Staycation With Boss

Staycation With Boss
Membuang Kerisauan



Usai menggelora bersama dalam api cinta yang dirasakan Raka sekarang sangat bahagia. Mungkin semula hanya untuk memanas-manasi saja. Namun, Raka mengakui dengan jujur bahwa ketika sudah bersama Adista, hasratnya bisa dengan begitu cepatnya menggebu-gebu.


"Tadi kupikir hanya menciptakan suasana panas supaya pelakor itu pergi. Kok jadi beneran sih, Mas?" tanya Adista.


"Kalau udah sama kamu, yang ada ya serius, Sayang. Kamu hamil ini di mataku, kamu malahan semakin sexy," kata Raka.


Adista sampai bingung jadinya. Biasanya ibu hamil akan mengalami lonjakan berat badan, juga beberapa area tubuh yang berubah. Namun, bagi Raka istrinya itu justru kian sexy saja. Adista sendiri sampai heran dengan suaminya.


"Yang ada setiap hari malahan semakin ndut, Mas. Ya, walau perutku belum terlalu menyembul sih," balas Adista.


Raka tersenyum, tangannya mengusap perlahan perut istrinya itu. " Nanti kalau perutnya makin besar, kayaknya kamu semakin sexy deh," kata Raka lagi.


"Jadi makin kayak badut malahan," balas Adista dengan tertawa.


Raka yang mendengarkan ucapan Adista memilih memeluk istrinya itu. Yang pasti suasana intim dan hangat seperti ini sangat Raka sukai. Kalau setiap hari bisa seperti ini, Raka juga tidak keberatan sama sekali.


Sebelum rasa kantuk datang, Adista mengajak suaminya mandi terlebih dahulu. Sebab, biasanya usai mendapatkan kenikmatan seperti ini mata menjadi berat dan rasa kantuk itu datang. Jadi, lebih baik segera membersihkan diri supaya tidak berdosa.


Setengah jam kemudian, keduanya sudah sama-sama bersih. Raka yang membersihkan ranjangnya, sementara Adista mengambil air putih untuk minum ke kitchen mereka.


"Minum dulu, Mas," kata Adista dengan memberikan segelas air putih kepada suaminya itu.


"Makasih yah," balas Raka.


Usai meminum air putih, Raka kemudian duduk di samping istrinya itu. "Sayang, besok kita pindah ke rumah baru kita saja yah," ajak Raka kepada istrinya.


"Mas Raka sungguh-sungguh?" tanya Adista.


Raka kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, katamu ada pelakor. Salah satu cara kita menghindar ya melarikan diri, Sayang. Lari. Jangan hanya diam di tempat. Apalagi, dia pindah satu tower dengan kita," balas Raka.


Adista terdiam, tapi dia memikirkan juga. Sebegitunya Natasha yang memilih tempat satu tower dengan mereka. Menurut Adista sendiri, tingkah Natasha itu memang keterlaluan. Jika seorang wanita sudah bertindak seperti itu memang lebih baik menyingkir dan lari. Sebab, seorang pelakor atau perebut suami orang justru bisa menghalalkan segala cara. Bisa mencelakai istri sah juga. Raka tidak ingin mengambil risiko, baginya keselamatan Adista adalah nomor satu. Oleh karena itu, Raka mengajak Adista untuk pindah ke rumah baru mereka.


"Ya sudah, aku ngikut Mas Raka saja. Kemana Mas Raka pergi dan tinggal, aku akan ikut," balas Adista kini.


"Baiklah, intinya aku akan selalu tanggung jawab penuh. Jangan risau, Yang. Apa pun yang terjadi kita akan lewati bersama-sama. Jangan kehilangan kepercayaan kepadaku yah," kata Raka lagi.


Adista sekarang menganggukkan kepalanya. Dia akan berusaha mempercayai suaminya. Dalam susah dan senang, dalam setiap masalah yang seakan hilir-mudik, Adista akan percaya kepada suaminya.


"Mas Raka juga selalu jaga komitmen dan kepercayaanku yah. Aku sangat takut," balas Adista.


"Apa yang kamu takutkan?"


"Takut Mas Raka direbut pelakor. Pelakor itu bisa menghalalkan segala cara, Mas. Apalagi untuk pria seperti Mas Raka, pastilah Natasha akan mencari seribu cara untuk memperdaya Mas Raka," balas Adista.


