
Adista berjalan mengikuti langkah kaki Raka. Keduanya tidak berbicara sama sekali. Hingga akhirnya, Raka memasuki lift, dia menahan lift itu dengan pintunya yang masih terbuka menunggu Adista untuk masuk ke dalam lift juga.
"Masuklah," kata Raka.
Adista akhirnya memasuki lift itu. Dia berdiri satu langkah di belakang suaminya. Rupanya lantai demi lantai terlewati dan yang mereka terhenti di depan ruangan khusus milik Raka.
Keluar dari lift, benar bahwa tempat yang Raka tuju adalah ruangannya. Begitu sudah memasuki ruangannya, Raka mengunci pintunya. Tidak mengatakan apa pun, Raka mendekap istrinya itu. Tangannya melingkari pinggang Adista.
"Mas Raka ...."
"Hm, aku kangen kamu, Sayang."
Kalimat itulah justru yang meluncur dari bibir Raka. Walau usai bertemu dengan Natasha, tapi yang dikatakan Raka sekarang adalah kangen dengan istrinya. Apakah itu benar? Adista menjadi bertanya-tanya.
"Kenapa? Bukankah tadi usai bertemu Natasha? Dia sangat cantik," kata Adista. Bahkan Adista sampai menggigit bibirnya sendiri. Dia merasa cemburu sebenarnya. Rasa insecure pun timbul begitu saja.
"Tidak berpengaruh apa pun, Sayang. Sama yang seperti aku katakan sebelumnya," balas Raka.
"Tak memengaruhi Mas Raka, walau dia sangat cantik?"
"Kamu lebih cantik," balas Raka.
Adista tidak merespons apa pun. Semua mata yang memandang pun akan setuju bahwa Natasha jauh lebih cantik. Sangat berkelas, tidak seperti Adista.
"Sudahlah, Mas. Aku sadar diri," balas Adista.
Adista berusaha mengurai dekapan Raka di tubuhnya. Akan tetapi, Raka tidak akan melepaskannya. Sekarang pria itu justru mengecup garis leher Adista. Satu tindakan yang benar-benar membingungkan untuk Adista. Berawal dari kecupan, hingga berubah perlahan dengan usapan dengan ujung lidah dan Raka bahkan nyaris menggigit dan menghisap dalam-dalam bagian garis leher itu. Hingga, Adista pun memekik dan meronta.
"Jangan, Mas. Akan terlihat orang lain," kata Adista menolak.
Raka tapi tak berhenti. Dia terus memberikan usapan demi usapan di garis leher istrinya. Seolah pria itu kini begitu menggebu-gebu. Namun, tak berapa lama, Raka menghentikan kegilaannya. Dia ajak Adista duduk di sofa yang ada di ruangannya, bukan duduk bersisian, tapi justru Raka sekarang memangku Adista.
"Lihat aku, Sayang. Semua itu tidak berpengaruh apa pun. Masa lalu biarlah tetap menjadi masa lalu. Sebab, di masa kini dan akan datang, sampai aku menua, kamu yang akan selalu menemani aku," kata Raka dengan sungguh-sungguh.
"Walau aku tidak secantik dan tidak seberkelas dia?" tanya Adista.
"Siapa bilang kamu tidak cantik? Kamu sangat cantik, selalu menggoda di mataku." Raka mengatakan semua itu dengan mengusap perlahan bibir Adista dengan jari telunjuknya.
"Bohong," balas Adista.
"Tidak bohong sama sekali. Fakta. Tubuhku hanya bereaksi seperti ini kepadamu saja. Toh, aku sejak dulu tenang. Kamu pasti mendengar pernyataannya bahwa aku sejak SMA selalu dingin. Artinya, aku benar-benar hangat, bahkan memanas hanya bersamamu," kata Raka.
Adista berusaha mencerna kembali. Benarkah demikian, tapi Adista juga mengingat seperti apa keresahan di hati Natasha yang menyayangkan dulu dia tidak menyukai Raka. Mungkinkah sekarang melihat Raka yang kian dewasa, kaya raya, dan seorang CEO membuat Natasha memiliki perasaan suka kepada Raka.
"Aku tidak tahu dulu kamu dan dia bagaimana, tapi Natasha menyayangkan dulu dia tidak menyukaimu. Mungkinkah kamu pernah mengutarakan perasaan kepadanya?" tanya Adista.
"Tidak pernah," balas Raka.
