
Pulang ke rumah bukan hanya menjadi saat membahagiakan untuk Adista, tapi bagi Adista sekarang tidak ada tempat yang senyaman rumah suaminya ini. Ketika berada di Rumah Sakit, bawaannya akan sakit dan kurang sehat. Namun, ketika sudah kembali ke rumah, rasa nyaman itu kembali Adista dapatkan.
Hatinya juga kian bahagia melihat orang tua, mertua, dan adiknya yang sekarang berada di rumahnya. Kebahagiaan itu kian penuh, ketika keluarga Syahputra yang notabene kaya raya menerima dengan tulus keluarganya yang sederhana. Ketika seseorang dari kalangan atas tidak membedakan kalangan yang ada di bawahnya akan membawa kebahagiaan sendiri. Penerimaan dengan tulus itu benar-benar Adista rasakan sekarang.
"Duduk dulu, Dis ...."
Akhirnya Bu Ratih menuntun Adista untuk duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Akan tetapi, Adista terkejut sekali dengan dekorasi sedemikian yang sudah berada di sana. Ada aneka balon berwarna pink dan bunga. Bahkan ada tulisan dekoratif yang dibentangkan, 'Welcome Home Baby Qiana!'
Wah, itu benar-benar sebuah kejutan untuk Adista. Dia merasakan penyambutan yang luar biasa. Sampai dia meneteskan air matanya.
"Kejutan dari Papa dan Bapak kamu, dibantuin Desta dan para pekerja di sini. Welcome Home untuk Baby Qiana yang cantik," kata Papa Zaid.
"Selamat yah Mbak Adista dan Pak Raka," ucap tiga ART yang bekerja di rumah Raka. Kepada Adista memang Adista tidak mau dipanggil Ibu atau Nyonya. Sebagai gantinya, para ART memanggilnya Mbak Adista. Sementara Raka tidak masalah jika dipanggil Pak Raka, yang penting bukan Adista saja yang memanggilnya Pak. Sebab, Raka tidak mau dipanggil Pak, itu mengingatkan Raka dengan awal hubungannya dengan Adista dulu.
"Terima kasih banyak yah ...."
Adista memeluk para pengerja di rumahnya satu per satu. Bahkan para pengerja di sana juga memberikan hadiah secara patungan. Hati Adista menjadi tersentuh karenanya.
"Kok malahan repot-repot," kata Adista yang masih meneteskan air matanya.
"Tidak repot sama sekali kok, Mbak. Untuk Baby Qiana. Tidak seberapa, Mbak. Hanya tanda bahwa kami ikut berbahagia," kata seorang ART di sana.
Adista lantas menganggukkan kepalanya. Para pengerja juga berjabat tangan dengan Raka. "Makasih banyak yah," kata Raka.
"Sama-sama Pak Raka."
Akhirnya saat itu, dilakukan sessi foto bersama. Mulanya Adista dan Raka terlebih dahulu yang menggendong Baby Qiana. Lalu didampingi keluarga Gusti dan keluarga Syahputra. Lalu, foto yang diambil dengan para ART di rumah mereka. Selain itu, Mama Erina request untuk foto berdua dengan Papa Zaid sembari menggendong Baby Qiana. Bu Ratih dan Pak Gusti sangat tertawa melihat besannya yang tampak begitu bersemangat itu.
"Nanti dikira anaknya loh, Bu. Adiknya Rayyan," kata Bu Ratih.
"Kami masih terlihat muda yah, Bu? Duh, jadi malu," balas Mama Erina dengan tertawa.
"Iya, masih sangat muda, Bu Erin," balas Bu Ratih.
Sementara itu, Adista tersenyum dan memperhatikan semua keluarga sangat berbahagia. Banyak perhatian dan cinta kasih juga yang diberikan kepadanya dan Baby Qiana.
"Kenapa, Sayang? Capek, mau rebahan?" tanya Raka.
"Enggak, aku malahan bahagia banget, Mas. Banyak yang bahagia, banyak yang memberikan perhatian dan kasih sayangnya untuk Baby Qiana. Bahagia banget," katanya.
"Oh, sama ... aku juga kok, Sayang. Sampai pengerja di rumah kita turut menyambut Qiana. Luar biasa," kata Raka.
