Staycation With Boss

Staycation With Boss
Mengurai Kekusutan



Berjalan keluar dari Villa rupanya benar, di luar pintu ada Rayyan yang berdiri memunggungi pintu. Jujur, Adista merasakan hatinya sangat berdebar-debar mana kala Rayyan berdiri di sana. Bagaimana pun, pemuda itu adalah pacarnya dulu. Walau sudah putus, tapi Rayyan belum mengiyakan dan belum bisa menerima diputuskan oleh Adista.


"Hem, Ray," sapa Adista dengan sedikit berdehem.


Pemuda yang mengenakan kemeja kotak-kotak itu perlahan berbalik, kini keduanya saling berhadap-hadapan dengan jarak beberapa meter di antara keduanya.


"Adista ...."


Pedih hati Rayyan melihat Adista pagi itu, dengan rambutnya yang masih setengah basah. Rayyan menerka sendiri dalam hati, mungkinkah semalam terjadi malam pertama untuk Kakaknya dan Adista. Hati masih belum ikhlas, terlebih bahwa Adista adalah cinta pertamanya. Bagaimana juga, cinta pertama itu selalu membekas di dalam hati.


"Hm, Ta ... boleh bicara sebentar di sana?"


Rayyan menunjuk ke bangku kayu yang ada di taman. Bangku yang menghadap langsung ke perkebunan teh. Pagi dengan udara yang sejuk dan terasa begitu asri. Akan tetapi, hati keduanya sama-sama dingin. Sama-sama dilingkupi dengan dilema.


Setelah duduk bersama dan juga mengambil jarak di antara keduanya. Kemudian mulailah Rayyan berbicara kepada mantan kekasih yang kini berubah menjadi kakak iparnya itu.


"Bukankah takdir kita berdua sangat kejam, Ta? Kita yang bertemu terlebih dahulu, kita yang saling mencintai satu sama lain. Akan tetapi, semesta justru membuatmu menikah dengan Kakakku," kata Rayyan.


Jika ingin mengurai dan menyalahkan memang rasanya tidak adil. Keduanya yang saling bertemu, berbagi cerita secara virtual, dan akhirnya saling memiliki perasaan yang sama. Namun, perasaan yang indah urung bersatu karena Adista sekarang adalah istri kakaknya.


"Jujur, aku bingung sebulan yang lalu kamu mengatakan putus karena akan menikah dengan pria lain. Aku merasa apakah kita berdua tidak bisa bertahan dalam hubungan jarak jauh ini, walau perasaan kita sama? Ternyata terjadi sesuatu yang jauh antara kamu dan Kak Raka. Mau dipikir berapa kali pun, rasanya menyesakkan," kata Rayyan lagi.


"Awalnya aku juga tidak tahu kalau kamu adalah adiknya Pak Raka, Ray. Semuanya terjadi begitu cepat, Ray," balas Adista.


"Pasti karena Pak Raka lebih keren, lebih stabil secara finansial dibanding aku yah, Ta? Sehingga mudah bagimu untuk memutuskan aku secara sepihak," tanya Rayyan.


Adista menitikkan air matanya. Kalau memang saat itu mendesak, karena Adista berpikir adiknya Desta harus segera ditolong dan diselamatkan. Fungsi ginjalnya semakin menurun. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan Desta adalah dengan pencangkokan ginjal.


Di titik ini, Adista berusaha menyadari dia juga salah. Awal petaka ke Lombok dulu karena dia yang mau. Walau berakhir di ranjang juga dengan Bossnya itu.


"Kemarin Kak Raka berbicara tegas denganku, dia tidak bisa melepaskan kamu, Ta. Apakah kalian saling cinta?" tanya Rayyan sekarang.


Adista tak menjawab. Jujur saja di dalam hatinya belum ada perasaan cinta. Bahkan sering kali dia merasa sebal dengan suaminya itu.


Rayyan melirik Adista sesaat, dia kemudian hendak menyentuh tangan Adista. Akan tetapi, Adista menolaknya. Dia tahu bahwa tidak boleh ada lagi pria yang menyentuhnya.


"Biar aku memegang tanganmu sebentar saja," kata Rayyan.


Rayyan meraih satu tangan Adista dan menggenggamnya. Tanpa keduanya sadari, dari atas jendela kamar ada Raka yang diam-diam memperhatikan keduanya. Dadanya terasa sakit ketika melihat adiknya sendiri menggenggam tangan istrinya.


"Apakah tidak bisa kamu menolaknya, Dista? Bukankah sekarang, aku satu-satunya pria yang layak dan memiliki hak untuk menyentuhmu bukankah hanya aku? Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk membereskan perasaanmu terhadap adikku sendiri, Dista?"