"Lalu, kenapa Rayyan bisa tahu tentang Natasha itu?" tanya Adista lagi.
"Aku bisa terbuka dengan Rayyan dulu, adikku. Aku hanya pernah bercerita dulu aku naksir dengan dia," kata Raka lagi.
Berusaha untuk mencerna segala sesuatunya. Adista menatap wajah Raka yang benar-benar serius. Berusaha menatap manik mata suaminya, mungkinkah ada sesuatu yang Raka sembunyikan. Adista percaya bahwa kebohongan tak bisa disembunyikan, mata bisa melukiskan semuanya.
"Aku akan kembali bekerja saja," balas Adista.
Raka menggeleng. "Habiskan waktu ini bersamaku. Aku meminta," pintanya.
"Tidak bisa, ini tempat kerja, Mas."
Adista tetap kepada pendiriannya. Ini adalah tempat bekerja. Selain itu, Adista sendiri masih kepikiran dengan sosok Natasha itu. Intinya sedang tidak mood.
"Atau kita pulang sekarang?" tanya Raka.
"Jam pulang kerja masih dua jam lagi," balas Adista.
Raka membuang napas kasar. Tidak mudah rupanya merayu istrinya itu. Hingga akhirnya, Raka mengecup beberapa kali bibir Adista dengan saling bertukar pandang.
"Aku mendamba ..., tapi bayi kita," kata Raka dengan bingung.
"Aku juga sedang bad mood," aku Adista dengan jujur.
"Sudah, jangan sering bad mood. Baiklah kita turun lagi yah, aku tidak mau jauh-jauh darimu," kata Raka.
"Jangan membiarkan orang berspekulasi macam-macam," balas Adista.
Raka mengedikan bahunya untuk sesaat. "Biarkan saja. Aku begitu mendamba. Kamu santai saja, Raka bisa melakukan apa pun. Jangan marah lagi. Kalau bertemu dia lagi abaikan saja. Ingat yang ada di sini hanya kamu."
Sekarang Raka berbicara dengan menunjuk dadanya. Seolah-olah dia ingin mengatakan bahwa penghuni hatinya hanya Adista seorang.
"Bertemu dengan dia tak berpengaruh apa pun untuk Mas Raka?" tanya Adista.
"Layaknya bertemu teman lama saja. Tidak lebih. Percayai aku, Sayang."
"Benarkah demikian?" tanya Adista.
"Iya, benar. Yang tahu diriku seutuhnya hanya kamu."
Raka mengatakan itu dengan sungguh-sungguh, hingga pria itu memeluk Adista lagi. Dia membawa wajahnya berada di dada Adista. Memeluknya dengan mata yang terpejam.
"Mas Raka bisa kupercaya kan?" tanyanya.
"Bisa. Percayai aku. Jangan pernah kehilangan kepercayaan kepada pasanganmu sendiri," balas Raka.
Adista terdiam, perlahan-lahan tangannya mengusap helai demi helai rambut suaminya. Lebih dari itu, Adista mengecup kening suaminya sesaat. Seolah ada perasaan yang ingin Adista salurkan di sana.
"Aku sangat mencintai Mas Raka. Kalau sebelumnya Mas Raka ingin egois dan hanya menginginkan aku satu-satunya untuk Mas Raka. Kali ini, aku pun begitu. Aku ingin egois dan menginginkan tidak ada yang lain di hati Mas Raka. Aku ingin Mas Raka satu-satunya untukku," kata Adista.
"I'm yours."
Raka membalas dengan menggunakan bahasa Inggris yang mengartikan bahwa Raka memang hanya untuk Adista saja. Ada kalanya cinta itu menuntut, menunjukkan sisi egoisme, dan Adista sekarang juga demikian. Tidak ingin suaminya kembali tertarik dengan sosok dari masa lalunya. Sama seperti Raka yang menginginkan Adista tidak menjadi menjadi milik Rayyan, begitu juga Adista mengharapkan suaminya hanya untuknya.
"Pernikahan kita baru seumur jagung. Romansa kita juga baru seumur jagung, tapi masalah seolah tak berhenti. Silih berganti. Percayai aku, Yang. Aku akan tunjukkan dan buktikan semua bahwa aku sepenuhnya hanya milikmu. Kini, nanti, hingga aku menua, tetaplah bersamaku." Raka mengatakan dengan sungguh-sungguh. Itu adalah yang Raka mau. Dia sudah berketetapan tidak akan terpengaruh oleh masa lalu.