
Sepanjang malam pun, Raka tidak bisa tidur. Hanya lantaran sprei saja, Raka justru membuat istrinya menangis. Kekecewaan di dalam hatinya kian menjadi mana kala masih terdengar isakan dari Adista ketika dia tidur.
Terjaga hingga tengah malam, akhirnya Raka mengambil posisi lebih rapat. Dia peluk istrinya itu dengan lebih erat dan mengecup keningnya sesaat. Raka lantas memejamkan matanya dan berjanji akan menebus salahnya.
Keesokan harinya, sepulang bekerja dari La Plazza Hotel, Raka datang tidak dengan tangan kosong. Melainkan dia membelikan sprei motif bunga-bunga untuk istrinya. Bukan cuma satu, tapi ada sepuluh set sprei dan bed cover semuanya motif bunga-bunga seperti yang diinginkan Adista.
"Sayang," sapa Raka begitu dia sudah memasuki kamar dan mencari keberadaan Adista.
Sosok yang dia cari-cari rupanya baru merapikan walk in closet yang berada di dalam kamarnya. Raka kemudian menggenggam tangan istrinya itu, dia hendak mengajak istrinya untuk turun ke bawah.
"Ikut aku sebentar yuk," ajak Raka.
"Kemana emangnya, Mas? Sebentar, aku baru merapikan lemari pakaian punyamu," kata Adista.
"Udah, tinggal aja dulu," balas Raka lagi.
Adista hanya bisa geleng-geleng kepala ketika suaminya seperti ini. Bukan Raka namanya kalau tidak suka memaksakan kehendaknya seperti ini. Akan tetapi, Adista pada akhirnya menuruti saja dan mengikuti suaminya untuk keluar dari kamar.
"Sebenarnya mau ngapain sih, Mas?" tanya Adista dengan berjalan lebih hati-hati kala menuruni anak tangga.
"Ikut dulu aja," balas Raka.
Setelahnya Raka rupanya mengajak Adista menuju ke ruang tamu. Betapa terkejutnya Adista ketika melihat banyaknya set Sprei dan bed cover dengan motif bunga-bunga dan aneka warna di ruang tamu itu. Wanita itu ternganga sembari menatap suaminya itu.
"Maksudnya ini apa?" tanya Adista.
"Kamu bilang kan pengen sprei motif bunga-bunga. Ya sudah, aku belikan semua series terbaru untuk kamu. Mungkin ada sepuluh atau dua belas sekarang. Masih kurang?" tanya Raka.
Adista malahan kesal dengan suaminya itu. Sebab, dia semalam sudah mengurungkan niatnya untuk tidak membeli sprei dengan motif bunga-bunga. Dia tidak ingin membuat suaminya itu merasa tidak nyaman.
"Kan semalam aku sudah bilang ...."
Urung Adista menyelesaikan ucapannya, Raka sudah menaruh jari telunjuknya di bibir istrinya itu. Membuat Adista tidak bisa berbicara lagi.
"Mas, nanti Mbok Darmi tahu loh. Yang tinggal di rumah ini kan bukan hanya kita. Ada ART juga," kata Dista.
"Makanya, jangan mengungkit yang semalam lagi. Aku bawain ke kamar yah?"
Tanpa meminta bantuan ART, Raka yang hilir-mudik membawa sprei dengan bed cover itu ke dalam kamar. Adista akhirnya memilih membawa sedikit dan naik ke dalam kamar. Begitu semuanya sudah berada di kamar, Adista mengamati satu per satu motif bunga-bunga di sprei itu. Warnanya juga beragam ada merah muda, hijau, putih, dan ungu. Namun, sekali lagi Adista merasa tidak yakin bahwa suaminya akan nyaman dengan sprei seperti itu.
"Aku menyesal kemarin menjadi suami yang tidak peka. Harusnya aku lebih memahami kondisi kamu yang tengah hamil dan ngidam. Sebagai permintaan maafku, aku belikan semua ini untuk kamu," kata Raka.
Adista mendengarkan suaminya. "Kan, aku bilang udah gak pengen lagi, Mas."
"Jangan hanya menekan perasaan dan keinginan kamu sendiri. Kamu juga berhak bahagia dan mendapatkan apa yang kamu mau kok. Hanya sebatas sprei saja. Bukankah hidup berumahtangga memang menyatukan dua orang yang berbeda dengan keinginan dan seleranya?" tanya Raka.
