
Malam pun tiba, Raka dan Adista memilih menikmati malam bersama. Pasangan suami istri itu duduk bersama di sofa dengan tangan Raka yang merangkul istrinya. Sementara Adista juga tidak menolak, Adista justru menikmati setiap momen bersama Raka. Terlebih ketika sudah tiga pekan lamanya dia berpisah dengan Raka.
"Mas, tadi bertemu Rayyan seolah aku berhadapan dengan orang lain. Mungkinkah ada gangguan ingatan?" tanya Adista.
"Aku juga berpikir begitu. Makanya Papa dan Mama akan mengajak Rayyan ke Singapura. Mungkin saja dibutuhkan terapi dan sebagainya," balas Raka.
"Boleh tidak, Mas ... kalau aku tidak ingin menemui Rayyan?"
"Sebenarnya bisa saja, tapi dia tadi sudah berkata kepada Papa ingin kea Plazza lagi. Jika bisa lebih sering," balas Raka.
Adista menghela napas panjang. Situasi ini saja terasa melelahkan rasanya. Apalagi Adista ingat bahwa Rayyan masih harus berada di Jakarta untuk enam bulan, pastilah enam bulan ke depan sangat melelahkan.
"Aku besok mungkin akan menginap di rumah Mama dan Papa. Sekaligus aku ingin berkata jujur dengan Papa dan Mama. Kita tidak bisa bertindak sendiri, karena menyangkut Rayyan."
"Aku sendiri lagi?" tanya Adista.
Rasanya baru tiga malam bersama suaminya, lalu suaminya harus menginap di rumah orang tuanya lagi. Rindu yang belum sepenuhnya terobati, tapi harus berpisah lagi. Tentu saja membuat Adista sedih.
"Malam ini buat kamu, kita menyemai bersama perasaan kita," kata Raka.
"Apa semua ini harus berjalan enam bulan lamanya?" tanya Adista.
Raka menggeleng, dia sebenarnya juga tidak tahu. Walau ada beberapa titik Raka juga merasa bahwa situasi ini melelahkan.
"Mas, sebenarnya ...."
Urung Adista berbicara lagi, tapi Raka menggelengkan kepalanya dengan jari telunjuk yang kini berada di depan bibir istrinya. Sehingga Adista tak melanjutkan ucapannya. Raka ingin malam ini keduanya akan menyemai lagi cinta dan perasaan keduanya. Terlebih, ada rasa cemburu mana kala Rayyan menyentuh tangan Adista tadi. Ada lagi bahwa Raka esok akan menginap di rumah orang tuanya. Praktis, malam ini ingin Raka lalui bersama dengan Adista.
"Sstts, biarkan begini dulu. Aku rindu ...."
Seusai itu, Raka menunduk perlahan, tindakannya tampak terukur. Hingga kemudian, dia menyapa bibir Adista dengan mengecupnya. Sangat rindu rasanya. Beberapa malam sebelumnya Raka menahan, pikirnya wanita butuh waktu lebih menata hati dan perasaannya. Jika pulang-pulang dan Raka meminta haknya pastilah Adista keberatan. Sekarang, Raka tidak akan menunda lagi.
Satu kecupan tidak akan cukup, maka sekarang Raka membuka sedikit bibirnya. Dia pagut perlahan kedua belah lipatan bibir Adista. Raka merasa inilah pemuas dahaganya. Selama nyaris sebulan, dia merasa begitu gersang. Dia merasa menemukan Wadi dengan sumber air.
Pun, Adista yang memilih menanggapi tindakan suaminya. Ketika Raka memagutnya, Adista melakukan yang sama. Hingga tangan Raka dengan nakalnya sudah menyusup ke dalam kaos yang Adista kenakan. Meremas bulatan indah yang ada di sana. Adista memilih menghela napas dan menikmati perlakuan suaminya itu.
"Mas Raka ...."
Hela napas berpadu dengan de-sahan membuat Adista kalang kabut. Terlebih lama tidak disentuh suaminya, sekarang dia merasakan sengatan berlumur candu. Memabukkan sangat, hingga Adista merasa seluruh pikirannya terenggut.
Sementara bibir Raka masih menari-nari di bibir istrinya. Pagutan, berganti dengan hisapan, lantas terjadi lu-matan yang menggebu. Raka kian menekankan bibirnya, lidahnya menerobos masuk dan memberikan godaan demi godaan yang membuat Adista melenguh dan kian memanas.
"Aku kangen, Sayang. Bisa kita menyemai cinta kita bersama? Malam ini kita arungi bersama," kata Raka dengan menarik wajahnya. Walau begitu seperti biasa, nakalnya Raka dia tidak menarik tangannya dari dalam kaos yang Adista kenakan. Justru tangan itu menerobos masuk hingga menyentuh permukaan kulit yang tersembunyi di balik wadah yang berada di dalam sana.
"Mas Raka ... aku," kata Adista dengan terengah-engah.
"Jawab aku, boleh?" tanya Raka lagi.
Lampu hijau dari Adista sudah didapatkan. Perihal cerita atau pembicaraan Adista lagi nanti Raka pasti akan mendengarkannya. Sekarang, biarlah waktu merenggut keduanya, menceburkan keduanya ke dalam palung asmara.
