
Menjelang sore hari, pesta resepsi yang sangat mewah itu berakhir sudah. Artinya Raka dan Adista bisa beristirahat sekarang. Selain itu, Mama Erina sendiri juga mengkhawatirkan kondisi Adista yang hamil.
"Kecapekan enggak, Dista?" tanya Mama Erina.
"Tidak capek sama sekali kok, Ma. Untung Mama memilihkan flat shoes untuk Adista," balasnya.
Walau mengenakan wedding dress, tapi sepatu yang dikenakan Adista adalah tipe flat shoes, tidak mengenakan heels. Sebab, Mama Erina tahu bahwa ibu hamil yang mengenakan heels itu sangat berisiko. Lebih baik mengenakan flat shoes saja.
"Mamamu ini berkecimpung di dunia fashion sudah tiga dekade, Sayang. Sangat tahu yang baik untuk Bumil. Apalagi, kamu menantu Mama sendiri," balas Mama Erina.
"Mama memang yang terbaik," balas Dista dengan mengangkat ibu jarinya, salut dan bangga sekali dengan mama mertuanya itu.
"Semua Mama akan melakukan yang terbaik untuk putrinya sendiri, Dista ... baiklah, kamu dan Raka istirahat. Kakinya bisa direndam dengan air hangat nanti supaya tidak capek karena kamu sudah lama berdiri selama resepsi," kata Mama Erina.
Raka pun sekarang dengan mantap menggandeng Adista menuju ke kamar mereka di La Plazza Hotel. Untuk kali pertama, baru kali pertama Adista menempati bahkan akan bermalam di hotel yang biasanya dia bekerja sebagai staff. Ada rasa sedikit aneh di dalam hati.
"Aku terbiasa bekerja di sini, tiba-tiba menginap di sini," kata Dista.
"Anggap aja Staycation with Boss," balas Raka enteng.
"Ishh, Mas Raka ini. Pikirannya Staycation melulu," balasnya.
Raka kemudian tertawa kecil. "Iya, apalagi sekarang kamu sudah fulltime di rumah. Kapan pun aku menginginkan Staycation, kamu bisa. Tidak ada alasan bekerja," balas Raka.
Itulah yang Raka pikirkan. Dulu ketika ingin berbulan madu atau ingin mengajak Adista Staycation bersama, pasti terhalang dengan pekerjaan keduanya. Sekarang, Adista sudah resmi resign, sehingga kapan pun Raka mau, dia bisa mengajak istrinya itu pergi.
"Mesum lagi deh," balas Adista.
"Justru tidak sama sekali. Suami sendiri, Yang. Halal kok, mendapatkan pahala malahan," balas Raka.
Memasuki kamar terbaik di La Plazza Hotel menjadi tempat singgah semalam untuk Raka dan Adista. Dulu, Adista pernah memasuki kamar ini di awal trainingnya sebagai pegawai La Plazza Hotel. Hingga, akhirnya Raka segera mendekap dari belakang istrinya itu.
"Hari ini, kamu begitu cantik. Sayang sekali kalau aku melewatkannya begitu saja," kata Raka dengan mengecup bahu istrinya.
"Pasti deh, Mas Raka pasti kayak gini," balas Adista.
"Settingan pabrik kalau udah berdua aja sama kamu. Mau lepasin jasku?" tanya Raka.
Berbicara mengenai melepas jas, dasi, hingga kemeja membuat Adista terbayang momen panas beberapa pekan laku di kitchen island yang berada di apartemen mereka. Jujur, malu rasanya. Akan tetapi, bagaimana lagi kalau itu rasanya panas dan sekaligus mendebarkan.
"Jangan nakal, Mas. Aku mau mandi dulu boleh Mas? Sekaligus mau merendam kakiku deh, tadi kan Mama bilang direndam kakinya dengan air hangat biar enakan," kata Adista.
