Staycation With Boss

Staycation With Boss
Rumah Baru Istana Baru



Kembali ke Jakarta ....


Perumahan yang ditempati oleh Raka dan Adista terbilang berada di kawasan perumahan mewah. Memang Raka belum memiliki asisten rumah tangga, tapi satu hal yang Raka lakukan terlebih dahulu adalah memiliki sekuriti yang berjaga untuk rumahnya. Hal itu, Raka lakukan untuk mengamankan rumahnya dan sekaligus tidak memberikan akses untuk orang yang memang tidak ingin dia temui.


"Beradaptasi dengan rumah besar yah, Mas," kata Adista sekarang kepada suaminya.


"Ini terbilang tidak begitu besar, Sayang. Kebesaran yah untuk kamu?" tanya Raka.


Adista kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, kan Mas Raka juga tahu bahwa sebelumnya aku tidak pernah memiliki rumah sebesar ini. Lain kali, kalau mengundang Ayah dan Ibu ke sini boleh enggak, Mas?" tanya Adista.


Adista teringat dengan orang tua dan adiknya. Jika orang tuanya melihat rumah ini pastilah akan senang. Selain itu ada kolam renang, pastilah adiknya akan senang nanti. Terlebih Desta memang suka berenang.


"Boleh saja, aku enggak sejahat itu sama mertuaku sendiri," balas Raka.


"Bagaimana pun kan rumah ini punya kamu, Mas. Bagus dan mewah, aku takut kalau keluargaku ke sini dan membuat kotor atau merusak sesuatu. Maaf, kita kan berbeda," balas Adista.


Lebih baik Adista mengatakan itu dulu. Keduanya memang datang dari latar belakang yang berbeda. Adista merasa takut kalau keluarganya terlihat udik dan mengotori rumah mewah suaminya. Daripada nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, lebih baik Adista mengatakan terlebih dahulu kepada suaminya.


"Aku bukan orang seperti itu, Sayang. Kamu juga sangat mengenalku kan?"


Adista kemudian menganggukkan kepalanya. "Aku mengenal Mas Raka, tapi proses mengenal pasangan itu bukan cuma beberapa bulan pernikahan, melainkan seumur hidup. Jadi, ya seumur hidupku, aku akan mengenalmu."


"Basic aku bagaimana kan kamu sudah tahu, Sayang. Sejak awal aku sudah mengatakan bahwa keluargamu juga adalah keluargaku. Aku sudah mengatakannya sejak awal. Jadi, santai saja. Kapan-kapan kalau mengundang Bapak, Ibu, dan Desta ya undang saja," balas Raka.


Adista merasa lega. Semoga saja ketulusan Raka itu benar-benar dari dalam hati. Adista bersyukur sekali dengan ketulusan dan kebaikan hati suaminya itu.


Malam pun tiba, lantaran masih hari pertama di rumah baru belum ada bahan-bahan makanan yang bisa Adista masak. Sebenarnya Adista ingin memasak mie instan, tapi Raka melarang istrinya karena istrinya sedang hamil. Tidak baik jika mengonsumsi mie instans. Raka lebih menyarankan memesan makanan saja dengan aplikasi pesan antar.


"Mau makan apa?" tanya Raka.


"Pecel Lele Nasi Uduk, boleh enggak Mas?" tanya Adista.


Rasanya ketika suaminya bertanya ingin makan apa, Adista seketika teringat dengan makanan yang dulu sering dia beli ketika pulang kerja. Terkadang ketika usai gajian, Adista akan membeli Pecel Lele Nasi Uduk untuk keluarganya juga.


Raka tampak mengernyitkan keningnya. Belum Raka menjawab, Adista sudah kembali berbicara. "Kayaknya Mas Raka enggak doyan yah? Ganti aja deh. Ngikut Mas Raka aja. Mau makan apa pun, aku gak masalah kok," balas Adista.


"Bukan begitu juga, Sayang. Jangan seudzon. Aku sih biasa saja kok. Makan itu, aku juga mau kok," balas Raka.


