
Sampai siang waktu London, barulah pesan yang sebelumnya Raka kirimkan kepada Adista tercentang dua biru. Itu artinya pesan-pesan itu baru dibaca. Dalam beberapa jam terakhir, Raka benar-benar risau dengan kondisi istrinya. Sehingga, ketika pesan-pesan darinya sudah dibaca, Raka yang kala itu masih diruangan Rayyan dan menunggu seorang diri akhirnya segera menelpon Adista.
Wifey Dista
Berdering ....
"Halo, Sayang ...."
Sapa Raka ketika panggilan teleponnya tersambung. Kecemasan di hatinya sedikit berkurang ketika Adista sudah bisa dihubungi. Sebab, beberapa jam ini Raka selalu memikirkan istrinya yang berada jauh di Jakarta.
"Ya, halo Mas Raka ...."
Adista menjawab dengan suara sedikit terbatuk di sana. Raka bisa mendengar suara istrinya dan juga suara batuk itu. Hingga Raka menghela napas panjang.
"Kamu batuk? Aku dengar dari Bu Linda, kamu kurang sehat? Periksa ke Dokter, Yang. Besok biar di antar supir yang di rumahnya Papa yah," kata Raka.
"Sedikit meriang aja kok, Mas," jawab Dista.
Yang Adista rasakan sekarang memang badannya meriang. Adista kini bahkan bergelung di bawah selimut tebal yang ada di kamar apartemen suaminya. Cuaca panas, tidak turun hujan, tapi Adista merasa menggigil kedinginan.
"Periksa saja. Aku sekarang tidak bisa bersamamu. Aku cemas sepanjang waktu, aku berusaha menghubungi kamu, tapi kamu tidak menjawab. Aku bingung," kata Raka dengan jujur.
Mendengar bentuk perhatian suaminya walau hanya dari telepon seluler saja, Adista justru meneteskan air matanya. Andai saja di saat dia sakit dan meriang seperti ini ada suaminya di sisinya, pastilah Adista merasa lebih baik. Sayangnya, suaminya justru berada jauh di negeri Raja Charles.
Dengan susah payah Adista membungkam mulutnya sendiri supaya isakan tangisannya tidak terdengar Raka. Tidak enak badan, ditambah rindu berat dengan suami membuat Adista sangat sedih. Sedihnya bertubi-tubi rasanya.
"Sayang ... tidak menjawabku?" tanya Raka dengan lembut.
Terdengar suara layaknya seorang yang pilek dan menarik ingusnya. Lalu, barulah Adista berbicara.
"Aku tidak apa-apa kok, Mas. Aku cuma meriang saja. Palingan nanti juga sembuh. Ini tadi sudah dibagikan vitamin C dari kantor untuk semua staff. Makasih yah," kata Adista.
Raka menganggukkan kepalanya perlahan. Walau sudah dibagikan vitamin C, tetap saja dia khawatir dengan kondisi istrinya. Kala jauh dan istri sakit itu rasanya benar-benar cemas dan khawatir.
"Do'akan Rayyan semakin pulih dan membaik, seminggu akhir pekan nanti aku bisa kembali ke Jakarta," kata Raka.
"Apa Ray masih belum sadar?" tanya Adista.
Raka menganggukkan kepalanya. "Benar, dia belum menemukan kesadarannya. Walau begitu, ada nama yang dia sebut beberapa kali. Itu adalah namamu, Adista."
Dengan hati yang sesak Raka mengungkapkan semuanya itu. Sementara Adista juga bingung. Di pihak Adista sendiri dia sudah merasa bahwa perasaannya kepada Rayyan sepenuhnya beres. Bahkan sekarang sepenuh hatinya sudah digantikan oleh Raka. Menanggapi pun Adista merasa bingung.
"Pikiranku bercabang, Sayang. Mengingatkan kembali ke sisimu, tapi adikku belum sadar sama sekali. Bagaimana ini, apa yang harus ku lakukan?"
Tidak pernah sebelumnya Raka cemas dan bingung menentukan pilihan. Akan tetapi, sekarang Dista merasa benar-benar bingung dengan pilihannya. Pria itu mende-sah dan berkata jujur sekarang.
"Apa aku tidak menjadi prioritas Mas Raka?" tanya Adista dengan suara yang bergetar.
"Kamu prioritasku, Sayang. Keadaannya saja yang sedang begini. Adista, Sayang ... tunggu aku pulang yah," kata Raka.
