
"Kisi-kisi pun belum bisa yah, Bu. Yang pasti sih babynya sehat dan aktif. Hanya saja memang sangat pemalu sampai usianya enam bulan saja masih disembunyikan," kata Dokter Rinta.
Adista tersenyum, sebenarnya hari ini dia ingin sekali mengetahui apa jenis kelamin baby nya. Lagipula, usia kehamilan juga hampir tujuh bulan di mana dia dan Raka sudah berencana untuk berbelanja berdua dan ingin mempersiapkan semuanya untuk menyambut bayi mereka. Akan tetapi, kenyataan membuat mereka harus menunggu lagi.
"Semoga bulan depan kan sudah menginjak tujuh bulan, semoga sudah kelihatan yah, Bu," kata Dokter Rinta lagi.
"Iya, semoga saja, Dokter."
Mengakhiri pemeriksaan dengan USG, sekarang Dokter Rinta mencetak terlihat dahulu beberapa foto bayi mereka yang masih berada di dalam rahim. Usai itu, Adista pun dibersihkan perutnya dari sisa USG Gell, dan kemudian duduk di samping Raka di depan meja Dokter.
"Apa mungkin sampai persalinan, tidak kelihatan yah Dok?" tanya Adista,
"Mungkin saja, Bu. Bisa waktunya yang tidak tepat, atau berdasarkan posisi bayinya. Ya, semoga bulan depan sudah kelihatan yah, Bu. Kalau tidak harus mencari jalan tengahnya," balas Dokter Rinta.
"Jalan tengah bagaimana Dokter?" tanya Raka.
"Biasanya orang tua akan membelikan barang-barang berdasarkan jenis kelamin bayinya. Biru untuk baby boy, dan pink untuk baby girl. Untuk kasus seperti ini, lebih baik dicari jalan tengahnya terlebih dahulu. Bapak dan Ibu bisa membeli warna-warna yang netral dulu seperti putih, coklat, kuning, dan hijau. Yah, kalau pengen ada pinknya boleh juga, hanya saja jangan banyak-banyak," saran yang diberikan oleh Dokter Rinta.
Sekarang Adista dan Raka menganggukkan kepalanya. Sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh Dokter Rinta bahwa memang lebih baik membeli barang dan baju-baju dengan warna netral terlebih dahulu saja. Sebab, belum jelas juga apa jenis kelamin bayinya.
"Apa ada yang ditanyakan?" tanya Dokter Rinta.
"Tidak, tidak ada, Dokter. Sudah jelas semuanya penjelasan dari Dokter tadi," balas Adista.
Usai itu, Dokter Rinta menuliskan resep terlebih dahulu. Adista masih harus meminum Asam Folat dan vitamin, serta kalsium sampai usia kandungan sembilan bulan nanti. Setelahnya, mereka berdua berpamitan dengan Dokter Rinta, menuju ke apotek terlebih dahulu.
"Beli-beli untuk babynya kapan sih, Yang?" tanya Raka.
"Aku bertanya kepada Ibu sih belinya kalau sudah tujuh bulanan, Mas. Pamali kalau belum tujuh bulan udah beli-beli," balas Adista.
Adista kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas ... kamar babynya nanti gak usah buat dulu, Mas. Box bayi ditaruh di kamar kita berdua aja," balas Adista.
"Iya, Sayang ... gak apa-apa. Kamar yang terkoneksi dengan kamar kita itu juga bisa aku persiapkan yang netral dulu. Kalau hanya gambar boneka, pelangi, matahari di temboknya kan tidak masalah," balas Raka.
"Oke, boleh deh ... penting enggak dominan pink atau biru aja, Mas. Mungkin karena kita pengennya berbeda kali, Mas ... jadi babynya gak mau nongol."
Adista mengatakan itu dengan tertawa. Ya, Adista menginginkan anak laki-laki, sementara Raka menginginkan anak perempuan. Tampaknya memang keduanya harus menyatukan keinginan mereka, hingga nanti babynya akan memperlihatkan dia boy atau girl.
"Bisa juga yah ... ya udah deh, mau cowok atau cewek sih terserah saja. Yang penting jangan kecewa. Bagaimana pun anak kan titipan dari Allah. Kita sudah dipercaya oleh Allah, udah bersyukur banget," kata Raka kemudian.
"Bijaknya suamiku kalau kayak gini," balas Adista dengan mengapit lengan suaminya itu.
"Emang biasanya enggak?" tanya Raka.
Adista dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Enggak ... biasanya mesum."
Raka menyunggingkan senyuman tipis di sudut bibirnya. Pria itu kemudian berbisik tepat di telinga Adista. "Itu bukan kebiasaannya, tapi bawaan kalau udah sama kamu. Yah, begitulah diriku adanya," balasnya.
Kembali Adista memanyunkan bibirnya. Bisa-bisanya suaminya itu mengatakan bahwa itu bukan kebiasaan, melainkan bawaan alamiah jika sudah bersama dengan Adista.
"Sepakat yah ... cowok atau cewek tidak masalah?" tanya Raka.
"Iya, deal."
Raka dan Adista sama-sama tersenyum. Lebih memilih untuk menyepakati bahwa apa pun jenis kelamin bayinya nanti tetap bersyukur. Seorang anak adalah titipan dari Allah, keduanya akan menerima dengan lapang dan bersyukur untuk pemberian Allah itu.