Suara hati seorang Raka Syahputra yang harus melihat adegan antara istri dan adiknya sendiri. Sakit, pastilah sakit. Namun, ini adalah risiko dari semuanya.


"Ta, kemarin Kak Raka mengatakan tidak akan pernah melepaskanmu. Apakah kamu sendiri juga sama seperti Kak Raka? Kamu bisa tidak melepaskan kakakku itu untuk aku? Aku bisa menerimamu apa adanya," kata Rayyan.


Biarlah sekarang Rayyan bertindak gila dengan mengatakan demikian. Baginya, cintanya kepada Adista memang membuatnya gila. Bahkan, Rayyan berkata bisa menerima Adista apa adanya. Dia akan mencoba mengesampingkan fakta bahwa Adista sudah tak suci lagi. Dia akan mengesampingkan fakta bahwa yang dia hadapi adalah kakaknya sendiri.


Adista menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa, Ray ... aku tidak bisa."


"Kenapa, Ta? Kita masih saling mencintaikan?" tanya Rayyan.


"Faktanya sekarang aku adalah kakak iparmu, Ray. Aku bukan Tatamu, aku adalah Adista istri kakakmu. Walau semuanya pelik, tak elok, Ray," balas Adista.


Genggaman tangan Rayyan terurai. Dadanya kian sesak. Ya, seakan beban berat menimpa dadanya sekarang. Dia diperhadapkan dengan fakta bahwa wanita yang kini bersamanya itu adalah kakak iparnya. Adista adalah istri Kak Raka. Itu adalah sebuah fakta.


"Kamu akan bertahan tanpa cinta?" tanya Rayyan lagi.


Memang Rayyan masih muda, tapi dia tahu membangun kehidupan pernikahan yang tidak dilandasi dengan cinta hanya akan membuat kesesakan, merasakan kepedihan, tidak ada rona dalam kehidupan rumah tangga yang dibangun. Berbeda dengan kehidupan rumah tangga yang dibangun atas dasar cinta, pastilah akan lebih bahagia.


"Mungkin, aku bisa menghormatinya," balas Adista.


Ya, memang tidak ada rasa cinta di dalam hati Adista. Akan tetapi, Adista akan berusaha menghormati Raka sebagai atasannya, sebagai suami, sebagai orang yang berjas menolong Desta, adiknya. Kesembuhan Desta tidak akan hadir, kala Raka tidak menolongnya. Jauh dari kata cinta, sekadar membalas budi dan menghormati Dista bisa melakukannya.


"Kamu ingin menceburkan dirimu sendiri ke dalam jurang?" tanya Rayyan.


"Please, Ray ... semuanya susah dan pelik. Jangan terus mendesakku," balas Adista.


"Aku tidak mendesak, Ta. Aku mengatakan yang sejujurnya, tidak ada cinta di dalam pernikahan kalian berdua. Lebih dari itu, aku bisa melihat tak ada cinta di matamu. Kamu membohongi dirimu sendiri, Ta," kata Rayyan.


Sebisa mungkin Adista menahan untuk tak teesedu-sedan. Dia memilih untuk menahan perasaan dengan sesekali memggigit bibirnya sendiri.


"Kalau kamu mau lari dari tepi jurang ini, ingat ada aku, Ta. Aku adalah satu-satunya orang yang akan menerimamu dengan tulus. Aku bisa mengesampingkan semuanya. Aku bisa membuka kedua tanganmu, menyambutmu kala kamu berlari ke arahku," kata Rayyan.


Sebegitu besarnya perasaan Rayyan hingga pemuda itu menjadi gila dan siap menerima Adista. Cinta memang membuat seseorang kehilangan akal dan logika. Itu yang Rayyan rasakan sekarang. Akan tetapi, semua itu akan terasa percuma jika memang Adista hanya berdiam diri.


"Aku rasa semua benang kusut sudah diurai, Ta. Kamu boleh berkata bahwa kamu bukan Tataku. Akan tetapi, selamanya kamu akan selalu menjadi Tataku. Selamanya, Ta ... bukan sementara," kata Rayyan lagi.


"Tatamu sudah menjadi istri Kakakmu, Ray. Aku ... sudah menjadi kakak iparmu. Jadi, tolong lepaskan aku saja."


Rayyan beringsut. Pemuda itu kini bersimpuh di hadapan Adista dengan berusaha menatap wajah Adista yang terus menunduk.


"Aku akan menunggu, Ta. Yah, aku menunggu. Cinta pertama ini awalnya duka, maka biarlah saja ...."