sambil geleng-geleng kepala itu. "Kamu tidak terpengaruh sama sekali?" tanya Raka.
"Tidak, aku memilih tidak mengambil pusing beberapa hal. Kan aku istrimu, bukan selingkuhanmu," balas Adista.
"Aku sudah memikirkan matang-matang tadi, Sayang," balas Raka sekarang.
"Hm, apa memangnya Mas?"
"Kita umumkan pernikahan kita. Aku ingin seluruh orang tahu bahwa kamu adalah istriku. Bukan simpanan atau selingkuhan. Selain itu, datangnya Natasha kembali rasanya memicuku untuk terbuka sekarang."
Ya, Raka mengatakan keinginannya itu dengan sungguh-sungguh. Dia merasa sudah saatnya go publik dengan hubungan pernikahannya. Tidak perlu menyimpannya lagi.
"Risikonya nanti?" tanya Adista.
"Biar aku yang menghadapinya. Kamu tenang aja. Mau kan?" tanya Raka lagi.
"Aku mengikuti apa yang dianggap baik oleh Mas Raka saja," balas Adista.
Kalau memang go publik adalah hal yang baik menurut Raka, Adista akan menurutinya. Toh, memang ada Natasha yang bisa saja menjadi pelakor. Adista juga mendengar bahwa Natasha sengaja datang dari luar negeri untuk Raka. Jadi, ketika semua orang tahu bahwa Raka sudah menikah setidaknya itu bisa mengamankan posisi Adista sebagai istri sahnya Raka Syahputra.
...🍀🍀🍀...
Tiga Pekan Kemudian ....
Dalam sehari terjadi berita yang cukup mengejutkan di La Plazza Hotel yaitu yang pertama hari ini Adista memasukan surat pengunduran diri ke bagian personalia. Sebagaimana Adista berdiskusi dengan suaminya dulu, bahwa Raka meminta Adista fokus dengan kehamilannya. Sehingga, sekarang waktunya Adista untuk fokus dengan kehamilannya. Jika dihitung, kehamilan Adista menginjak 12-13 minggu. Perutnya memang tidak membuncit, tapi Adista memilih saatnya untuk resign sekarang.
"Kamu resign, Dista?" tanya Bu Linda sekarang.
"Kenapa tiba-tiba. Dulu waktu kamu menjadi pegawai kontrak, kamu menginginkan bisa menjadi pegawai tetap. Sekarang, setelah menjadi pegawai tetap belum ada setengah tahun, kamu sudah resign," kata Bu Linda menyayangkan.
"Ada perimbangan pribadi yang belum bisa Dista sampaikan Bu Linda," balas Adista.
"Kenapa, banyak orang yang ingin di posisi kamu menjadi pegawai tetap," kata Bu Linda lagi.
Adista kemudian menganggukkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Bu Linda. Bagaimana pun, saya berterima kasih kepada Ibu sudah membimbing saya sejak saya menjadi pegawai training di sini."
"Senang bekerja denganmu, Ta," balas Bu Linda.
Setelah itu, menjelang jam pulang kerja untuk staff bagian office. Seluruh pegawai dan staff diminta berkumpul, karena ada pengumuman dari si Boss yaitu Mr. Raka. Tak biasanya Raka mengumpulkan pegawainya seperti ini, tetapi sekarang semua diminta untuk berkumpul.
"Sore semuanya, saya mengumpulkan kalian di sini karena saya ingin membagikan undangan."
Mendengar Raka mengatakan membagikan undangan, membuat seluruh pegawai bertanya-tanya. Undangan apakah yang sebenarnya hendaklah dibagikan oleh si Boss?
"Hem." Raka berdehem sejenak. Hingga akhirnya, pria itu kembali berbicara.
"Undangan resepsi pernikahan ... saya."
Tentu seluruh pegawai bertepuk tangan. Bossnya yang dinilai tegas dan dingin itu akhirnya sold out juga. Setelah beberapa bulan lalu hanya mengetahui cincin di jari manis Bossnya, sekarang benar-benar diumumkan resepsi pernikahan si Boss dan menandakan bahwa Bossnya sudah menikah.
"Saya mengundang seluruh karyawan untuk datang di resepsi pernikahan saya, minggu depan," kata Raka.
Untuk seluruh pegawai undangan dibagikan. Undangan dengan kombinasi warna navy dan emas. Didesain sangat mewah. Bahkan Raka mengatakan seluruh staff hanya perlu datang saja, tidak menerima sumbangan atau hadiah dari seluruh staff dan pekerja. Yang tertera di sampul depan undangan itu adalah inisial RA.
"Nanti kalian bisa buka, terima kasih."
Usai mengatakan itu, Raka kemudian pergi. Adista juga berpamitan karena ini adalah hari terakhirnya bekerja. Usai keduanya sama-sama pergi, barulah mereka membuka undangan ini.
Raka dan Adista?
Adista staff office?
Kok bisa sih?
Banyak yang berspekulasi, sementara sekarang Adista dan Raka di dalam mobil tertawa bersama. Dengan undangan yang dibagikan itu pastilah banyak spekulasi yang muncul. Bisa saja spekulasi positif atau negatif. Akan tetapi, keduanya sudah siap dengan semua risiko yang mungkin saja terjadi.
"Serasa kena prank enggak sih, Mas?" tanya Adista.
"Biarin aja. Nanti waktu resepsi, mereka juga akan tahu siapa pemilik hatinya si Boss ini," balas Raka dengan penuh percaya diri.
Adista menggelengkan kepalanya perlahan. Untuk urusan keyakinan dan percaya diri tidak ada yang seperti suaminya itu. Ketika orang-orang kebingungan, Raka justru bahagia sekarang.
"Karena ... kamu bukan selingkuhan, Sayang. Kamu adalah pemilik hati dan hidupku. Satu-satunya wanita yang bisa membuatku gila. You drive me crazy, Adista Maharani," kata Raka.
"Dasar Boss Mesum," balas Adista dengan memincingkan matanya dan memukul lengan suaminya itu.
"Biarin, nakal dan bagaimana pun juga sama istriku yang sah. Satu-satunya, hanya kamu," balas Raka.
"Iya, Mas. Awas aja berani nakal ke orang lain!"
Adista benar-benar serius dengan suaminya itu. Walau dalam suasana bercanda, tapi pesan yang dia sampaikan sangat serius. Tidak ada kata bercanda.