Staycation With Boss

Staycation With Boss
Tindakan Antisipasi



"Ta, kamu tidak tahu aku tidur begitu panjang. Entah berapa hari aku tertidur dan tak sadarkan diri. Kala itu, aku melihatmu dalam kondisi tidak sadar. Aku memanggil namamu, dan akhirnya aku kembali karena kamu yang menepuk bahuku dan mengajakku kembali. Sejak itu, aku kembali membuka mata. Aku menemukan kembali kesadaranku. Jadi, maukah kamu jalan-jalan denganku akhir pekan nanti," cerita Rayyan kini.


"Itu tidak nyata, Ray. Mungkin itu hanya ingatan bawah sadarmu saja. Sebab, aku tidak pernah melakukan itu."


Jawaban yang Adista berikan sekarang adalah tindakan Antisipasi. Dia ingin Rayyan mengingat masa kini, tidak mengedepankan imajinasinya sendiri. Kilasan imajinasi di dalam pikiran tidak sepenuhnya benar dan harus dipercayai.


"Kenapa aku merasa menghadapi Adista yang berbeda," kata Rayyan.


"Aku memang berbeda, Ray. Aku bukan Adista yang dulu. Aku sudah tidak memiliki perasaan apa pun terhadapmu. Sudah sepuluh menit, Ray. Aku kembali bekerja."


Adista berkata demikian, setelahnya dia berusaha untuk berdiri, tapi Rayyan segera menggenggam tangan Adista dengan tujuan untuk menahannya. Ya Tuhan, Adista kian merasa tak nyaman. Bahkan Adista berusaha melepaskan tangan Rayyan dari pergelangan tangannya.


"Lepaskan aku, Ray," pinta Adista.


"Ta, kenapa kamu seperti ini? Aku tidak menginginkannya," balas Rayyan.


Adista menghela napas berat dan kemudian menatap tangan Rayyan yang masih menggenggam pergelangan tangannya.


"Jangan sentuh aku, Ray. Ini tidak benar. Lepaskan!"


Tidak ingin memancing keributan. Sebab, sekarang di kafe yang ada di dalam hotel. Adista hanya ingin Rayyan menghargai dirinya yang tidak ingin disentuh.


Untunglah, Raka segera tiba. Sehingga Adista berharap bisa mendapatkan perlindungan dari suaminya sendiri.


"Kenapa ini, Ray?" tanya Raka.


Barulah kemudian Rayyan melepaskan tangannya. Sementara Adista mengibaskan tangannya yang memerah karena genggaman tangan Rayyan yang sangat kuat tadi.


"Kak," balas Rayyan.


"Sebaiknya saya kembali bekerja dulu, Pak Raka. Tidak enak kalau dicari staff yang lain," pamit Adista.


Adista memilih pergi. Walau Raka tahu, kegelisahan di wajah Adista. Namun, yang dilakukan Adista jauh lebih baik.


"Ta, weekend nanti yah?" suara Rayyan kembali terdengar.


"Tidak, Ray."


Adista menjawab sembari terus berjalan. Ekspresi wajah dan cara Adista pergi dengan tergesa-gesa saja menunjukkan bahwa Adista benar-benar tidak nyaman sekarang. Sikap Rayyan hanya membuat Adista merasa muak.


"Papa akan datang menjemputmu, Ray. Lain kali jangan mengganggu staffku. Aku tahu dia tidak nyaman denganmu," kata Raka yang berusaha tenang dan menguasai emosinya sendiri.


"Kakak berusaha melindunginya?"


"Aku akan melindungi semua staffku tanpa terkecuali," balas Raka.


"Kita pulang sekarang, Ray," kata Papa Zaid.


"Baik, Pa. Sering-sering antar Rayyan ke mari ya, Pa," pintanya.


"Fokuslah untuk sembuh dulu, Ray. Jangan bermain-main," balas Raka.


"Kenapa kamu khawatir sekali, Kak," balas Rayyan.


"Sudah, jangan mengganggu kakakmu yang bekerja. Kakakmu harus selalu fokus, berapa jumlah karyawan di sini yang bergantung kepada Kakakmu. Ayo, pulang ... jangan mengganggu kakakmu lagi."


Mau tidak mau, Rayyan mengikuti Papanya untuk pulang. Sementara Raka ingin memanggil Adista sebentar ke ruangannya karena ada yang harus dia katakan. Bukan masalah pekerjaan, tapi Raka khawatir dengan istrinya. Bahkan Raka sampai mengetuk sendiri bagian office.


"Ada apa, Pak Raka?" tanya Bu Linda.


"Boleh saya pinjam Adista sebentar," kata Raka.


"Adista, silakan dipanggil Pak Raka," kata Bu Linda.


Akhirnya Adista keluar dan berjalan mengikuti Raka menuju ke ruangannya. Begitu sudah memasuki ruangan, Raka tidak berkata apa pun. Raka butuh waktu juga untuk berbicara harus mengurai semuanya dari mana.


"Mas Raka," kata Adista dengan suaranya yang bergetar.


Raka mengusap wajahnya kemudian menatap istrinya itu. "Tidak nyaman bukan?" tanyanya.


"Iya, aku tidak suka dengan sikap Rayyan. Aku seperti menghadapi Rayyan yang pikirannya dikendalikan oleh siapa. Aku tidak nyaman," aku Adista.


Usai itu, Raka melangkah kakinya lebih dekat ke Adista. Tidak banyak berbicara, Raka merengkuh tubuh Adista untuk masuk ke dalam pelukannya. Toh, ini ruangan pribadi Raka sendiri, sekadar memeluk Adista saja bisa Raka lakukan.


"Aku takut menghadapi Rayyan," kata Adista dengan jujur. "Aku mengantisipasi supaya dia tidak bertindak kelewat batas. Maaf, Mas Raka."


"Aku memaafkannya. Tidak apa-apa. Aku hanya memastikan perasaanmu. Nanti malam, kita cerita lagi di apartemen yah. Sekarang tenangkan dirimu dulu," kata Raka dengan lebih mengeratkan pelukannya.


Adista merasa nyaman-nyaman saja dipeluk oleh suaminya. Justru tidak ada lagi ketidaknyamanan. Yang ada Raka justru menghapus rasa ketidaknyamanan yang semula ada. Hati Adista pun sudah terpaut sepenuhnya kepada suaminya.


"Iya, Mas," jawab Adista.


Hampir beberapa menit, Adista masih nyaman berada di pelukan suaminya. Kalau menimbang-nimbang hati rasanya memang aneh. Dulu rasanya tidak ingin didekati Raka, tapi sekarang nyaman sekali setiap mendapatkan pelukan seperti ini.


Usai itu, Adista mengurai pelukannya. "Baiklah, aku kembali ke ruanganku yah, Mas. Aku sudah jauh lebih baik," balasnya.


"Iya, nanti malam yah," balas Raka.


Adista menganggukkan kepalanya. Dia tersenyum dan kemudian melambaikan tangannya, lalu keluar dari ruangan suaminya. Lebih baik untuk menyemai perasaannya untuk Raka yang kian hari, kian tumbuh. Semua terjadi secara alamiah, tapi Adista merasa memang seharusnya seperti ini perasaannya kepada suaminya sendiri.