Staycation With Boss

Staycation With Boss
Kecemasan Raka



Berkali-kali Raka mencoba menghubungi nomor Adista, tapi teleponnya tidak mendapatkan jawaban. Tentu saja Raka menjadi sangat cemas terutama ketika Bu Linda mengatakan bahwa Adista kurang sehat dan wajahnya tampak pucat. Raka juga khawatir karena setiap kali dia melakukan panggilan video, istrinya itu selalu menangis.


"Aku menghubungi kamu beberapa kali, Sayang. Sebenarnya kamu di mana?"


Raka menatap kosong layar handphonenya yang menunjukkan nomor kontak Adista di sana. Hingga Mama Erina memperhatikan kecemasan putra sulungnya itu. Sebagai ibu, tentu Mama Erina sangat tahu ekspresi wajah dan gestur tubuh Raka.


"Kamu kenapa?" tanya Mama Erina sembari melirik putranya itu.


"Dista sakit, Ma," jawabnya.


"Kamu tidak ingin pulang ke Jakarta? Biasanya kalau istri atau pasangan kita yang biasanya ketemu setiap hari, kemudian LDR itu memang bisa cemas, stress, dan akhirnya sakit," balas Mama Erina.


Kondisi psikologis yang umum terjadi pada setiap pasangan. Terbiasa bertemu, menunjukkan kasih sayang, dan mendapatkan perhatian, kemudian tiba-tiba harus berpisah itu sangat tidak mudah. Ada kerinduan yang tak tersalurkan, pikiran menjadi lebih berat, ada berbagai kecemasan juga sehingga membuat badan pun jatuh sakit.


"Rayyan belum sadar, Ma," balas Raka.


"Tidak apa-apa kalau kamu pulang ke Jakarta dulu. Mama dan Papa akan menjaga Rayyan dan mengharapkan adikmu itu akan segera sadar dan pulih," kata Mama Erina.


Sebab Mama Erina merasa kasihan dengan Raka juga. Berbeda cerita jika Adista bisa turut serta, pastilah Raka tidak secemas ini. Mama Erina pun menyadari itu artinya Raka sangat mencintai istrinya, terlihat dari pikiran Raka yang bercabang antara Adista dan adiknya yang sakit.


"Lalu, kamu enggak menghubungi Dista dulu?" tanya Mama Erina sekarang.


"Sudah, Ma. Panggilan telepon dari Raka hanya berdering, tapi tidak ada jawaban."


Lagi, Raka terlihat cemas dan resah. Bahkan pesan yang dia kirimkan saja belum dibaca oleh Adista. Biasanya sesibuk apa pun, Adista akan berusaha membalas pesan suaminya.


"Mungkin dia baru meeting atau apa gitu. Jobdesk dia banyak enggak?" tanya Mama Erina.


"Lumayan, Ma. Apalagi dia juga membantu di event. Sehingga menjelang event juga pasti sibuk. Sudah satu jam sejak Raka menerima laporan dari Kepala Divisi, dan Adista belum membaca pesannya Raka juga."


Sekarang Mama Erina justru tertawa melihat Raka. Kalau boleh jujur, baru sekarang Mama Erina melihat putranya itu perhatian dan cemas dengan seorang wanita. Sebelumnya Raka bahkan tidak pernah membicarakan seorang wanita. Dulu, setiap kali ditanya apakah Raka memiliki pacar, jawabannya adalah ingin fokus kuliah dan mengejar karir. Sampai suatu hari Raka mengatakan untuk menikah gadis pilihannya sendiri. Untung saja Mama Erina dan Papa Zaid tidak memiliki kriteria khusus sebagai calon mantu. Sehingga ketika Raka mengatakan hendak menikah dan itu tergesa-gesa, kedua orang tua juga memberikan restunya.


"Kamu itu pacaran saja tidak pernah, tapi ternyata bisa cemas sebesar ini kepada wanita. Mama yakin kamu pasti sangat mencintai istrimu yah?"


Raka terdiam sejenak. Benar adanya bahwa selama ini tidak pernah ada wanita yang singgah di hidupnya. Terlalu fokus menyelesaikan kuliah dan mengejar karir sehingga tak terbersit wanita. Baru sosok Adista yang benar-benar mengubah sosok Raka.


"Ya, Ma. Raka cinta ke Adista. Aneh memang, tapi perasaan itu tumbuh dengan sendirinya," balas Raka.