"Ya sudah, berdua aja. Malam pertama lagi kita enggak, Yang? Kan abis resepsi biasanya para pengantin melanjutkan malam pertama."
Pertanyaan dengan kesan mengada-ada oleh Raka. Bagaimana pun keduanya bukan pengantin baru, keduanya sudah menikah tiga bulan yang lalu. Selain itu, Adista juga sudah menyerahkan dirinya kepada suaminya. Sehingga, praktis tidak ada lagi malam pertama.
"Sudah tidak ada malam pertama, Mas. Kita kan bukan pengantin baru. Aku juga sudah memasrahkan diriku sepenuhnya kepadamu. Sudah tidak ada yang aku miliki," kata Adista.
Raka tersenyum, dia mengecup perlahan bahu istri yang terekspos dan menyisakan kesan basah karena air dan busa sabun di sana.
"Masih pengantin baru, Sayang. Baru tiga bulanan juga. Baru mau berjalan keempat bulan. Masih hangat," balas Raka.
"Kalau udah setahun, gak hangat yah Mas?"
"Gak juga, sampai kita menua bersama ya hangat. Kehangatan itu kita yang ciptakan berdua, Yang," balas Raka.
Adista menganggukkan kepalanya. Dia percaya dengan apa yang barusan disampaikan oleh Raka bahwa kebahagiaan dalam rumah tangga bisa diciptakan dan diusahakan oleh pasangan suami istri. Begitu juga dia dan Raka akan sama-sama berusaha menghadirkan kebahagiaan demi kebahagiaan.
"Yakin, cuma mau berendam? Gak mau yang lain. Milikmu sudah terbangun loh," kata Raka dengan nakal di sisi telinga Adista.
Memang ada sesuatu yang terbangun, bahkan seperti berkedut dan Adista bisa merasakan itu. Akan tetapi, Adista sendiri merasa kecapekan. Terlebih bagian kakinya.
"Aku kecapekan, Mas ... bukan maksudku menolak," balas Adista.
Raka akhirnya menganggukkan kepalanya. "Iya, aku tahu. Kamu udah berdiri lama. Santai saja," balas Raka.
Akhirnya cukup lama keduanya berendam. Hanya sesekali Raka memeluk dan mencium kening istrinya itu. Dengan tubuh tanpa tercover apa pun, Adista merasa nyaman sekali seperti ini.
"Kamu mau tidur di bath up, Sayang?" tanya Raka kemudian.
"Terlalu nyaman aku, Mas."
Akhirnya, Raka membuka penyumbat bath up untuk membuang semua air dan busa. Kemudian Raka mengajak Adista membasuh dirinya di dalam shower box. Usai itu, keduanya menuju ke kamar mereka. Adista membersihkan terlebih dahulu pakaian mereka. Nanti baju pengantin ini akan Adista laundry secara khusus untuk mempertahankan kualitasnya.
"Makan dulu yuk," ajak Raka kemudian.
"Iya, sekalian minum obat, Mas."
Keduanya berhadap-hadapan dengan menikmati makan malam mereka. Walau sudah tidak ada malam pertama, keduanya sangat bahagia. Untuk Raka tidak ada yang lebih baik selain mempublikasikan hubungan mereka berdua.
"Usai ini kamu pengen apa lagi?" tanya Raka kepada Adista.
"Enggak pengen apa-apa. Aku menikmati waktu di rumah. Atau, boleh enggak kalau kadang-kadang aku ikut kamu bekerja?" tanya Adista.
Raka kemudian menganggukkan kepalanya. "Oke, ide yang bagus. Duduk manis di dalam ruanganku saja. Aku malahan suka, daripada kamu tidak ada kegiatan di rumah," balas Raka.
Keduanya kembali tertawa lagi. Entah bagaimana nanti ke depannya yang pasti Adista tak ingin terlalu jauh dari Raka. Mungkin bawaan bayinya juga, maunya bertemu dan menempel terus pada suaminya yang tampan itu.