Adista tak memberikan jawaban. Dia hanya bisa berurai air mata. Sedih sekali rasanya, bahkan ada perasaan karena suaminya tidak memprioritaskan dirinya. Namun, semua orang jika menjadi Raka juga berada di keadaan yang serba sulit.
Raka pun menyebut nama istrinya itu dengan rasa sesak. Namun, di saat berikutnya jari tangan Rayyan bergerak. Bukan hanya itu kelopak matanya juga merespons. Di saat yang sama, Rayyan memanggil nama Adista.
"Tata ...."
"Tata ...."
Suara Rayyan membuat Raka terkejut, tak hanya itu perlahan kelopak mata Rayyan membuka dan dia berkata lirih, "Tata ...."
Raka kemudian berbicara lagi dengan Adista. "Sayang, maaf aku harus menutup teleponnya terlebih dahulu. Kamu segera sembuh yah. Aku akan menghubungi kamu nanti."
Secara sepihak Raka menutup teleponnya, sementara Adista di sana menangis sejadi-jadinya. Di kala dia rindu dan membutuhkan Raka, tapi dia hanya sendirian sekarang. Adista membutuhkan tempat untuk bersandar, tapi tidak ada sosok suaminya.
Sementara Raka segera berdiri ke brankar adiknya. Dia segera memencet bel yang mengarah ke tombol perawat. Raka sendiri juga tak menyangka bahwa Rayyan akan menemukan kesadarannya. Bersyukur tentu saja, tapi Raka juga berpikir semua itu apakah karena dia menyebut nama Adista beberapa kali tadi. Mungkinkah itu sensor yang bisa ditangkap oleh otak Rayyan?
Tidak berselang lama, Dokter pun datang. Rayyan kemudian diperiksa dan akhirnya ada anggukan kecil dari Dokter tersebut.
"Pasien sudah sadar," kata Dokter itu dalam bahasa Inggris.
Lega, tentu saja. Walau begitu Raka masih bingung, usai ini reaksi apa lagi yang akan ditunjukkan Rayyan. Sebab, masih butuh pemulihan untuk adiknya itu.
"Ray," sapa Raka dengan lirih.
"Kak Raka ... Tata mana, Kak? Aku ingin bertemu Tata," kata Rayyan dengan lirih.
"Kamu di London, Ray. Kamu baru saja sadar setelah kritis begitu lama," balas Raka.
Tidak hanya itu, Raka juga memberikan kabar kepada orang tuanya, memberitahukan bahwa Rayyan sudah sadar. Tentu Papa Zaid dan Mama Erina senang. Itu artinya, doa mereka dikabulkan Allah. Papa Zaid dan Mama Erina berkata juga akan segera ke Rumah Sakit.
"Kak, Tata mana?" tanya Rayyan lagi.
"Tata siapa, Ray?"
"Tata ... Adista. Pacarku," balas Rayyan lirih.
Raka terdiam. Kenapa Rayyan masih menganggap bahwa Adista adalah pacarnya. Padahal mereka sudah putus, selain itu Adista juga mengakui bahwa dia mencintai Raka. Mungkinkah ada ingatan yang hilang atau tertukar? Raka tampaknya harus berkonsultasi dengan Dokter lagi dan juga menanyakan kondisi Rayyan secara menyeluruh.
"Aku mau bertemu Tata, Kak," balas Rayyan.
"Kamu harus sembuh dulu, Ray. Kamu baru saja sadar," balas Raka.
Rayyan hanya menatap kosong sekitarnya. Yang dia inginkan sekarang adalah ingin bertemu dengan Adista. Rayyan merasa bahwa Adista lah yang membangunkannya, membuatnya kembali menemukan kesadarannya. Sementara untuk Raka, kondisi ini kian membuat pelik hubungannya. Dia, Adista, dan Rayyan seakan kembali memasuki labirin yang menyesakkan dan sangat pelik. Begitu sangat tidak mudah.
"Kalau sudah di Jakarta, antar aku menemui Tata ya, Kak," punya Rayyan.
"Sembuhlah dulu, Ray. Kita juga masih berada di London. Kita akan di sini sampai kamu pulih," balas Raka.
Rayyan menghela napas, dia bingung dengan dirinya. Namun, tak bisa memungkiri bahwa Adista yang membuatnya sadar. Sementara Raka kini terjebak artinya haruskah dia berada di London lebih lama lagi?