
"Aku bahagia banget, Sayang ... setelah sebulan berlalu, baru sekarang aku bisa kembali merasakannya," kata Raka.
Sekarang pria itu menggulir posisinya di samping Adista dan membawa Adista ke dalam pelukannya. Keduanya membutuhkan pendinginan dan menetralkan lagi deru napasnya. Selain itu memang Raka selalu menempatkan diri untuk menunjukkan perasaan dan perhatiannya kepada istrinya.
"Iya, Mas," balas Adista dengan lemah.
"Kecapekan yah? Apa aku terlalu semangat, sampai kamu lemes?" tanya Raka.
Adista menggelengkan kepalanya beberapa kali. Wanita itu memilih memejamkan mata dan membawa kepalanya mendekat ke dada bidang suaminya. "Aku baik-baik saja kok. Cuma, sebulan berlalu, aku baru sadar ... aku selalu suka caramu seperti ini," aku Adista.
Sejak memutuskan untuk menerima suaminya, Adista merasakan dia merasakan suka dengan cara suaminya menyentuhnya. Dia suka dengan Raka yang tak bermulut manis, tapi selalu saja menggebu-gebu dalam bercinta. Entah berpengalaman sebelumnya atau tidak, semua sentuhan dan semua yang dilakukan Raka benar-benar melambungkan Adista ke langit ketujuh.
"Dari awal nikah kamu gak mau sih, jadi baru bisa menikmati semua seperti ini baru aja," balas Raka.
"Maaf, abis nikah kan PR ku banyak waktu itu. Jadi, aku mengerjakannya hingga selesai satu per satu dulu," balas Adista.
"Tidak apa-apa. Bersabar pun lebih baik, kalau akhirnya yang ku dapatkan adalah dirimu seutuhnya dan sepenuhnya. Kamu yakin tidak apa-apa? Kenapa aku merasa kamu menjadi kelelahan," balas Raka.
"Tidak apa-apa kok, Mas Raka."
"Baiklah, mandi dulu saja. Abis ini boleh bobok."
Akhirnya Raka membawa Adista ke kamar mandi. Namun, Raka merasa Adista kurang begitu sehat. Mungkinkah tadi dia yang sangat bersemangat memacu hingga membuat Adista benar-benar kelelahan atau kondisi tubuh Adista yang belum sepenuhnya fit.
Mandi pun, keduanya tak terlalu lama. Adista juga setelahnya merapikan kembali tempat tidurnya, sementara Raka menuju ke dapur. Dia berinisiatif membuatkan susu hangat untuk istrinya.
"Jangan bobok dulu, Yang. Minum susu hangat dulu," kata Raka.
"Yah, aku gak begitu suka Susu hangat," balas Adista.
"Harus diminum dulu, minimal separuh. Biar boboknya lelap. Wajah kamu kelelahan banget," balas Raka.
Akhirnya mau tidak mau, Adista meminum susu hangat yang sudah dibuatkan suaminya. Akan tetapi, karena gak begitu suka susu, Adista tidak menghabiskannya. Hanya separuh gelas saja yang bisa dia minum, separuhnya justru diminum dan dihabiskan Raka.
Setelahnya barulah keduanya sama-sama menaiki ranjang bersama. Raka pun segera membawa Adista masuk ke pelukannya.
"Kamu tadi mau bicara apa?" tanya Raka.
Adista menimbang-nimbang lagi, agaknya sekarang belum tepat untuk bercerita kepada suaminya. Adista akhirnya menggelengkan kepalanya perlahan. Sebagai gantinya, Adista justru membicarakan hal yang lain.
"Aku sudah berusaha, Sayang. Bagaimana lagi, terkadang justru Rayyan kekanak-kanakan," balas Raka.
Adista terdiam sejenak. Seolah memikirkan bagaimana solusi untuk masalah ini. Sebab, jika dibiarkan berlarut-larut, ketiganya akan sama-sama menderita.
"Jangan bahas dia dulu, Sayang. Bahas saja dengan kita berdua. Bounding time bersama," balas Raka.
Adista menganggukkan kepalanya perlahan. Dia tahu terkadang jengah juga membahas satu masalah selama beberapa hari. Selain itu, jalan yang dituju seolah buntu. Walau begitu, Adista justru terdiam sekarang.
"Kok malahan diem?" tanya Raka.
"Aku bingung harus membahas apa," balas Adista.
"Mau pindah bagian kerja enggak, Yang? Jadi sekretarisku. Supaya kamu bisa lebih dekat ke aku, aku bisa melindungi kamu," tawar Raka.
Tidak langsung menjawab, tapi Adista juga tidak ingin gegabah. Dia ingin mempertimbangkan semuanya terlebih dahulu. Hingga akhirnya, Adista sekarang justru menggelengkan kepalanya.
"Itu bukan ide bagus, Mas. Justru Rayyan bisa ke ruanganmu terus-menerus dengan dalih bisa bertemu denganku. Semua karena kamu kakaknya. Tidak ada yang salah ketika seorang adik berlama-lama di ruangan kakaknya. Justru semakin tidak aman untukku," balas Adista.
Raka terdiam berusaha memahami jawaban Adista. Hingga Raka merasa bahwa jawaban Adista begitu realistis. Rayyan justru bisa seharian di ruangannya hanya untuk mendekati Adista. Jika sudah begitu, semuanya akan terluka lagi.
"Kalau bisa, aku ingin Mas Raka tak menginap di rumah Mama dan Papa. Aku masih kangen," aku Adista.
"Sama. Bagaimana lagi, aku harus hati-hati. Tidak mungkin sama sekali aku tidak menginap di rumah," balas Raka.
"Rindu itu berat, Mas ... aku sudah merasakannya selama tiga pekan."
"Benar, Yang. Sangat berat, terlebih dengan kondisi yang pelik."
Raka menghela napasnya, tangannya bergerak mengusapi helai rambut Adista. Sekarang keduanya benar-benar menikmati moment berdua. Mengungkapkan perasaan dan juga harapan mereka. Lebih mendekatkan hati. Semoga saja, ada jawaban dan solusi terbaik.
Adista lagi-lagi terdiam hingga akhirnya dia terlelap di dekapan suaminya. Matanya sudah begitu berat, sekadar membuka saja sudah tak mampu. Aroma parfum Raka, dekapan yang hangat, dan usapan di kepalanya seakan menjadi kombinasi sempurna yang membawanya masuk ke alam mimpi.
Di sisi lain, Raka justru bingung dengan istrinya yang begitu cepatnya terlelap. Biasanya banyak perbincangan mereka berdua, bahkan bisa berlanjut ke ronde kedua. Namun, sekarang Adista justru terlelap terlebih dahulu.
"Kamu bobok secepat ini, Yang? Biasanya banyak yang kamu ceritakan. Aku yakin, pastilah tadi aku yang lepas kontrol sampai membuatmu kelelahan seperti ini. Baiklah, bobok saja. Aku tidak akan mengganggumu. I Love U!"
Raka berkata lirih. Walau begitu setiap kata yang dia katakan tak memperoleh jawaban karena Adista sudah terlelap. Kendati demikian, Raka sangat percaya sekarang perasaan keduanya sudah sama. Sekata dan seiya, perasaan yang hadir itu tumbuh dan kian kuat sepanjang harinya.