Akhirnya Raka berselancar dengan handphonenya dan mencari Pecel Lele Nasi Uduk di aplikasi pesan antar dengan warna khas hijau itu. Mencari dengan rate terbaik, setidaknya rasanya akan lebih enak. Raka kaget melihat harga seporsi Pecel Lele Nasi Uduk di aplikasi itu.


"Ha, ini seriusan seporsi Pecel Lele Nasi Uduk cuma Delapan Belas Ribu?" tanya Raka seakan tak percaya.


"Iya, di tempat langgananku di dekat rumah Bapak dan Ibu dulu hanya Lima Belas Ribu, Mas. Memang semurah itu. Makanan rakyat sih," balas Adista.


"Aku baru tahu, harganya semurah ini."


"Sudah pesan, semoga enak yah. Bakalan memorable banget makan malam pertama di rumah baru adalah Pecel Lele Nasi Uduk," kata Raka.


Menunggu kurang lebih dua puluh menit, ada abang ojek yang mengantarkan pesanan Raka. Raka sendiri yang keluar. Lantaran merasa makanannya murah, justru Raka memberikan tips lebih banyak untuk abang ojeknya.


"Yuk, makan," ajak Raka kepada istrinya.


Adista menyiapkan dua piring di meja makan. Adista menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Sembari berharap Raka bisa makan nanti.


"Silakan, Mas," kata Adista.


Dengan duduk berhadap-hadapan keduanya makan bersama. Walau begitu sesekali Adista yang berinisiatif untuk menyuapi Raka makan dengan tangannya. Sementara lucunya Raka yang memilih makan dengan menggunakan sendok dan garpu, pria itu tak terbiasa makan dengan tangan.


"Aaa, Mas ... aku suapin. Enak loh, makan memakai tangan," kata Adista.


Raka pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari Adista. Pria itu mengunyah pelan-pelan. "Hm, enak, Yang. Lebih enak kalau kamu suapin."


Adista tersenyum. Akhirnya malahan Adista yang menyuapi suaminya itu dengan tangannya sendiri. Raka juga makan lahap. Tidak mengira kalau makanan seperti ini sangat enak. Lebih enak saat Adista menyuapinya. Hidung Raka sampai memerah karena kepedasan dengan sambalnya.


"Kenyang banget," kata Raka dengan mengusap perutnya yang kekenyangan.


Setelah itu, Adista sekaligus mencuci peralatan makan. Sembari membuat Lemon Madu Dingin untuk suaminya.


"Minum, Mas. Biar enggak kepedesan," kata Adista.


"Makasih, Yang."


Sekarang berada di kamar, Adista menatap ke kaca jendela besar yang berada di kamarnya. Tentu ini adalah suasana yang baru. Biasanya di unit akan melihat panorama ibukota dengan gedung-gedung pencakar langitnya dan lampu-lampu yang sangat indah. Sementara di sini terbilang sepi. Panorama yang terlihat hanya area perumahan dan langit ibukota.


"Kenapa?" tanya Raka.


"Di sini lebih sepi yah, Mas. Kalau di apartemen pemandangan malamnya bagus," balas Adista.


"Suasana perumahan ya seperti ini, Sayang. Semoga kamu betah dan bisa beradaptasi di sini yah," kata Raka.


"Iya, Mas. Belum terbiasa juga, mungkin karena baru hari pertama."


"Rumah ini aku persembahkan untuk kamu. Ini rumah kita, istana kita. Kita ciptakan bersama kehidupan berumahtangga kita berdua," balas Raka.


Adista lantas menganggukkan kepalanya. "Rumah baru, istana baru, tempat baru untuk calon orang tua baru," balasnya.


"Benar. Di rumah ini nanti anak-anak kita akan bertumbuh. Mereka akan mendapatkan sinar matahari langsung, udara segar. Lebih sehat untuk anak-anak kita, Sayang," balas Raka.


Perencanaan yang Raka miliki memang matang. Dia berpikir kalau tinggal di unit, anaknya nanti tidak akan mendapatkan sinar matahari dan udara segar. Sementara di rumah baru nanti, Raka mengharapkan lingkungan tumbuh kembang yang lebih sehat untuk bayinya nanti.