Staycation With Boss

Staycation With Boss
Perasaan Tak Nyaman



Malam ini menjadi malam terakhir bagi Raka dan Adista berada di Lembang. Biasanya pengantin baru akan melakukan kegiatan-kegiatan penuh cinta. Membangun intimitas sebuah hubungan dalam rumah tangga. Akan tetapi, itu tak berlaku untuk Adista dan Raka.


Bahkan malam ini, Raka dengan sengaja menaruh guling di antaranya dan Dista. Menurut Raka, guling-guling itu akan menjadi pembatas sekaligus menjadi sekat supaya Raka bisa lebih menahan diri. Sebab, jika banyak melakukan kontak fisik dengan Adista, Raka takut justru tak bisa menahan dirinya dan hasrat yang terkadang hanya butuh beberapa detik bisa datang.


"Tidurlah, Dista. Esok pagi kita akan bersiap untuk pulang ke Jakarta," kata Raka.


"Iya, Pak Raka," balas Adista.


Raka yang terlebih dahulu membaringkan dirinya dan memunggungi Adista. Sementara Adista masih bersandar di head board. Beberapa kali dia menatap punggung suaminya, hingga mulai terdengar dengkuran halus dari suaminya beberapa saat setelahnya.


Barulah kemudian Adista berbaring, dia juga memilih untuk memunggungi Raka. Selimut yang Adista gunakan pun mengcover seluruh badannya, hanya kepalanya saja yang terlihat sedikit. Adista berharap situasi kikuk dan canggung ini juga bisa segera berlalu.


...🍀🍀🍀...


Keesokan Paginya ....


Sama seperti hari sebelumnya, Adista terbangun lebih dahulu. Kemudian, dia memilih buru-buru mandi. Usai mandi, barulah Adista turun dan menyeduh kopi.


Rasanya pagi ini sangat sunyi, dentingan gerimis hujan justru kembali turun. Adista sampai merasa aneh kenapa di tempat ini selalu turun hujan. Hampir lima belas menit kemudian, barulah Raka turun. Pria itu juga sudah mandi dan menyegarkan dirinya. Aroma kopi yang diseduh Adista pun tercium oleh indera penciumannya. Dia kemudian menyusul ke meja makan.


"Kopinya, Pak Raka," kata Adista dengan memberikan kopi untuk Raka.


Jika sebelumnya Adista membuatkan Nasi goreng, kali ini Adista tidak menyediakan apa pun. Sebab, bahan makanan di dalam lemari es sudah habis. Sehingga, tidak ada yang bisa diolah.


"Maaf tidak ada makanan, Pak Raka. Bahan makanan di dalam lemari es sudah habis," kata Adista lagi.


"Tidak apa-apa, secangkir kopi panas juga sudah cukup. Nanti kita bisa makan di rest area," kata Raka.


"Baik, Pak," balas Adista.


Raka menyesap kembali Kopinya, sembari melirik Adista. "Kamu formal banget. Kalau bicaramu seperti itu, justru terdengar kamu seperti sekretarisku. Dista, aku tidak akan memaksamu, kamu tentu juga sudah tahu itu. Hanya saja, ketika ada keluargaku, ada keluarga kita, tolong kita bisa berubah menjadi pasangan yang rukun dan saling cinta. Jangan mematahkan hati kedua orang tua kita," kata Raka.


Semua itu Raka minta karena orang tuanya dan orang tua Adista memiliki harapan yang besar untuk kebahagiaan keduanya. Walau berawal dari kesalahan semalam, dan semua terasa sangat cepat, orang tua tentulah menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Begitu juga dengan Mama Erina dan Papa Zaid, Bu Ratih dan Pak Gusti yang juga mengharapkan cinta akan hadir seiring berjalannya waktu. Adista dan Raka bisa akur dan saling mencintai satu sama lain.


"Jadi, kita harus bersandiwara?" tanya Adista.


"Iya, di hadapan keluarga kita saja."


"Saya akan memikirkannya," balas Indi.


Raka menganggukkan kepalanya. Biarlah mereka bersandiwara untuk menentramkan hati keluarga. Raka juga tidak ingin mematahkan hati orang tua dan mertuanya.


