Staycation With Boss

Staycation With Boss
Menikmati Momen New Parents



Semalam Raka dan Adista dengan cepat tertidur. Kecapekan dengan peran dan tanggung jawab sebagai orang tua baru. Walau begitu, ketika tengah malam Qiana menangis dan terbangun justru Raka yang terlebih dahulu terbangun.


Dia membangunkan Adista dengan pelan-pelan. "Sayang, bangun dulu. Baby Qiana terbangun. Mungkin dia membutuhkan ASI," kata Raka.


Untuk seorang wanita, jika bangun dan langsung berjalan itu akan membuat pusing. Sehingga, Raka yang turun dari ranjangnya dan mulai menggendong Baby Qiana terlebih dahulu. Setelah itu, Raka kembali menuju ke ranjangnya.


"Bangun yah, Mas? Aku kecapekan atau apa sih, sampai enggak kedengaran," kata Adista dengan menguap, dia mengucek matanya sesaat dan kemudian merapikan rambutnya.


"Gak apa-apa. Aku mendengarkan Qiana kok. Rambutnya dikuncir dulu, Yang. Takutnya nanti ketarik tangannya Qiana," kata Raka.


Adista kemudian menganggukkan kepalanya. Dia mengambil pita dan menguncir rambutnya terlebih dahulu. Setelah itu barulah Raka menyerahkan Baby Qiana kepada Adista.


Tampak Adista menimang bayinya di tangannya, setelah itu Adista berusaha membuka kancing di piyama yang dia kenakan. Pelan-pelan dia mengeluarkan bulatan indahnya dan kemudian memberikan ASI secara langsung kepada putrinya.


Begitu Qiana sudah menemukan dan menghisap sumber ASI-nya, bayi itu pun berhenti menangis. Raka mengamati bagaimana Baby Qiana yang sudah pandai menghisap dan meminum ASI sebagai satu-satunya makanan utama baginya hingga usia enam bulan nanti.


"Sudah bisa pelekatannya, Yang?" tanya Raka.


"Iya, sudah, Papa. Qiana sudah pinter. Ini terdengar tenggorokan yang menelan ASI. Dia cepat belajarnya kok, Pa," balas Adista.


Raka tersenyum, kemudian tangannya terulur dan mulai mengusapi kening putrinya dengan lembut. Di dalam hatinya, Raka senang dengan putrinya yang pintar belajar. Selain itu, melihat seorang bayi meminum ASI seperti ini rasanya sangat teduh.


"Papa enggak bobok? Kalau kecapekan bobok aja," balas Adista.


Ini adalah komitmen Raka sendiri bahwa mungkin dia tidak bisa melakukan banyak hal. Akan tetapi, Raka bisa menemani Adista sampai Baby Qiana kembali tertidur. Istri butuh disupport oleh suaminya. Oleh karena itu, Raka akan selalu menemani dan mensupport Adista.


"Tidak apa-apa loh, Mas. Emangnya besok Mas Raka enggak kerja?" tanya Adista.


"Aku kerja dari rumah. Masih berlanjut. Kalau ada meeting mendesak saja aku ke La Plazza Hotel, Yang. Tenang saja, aku ingin menikmati dulu masa-masa menjadi new parents. Menjadi orang tua baru. Kesempatan seperti ini tidak akan berulang."


Rupanya Raka sudah memutuskan hal itu. Ketika pekerjaan masih bisa dikerjakan dari rumah, maka Raka akan bekerja dari rumah. Namun, ketika ada meeting atau kerjaan mendesak, barulah Raka akan ke hotel. Menurut Raka, kesempatan sekarang ini adalah kesempatan emas. Oleh karena itu, Raka ingin menikmati masa-masa menjadi orang tua baru.


"Kamu ini bisa saja sih, Mas. Padahal ya tidak apa-apa. Nanti bisa-bisa, aku tergantung sama kamu loh," balas Adista.


"Gak apa-apa, bergantunglah kepadaku."


Raka menjawab dengan serius, walaupun ucapannya terdengar enteng. Hal ini membuat Adista tersenyum sendiri.


"Dengar tuh, Qiana. Papa kamu terlalu percaya diri. Namun, pastinya Papa akan menjaga Mama dan kamu. Iya kan?"


"Iya, pasti itu. Mamanya aja Papa jagain, apalagi anak-anaknya."


Keduanya tertawa kecil bersama. Siapa sangka di tengah malam seperti ini, keduanya justru bisa tertawa bersama. Sungguh, ini adalah sebagian kecil cara menikmati menjadi orang tua baru.