"Mereka bukan hanya sekadar ART atau pengerja, Mas ..., melainkan, mereka adalah keluarga kita juga. Kan ada keluarga yang terjalin bukan dari sedarah dan sedaging," kata Adista.
"Benar sekali, Yang. Kamu ini Nyonya rumah yang baik banget. Bahkan kamu dianggap seperti keluarga, bukan majikan. Hebat kamu," balas Raka.
"Kalau capek, istirahat dulu. Bagaimana pun, kamu kan memang butuh banyak istirahat," kata Raka.
"Iya, Mas. Tenang saja. Di rumah, rasanya aku menjadi lebih baik, daripada di Rumah Sakit malahan enggak betah. Bau obat," balasnya.
Raka kemudian tersenyum tipis, "Kamu bisa aja," balasnya.
"Iya, beneran. Gak suka bau obatnya. Selain itu, sudah lepas infus, rasanya lega. Lihat nih, tanganku sampai lebam," kata Adista sembari menunjukkan punggung tangannya yang lebam membiru.
Raka kasihan sekali melihat lebam biru di tangan istrinya. Raka pun mengambil kesimpulan bahwa bersalin itu sangat sakit. Bukan hanya proses menyaksikan bayinya lahir ke dunia yang membuatnya takjub, tapi juga merasa sakit dan hatinya hampir habis melihat Adista merasakan sakit demi sakit yang bertahap.
"Perlu diobatin enggak, Yang?" tanya Raka.
"Perlu, perlu banget."
"Caranya?"
"Dicintai kamu nanti lama-lama juga sembuh kok."
Senyuman tipis tersungging di sudut bibir Raka. Bisa-bisanya istrinya itu justru berbicara seperti itu yang membuatnya nyaris tertawa. Adista juga terkekeh geli sembari memukul lengan suaminya. Interaksi Adista dan Raka rupanya diamati oleh Mama Erina dan Papa Zaid.
"Ngapain kalian senyam-senyum sendiri?" tanya Papa Zaid.
"He, gak apa-apa kok, Pa," balas Raka.
"Pasti sudah bahagia dan sudah lega yah? Sudah kembali ke rumah. Selain itu, ada yang berbeda di dalam rumah ini. Sekarang, kalian tidak hanya berdua, tapi sudah bertiga. Jika biasanya hidup sendiri, hanya memikirkan kepentingan bersama, sekarang waktunya untuk memikirkan Baby Qiana juga. Belajar lagi banyak hal-hal baru. Perjalanan yang lebih menarik tentunya. Siap kan?" tanya Papa Zaid.
"Siap, Pa."
Adista dan Raka menjawab serempak. Walau belum berpengalaman dan tidak tahu ke depannya akan seperti apa, tapi keduanya yakin dan siap untuk berpetualang bersama dengan Baby Qiana. Selain itu, keduanya juga akan belajar bersama.
"Harus siap. Apa pun pengalaman ke depan harus dilakukan bersama. Kalian akan makin berkembang ke depannya."
"Iya, Pa."
Papa Zaid menganggukkan kepalanya. Dia senang dengan Raka yang kelihatan bersungguh-sungguh. Kalau melihat putra sulungnya yang diam dan minim ekspresi rasanya juga tidak yakin, tapi Papa Zaid sangat mengenal Raka. Putranya itu suka tantangan dan hal baru. Selain itu, kesempatan baru yang ada pastinya akan membuat Raka belajar, belajar, dan belajar.
"Papa kelihatan gak yakin gitu deh?" balas Mama Erina.
Kemudian Papa Zaid menganggukkan kepalanya. "Iya, Papa gak yakin sama Raka. Namun, Papa percaya bukan Raka namanya kalau gak belajar dan sungguh-sungguh. Pastilah kamu bisa, Raka."
"Raka itu fotocopy-annya Papa. Pasti bisa. Lihat saja nanti Raka akan berubah, apalagi dia udah punya putri kecil. Bakalan lebih banyak bicara, banyak ceriwis, dan juga banyak berubahnya. Anak mengubah kehidupan dan karakter seorang pria."
Raka tersenyum dan mengangguk-angguk kecil mendengarkan ucapan dari Mamanya itu. Adista sendiri malahan tertawa. Dia juga menunggu perubahan suaminya.