Raka tersenyum tipis, dia membelai sisi wajah istrinya itu."Itu saja padahal aku dulu tak pernah mengutarakan perasaanku kepadanya, Yang."


"Enggak nembak waktu SMA?"


"Dulu, apa yang membuat Mas Raka menyukai dia?" tanya Adista kini.


Raka terdiam, dia berpikir lagi apa sebenarnya yang membuatnya dulu menyukai Natasha. Memang anak remaja, masanya cinta monyet. Terkadang tidak butuh alasan detail dan mendalam untuk jatuh cinta.


"Ya, dulu mungkin dia cantik dan pinter aja. Ya, begitulah," balas Raka yang terbilang singkat dan tidak banyak mengurai isi kepalanya.


"Oh, begitu ...."


Adista mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang sangat wajar, Natasha memang cantik. Selain itu bila diperhatikan kecantikan Natasha seperti ada campuran blasteran di sana. Adista sendiri juga mengakui bahwa Natasha memang cantik.


"Sudah, jangan dipikirkan. Itu kan dulu, semuanya sudah berubah sejak lama," kata Raka sekarang.


"Ya, normal dan wajar sih. Dia memang cantik. Pasti dia dulu paling cantik di sekolah. Udah cantik, kaya raya lagi, banyak nilai plusnya," balas Adista.


Raka kemudian menggelengkan kepalanya. "Tuh, jadi begitu kan. Semuanya sudah berubah, Yang. Sejak ketemu kamu, yang paling cantik buatku hanya kamu saja," kata Raka.


"Gombal."


"Serius. Aku dulu jatuh hati langsung. Sampai-sampai nawarin kamu Staycation bareng," balas Raka.


Pria itu menghela napas dan mengusap wajahnya sendiri. Pastilah dulu Adista akan mengira bahwa Raka adalah pria brengsek atau pria hidung belang. Akan tetapi, bagaimana lagi kalau sudah ada hasrat menginginkan Adista.


"Padahal aku dulu sebel sama kamu," balas Adista.


"Aku sangat tahu kok."


"Lalu, kenapa waktu aku datang dan meminta bantuan untuk operasi Desta, Mas Raka membantuku?" tanya Adista.


Raka kemudian menganggukkan kepalanya. "Ya, aku niatnya memang mau membantu aja. Tulus untuk membantu. Walau kamu gak menawarkan Staycation, tetap saja aku bantu."


Adista sekarang menatap suaminya dengan pandangan yang menelisik. Usai itu, Adista menggenggam tangan suaminya. "Kenapa banyak masalah dalam pernikahan kita ya Mas? Pertama Rayyan, kedua Rayyan yang mengalami gangguan ingatan, ketiga Natasha. Kapan semua badai ini akan benar-benar surut?"


"Memang setiap rumah tangga memiliki ujiannya sendiri-sendiri, Yang. Kita sedang fase diuji," balas Raka.


"Sampai kapan ujian ini ya Mas?"


Raka menggelengkan kepalanya. "Aku juga tidak tahu, Yang. Ujian ini akan berlangsung sampai kapan. Yang penting kamu jangan risau. Ketika masalah datang ya kita hadapi bersama-sama. Aku akan berusaha mencari cara menyelesaikan setiap masalah," balas Raka.


"Semoga kita semakin kuat ya, Mas. Kadang ketika angin sudah bertiup sepoi-sepoi, aku menginginkan menikmati saat-saat teduh itu bersamamu, Mas. Namun, baru sebentar angin sepoi-sepoi itu berhembus, badai sudah mengintai."


Adista mengungkapkan perasaannya. Raka mendengarkan apa yang diungkapkan istrinya itu. Kemudian Raka merangkul Adista, membawa kepala Adista bersandar di dadanya.


"Aku juga menginginkan hal yang sama. Semoga kita selalu menang dalam setiap cobaan yang datang. Ketika badai menghadang, tetap setia di sampingku yah," pinta Raka sekarang.


Adista menganggukkan kepalanya. Setetes air mata mengalir begitu saja membasahi pipinya. Dia rindu menikmati saat-saat teduh dengan Raka, di mana semua masalah sirna dan ikatan di antara keduanya akan semakin kuat.