Staycation With Boss

Staycation With Boss
Staycation Sesungguhnya



Selang tiga hari kemudian, atas saran dan pertimbangan dari suaminya akhirnya Adista mengajukan cuti sepekan ke pihak HRD. Hal itu berdasarkan hak cuti yang dimiliki oleh pegawai tetap. Di La Plazza sendiri setiap pegawai memiliki jatah cuti sebanyak 20 hari dalam setahun. Sementara cuti Dista masih 15 hari, sehingga Raka menyarankan istrinya mengambil cuti lima hari, tapi bisa diperpanjang hingga seminggu karena dua hari di akhir pekan.


"Kita mau kemana sebenarnya, Pak Raka?" tanya Adista.


"Ke Lombok lagi. Cukup dekat dengan Jakarta. Aku sebenarnya ingin mengajakmu ke Luar Negeri, tapi hanya bisa libur seminggu. Rasanya kurang waktu," balas Raka.


Adista kemudian menganggukkan kepalanya. Rupanya tempat yang hendak dituju mereka sekarang adalah Lombok. Seolah melakukan perjalanan ulang ke masa di mana awal mula petaka semalam terjadi.


"Kenapa harus ke Lombok?" tanya Adista.


"Kisah kita bermula di Lombok, Adista. Jadi, kita akan mulai kehidupan pernikahan secara normal di Lombok juga," balas Raka juga.


Pemikiran yang filosofis sesungguhnya bagi Raka. Mungkin untuk Adista, di Lombok adalah awal mula petaka satu malam. Namun, bagi Raka itu adalah awal dirinya bisa meminang Adista. Oleh karena itu, untuk memulai kehidupan pernikahan yang sesungguhnya Raka menginginkan untuk memulai di Lombok.


Sekarang Adista tersenyum dan beberapa kali dia menggelengkan kepalanya. Kenapa juga suaminya itu memiliki pemikiran seperti itu. Namun, di dalam benak Adista Staycation with Boss kali ini akan berbeda. Bukan untuk memperpanjang kontrak, bukan melakukannya supaya adiknya dibantu biaya operasinya. Akan tetapi, murni untuk memulai kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya.


Menempuh perjalanan udara dengan Private Jett, dan sekarang mereka sudah tiba di resort yang dulu pernah mereka tempati bersama. Seakan benar-benar mengulang masa lalu, hanya momennya yang berbeda.


"Di resort ini lagi?" tanya Adista.


"Yah, bukankah semuanya bermula di sini?" tanya Raka.


Adista menatap kamar yang sama dengan pemandangan yang berhadapan langsung dengan pantai yang memiliki ombak yang tenang itu. Dulu, kesal dan kikuk rasanya sekamar dengan Bossnya. Sekarang, perlahan perasaan sudah berbeda.



"Mandilah dulu, nanti kita akan makan malam bersama," kata Raka.


Akhirnya pasangan itu bergantian satu per satu mandi supaya menghilangkan lelah juga. Raka juga tak ingin tergesa-gesa, semua adalah supaya Adista merasa nyaman dengannya.


Hingga malam menjelang, angin di tepi pesisir pantai itu cukup kencang. Bahkan tiba-tiba turun hujan di sana. Adista yang sedang duduk di tepi balkon pun hingga menengadahkan wajahnya melihat ke langit yang sudah sepenuhnya gelap. Ini kali pertama Adista merasakan hujan turun di tepi pantai.


"Dista, masuklah ... di luar hujan," kata Raka yang kala itu berada di dalam.


"Sebentar Pak Raka," balas Dista.


Tidak enggan masuk, melainkan Adista juga menikmati hujan yang turun malam itu. Tak biasanya hujan turun. Dulu pun kala ke Lombok untuk pertama kali, cuaca begitu cerah. Akan tetapi, sekarang hujan turun di malam hari. Semerbak pretikor yang harum dengan aroma tanah yang terkena air hujan, berpadu dengan angin malam entah menurut Dista justru rasanya begitu romantis.


Merasa istrinya tak kunjung masuk, Raka yang memilih untuk keluar dan menyusul istrinya itu. Tanpa kata, Raka mendekap Adista dari belakang. Pria itu berbicara tepat di sisi telinga Adista.