Mama Erina sekarang tersenyum setelah mendengarkan pengakuan Raka. Mama Erina yakin bahwa Raka adalah orang yang teguh hatinya. Begitu dia menyayangi dan mencintai seseorang, Raka akan berusaha melindungi dan membahagiakan orang tersebut. Dengan demikian, Mama Erina juga yakin bahwa Adista akan selalu mendapatkan perlakuan terbaik dari putranya.


"Mama bisa lebih kuat tanpa Raka?" tanya Raka sekarang.


"Mama akan berusaha tegar dan kuat. Mama juga sedih melihat Rayyan bertahan dengan berbagai alat medis. Mama berharap Rayyan segera sadar dan membaik. Kalau sudah sadar dan sedikit membaik, Mama dan Papa berencana mengajak Rayyan pulang ke Jakarta saja, mengambil cuti kuliah satu semester," kata Mama Erina.


Ketika seorang anak sakit, orang tua tentu tidak ingin jikalau anaknya berada jauh darinya. Terlebih anak bungsu, orang tua menjadi was-was dan merasakan si bungsu ini harus dirawat dengan baik. Itu juga yang dirasakan Mama Erina sekarang, dia ingin merawat Rayyan sampai Rayyan benar-benar sudah sembuh.


"Raka akan bertahan di London sampai akhir pekan yah, Ma. Kalau memungkinkan Raka pulang ke Jakarta terlebih dahulu. Adista membutuhkan Raka juga," balas Raka.


Di saat bersamaan, terdengar suara dari mesin medis yang mendeteksi setiap kinerja organ tubuh Rayyan. Pemuda itu kemudian membuka mulutnya perlahan dan mengucapkan nama Adista lagi.


"Tata ...."


"Tata ...."


Mendengarkan suara Rayyan, atensi Mama Erina dan Raka kini teralihkan sepenuhnya kepada Rayyan. Sembari Mama Erina menerka dalam hati siapa sebenarnya sosok Tata itu.


"Sebenarnya Tata itu siapa ya, Ka? Kenapa walau sensoriknya tidak sadar, tapi nama itu membekas di otaknya? Andai sosok Tata itu bisa menyadarkan Rayyan, Mama akan memberikan apa pun untuknya," kata Mama Erina.


Raka terdiam. Bukannya dia tidak tahu, Raka sepenuhnya tahu. Namun, dulu Raka sudah sampai pada keputusannya bahwa dia tidak mau mengalah. Raka merasa seorang istri adalah hak penuh suaminya. Menunggu Adista membereskan perasaannya pun bisa Raka lakukan. Akan tetapi, sekarang kondisi jauh berbeda. Adiknya tak sadarkan diri dan membutuhkan Adista, istrinya.


Hati Raka tidak baik-baik saja sekarang. Dibilang cemas, dia sangat cemas. Namun, tidak mungkin Raka mengungkapkan semuanya kepada Mama dan Papanya.


"Tata ...."


"Tata ...."


Lagi Rayyan tampak mengigau dengan mata terpejam. Mama Erina sekarang meneteskan air matanya. Mungkinkah harus mencari sosok bernama Tata itu dan menyandarkan Rayyan?


"Tata siapa, Rayyan? Kalau Mama bisa menemukannya, Mama akan mencarinya. Kalau memang Tata yang bisa mrmbuatmu sadar, Mama akan datangkan dia ke mari."


Kasih sayang yang besar dari seorang Mama yang mau melakukan apa pun untuk putranya. Asalkan putranya kembali sadar dan berangsur-angsur pulih. Namun, kalau hanya mengetahui nama Tata saja bukankah banyak orang juga yang bernama Tata?


"Jangan sedih, Ma ... kita berdoa semoga Rayyan semakin pulih dan sadar," balas Raka.


"Iya, Raka. Setiap hari Mama cemas memikirkan Rayyan. Setiap hari, setiap tarikan napas Mama berharap Rayyan menemukan kesadarannya. Dua kali, Mama tak berdaya melihat putra-putra Mama terbaring di rumah sakit. Dulu, kamu sewaktu masih TK dan sekarang Rayyan. Mama ingin kita berkumpul dan membagi kasih sesama keluarga," kata Mama Erina dengan terisak.


Melihat air mata dan kesedihan Mamanya, terbersit dalam hati Raka untuk mengungkapkan siapa Tata sebenarnya. Namun, ketika Raka mengungkapkan siapa Tata, mungkinkah Mama Erina bisa bersikap bijaksana dan tidak memisahkannya dengan Adista? Tadi Raka mencemaskan mengenai Adista, sekarang pikirannya kian kalut dengan berbagai kemungkinan negatif yang memenuhi isi kepalanya.