Sekarang Raka juga belajar hal baru bahwa hidup berumahtangga itu menyatukan diri, bekerja sama, dan juga mencari jalan tengah bersama. Terlebih untuk keinginan bersama sepanjang masa. Di tengah-tengah jalan akan ada rasa tidak sejalan, tidak satu selera, bahkan merasa tidak satu visi. Akan tetapi, bagaimana mencari jalan tengah atas setiap perbedaan yang bisa muncul.
"Aku lebih gak bisa tidur kalau membuatmu menangis kayak kemarin," balas Raka.
Pria itu tanpa berbicara mulai mengambil satu langkah, lebih dekat dengan Adista. Kemudian tanpa kata, Raka segera memeluk istrinya itu. Raka memejamkan matanya mana kala memeluk Adista. Dia kian mengeratkan pelukannya. Raka sudah mengakui dengan jujur, semalam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak lantaran membuat Adista menangis. Hanya masalah sprei dan itu sangat sepele. Raka benar-benar menyesal karenanya.
"Maafkan suamimu ini yah. Kamu pengen apa pun, ngidam apa pun, pasti aku beliin. Kan bisa saja yang pengen babynya," balas Raka.
Adista yang mendengarkan ucapan suaminya akhirnya menganggukkan kepalanya. Dia berharap Raka kali ini akan tulus, bukan karena terpaksa.
"Penting Mas Raka gak terpaksa. Semua ini gak ada artinya kalau Mas Raka hanya menjalaninya setengah hati. Tidak mendatangkan berkah kalau Mas Raka hanya terpaksa," balas Adista.
Raka mengangguk perlahan. "Enggak, aku enggak terpaksa sama sekali kok. Kamu mau memakai sprei yang mana dulu biar aku yang pasangkan?"
Raka mengurai pelukannya, dia membantu istrinya itu memilih sprei mana yang ingin dipasang terlebih dahulu. Adista sekarang bisa tersenyum. Seorang Direktur Utama seperti Raka terlihat begitu manis sekarang. Adista justru mendekat lagi ke suaminya dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya.
"Kamu kalau begini sweet banget sih," kata Adista.
"Sweet apaan? Ayo, pilih. Biar aku yang pasangkan di ranjang kita. Mau memakai warna yang apa. Semua ini series terbaru, Yang. Kamu pasti suka kan?" tanya Raka lagi.
"Suka. Mau memakai yang merah muda itu boleh?" tanya Adista dengan menunjuk sprei yang berwarna merah muda dengan bunga-bunga yang sangat indah.
Raka kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, boleh."
Setelahnya Raka segera mengambil sprei yang dipilih oleh istrinya dan mengganti sprei. Sebelumnya sprei tanpa motif berwarna abu-abu itu Raka lepas, dan menggantinya dengan sprei baru dengan motif floral. Raka juga tidak menunjukkan ekspresi apa pun di wajahnya. Akan tetapi, Adista berusaha menyelami wajah suaminya, menerka sekiranya ada ekspresi yang bisa dia baca di sana.
"Udah selesai sekarang. Manis banget, kayak ranjangnya Mama dan Papa. Selalu saja motifnya bunga-bunga," komentar Raka.
"Apa iya Mas?" tanya Adista.
Raka kemudian menganggukkan kepalanya. "Seingatku selama ini, sprei di kamarnya Mama dan Papa selalu saja spreinya bunga-bunga. Jangan-jangan selera kamu kayak Mamaku?" tanya Raka kemudian.
"Ya, enggak tahu. Aku cuma mendadak pengen aja. Padahal beli satu atau dua cukup, Mas. Gak perlu beli sebanyak itu juga," kata Adista dengan mengamati banyaknya sprei di dekat sofa.
"Ya, gak apa-apa. Buat ganti. Kan seminggu sekali kita ganti sprei, ya udah kalau kamu sudah membasahinya ganti aja," balas Raka enteng.
Adista memanyunkan bibirnya dan memukul lengan suaminya itu. "Ish, nyebelin banget. Membasahi apa coba. Bahasa kamu itu loh, Mas," balas Adista.
Raka kemudian tersenyum tipis. "Ya sudah, aku yang bikin basah. Iya gitu. Udah, jangan marah lagi. Nanti malam uji coba ah di sprei baru bunga-bunga," kata Raka dengan begitu absurd.
"Dek, Papa kamu kadang-kadang memang kadang-kadang deh," balas Adista dengan mengusap perutnya.
Hahahah ....
Raka tergelak dalam tawa mendengar ucapan istrinya. Pria itu bahagia malahan. Tidak terpaksa. Kalau pernikahan memang untuk mencari jalan tengah menyatukan selera dan keinginan yang sering kali berbeda, maka Raka akan berusaha melakukannya.