"Kenapa tidak masuk? Hujan di luar, Sayang," kata Raka.


"Pak Raka memanggilku apa?" tanya Adista dengan menoleh sedikit ke belakang.


"Sayang ... tidak boleh?" tanya Raka.


Adista tersenyum saja. Dia belum terbiasa dipanggil suaminya dengan panggilan itu. Sementara ketika satu tangan Adista terulur ke depan dan hendak merasai tetesan hujan dengan tangannya, Raka turut mengulurkan tangannya. Adista lantas tersenyum lagi.


"Kenapa jadi kayak film India?" tanyanya.


Raka tersenyum. "Kamu suka film India?"


"Lumayan, beberapa kali aku melihat kalau sedang libur."


Raka menganggukkan kepalanya perlahan. Sedikit menunduk, Raka menaruh dagunya di puncak bahu istrinya. Dengan kedua tangan melingkari pinggang Adista yang ramping.


"Ayo, masuk ... dingin."


Menurut, akhirnya Adista menuruti Raka untuk masuk ke dalam kamar. Semuanya Raka tutup termasuk tirai yang berada di dalam kamar. Namun, masih terdengar gemericik air hujan. Rasanya begitu syahdu.


"Sayang, kenapa momennya tepat sekali," kata Raka.


Adista melirik suaminya itu, mencari tahu apa yang dimaksud dengan momen yang tepat. Akan tetapi, Adista memilih diam, dia seakan menunggu apa yang hendak dilakukan suaminya selanjutnya.


Akhirnya Raka memeluk Adista perlahan. Dia usap perlahan sisi wajah Adista, turun ke bahu dan punggungnya. Usapan tangan dengan gerakan naik dan turun. Lantas, Raka telisipkan juntai rambut Adista ke belakang telinga. Raka mendekat, sengaja dia gigit dan hisap perlahan dengan ujung lidahnya telinga Adista.


"Pak Raka ...."


Adista memekik dan mengeratkan pelukannya. Agaknya Adista harus terbiasa dengan kegiatan spontanitas yang sangat mendebarkan dari suaminya itu. Sementara Raka terus bergerak dan siap memanfaatkan momen di Lombok yang berselimut hujan di malam hari.


Mengurai pelukannya sesaat, Raka menatap Adista dengan pandangan yang begitu lekat. Kemudian Raka sentuh perlahan sisi wajah Adista, Raka pangkas jarak wajahnya yang tak seberapa itu, kemudian Raka kecup beberapa kali bibir Adista.


Cup. Cup. Cup.


Tidak ada penolakan dari Adista. Walau begitu, sorot mata Adista masih penuh dengan kebingungan. Tak pernah sebelumnya Adista merasakan ada pria yang mengecup bibirnya. Dulu, lantaran meminum wine dan mabuk, Adista tidak ingat semuanya. Sekarang dalam kondisi sepenuhnya sadar membuat Adista kebingungan malahan.


Raka sendiri tersenyum dalam hati, dia merasa tidak adanya penolakan dari Adista ini adalah hal yang baik. Maka dari itu, Raka kembali mengecup bibir istrinya. Dia biarkan bibirnya bertengger untuk beberapa saat lamanya di atas bibir Adista. Rasanya hangat, permukaan bibir yang kenyal, disertai dengan terpaan napas yang seakan membelai dalam kesan hangat.


Adista tak menolak lagi, hingga akhirnya Raka melanjutkan ke step berikutnya dengan menggerakkan bibirnya perlahan. Dia pagut kedua belah lipatan bibir Adista. Kesan manis dan basah seketika Raka rasakan. Adista pun sedikit membuka bibirnya, dia seolah mempersilakan suaminya melakukan pagutan dan hisapan di bibirnya.


Raka merasa lega. Sudah tidak ada penolakan dari Adista. Tangan Raka bukan hanya melingkari pinggang, tapi mulai menyisir punggung hingga tengkuk Adista. Sementara Adista yang bingung, tangannya yang berani mencengkeram ujung baju suaminya. Tiap kali dia meremang, cengkeramnya akan semakin kuat.