Tak ada yang Raka tunggu, dia naikkan ke atas kaos yang Adista kenakan. Pun wadah berenda di sana. Mendorong punggung Adista hingga mengenai sandaran sofa, lantas Raka meraup bulatan indah yang ada di sana. Memasukkan bulatan indah itu ke dalam mulutnya, menghisapnya, mengulumnya, bahkan menggigit puncaknya beberapa kali. Kegiatan itu Raka ulangi, kian istrinya mende-sah kian memacu Raka untuk melakukan hal yang lain. Hisapan di kanan, remasan di kiri, seketika membuat Adista melayang. Justru Adista kian membenamkan wajah suaminya di dadanya, tangan meremas helai demi helai rambut suaminya.
Beberapa saat itu berlalu, hingga Raka memberikan instruksi kepada Adista. "Sentuh aku, Sayang. Sentuh aku seperti dulu. Aku rindu," katanya.
Adista menganggukkan kepala perlahan. Membiarkan suaminya terduduk di sofa, Adista turun hingga ke lantai. Dia perosotkan celana sang suami, dan dia sapa pusaka di sana. Raka merasa senang sekali. Inilah makna hubungan timbal balik yang Raka harapkan. Terlebih Adista membuatnya gila, dia suka sekali mendapatkan hal seperti ini. Wajahnya memerah dengan rahang yang menggertak. Beberapa kali, Raka mengusap-usap rambut istrinya.
"Oh, pinter banget, Yang. Aku kangen," kata Raka jujur.
Usapan dalam kesan basah kian dalam, menggelora. Hingga Raka nyaris meledak karenanya. Namun, Raka menahan. Dia tidak ingin keluar dengan cara seperti ini. Merasa cukup, Raka membawa Adista rebah di sofa itu, giliran Raka yang memberikan yang terbaik untuk istrinya. Raka bergerak turun dan dia sapa perlahan lembah di sana.
Tidak ada rasa ragu bagi Raka. Lidahnya menerobos masuk memberikan usapan bahkan hisapan dan tusukan. Adista kehilangan dirinya sendiri. Dia memejamkan mata dan meracau tidak jelas. Sementara Raka sangat puas sekali ketika dia berhasil memberikan kepuasan untuk Adista. Raka tahu Adista juga menginginkannya.
Lantas Raka meloloskan pakaian sendiri, dia mulai menyatukan dirinya dengan Adista di sofa itu. Tidak ingin beranjak ke ranjang. Raka menghujam dan menghentak dengan gerakan yang terukur. Adista membelalakkan matanya. Oh, menerima tindakan Raka seketika membuatnya penuh. Kehangatan pun melingkupinya. Adista memeluk suaminya itu.
"Mas ... Ra ... ka!"
"Ya, Sayang. Selalu sebut dan panggil namaku. Luar biasa, Sayang. Hangat," balas Raka dengan meremas bulatan indah milik Adista.
Adista tak tahu lagi harus merespons seperti apa yang pasti. Kegiatan panas bersama suaminya juga sangat dia rindukan. Pinggul Raka bergerak melakukan gerakan seduktif. Memacu, memacu, dan terus memacu. Dalam, dalam, hingga seperti terdengar benturan di sana. Raka menggila. Ini yang Raka rindukan. Cengkeraman otot-otot di bawah sana yang membuatnya kehilangan kewarasannya.
Melepaskan sang pusaka dari sarangnya, Raka lantas mengangkat tubuh Adista dan memindahkannya ke ranjangnya. Dia meminta Adista berbaring miring, lantas Raka kembali merapatkan dirinya, memasuki. Adista tidak tahu dalam posisi inipun bisa terjadi.
"Mas ... oh, Mas Raka."
Ada rengekan dalam suara Adista. Wanita menggigit bibirnya sendiri menahan desakan dan gelombang yang membuatnya terbebas di Samudra. Suaminya itu selalu tak pernah gagal memberikan kejutan demi kejutan, menapaki tangga-tangga surgawi yang indah dan penuh kilauan cahaya.
Tangguh dan handal, dua kata terbersit di dalam otak Adista tentang suaminya. Luar biasa sekali. Hingga akhirnya, Raka mengubah lagi posisi. Dia kembali mengungkung Adista di bawahnya. Lagi dan lagi dia memasuki Adista. Kali ini dengan ritme lebih lembut dan lambat. Namun, Adista juga baru tahu ritme lambat pun rasanya luar biasa.
"Ya Tuhan, Mas Raka ...."
Raka akhirnya tersenyum. Ini yang dia mau. Menyemai perasaan, Raka ingin menjadikan Adista satu-satunya ratu di hatinya. Bentuk keegoisan yang sesungguhnya. Tak ingin membaginya dengan siapa pun juga.
Hingga Adista kian merengek di sana. Napas terengah-engah kacau, tapi Raka masih terus memacu. Pun di detik selanjutnya, Raka menggertakkan rahangnya. Tanpa bicara, pria itu meledak, menjadi serpihan yang membumbung tinggi ke udara disertai ledakan larva pijar yang memenuhi Adista.
Hangat.
Erat.
Panas.
Malam yang bergelora, bukti penyatuan dua hati yang penuh cinta. Malam yang meledak, dengan gelombang dalam hati yang tak terperi. Teruntai semua dalam tindakan demi tindakan tanpa disertai diksi.