Usai meminum secangkir kopi, Adista memilih mencuci cangkir keramik itu. Sementara Raka mulai memanasi mobilnya. Raka sendiri juga memasukkan koper mereka berdua ke dalam bagasi mobil. Sebab, Raka akan mengajak Adista pulang ke Jakarta. Sudah banyak pekerjaan yang harus segera Raka kerjakan. Oleh karena itu, acara refreshing pasca akad harus usai.


Jika suatu hari nanti memiliki waktu, Raka ingin kembali ke villa itu dengan perasaan Adista yang tentunya sudah berubah. Terlebih udara dingin dan curah hujan yang tinggi membuat villa itu sangat cocok sebagai tempat berbulan madu, memadu kasih antara dua pasangan yang saling dimabuk cinta.


Beberapa jam berkendaraan, kini mobil yang dikendarai oleh Raka sampai juga di Jakarta. Tempat yang Raka tuju sekarang adalah kediaman orang tuanya. Raka sudah berbicara dengan Adista bahwa mereka akan tinggal di rumah Mama Erina dan Papa Zaid dulu sampai rumah milik Raka sendiri selesai. Paling hanya beberapa minggu saja.


Tiba di rumah sudah ada orang tua dan adik-adiknya yang menyambut. Tentu Mama Erina senang menyambut pasangan pengantin baru itu. Itu terlihat dari pelukan hangat yang diberikan Mama Erina.


"Pengantin baru sudah datang. Mama sudah meminta Bibi Tini untuk menyiapkan kamar kalian berdua," kata Mama Erina.


Adista tersenyum tipis, sementara Raka bersikap biasa saja. Pembawaannya biasanya yang minim ekspresi. Usai itu, Mama Erina menggenggam tangan Adista.


"Kamu kelihatan lelah, Dista? Apa suamimu itu sangat nakal hingga tidak memberimu waktu istirahat yang cukup?" goda Mama Erina.


Di sana Adista menundukkan wajahnya. Tidak memberikan jawaban. Sementara Rayyan yang juga mendengarkan ucapan Mamanya memalingkan wajahnya. Hatinya merasa sakit dan perasaan tidak nyaman itu hadir dengan sendirinya.


"Ma, jangan diledekin. Kasihan Mbak Dista malu itu loh," kata Raline dengan tertawa.


Usai itu, Raline kemudian memeluk kakaknya. Raline memang manja dengan Raka. Walau kakak sulungnya itu dingin dan pembawaannya begitu saja, Raline justru sayang sekali pada kakaknya.


"Kak, Kakak harus memberikan hadiah untukku yah. Aku mendapatkan nilai terbaik semester ini," kata Raline.


"Iya, Kakak akan berikan," balas Raka.


"Kamu juga harus memberikan hadiah untuk Rayyan, Raka. Adikmu bungsu juga mendapatkan nilai terbaik," balas Papa Zaid.


Akan tetapi, kini Raka dan Rayyan sekarang beradu pandang. Bukan lagi pandangan yang hangat, melainkan sorot mata yang dingin. Perubahan sikap ini tidak terjadi dengan tiba-tiba pastinya.


"Kamu mau apa, Ray?" tanya Raka.


Rayyan dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, Kak Raka. Lagipula, apa yang Rayyan minta kali ini tidak akan bisa Kakak berikan."


Saat mengatakan itu Rayyan melirik kepada Adista. Tidak mungkin baginya ketika meminta kakaknya melepaskan Adista, dan kakaknya akan melepaskannya. Walau keduanya kakak dan adik. Rasanya tidak mungkin Raka bisa memberikan apa yang Rayyan pinta.


"Kamu meminta apa emangnya, Rayyan? Tumben, sampai kakakmu tidak bisa memberikannya," tanya Papa Zaid dengan pandangan menelisik.


Belum Rayyan memberikan jawaban. Adista menyela dan berbicara kepada Mama Erina.


"Mama masak apa, Ma? Tadi pagi kami kehabisan bahan makanan di lemari es," kata Adista.


Praktis ucapan Adista ini memutus pembicaraan yang menimbulkan perasaan tak nyaman baginya. Tatapan Rayyan, permintaan Rayyan seolah menjadi hal yang membuat hati Adista tidak nyaman. Untuk itu, Adista berusaha memotong dan mengalihkan pembicaraan ini.