Bahkan sekarang, tangan Raka pun mulai berani mengusap lekuk-lekuk feminitas di tubuh Adista. Wanita itu memekik dan bimbang harus dengan cara apa Adista merespons tindakan Raka. Ketika tangan Raka lolos meloloskan kancing demi kancing di midi dress yang dia kenakan, Adista masih tidak menolak. Dia seolah siap dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi malam itu. Kurang dari semenit, dress yang Adista kenakan teronggok ke lantai.


Raka mengurai ciumannya perlahan. Dia amati Adista hanya dengan pakaian minim bahan yang mengcover bagian sensitifnya. Sementara Adista menunduk. Malu diamati oleh lawan jenisnya.


Tidak ingin berlama-lama, Raka kemudian menggendong Adista ala bridal style dan Raka menempatkan Adista di ranjang. Pria itu melepas kaos yang dia kenakan terlebih dahulu. Tampil shirtless di hadapan Adista. Sebelum menindih Adista, Raka menanyakan satu hal kepada istrinya malam itu.


"Boleh aku mengambil hakku sekarang?" tanyanya dengan membelai sisi wajah Adista.


Adista tak memberi jawaban secara verbal, tapi dia menganggukkan kepalanya. Adista benar-benar siap malam ini memberikan hak penuh untuk suaminya itu. Raka akhirnya mulai menindih Adista yang berada di bawahnya. Walau demikian kedua sikunya berusaha menahan bobot tubuhnya sendiri.


Tangan Adista yang tadi menyilang di depan dada, Raka urai perlahan. Dia bawa kedua tangan Adista di atas kepalanya dan menguncinya dengan tangannya. Oh, dalam posisi seperti ini saja hasrat Raka naik begitu dratis. Lantas, Raka kembali mencium bibir Adista dengan napas yang lebih memburu.


Raka benar-benar tak bisa lagi menahan. Cukup lama Raka mengunci kedua tangan Adista di atas kepalanya. Hingga akhirnya tangan Raka terurai, Adista refleks meremas helai demi helai rambut suaminya. Adista merasa gelisah kala ciuman Raka kian dalam dan begitu intens.


Tak hanya itu, kini Raka sengaja meremas perlahan bulatan indah milik indahnya. Besarnya memang tak seberapa, tapi pertama meremasnya membuat Raka tak bisa berhenti, tangan Raka bergerak dan menyusup ke belakang punggung istrinya, dia lepaskan kait demi kait di belakang sana. Hingga tampaklah dua bulatan indah di hadapannya. Raka merasa gelap mata, jika tadi hanya satu tangan, sekarang kedua tangannya meremas bulatan indah milik istrinya. Mengusapnya perlahan, dan memilin puncaknya. Adista kian memejamkan matanya, kedua bibirnya terkatup erat mana kala merasakan dirinya terbakar sekarang.


"Jangan tahan, Sayang ... sebut namaku," pinta Raka.


Adista masih berupaya menahan, hingga dia merasakan usapan dengan lidah suaminya yang sudah bermain-main di bulatan indahnya. Usapan dalam kesan basah. Sensasi menggelitik yang membuat Adista tak bisa lagi menahan.


"Pak Raka, hh!"


"Ya, Dista Sayang ... begitu nikmat, Sayang."


Raka masih menyahut. Dia merasakan bermain-main dengan bulatan indah milik istrinya begitu nikmat. Oh, Raka benar-benar tak segan-segan sekarang. Hisapan yang berpadu dengan usapan dan gigitan, hingga dada Adista merasa kembang kempis sekarang.


Terus bergerak turun ke bawah, Raka mulai membelai segitiga berenda di bawah sana. Adista lagi-lagi memekik, dia membuka kelopak matanya perlahan. Menerka apa yang dilakukan suaminya. Rupanya, Raka meloloskan segitiga berenda itu.


Lantas Raka bergerak turun, menunduk di bawah sana. Dia sapa dengan kesan basah lembah yang ada di bawah sana. Kali pertama merasakan sapaan itu, Adista mende-sah dan mengangkat punggungnya perlahan.


"Astaga, Pak Ra ... ka ...."


Raka tersenyum puas. Kapan lagi, dia mendapatkan jackpot sebesar ini. Raka tak segan-segan memporak-porandakan lembah di bawah sana. Permukaan bibir cawan surgawi istrinya dia eksplorasi dengan lidahnya. Ada usapan, hisapan, dan tusukan dengan ujung lidahnya. Tiap kali Adista memekik dan menyebut namanya, Raka merasa senang. Itu yang dia mau.


Hingga beberapa saat kemudian, Adista mengejang. Seluruh tubuhnya meremang, dan dia merasakan pengalaman pelepasan untuk kali pertama. Raka tahu inilah saatnya menuju step selanjutnya.


Raka mulai melepaskan sisa-sisa busana di tubuhnya, lantas dia membuka perlahan paha Adista. Dia menempatkan dirinya tepat di tengah-tengahnya. Raka pegang perlahan pusakanya dan melakukan kenalan dengan lembah yang sudah sepenuhnya basah itu.


Adista menghela napas, rasanya gesekan ini sangat asing. Namun, juga melenakan di saat bersamaan. Hingga akhirnya, Raka mulai memasuki Adista dengan perlahan. Ada hentakan, dan dorongan yang begitu kuat.


Adista sampai meringis merasakannya. Sebab, ada rasa ngliu dan perih yang terasa. Lagi, Raka berupaya hingga akhirnya masuk sepenuhnya.


Raka menggeram. Pria itu berpeluh begitu banyak dan juga menggeratkan rahangnya. Sementara, Adista menangis di sana.


"Sayang ... astaga, Sayangku!"


Menyesuaikan diri, hingga akhirnya Raka bergerak perlahan. Dia juga beri remasan di bulatan indah istrinya untuk menghilangkan rasa sakit. Dia cium bibir Adista. Semua yang Raka lakukan akan dia lakukan. Hingga akhirnya, Raka menghujam begitu dalam.


Semakin erat, semakin kuat, semakin terdengar bunyi dari dua benda yang bergesekan satu sama lain. Di batas ini Adista merasakan tidak menjadi dirinya lagi, dia memanggil nama suaminya berkali-kali. Dia mende-sah dan merengek merasakan tubuh yang meremang setiap saat.


Kian terpacu, Raka sampai memejamkan matanya. Dia kembali membelai sisi wajah Adista.


"Lihat, aku, Sayang ...."


Kedua mata Adista yang semula terpejam, perlahan terbuka. Dia berusaha memberanikan diri menatap suaminya. Wajah suaminya memerah, dengan peluh yang begitu banyak. Raka menatap wajah Adista dan memberikan senyuman kepada istrinya.


"Aku cinta kamu," kata Raka. Dia lantas menunduk dan mengecup bibir Adista. Walau begitu Raka masih menggerakkan pinggangnya memberikan hujaman dan tusukan tanpa henti.


Adista membalas dengan memeluk suaminya itu. Tak ada yang Adista sampaikan. Dia merasa bingung dengan rasa yang untuk kali pertama Adista rasakan.


"Sakit, Pak Raka."


Adista sekarang merengek demikian. Walau nikmat rasanya juga sakit. Adista pun akhirnya kembali memejamkan matanya. Dia tak mampu melihat perpaduan dirinya dan suaminya untuk kali pertama.


Adista memilih memejamkan mata dan menggigit bibirnya sendiri. Sementara Raka kian memacu dalam ritme cepat, semakin cepat. Raka pun sama merasakan desiran darahnya dari kepala turun hingga ke kaki.


"Sayang ...."


Raka tahu batas dirinya, dia meledak sekarang. Yah, tumpahan lava pijar memenuhi Adista. Sementara Adista turut meledak. Keduanya melebur menjadi satu. Dua jiwa yang bermuara.


Penuh.


Hangat.


Erat.


Sungguh luar biasa, ini adalah Staycation yang sesungguhnya. Di Lombok, cerita sebenarnya baru dimulai. Staycation with Boss yang kini menjadi suami secara utuh dan penuh. Menandakan bentuk hubungan baru kedua dimulai. Saling menerima, saling terbuka, dan merangkai kehidupan setelah perkawinan yang semakin sempurna setiap harinya.